Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.


Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.

Empu Syiwamurti, Jasadipoera I, Yasadipura I, Dr. Prijohoetomo, R. Tanaya, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Bima, penerbit Institut Teknologi Bandung, Institut Indonesia, Yayasan Panunggalan, Lembaga Javanologi.

 

Pada tanggal 10 April 2011 Admin pernah menulis tentang empat buku karangan S.P. Adhikara

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/ seperti tertulis pada bagian (1) di bawah.

Admin ingin menambahkan tulisan yang sekarang termuat pada bagian (2) sebagai suatu saran urutan membaca buku-buku karangan S.P. Adhikara tersebut. Mungkin setelah membaca buku-buku tersebut pembaca ada yang menjadi bingung jika sebelumnya pernah melihat pakeliran wayang kulit dengan lakon yang sama ( Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci ) yang mungkin ceritanya berbeda dengan yang termuat di buku-buku ini. Dalam hal ini kita tidak perlu menilai mana yang benar atau salah. Tapi setidaknya kita bisa membaca buku-buku S.P. Adhikara – sebagai telaah sastra kuno dan telaah olah rasa – yang S.P. Adhikara tulis berdasarkan sumber naskah-naskah kuno dan analisa dia.

(1)    Ditulis 10 April 2011 :

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna.

Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.

 

 

Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut.

 

 

Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan ‘ Panunggalan ‘, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

 

 

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

(2)

Tambahan tulisan pada tanggal 28 Mei 2011 :

Saran urutan membaca buku-buku S.P. Adhikara adalah berdasarkan tahun karya naskah asli cerita-cerita tersebut :

 

a.      “ Nawaruci “ . Asli cerita Nawaruci karya Empu Syiwamurti dari Bali ditulis pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Kemudian S.P. Adhikara mernemahkan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) berdasarkan disertasi Dr. Prijohoetomo.

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/
atau
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/29/

 

b.      “ Dewaruci “. Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-dewaruci-karya-s-p-adhikara/

 

c.       “ Unio Mystica Bima “ . Berisi uraian mengapa-siapa Bima , analisis Serat Bimasuci , serta mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerit atersebut sering dicampur-adukkan.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/46/

 

d.      “ Analisis Serat Bimasuci “  . Menganalisa kembali Serat Bimasuci berdasarkan ‘ Serat Bimasuci ‘ digubah oleh Pujangga Yasadipura I, pada tahun 1793 dalam bentuk puisi Jawa dalam metrum macapat , dan tulisan ulang Yasadipura I ‘ Serat Bimasuci ‘ pada tahun 1803 masih dalam bentuk puisi Jawa, hanya metrumnya diubah menjadi metrum Jawa Kuna ( tembang gede ).

Rujukan S.P. Adhikara adalah : ‘ Serat Bimasuci ‘ gubahan Pujangga Yasadipura I dalam bentuk puisi Jawa dengan metrum macapat, yang disunting dalam sinopsis ini, diambil dari buku tulisan R. Tanaya, berjudul : BIMA SUCI ( PT Balai Pustaka, 1979 ) ; sedangkan yang ditulis dalam metrum Jawa Kuna ( tembang gede ), dikutip dari disertasi Dr. Prijohoetomo ( 1934 ).
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-analisis-serat-bimasuci-karya-s-p-adhikara/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: