Posts Tagged ‘falsafah Jawa’

Buku “MISTIK ISLAM KEJAWEN RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA” – Simuh – 1988.


.

Data buku :

Simuh  ;  “Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. Suatu Studi terhadap Serat Wirid Hidayat Jati. “ ;  ?  ;  penerbit [?]  ;  1988 = cetakan pertama  ;  400 halaman  ;  bahasa Indonesia.

.

Buku MISTIK ISLAM KEJAWEN RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA - Simuh

Buku MISTIK ISLAM KEJAWEN RADEN NGABEHI RANGGAWARSITA – Simuh

.

Buku ” SARIPATI AJARAN HIDUP DAHSYAT DARI JAGAD WAYANG ” – Iman Budhi Santosa – 2011


.

Buku SARIPATI AJARAN HIDUP DAHSYAT DARI JAGAD WAYANG - Iman Budhi Santosa

Buku SARIPATI AJARAN HIDUP DAHSYAT DARI JAGAD WAYANG – Iman Budhi Santosa

.

.

budi pekerti, falsafah Jawa, kearifan, moral, etika, alam mayapada, alam madyapada, alam arcapada, Alap-alapan Dewi Sukesi, Perburuan Dewi Sukasalya, Tragedi Dewi Kekayi, Sayembara Putri Mantili, Sumantri Ngenger, Tragedi Maespati, Cupu Manik Astagina, Sugriwa dan Subali, Kematin Subali, Malapetaka di Pembuangan, Anoman Duta, Rama Tambak, Hancurnya Alengkadiraja, Sinta Boyong, kritik moral para raja, Prabu Sumali, Prabu Dasarata, Prabu Arjunawijaya, Prabu Sugriwa, Prabu Subali, Prabu Banaputra, Prabu Dasamuka, Prabu Ramawijaya, kritik moral para permaisuri dan dewi, Dewi Tara, Dewi Sukesi, Dewi Anjani, Dewi Trijata, Dewi Sarpakenaka, Dewi Citrawati, kritik moral para narapraja atau priyayi, Arya Wibisana, Raden Sumantri, Ditya Jambumangli, Raden Bharata, kritik moral para prajurit, Anoman, Arya Kumbakarna, Anggada, kritik moral para pandita, Resi Jamagdani, Resi Suwandagni, kritk moral para suami istri, Resi Wisrawa, Dewi Sukesi, Resi Gotama, DewiIndradi, Prabu Dasarata, keluarga Sri Rama, kritik moral para rakyat jelata, Ramayana, Cupu Mani Astagina.

.

Data buku :

Iman Budhi Santosa  “ Saripati Ajaran Hidup Dahsyat dari Jagad Wayang “  ;  Yogyakarta  ;  penerbit FlashBooks (kelompok penerbit DIVA Press)  ;  Juni 2011 = cetakan pertama  ;   ISBN 978-602-978-654-5  ;  316 halaman  ;  bahasa Indonesia.

.

.

Pngntr1 Saripati AjrnHdp- Iman Budhi Santosa cmprs

.

Pngntr2 Saripati AjrnHdp- Iman Budhi Santosa cmprs.

Pngntr3 Saripati AjrnHdp- Iman Budhi Santosa cmprs

.

Pngntr4 Saripati AjrnHdp- Iman Budhi Santosa cmprs

.

Buku SARIPATI AJARAN HIDUP DAHSYAT DARI JAGAD WAYANG - Iman Budhi Santosa

Buku SARIPATI AJARAN HIDUP DAHSYAT DARI JAGAD WAYANG – Iman Budhi Santosa

.

Buku “SPIRITUALISME JAWA. Sejarah, Laku, dan Intisari Ajaran.” – Iman Budhi Santosa – 2012.


.

falsafah Jawa, falsafah hidup orang Jawa, Spiritualisme Jawa, kejawen, budi pekerti orang Jawa, Serat Waraiswara, Serat Sasanasunu,Serat Bratasunu, Serat Wedhatama, Serat Nitisruti, Iman Budhi Santosa

.

Cuplikan :

…..

Jelas kiranya bahwa klaim dari para pengamat dan peneliti yang menilai kejawen merupakan sinkretisme antara Islam dengan nilai-nilai lama yang terdapat di Jawa, perlu sejenak direnungkan dan dikoreksi. Sebab,dalam sejaranya,orang Jawa tidak pernah melakukan upaya sinkretissasi. Orang Jawa hanyamelakukan”pembukaan diri”. Terbuka menyilahkan nilai dan ajaran dari mana pun datangnya ke Jawa, dan menerimanya (dalam arti menggunakannya) manakala dinilai berguna, bermanfaat bagi diri pribadi dan masyarakatnya.

 

Sekali lagi, Jawa bukan sebuah pabrik yang sengaja mencampur berbagai macam agama dan kepercayaan, kemudian memformulasikan, serta memprosenya untuk menghasilkan suatu produk baru. Spiritualisme Jawa benar-benar ibarat telaga seperti di-“sanepa”-kan para leluhur. Ia tidak memanggil ikan, lumut, maupun ganggang, hidup dalam habitatnya. Ia tidak menetapkan undang-undang “patembayatan” bagi setiap makhluk dan benda-benda yang berada disana. Ia hanya menampung, menerima dengan tangan dan hati terbuka setiap materi dan fenomena yang berasal dari mana pun juga. Maka, telaga itu pun tidak dapat diklaim sebagai milik ikan, milik ganggang, milik cacing, melainkan milik semua yang tinggal dan tumbuh berkembang di dalamnya.

 

Demikian pula halnya dengan dunia spiritualisme Jawa,atau kejawen. Ia harus dipahami sebagai media yang sangat terbuka dan tulus menerima berbagai nilai, sehingga nilai-nilai tadi benar-benar menjadi kulit daging orang Jawa.

…..

Buku SPIRITUALISME JAWA. SEJARAH, LAKU, DAN INTISARI AJARAN - Iman Budhi Santosa

Buku SPIRITUALISME JAWA. SEJARAH, LAKU, DAN INTISARI AJARAN – Iman Budhi Santosa

.

Data buku :

Iman Budhi Santosa  ” SPIRITUALISME JAWA. Sejarah, Laku, dan Intisari Ajaran. ”  ;  Yogyakarta  ;  Memayu Publishing  ;  September 2012  ;  ISBN : 978-607-97158-9-7  ;  264 halaman  ;  bahasa Indonesia.

.

Alamat penerbit :

Memayu Publishing,
Jl. Monggang Wetan no.1, Monggang, Pendowoharjo,
Sewon, Bantul,
Yogyakarta.
Tel : 085727346195
Email : penerbitgelar@gmail.com

.

Buku SPIRITUALISME JAWA - Iman Budhi Santosa

Buku SPIRITUALISME JAWA – Iman Budhi Santosa

.

Buku ” WAYANG Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Bagi Generasi Muda. Jilid 2 ” – Junaidi – 2011.


.

Wayang sebagai karya seni tradisi memiliki kandungan nilai yang sangat kompleks dan pantas dijadikan sebagai cermin bagi manusia atau wayang merupakan cerminan kehidupan manusia yang multi kultur. Untuk itu, maka perlu dikenalkan, dipahamkan, dan diaplikasikan kepada generasi muda sebagai pemegang estafet budaya bangsa di masa mendatang. Tentu saja upaya ini harus diikuti dengan suatu metode yang tepat agar hasilnya bisa efektif dan efisien, yakni dengan cara memformula wayang sesuai dengan tingkat perkembangan fisik dan jiwa kaum remaja.

Deskripsi bentuk dan karakter disampaikan dengan bahasa Indonesia,Jawa Ngoko, dan Jawa Krama Madya, dengan harapan dapat diapresiasi oleh generasi muda di Indonesia yang akan tetapselalu mempertahankan jiwa kesatuan dan persatuan.

Dengan demikian,maka wayang ini hadir dalam kemasan khusus untuk kaum muda,agar dapat dijadikan sebagai media pendidikan budi pekerti yang searah.

Buku ini merupakan bukti nyata untuk mendekatkan kembali dunia wayang dengan dunia kawula yang sekarang ini cenderung menjauh. Mendekatnya wayang di dalam kehidupan generasi muda akan mempengaruhi kualitas kepribadiannya, yakni pribadi wayang yang penuh dengan ajaran nilai-nilai luhur yang berasas pada kearifan lokal, sehingga ke depan akan menjadi bangsa yang maju dan beridiologi budaya sendiri yang pantas dibanggakan kepada bangsa-bangsa lain.

.

Buku WAYANG SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BAGI GENERASI MUDA Jilid 2 - Junaidi

Buku WAYANG SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BAGI GENERASI MUDA Jilid 2 – Junaidi

.

Seri lengkap empat jilid dari buku ini :

.

Junaidi  ;  “ WAYANG Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Bagi Generasi Muda. Jilid 1  Seri Remaja Batara Guru sampai Manumayasa ;  Yogyakarta  ;  penerbit Arindo Nusa Media  ;  2011  ;  xxxvii + 173 halaman  ;  ISBN 978-979-99446-5-2 ;  foto boneka wayang kulit purwa bewarna  ; bahasa Indonesia, bahasa Jawa ngoko  ;  bahasa Jawa krama madya.

.

Junaidi  ;  “ WAYANG Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Bagi Generasi Muda. Jilid 2  Seri Remaja Bambang Kalingga sampai Pandu ;  Yogyakarta  ;  penerbit Arindo Nusa Media  ;  xxxix + 164 halaman  ;  ISBN 978-979-18269-6-9  ;  foto boneka wayang kulit purwa bewarna  ; bahasa Indonesia, bahasa Jawa ngoko  ;  bahasa Jawa krama madya.

.

Junaidi  ;  “ WAYANG Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Bagi Generasi Muda. Jilid 3 “ Seri Remaja Pandawa – Kurawa beserta Sahabat-Sahabatnya.  ;  Yogyakarta  ;  penerbit Arindo Nusa Media  ;  xxxix + 121 halaman  ;  ISBN 978-979-18269-7-6  ;  foto boneka wayang kulit purwa bewarna  ; bahasa Indonesia, bahasa Jawa ngoko  ;  bahasa Jawa krama madya.

.

Junaidi  ;  “ WAYANG Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Bagi Generasi Muda. Jilid 4  Seri Remaja Abimanyu sampai Parikesit, dilengkapi Naskah Wayangan.  ;  Yogyakarta  ;  penerbit Arindo Nusa Media  ;  xxxix + 99 halaman  ;  ISBN 978-979-18269-8-3  ;  foto boneka wayang kulit purwa bewarna ;  bahasa Indonesia, bahasa Jawa ngoko  ;  bahasa Jawa krama madya.

.

Alamat penerbit

Arindo Nusa Media
Jl.Gowongan Kidul 20,
Yogyakarta
Tel 0274 – 563366
Email : arindo.nusa.media@gmail.com

.

.

Pada buku jilid 2 diuraikan tokoh-tokoh wayang , sifat / karakter nya,

Bab IV Tokoh-tokoh Wayang Seri Bambang Kalingga

  1. Tokoh-tokoh Wayang Pada Masa Raden Hastin di Astinapura
    1. Raden Hastin
    2. Bambang Kalingga
    3. Dewi Sriyati
    4. Raden Anoman
    5. Raden Anggada
    6. Raden Anila
    7. Dewi Sayempraba
    8. Dewi Purwati
    9. Raden Pujatmaka
    10. Raden Indrajit
    11. Raden Trikaya
    12. Raden Trisirah
    13. Raden Bukbis
    14. Raden Kumba-kumba
    15. Raden Aswani Kumba
    16. Raden Batlawa
    17. Raden Kusya
    18. Dewi Trijatha
    19. Reden Dentawilukrama
    20. Trigangga
    21. Purwaganti
  1. Tokoh-tokoh Wayang Remaja Pada Masa Bambang Sakri
    1. Raden Kuru
    2. Raden Yadu
    3. Raden Trawasu
    4. Bambang Sakri
    5. Raden Katimasa
    6. Raden Kunta

Bab V Tokoh-tokoh Wayang Remaja Seri Palasara

  1. Raden Santanu
  2. Bambang Palasara
  3. Raden Kalakanda
  4. Raden Durgandana
  5. Dewi Durgandini
  6. Raden Kuntiboja
  7. Harya Dadali
  8. Harya Sengkali

Bab VI Tokoh-tokoh Wayang Remaja Seri Abiyasa

  1. Raden Abiyasa
  2. Raden Dewabrata
  3. Dewi Rekatawati
  4. Raden Kencakarupa
  5. Raden Rupakenca
  6. Raden Rajamala
  7. Raden Citranggada
  8. Raden Basukunti
  9. Raden Arimuka
  10. Raden Wahmuka
  11. Dewi Amba
  12. Dewi Ambika
  13. Dewi Ambalika
  14. Raden Salwa
  15. Raden Seta
  16. Raden Utara
  17. Raden Wratsangka
  18. Dewi Utari
  19. Raden Mandrapati
  20. Bambang Baratwaja
  21. Raden Drupara

Bab VII Tokoh-tokoh Orang Tua Pandawa dan Kurawa

  1. Tokoh-tokoh Wayang Seri Pandu
    1. Raden Destarata
    2. Raden Pandu
    3. Raden Yamawidura
    4. Raden Sucitra
    5. Raden Kumbayana
    6. Raden Narasoma
    7. Dewi Madrim
    8. Raden Sada
    9. Dewi Sruta
    10. Dewi Kunthi
    11. Raden Haryaprabu Rukma
    12. Raden Ugrasena
    13. Raden Tremboko
    14. Dewi Gandawati
    15. Raden Gandamana
    16. Dewi Krepi
    17. Raden Krepa
    18. Dewi Gendari
    19. Raden Suman
    20. Raden Damagosa

.

Buku ” BIMA SEJATI ” – Ardian Kresna – 2012.


.

Buku BIMA SEJATI - Ardian Kresna

Buku BIMA SEJATI – Ardian Kresna

 

Buku ” WAYANG , Sebagai Simbol Hidup dan Kehidupan Manusia. ” – Sri Yatini AY – 2012.


.

Buku WAYANG Sebagai Simbul Hidup - Sri Yatini AY

Buku WAYANG Sebagai Simbul Hidup – Sri Yatini AY

.

CvrB WyngSbgSimbolHidup- Sri Yatini cmprs.

.

Rsnsi WyngSbgSHdp- Sri Yatini

.

 

Ki Ageng Suryomentaram, biografi ditampilkan oleh Jrink Hetfield, Yogyakarta


kawruh jiwa, kawruh pangawikan pribadi, Ki Ageng Suryomentaram, BRM Kudiarmadji, wejangan Ki Ageng Suryomentaram, ajaran Ki Ageng Suryomentaram, falsafah Jawa, Kejawen, Tedjatirta, Jrink Hetfield.

 

Ki Ageng Suryomentaram

ditampilkan oleh Jrink Hetfield, Yogyakarta di blog Tedjatirta
http://tedjatirta.blogspot.com/2009/11/ki-ageng-suryamentaram.html

Pada tahun 1892, tepatnya pada tanggal 20 Mei tahun tersebut, seorang jabang bayi terlahir sebagai anak ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sultan yang bertahta di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jabang bayi tersebut diberi nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ibundanya bernama BRA (Bendara Raden Ayu) Retnomandoyo, putri Patih Danurejo VI yang kemudian bernama Pangeran Cakraningrat. Demikianlah, BRM Kudiarmadji mengawali lelakon hidupnya di dalam kraton sebagai salah seorang anak Sri Sultan yang jumlah akhirnya mencapai 79 putera-puteri.

Seperti saudara-saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji bersama-sama belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan sekolah dasar sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama 2 tahun lebih. BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Bendara Raden Mas Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram.
Tahun demi tahun berlalu, pena kehidupan mulai menuliskan kisahnya. Sedikit demi sedikit Pangeran Suryomentaram mulai merasakan sesuatu yang kurang dalam hatiya. Setiap waktu ia hanya bertemu dengan yang disembah, yang diperintah, yang dimarahi, yang dimintai. Dia tidak puas karena merasa belum pernah bertemu orang. Yang ditemuinya hanya sembah, perintah, marah, minta, tetapi tidak pernah bertemu orang. Ia merasa masygul dan kecewa sekalipun ia adalah seorang pangeran yang kaya dan berkuasa.

KABUR

Dalam kegelisahannya, pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan ia tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung dalam lingkungan kraton, tidak mengetahui keadaan di luar. Hidupnya menjadi sangat tertekan, ia merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton. Penderitaannya semakin mendalam dengan kejadian-kejadian berturutan yang menderanya, yaitu:

1. Patih Danurejo VI, kakek yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia.
2. Ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya.
3. Istri yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan putra yang baru berusia 40 hari.

Rasa tidak puas dan tidak betah makin menjadi-jadi sampai pada puncaknya, ia mengajukan permohonan kepada ayahanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII, untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonan tersebut tidak dikabulkan. Pada kesempatan lain ia mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, namun ini pun tidak dikabulkan. Karena sudah tidak tahan lagi, diam-diam ia meninggalkan kraton dan pergi ke Cilacap menjadi pedagang kain batik dan setagen (ikat pinggang). Di sana ia mengganti namanya menjadi Notodongso.

Ketika berita perginya Pangeran Suryomentaram ini didengar oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII, maka Sultan memerintahkan KRT Wiryodirjo (Bupati Kota) dan R.L. Mangkudigdoyo, untuk mencari Pangeran Suryomentaram dan memanggil kembali ke Yogyakarta. Setelah mencari-cari sekian lama, akhirnya ia ditemukan di Kroya (Banyumas) sedang memborong mengerjakan sumur.

PULANG

Pangeran Suryomentaram kembali ke Yogyakarta meskipun sudah terlanjur membeli tanah. Mulai lagi kehidupan yang membosankan, setiap saat ia selalu mencari-cari penyebab kekecewaan batinnya. Ketika ia mengira bahwa selain kedudukan sebagai pangeran, penyebab rasa kecewa dan tidak puas itu adalah harta benda, maka seluruh isi rumah dilelang. Mobil dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada sopirnya, kuda dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada gamelnya (perawat kuda), pakaian-pakaiannya dibagi-bagikan kepada para pembantunya.

Upayanya itu ternyata tidak juga menghasilkan jawaban atas kegelisahannya, ia tetap merasa tidak puas, ia merindukan dapat bertemu orang. Hari-hari selanjutnya diisi dengan keluyuran, bertirakat ke tempat-tempat yang dianggap keramat seperti Luar Batang, Lawet, Guwa Langse, Guwa Cermin, Kadilangu dan lain-lain. Namun rasa tidak puas itu tidak hilang juga. Ia makin rajin mengerjakan shalat dan mengaji, tiap ada guru atau kiai yang terkenal pandai, didatangi untuk belajar ilmunya. Tetap saja rasa tidak puas itu menggerogoti batinnya. Kemudian dipelajarinya agama Kristen dan theosofi, ini pun tidak dapat menghilangkan rasa tidak puasnya.

BEBAS

Pada tahun 1921 ketika Pangeran Suryomentaram berusia 29 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mangkat. Dia ikut mengantarkan jenazah ayahandanya ke makam Imogiri dengan mengenakan pakaian yang lain daripada yang lain. Para Pangeran mengenakan pakaian kebesaran kepangeranan, para abdi dalem mengenakan pakaian kebesarannya sesuai dengan pangkatnya, Pangeran Suryomentaram memikul jenazah sampai ke makam Imogiri sambil mengenakan pakaian kebesarannya sendiri yaitu ikat kepala corak Begelen, kain juga corak Begelen, jas tutup berwarna putih yang punggungnya ditambal dengan kain bekas berwarna biru sambil mengempit payung Cina.

Dalam perjalanan pulang ia berhenti di Pos Barongan membeli nasi pecel yang dipincuk dengan daun pisang, dimakannya sambil duduk di lantai disertai minum segelas cao. Para pangeran, pembesar, maupun abdi dalem yang lewat tidak berani mendekat karena takut atau malu, mereka mengira Pangeran Suryomentaram telah menderita sakit jiwa, namun ada pula yang menganggapnya seorang wali. Setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dinobatkan sebagai raja, Pangeran Suryomentaram sekali lagi mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran, dan kali ini dikabulkan.

Pemerintah Hindia Belanda memberikan uang pensiun sebesar f 333,50 per bulan, tetapi ditolaknya dengan alasan ia tidak merasa berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dan tidak mau terikat pada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan uang f 75 per bulan hanya sebagai tanda masih keluarga kraton. Pemberian ini diterimanya dengan senang hati. Setelah berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran ia merasa lebih bebas, tidak terikat lagi. Namun segera ia menyadari bahwa ia masih tetap merasa tidak puas, ia masih belum juga bertemu orang.

Suryomentaram yang bukan pangeran lagi itu kemudian membeli sebidang tanah di desa Bringin, sebuah desa kecil di sebelah utara Salatiga. Di sana ia tinggal dan hidup sebagai petani. Sejak itu ia lebih dikenal dengan nama Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. Banyak orang yang menganggap ia seorang dukun, dan banyak pula yang datang berdukun.

PERJUANGAN MORAL

Meskipun Ki Gede Suryomentaram sudah tinggal di Bringin, tetapi ia masih sering ke Yogya. Di Yogya ia masih mempunyai rumah.
Waktu itu Perang Dunia I baru selesai. Ki Gede Suryomentaram dan Ki Hadjar Dewantara beserta beberapa orang mengadakan sarasehan setiap malam Selasa Kliwon dan dikenal dengan nama Sarasehan Selasa Kliwon. Yang hadir dalam Sarasehan Selasa Kliwon itu ada 9 orang, yaitu:

1. Ki Gede Suryomentaram,
2. Ki Hadjar Dewantara,
3. Ki Sutopo Wonoboyo,
4. Ki Pronowidigdo,
5. Ki Prawirowiworo,
6. BRM Subono (adik Ki Gede Suryomentaram),
7. Ki Suryodirjo,
8. Ki Sutatmo, dan
9. Ki Suryoputro.

Masalah yang dibicarakan dalam sarasehan itu adalah keadaan sosial-politik di Indonesia. Kala itu sebagai akibat dari Perang Dunia I yang baru saja selesai, negara-negara Eropa, baik yang kalah perang maupun yang menang perang, termasuk Negeri Belanda, mengalami krisis ekonomi dan militer. Saat-saat seperti itu dirasa merupakan saat yang sangat baik bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
Pada awalnya muncul gagasan untuk mengadakan gerakan fisik melawan Belanda, tetapi setelah dibahas dengan seksama dalam sarasehan, disimpulkan bahwa hal itu belum mungkin dilaksanakan karena ternyata Belanda masih cukup kuat, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai kekuatan. Kalau kita bergerak tentu akan segera dapat ditumpas.

Sekalipun gagasan perlawanan fisik tersebut tidak dapat terwujud, namun semangat perlawanan dan keinginan merdeka tetap menggelora. Dalam sarasehan bersama setiap Selasa Kliwon itu akhirnya disepakati untuk membuat suatu gerakan moral dengan tujuan memberikan landasan dan menanamkan semangat kebangsaan pada para pemuda melalui suatu pendidikan kebangsaan. Pada tahun 1922 didirikanlah pendidikan kebangsaan dengan nama Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara dipilih menjadi pimpinannya, Ki Gede Suryomentaram diberi tugas mendidik orang-orang tua.
Dalam Sarasehan Selasa Kliwon inilah, sebutan Ki Gede Suryomentaram dirubah oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi Ki Ageng Suryomentaram.

PENCERAHAN

Setelah menduda lebih kurang 10 tahun, pada tahun 1925 Ki Ageng kawin lagi, kemudian beserta keluarga pindah ke Bringin. Rumahnya yang di Yogya digunakan untuk asrama dan sekolah Taman Siswa.

Pada suatu malam di tahun 1927, Ki Ageng membangunkan isterinya, Nyi Ageng Suryomentaram, yang sedang lelap tidur, dan dengan serta merta ia berkata, “Bu, sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati!” Sebelum Nyi Ageng sempat bertanya, Ki Ageng melanjutkan, “Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya adalah si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan. Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya adalah si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi.”

Sejak itu Ki Ageng kerjanya keluyuran, tetapi bukan untuk bertirakat seperti dulu, melainkan untuk menjajagi rasanya sendiri. Ia mendatangi teman-temannya untuk mengutarakan hasilnya bertemu orang – bertemu diri sendiri. Mereka pun kemudian juga merasa bertemu orang – bertemu diri sendiri masing-masing. Setiap kali bertemu orang (diri sendiri) timbul rasa senang. Rasa senang tersebut dinamakan “rasa bahagia”, bahagia yang bebas tidak tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan. Pada tahun 1928 semua hasil “mengawasi dan menjajagi rasa diri sendiri” itu ditulis dalam bentuk tembang (puisi), kemudian dijadikan buku dengan judul “Uran-uran Beja”.

Kisah-kisah tentang laku Ki Ageng yang menjajagi rasa diri sendiri tersebut ada banyak sekali, di antaranya sebagai berikut.

Suatu hari Ki Ageng akan pergi ke Parang Tritis yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Sesampainya di Kali Opak perjalanannya terhalang banjir besar. Para tukang perahu sudah memperingatkan Ki Ageng agar tidak menyeberang, tetapi karena merasa pandai berenang, Ki Ageng nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Akhirnya ia megap-megap hampir tenggelam dan kemudian ditolong oleh para tukang perahu.

Setelah pulang ia berkata kepada Ki Prawirowiworo sebagai berikut, “Aku mendapat pengalaman. Pada waktu aku akan terjun ke dalam sungai, tidak ada rasa takut sama sekali. Sampai gelagapan pun rasa takut itu tetap tidak ada. Bahkan aku dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap hampir tenggelam.” Ki Prawirowiworo menjawab, “Tidak takut apa-apa itu memang benar, sebab Ki Ageng adalah orang yang putus asa. Orang yang putus asa itu biasanya nekad ingin mati saja.” Ki Ageng menjawab, “Kau benar. Rupanya si Suryomentaram yang putus asa karena ditinggal mati kakek yang menyayanginya, dan istri yang dicintainya, nekad ingin bunuh diri. Tetapi pada pengalaman ini ada yang baik sekali, pada waktu kejadian tenggelam megap-megap, ada rasa yang tidak ikut megap-megap, tetapi malah dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap gelagapan itu.”

PEMBENTUKAN PETA
(Prajurit: Pembela Tanah Air)

Belanda mencurigai gerak-gerik Ki Ageng. Maka setiap ia mengadakan ceramah ataupun pertemuan-pertemuan selalu ada PID (Politzeke Inlichtingen Dienst) atau reserse yang ikut hadir. Sekitar tahun 1926, ketika aksi bangsa kita menentang bangsa Belanda semakin marak, banyak perintis kemerdekaan yang ditangkap dan dibuang ke Digul dengan tuduhan sebagai agen atau anggota komunis. Suatu ketika Ki Ageng bepergian dari Bringin ke Yogya, sesampainya di desa Gondangwinangun ia ditahan oleh polisi kemudian dibawa ke Yogya dan dimasukkan ke dalam sel tahanan. Setelah ditanggung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, Ki Ageng kemudian dibebaskan.

Pada pertemuan-pertemuan “Manggala Tiga Belas” persoalan-persoalan yang dibicarakan berkisar pada bagaimana cara menolak peperangan bila Indonesia menjadi gelanggang perang antara Belanda dan Jepang. Ki Ageng mengemukakan bahwa bangsa Indonesia dalam peperangan itu mempunyai tiga pilihan, ialah:

1. Membela majikan lama yaitu Belanda.
2. Ganti majikan baru yaitu Jepang.
3. Menjadi majikan sendiri yaitu merdeka.

Perang itu sendiri bukanlah persoalan kita melainkan persoalan pihak Belanda dan Jepang. Permasalahan kita ialah, kita ini tinggal di negeri sendiri, tetapi negeri kita ini dipakai untuk gelanggang perang. Kalau kita mau pergi, mau pergi ke mana?. Kalau kita tinggalkan tentu akan diambil oleh orang lain.

Pertemuan “Manggala Tiga Belas” yang pertama diadakan di pendapa Taman Siswa, dan yang kedua diadakan di rumah Pangeran Suryodiningrat. Pertemuan tersebut baru sempat diadakan dua kali ketika Jepang sudah keburu mendarat di Jawa.

Pada waktu pendudukan Jepang, Ki Ageng berusaha keras untuk membentuk tentara, karena ia berkeyakinan bahwa tentara adalah tulang punggung negara. Hal ini dikemukakan Ki Ageng dalam pertemuannya dengan Empat Serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Kiai Haji Mas Mansoer, Ki Hadjar Dewantara).

Ki Ageng juga menyusun suatu tulisan tentang dasar-dasar ketentaraan yang diberinya nama “Jimat Perang”, yaitu pandai perang dan berani mati dalam perang. Jimat Perang ini diceramahkan oleh Ki Ageng ke mana-mana. Pada suatu kesempatan bertemu Bung Karno, Ki Ageng memberikan Jimat Perang ini, yang kemudian dipopulerkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidatonya di radio. Maka Jimat Perang ini segera tersebar luas di kalangan masyarakat sehingga membangkitkan semangat berani mati dan berani perang.

Dalam usaha mewujudkan gagasannya, Ki Ageng mengajukan permohonan kepada gubernur Yogya yang pada waktu itu dijabat oleh Kolonel Yamauchi, untuk membentuk tentara sukarela, akan tetapi permohonan tersebut ditolak. Kemudian seorang anggota dinas rahasia Jepang yang bernama Asano menyanggupi akan membawa permohonan itu langsung ke Tokyo.

Untuk membuat surat permohonan tersebut Ki Ageng membentuk panitia 9 yang disebut “Manggala Sembilan”, masing-masing adalah:

1. Ki Suwarjono
2. Ki Sakirdanarli
3. Ki Atmosutidjo
4. Ki Pronowidigdo
5. Ki Prawirowiworo
6. Ki Darmosugito
7. Ki Asrar
8. Ki Atmokusumo
9. Ki Ageng Suryomentaram

Setelah ditandatangani dengan darah masing-masing oleh kesembilan orang di atas, surat tersebut diserahkan kepada Asano yang membawanya sendiri langsung ke Tokyo. Permohonan ini tidak diketahui oleh pemerintah Jepang di Indonesia. Tidak lama kemudian diterima berita bahwa permohonan tersebut dikabulkan. Maka pemerintah Jepang yang ada di Indonesia terkejut, tetapi karena itu adalah izin langsung dari Tokyo maka Tentara Sukarela tetap harus dibentuk.

Kemudian Ki Ageng mengadakan pendaftaran. Maka berduyun-duyunlah yang mendaftarkan diri. Akhirnya pendaftaran diambil alih oleh pemerintah dan nama Tentara Sukarela diubah menjadi Tentara Pembela Tanah Air, disingkat PETA. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, tentara PETA inilah yang merupakan modal kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan dan selanjutnya menjadi inti Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada waktu perang kemerdekaan, Ki Ageng memimpin pasukan gerilya yang disebut Pasukan Jelata, daerah operasinya di sekitar Wonosegoro. Setelah ibu kota RI Yogyakarta diduduki Belanda, Ki Ageng bersama keluarga meninggalkan kota, mengungsi ke daerah Gunung Kidul. Di tempat pengungsian ini Ki Ageng masih selalu berhubungan dengan tentara gerilya.

PENUTUP

Setelah penyerahan kedaulatan, Ki Ageng mulai lagi mengadakan ceramah-ceramah Kawruh Beja (Kawruh Jiwa) ke mana-mana, ikut aktif mengisi kemerdekaan dengan pembangunan jiwa berupa ceramah-ceramah pembangunan jiwa warga negara. Pada tahun 1957 pernah diundang oleh Bung Karno ke Istana Merdeka untuk dimintai wawasan tentang berbagai macam masalah negara. Ki Ageng tetap mengenakan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari.

Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.

Pada suatu hari ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, di daerah Salatiga, Ki Ageng jatuh sakit dan dibawa pulang ke Yogya, dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit itu, Ki Ageng masih sempat menemukan kawruh yaitu bahwa “puncak belajar kawruh jiwa ialah mengetahui gagasannya sendiri”.

Ki Ageng dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu, namun karena sakitnya tidak kunjung berkurang, kemudian ia dibawa pulang ke rumah. Sakitnya makin lama makin parah, dan pada hari Minggu Pon tanggal 18 Maret 1962 jam 16.45, dalam usia 70 tahun, Ki Ageng tutup usia di rumahnya di Jln. Rotowijayan no. 22 Yogyakarta dan dimakamkan di makam keluarga di desa Kanggotan, sebelah selatan kota Yogyakarta.

Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan seorang istri, dua orang putra, dan empat orang putri. Seorang putra telah meninggal. Mereka adalah:

1. RMF Pannie
2. RM Jegot (meninggal)
3. RM Grangsang
4. RA Japrut
5. RA Dlureg
6. RA Gresah
7. RA Semplah

Ki Ageng Suryomentaram juga meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu KAWRUH PANGAWIKAN PRIBADI atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan KAWRUH JIWA bagi kita semua yang bersedia melepaskan segala atribut keangkuhan kita, bagi kita yang bersedia menjadi manusia sederhana dan rendah hati, yang mendambakan masyarakat Indonesia damai sejahtera.

*****

.

Catatan dari Admin Wayangpustaka.

Materi terkait dengan tulisan di atas yang bisa menambah wawasan Anda :

 

1.

Buku “Tokoh-tokoh Kejawen. Ajaran dan pengaruhnya.” Karya Hadiwijaya, 2010. Salah satu tokoh yang diulas dalam buku ini adalah Ki Ageng Suryomentaram
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/18/buku-tokoh-tokoh-kejawen-ajaran-dan-pengaruhnya-karya-hadiwijaya-2010/

2.

Ebook (yang bisa Anda unduh gratis) “Kawruh Jiwa Jilid 1. Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram”yang dihimpun oleh dr Grangsang Suryomentaram :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/19/ebook-kawruh-jiwa-jilid-1-wejanganipun-ki-ageng-suryomentaram-kaimpun-dening-grangsan-suryomentaram-dr-1989/

3.

Admin pernah membaca tulisan di blog Tedjatirta juga mengenai “Wujuding Kawruh Jiwa”. Yang isinya menceritakan diskusi kelompok yang diikuti penulis mengenai Kawruh Jiwa :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/19/wujuding-kawruh-jiwa/
yang di copy paste dari
http://tedjatirta.blogspot.com/2009/11/wujuding-kawruh-jiwa.html

Wujuding Kawruh Jiwa, wejangan Ki Ageng Suryomentaram.


kawruh jiwa, kawruh pangawikan pribadi, Ki Ageng Suryomentaram, wejangan Ki Ageng Suryomentaram, ajaran Ki Ageng Suryomentaram, falsafah Jawa, Kejawen

 

Pengantar dari Admin Wayangpustaka :

Kebetulan Admin pernah berselancar dan masuk ke suatu blog yang salah satu halamannya menceritakan pengalaman seseorang yang mengikuti diskusi kelompok membicarakan Kawruh Jiwa. Admin berpikir tulisan di blog tersebut berkaitan dengan salah satu ebook yang disajikan di Wayangpustaka ini, jadi ada baiknya keberadaan tulisan tadi diwartakan isinya dan alamat URL nya. Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Salam,
Admin Wayangpustaka

 

 

Wujuding Kawruh Jiwa
Nopember 2009

http://tedjatirta.blogspot.com/2009/11/wujuding-kawruh-jiwa.html

Kawruh jiwa, ingkang dipun sinau dening kula sakanca, punika kawruh bab jiwa. Jiwa punika peranganing tiyang ingkang boten kasatmata lan raga punika peranganing tiyang ingkang kasatmata. Mila jiwa punika boten kacepeng ing panca indriya.

Sanajan jiwa punika boten kasatmata, nanging tiyang kraos dhateng jiwa wau, kados dene anggenipun kraos dhateng sakit, dhateng susah lan sapanunggilanipun. Awit saking kraos, mila tiyang punika ngakeni, yen jiwa punika wonten. Mila jiwa punika raos.

Dados kawruh jiwa punika kawruh raos. Kawruh jiwa punika dede agami lan dede wulangan awon-sae, ingkang ngangge pepacuh “Aja mangkono lan kudu mangkono” lan dede lampah-lampah utawi sirikan. Dados kawruh jiwa punika kawruh, ingkang meruhi dhateng jiwa lan sawateg-wategipun, kados dene kawruh kewan lan kawruh tetaneman lan sapanunggilanipun, lan sawateg-wategipun.

Kawruh jiwa punika kawruh ingkang murugaken beja, beja ingkang mardika, tegesipun boten gumantung dhateng papan, jaman, lan kawontenan, Kawruh jiwa punika boten murugaken sugih, boten murugaken angsal pangkat lan boten murugaken angsal panguwasa. Mila yen tiyang sinau kawruh jiwa kanthi gegayuhan supados sugih, supados angsal pangkat lan supados angsal panguwasa, punika angsal-angsalipun kacelik.

Sarehne kawruh jiwa punika kawruh raos, mila sinau kawruh jiwa punika sinau raosipun piyambak. Raosipun piyambak punika awakipun piyambak. Mila meruhi raosipun piyambak punika meruhi awakipun piyambak.

Dados kawruh raos punika kawruh awakipun piyambak. Kawruh awakipun piyambak punika dipun sebut pangawikan pribadi. Dados pangawikan pribadi punika murugaken beja.

Pribadi ing ngriki boten teges pribadi ingkang muluk-muluk, nanging pribadi awakipun piyambak ingkang padamelanipun mikir punapa-punapa, kraos punapa-punapa, lan kapengin punapa-punapa. Tiyang punika boten saged angsal pangawikan pribadi saking tiyang sanes, saking buku utawi saking guru, nanging namung saking awakipun piyambak. Mila tiyang punika boten saged mucal dhateng tiyang sanes, prakawis pangawikan pribadi.

Sinau pangawikan pribadi punika dipun wiwiti samangke, ing ngriki lan wonten ing kawontenan kados makaten, (saiki, kene, ngene) nanging boten wingi lan sesuk, boten rika lan boten ngono. Tegesipun sinau pengawikan pribadi punika dipun wiwiti saking samangke ing ngriki awakipun piyambak punika kepengin punapa, tumindak punapa, mikir punapa lan kraos punapa. Yen sampun pinanggih lajeng dipun tliti tegesipun, tegesipun penginanipun piyambak, tegesipun tindakipun piyambak, tegesipun pikiranipun piyambak, lan tegesipun raosipun piyambak.

Ing ngriki katawis angelipun sinau kawruh jiwa, jalaran teges-teges wau wonten ingkang ngaling-alingi. Yen aling-aling wau dereng dipun sumerepi, tiyang boten saged sumerep dhateng teges-teges wau.

Aling-aling wau wujud tempelan teges saking awakipun piyambak. Tiyang punika nempeli teges dhateng raosipun piyambak lan tempelan teges wau dipun kinten tegesipun raosipun. Yen tempelan teges wau konangan anggenipun tempelan, tiyang lajeng sumerep tegesipun raosipun piyambak.

Dene contonipun makaten. Upami tiyang nyrengeni (nesoni) anakipun, jalaran anak wau boten minggah klas wonten ing sekolahanipun. Tiyang wau boten sumerep tegesing nesunipun piyambak, jalaran kaling-kalingan tempelan teges saking awakipun piyambak, jalaran awakipun piyambak nempeli teges dhateng nesunipun piyambak.

Tempelan teges punika raosipun makaten, “Aku nesoni anakku, supaya anakku sregep sinau, supaya wasis, supaya becik.” Tempelan teges wau raosipun ingkang pokok: “Supaya becik.” Dados tempelan teges wau dede tegesipun nesunipun piyambak, boten nyata boten nalar.

Tempelan teges wau ngemot pamanggih, yen nesu punika murugaken sae. Pamanggih wau lepat. Mila pamanggih wau boten saged dipun tindakaken.

Yen srengen punika murugaken sae, tiyang lajeng gampil lan rikat damel sae datheng tiyang kathah. Tiyang lajeng dhateng peken lan lajeng nyrengeni tiyang sapeken, lan tiyang sapeken lajeng dados sae. Kados makaten salajengipun, engga pinten-pinten dinten.

Kados makaten tempelan teges anggenipun boten nalar. Yen tempelan teges punika konangan, tiyang lajeng sumerep tegesipun nesunipun piyambak. Dene terangipun makaten. Tiyang, anggenipun ngajeni anakipun, punika kangge tandhon pensiun lan garan moncer. Tiyang punika boten tresna boten punapa dhateng anakipun. Ingkang asring dipun wastani tresna, punika raos gesang perlu lestantuning jenis.

Nalika anak taksih alit dipun jagi dening tiyang sepuhipun, supados anak wau lestantun gesang. Nanging yen sampun diwasa anak wau dipun ajak tukaran lan tukaran punika kalairaning sengit.

Dados tiyang punika namung rewa-rewa tresna dhateng anakipun.

Rewa-rewa tresna wau ugi tempelan teges. Yen rewa-rewa tresna punika konangan, yen dede tresna estu, tiyang lajeng sumerep raosipun piyambak anggenipun ngajeni anakipun, inggih punika kangge tandhon pensiun lan garan moncer. Mila tiyang punika boten saged ngraosaken raosipun anakipun, jalaran kaling-kalingan gegayuhanipun, inggih punika tandhon pensiun lan garan moncer.

Tandhon pensiun punika raosipun makaten, “Yen anakku wasis lan duwe ijazah dhuwur lan duwe jabatan dhuwur lan duwe pametu dhuwur lan yen aku wis tuwa lan wis ora bisa nyambut gawe lan isih butuh mangan lan isih butuh wuwuh bojo, banjur anakku mensiun aku.”

Garan moncer punika raosipun makaten, “Yen anakku ijazahe dhuwur lan jabatane dhuwur, aku katut dhuwur.”

Mila wonten nggen sesrawungan tiyang punika raosipun ngumukaken anakipun makaten, “Punika anak kula ingkang sekolah wonten ing STT, lan kakangipun dados hakim wonten ing Kalimantan lan mbakyunipun dados dokter wonten ing Makasar.”

Yen sampun sumerep dhateng raosipun piyambak anggenipun ngajeni dhateng anakipun, tiyang lajeng sumerep dhateng tegesipun nesunipun piyambak dhateng anakipun, ingkang boten minggah klas wau. Tegesipun nesu wau makaten, “Aku nesu menyang anakku olehe ora munggah klas. Jalaran kaplesed gegayuhanku tandhon pensiun lan garan moncer lan aku ngluputake anakku olehe mlesedake, lan aku ora ngluputake aku dhewe olehku nggayuh-nggayuh. Dados tegesipun nesunipun piyambak wau nyata, mila nalar.

Yen tiyang kaplesed gegayuhanipun, mangka lajeng nesu, punika runtut miturut aturan alam wonten nggen sebab lan kedadosan. Kosok wangsulipun tiyang tresna, teka nesu dhateng ingkang dipun tresnani punika boten runtut, jalaran nesu punika asalipun saking kabodhoan lan tresna punika asalipun mangertos raos. Dados nesu punika bodho.

Yen sampun sumerep dhateng tegesipun nesunipun piyambak dhateng anakipun ingkang boten minggah klas, tiyang lajeng sumerep raosipun anakipun, ingkang sami plek kaliyan raosipun piyambak. Jebul anak punika anggenipun ngajeni dhateng tiyang sepuhipun ugi kangge garan moncer lan prabot kangge nyekapi butuhipun. Dados raosipun anak lan tiyang sepuhipun punika sami.

Sumerep raos sami kados makaten punika raosipun dhame. Raos dhame kados makaten punika raos tresna utawi sih ingkang tanpa wates lan tanpa sarat. Dados yen tegesipun nesu punika dipun sumerepi, raos nesu punika sirna lan lajeng lair raos sih ingkang tanpa wates lan tanpa sarat.

Yen sampun kraos dhame, sanajan tiyang punika nyrengeni anakipun ingkang boten minggah klas, nanging anggenipun nyrengeni raosipun dhame. Nyrengeni dhame punika cocok raosipun lan ungelipun, inggih punika raosipun makaten: “Bocah, dianggo tandhon pensiun lan garan moncer, teka mlesedake lan banjur mbesuke sapa sing mensiun aku lan sapa sing dak anggo garan moncer, mangka moncerku dhewe wis bobrok.” Kados makaten wujudipun srengen dhame.

Kosok wangsulipun srengen boten dhame punika srengen ingkang wujudipun, ungelipun raosipun boten cocok. Srengen boten dhame punika raosipun makaten, “Bocah diperdi sregep sinau bae, teka ora gelem. Mangka yen wasis, kuwasisane iya dialap dhewe lan aku ora melu ngalap apa-apa.” Lo, rak boten cocok ungelipun lan raosipun.

Yen anakipun wasis, awakipun piyambak rak moncer. Punapa moncer punika dede punapa-punapa? Kados makaten wujudipun srengen boten dhame.

Yen sadaya raosipun piyambak dipun tliti tegesipun engga pinanggih, tiyang lajeng kraos dhame utawi kraos beja. Kados makaten wujudipun kawruh jiwa, ingkang dipun sinau dening kula sakanca. Dados kawruh jiwa punika boten murugaken punapa-punapa kajawi kraos beja.

Gegrombolan sinau kawruh jiwa punika dede pakempalan, mila boten wonten pengurus lan warga, boten wonten arta pangkal lan iuran, boten wonten anggaran dasar lan anggaran rumah tangga, dados boten wonten ikatan punapa-punapa. Dene ingkang wonten namung panitiya kawruh jiwa (PKD), PKD punika namung alamat kangge nggampilaken sesambetan.

Namung samanten atur kula.

Nuwun.

*****

Tambahan dari Admin Wayangpustaka :

Materi yang berkaitan dengan tulisan di atas :

1.

Ebook “Kawruh Jiwa Jilid 1. Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram” :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/19/ebook-kawruh-jiwa-jilid-1-wejanganipun-ki-ageng-suryomentaram-kaimpun-dening-grangsan-suryomentaram-dr-1989/

2.

Buku “Tokoh-tokoh Kejawen. Ajaran dan Pengaruhnya.” Karya Hadiwijaya, 2009. Salah satu tokoh yang diulas dalam buku ini adalah Ki Ageng Suryomentaram
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/18/buku-tokoh-tokoh-kejawen-ajaran-dan-pengaruhnya-karya-hadiwijaya-2010/

Ebook “Kawruh Jiwa jilid 1, Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram” kaimpun dening Grangsang Suryomentaram dr, 1989


kawruh jiwa, wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram, Grangsang Suryomentaram dr, penerbit Haji Masagung

 

Data buku :

[Kaimpun dening] Grangsang Suryomentaram, dr,  ;  “ Kawruh Jiwa Jilid 1. Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram. “  ;  Jakarta  ;  penerbit Masagung, Haji CV.  ;  1989 = cetakan pertama  ;  130 halaman  ; aksara Latin  ;  bahasa Jawa  ;  ISBN 979-412-148-7 .   

Ebook (file digital format PDF) dari buku jilid 1 ini bisa diunduh di :

Bagian 1, halaman 001 ~ 062 :
http://www.4shared.com/office/W0CZn0yY/KawruhJiwa1_Suryomentaram_0010.html

.

[ pemutakhiran 11 Juni 2012 bagian 1, penambahan file konservasi Jilid 1 bagian 2 halaman 063 sampai dengan 130 ] :

Bagian 2, halaman 063 ~ 130

Mencakup uraian mengenai
Kawruh Laki – Rabi dan Kawruh Pangupajiwa

File konservasi berformat PDF dapat diunduh gratis di URL :
http://www.4shared.com/office/NG2QRtOK/KawruhJiwa1_Suryomentaram_0631.html

[ akhir permutakhiran 11 Juni 2012 bagian 1 ]

.

Materi yang berkaitan dengan posting ini :

1.

Buku “Tokoh-tokoh Kejawen. Ajaran dan pengaruhnya.” Karya Hadiwijaya, 2010. Salah satu tokoh kejawen yang diulas dalam buku ini adalah Ki Ageng Suryomentaram :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/18/buku-tokoh-tokoh-kejawen-ajaran-dan-pengaruhnya-karya-hadiwijaya-2010/

2.

Admin pernah membaca tulisan di blog mengenai “Wujuding Kawruh Jiwa”. Yang isinya menceritakan diskusi kelompok yang diikuti penulis mengenai Kawruh Jiwa :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/19/wujuding-kawruh-jiwa/
yang di copy paste dari
http://tedjatirta.blogspot.com/2009/11/wujuding-kawruh-jiwa.html

.

[ pemutakhiran 11 Juni 2012 bagian 2 ]

3.

Blog Tejatirta memuat tulisan tentang riwayat hidup Ki Ageng Suryomentaram. Kutipan utuk dari tulisan tersebut bisa dibaca di URL :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/19/ki-ageng-surtomentaram-biografi-ditulis-oleh-jrink-hetfield-yogyakarta/

[ akhir pemutakhiran 11 Juni 2012 bagian 2 ]

Buku “Tokoh-tokoh Kejawen. Ajaran dan Pengaruhnya” karya Hadiwijaya, 2010.


Prabu Jayabaya, Demang Suryongalam, Ki Ageng Sela, Syekh Siti Jenar, Raden Ngabehi Ranggawarsita, KGPAA Mangkunegara IV, Ki Ageng Suryomentaram, RMP Sosrokartono, Tokoh-tokoh Harda Pusara, Ki Nartosabdo.

 

Data buku :

Hadiwijaya  ;  “ Tokoh-tokoh Kejawen. Ajaran dan Pengaruhnya “ ;  Yogyakarta  ;  EULE Book ; Pebruari 2010 = cetakan pertama  ;  222 halaman  ;  ISBN 978-602-95078-1-2 .

Berisi :
Ulasan mengenai siapa dan ajaran / pitutur nya : Prabu Jayabaya, Demang Suryongalam, Ki Ageng Sela, Syekh Siti Jenar, Raden Ngabehi Ranggawarsita, KGPAA Mangkunegara IV, Ki Ageng Suryomentaram, RMP Sosrokartono, Tokoh-tokoh Harda Pusara, Ki Nartosabdo.

Kata Pengantar dari Penulis di dalam buku ini :

 

Masyarakat asli Jawa, sebagaimana masyarakat tradisional lain di dunia, merupakan masyarakat yang gemar sistem mistik. Sistem mistik yang sudah menjadi ajaran selama ribuan tahun di pulau Jawa ini dikenal dengan nama Kejawen. Kejawen merupakan suatu konsep hidup yang melingkupi lahir batin – material spiritual. Menurut pandangan para ahli, definisi kejawen adalah suatu kepercayaan tentang pandangan hidup yang diwariskan dari para leluhur.

 

Kejawen dengan demikian adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Penamaan kejawen bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen bukanlah agama. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java.

 

Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku. Ajaran kejawen tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep keselarasan dan keseimbangan lahir batin.

 

Pandangan hidup orang Jawa atau filsafat Jawa terbentuk dari gabungan alam pikir Jawa tradisional, kepercayaan Hindu atau filsafat India, dan ajaran tasawuf atau mistik Islam. Pandangan hidup tersebut banyak tertuang dalam karya-karya sastra yang berbentuk prosa dan puisi.

 

Kejayaan Hindu – Budha berangsur angsur menyurut setelah kekuasaan kerajaan Majapahit berakhir

Dan agama Islam yang berpaham tauhid menyebar. Para wali dan ulama mendominasi pembentukan kharakter religiusitas orang Jawa.

 

Selanjutnya muncul percampuran antara ajaran agama Islam dengan pemahaman-pemahaman Kejawen sebelumnya yang sering dikenal dengan nama Islam Kejawen.

 

Buku ini mengupas tokoh-tokoh anutan kaum Kejawen dan pembahasan tentang biografi serta ajaran-ajarannya secara lengkap. Sebenarnya masih sangat banyak tokoh yang semestinya diungkap, mengingat usia bangsa Jawa sudah ribuan tahun. Namun pada kesempatan ini disajikan tokoh politik, spiritual, filsuf, budaya dan seni. Harapannya agar dapat memberi gambaran yang lengkap tentang berbagai dimensi Kejawen dan representasinya dalam wacana budaya di tanah air.

 

Surakarta, Juli 2009

Hadiwijaya.

Data Penerbit :

EULE BOOK
KPP (Kelompok Penerbit Pinus)
Jl Tegal Melati no. 118 C Jongkang
(Belakang Monjali) Yogyakarta 55381
Telepon Redaksi : (0274) 867 646
Telepon Marketing : (0274) 867 151
Fax : (0274) 869 506

E-mail : rumahpinus@yahoo.com
pinusredaksi@gmail.com

.

.

*****

.
Catatan dari Admin mengenai materi lain yang terkait dengan posting ini yang selayaknya dibaca untuk memperkaya wawasan :

 

1.

Materi yang terkait dengan Ki Ageng Suryomentaram :

1.1.

Ebook (yang bisa diunduh gratis) : “Kawruh Jiwa Jilid 1. Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram” yang dihimpun oleh dr Grangsang Suryomentaram :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/19/ebook-kawruh-jiwa-jilid-1-wejanganipun-ki-ageng-suryomentaram-kaimpun-dening-grangsan-suryomentaram-dr-1989/

1.2.

Admin pernah membaca tulisan di blog mengenai “Wujuding Kawruh Jiwa”. Yang isinya menceritakan diskusi kelompok yang diikuti penulis mengenai Kawruh Jiwa :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/19/wujuding-kawruh-jiwa/
yang di copy paste dari
http://tedjatirta.blogspot.com/2009/11/wujuding-kawruh-jiwa.html


2.

Materi yang terkait dengan Wedhatama karya KGPAA Mangkunagara IV :

Ebook lengkap (yang bisa diunduh gratis) : “Wedhatama Winardi” karya redaksi penerbit Citra Jaya Murti Surabaya tahun 1988 = cetakan ke 3 :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/18/ebook-wedhatama-winardi-citra-jaya-murti-1988/

3.

 

Materi yang terkait dengan Pepali Ki Ageng Selo :

Ebook lengkap (yang bisa diunduh gratis) : :”Pepali Ki Ageng Selo” karya RM Soetardi Soeryohoedoyo terbitan tahun 1980 :
http://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/26/ebook-pepali-ki-ageng-selo-karya-soetardi-soeryohoesodo-rm-1980/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers