‘Hamba Sebut Paduka Ramadewa’ karya Herman Pratikto.


 Herman Pratikto, Ramayana, Rama, Sinta, Laksamana, Rahwana, penerbit buku Kompas

 

  “ Citrarata sedang mandi di sungai yang tenang dan bening airnya. Pakaiannya ditinggalkan di tepian, hanya tinggal selapis tipis penutup lingga. Pagi itu udara cerah sehingga membangkitkan rasa gairah di hatinya. Sambil bersenang-senang ia bernyanyi menyenandungkan bait-bait asmara yang ditujukan kepada para bidadari di kahyangan.

Pagi itu Renuka berada tak jauh dari tempat Raja Citrarata besenandung. Mendengar suara merdu yang menyentuh kesunyian alam, tersentuh pulalah lubuk hatinya. Dan bagaikan ada satu kekuatan gaib yang menariknya, ia mencari arah suara itu. “

( Halaman 18 )

 

“ Tiba-tiba bumi bergerak. Hutan belantara berderak-derak. Brahmana Yogiswara menegakkan kepala. Pastilah itu perbuatan Rahwana. Sebentar ia menoleh ke arah Dasarata yang duduk gemetaran. Dengan isyarat mata, ia memerintahkan pemuda itu melindungi Kusalya. Setelah itu ia menyambut kedatangan Rahwana dengan tenang. Dilihatnya kegarangan raja raksasa itu terpancar dari bola matanya. “

( Halaman 83 )

 

“ Sinta memekik-mekik ketakutan dan berjuang membebaskan diri. Sekarang ia sangat menyesal. Berulang kali ia memanggil-manggil Laksmana. Ia meminta maaf dan kemudian memekikkan nama Rama berkali-kali. Setelah itu, ia mengajak seluruh dunia meradang. Kepada angin, awan berarak, guntur, dan kilat. Ia mengimbau agar mau menyampaikan berita kemalangannya kepada junjungannya di tengah hutan belantara Dandaka.

‘ O angin …., awan …., guntur …., kilat…. !  Sampaikan kemalanganku ini kepada junjunganku. Kabarkan kepada beliau, aku dilarikan lawannya ke arah Alengka. Dialah rajanya. O, bangunkan junjunganku dari mimpinya apabila beliau tidur. Bisikkan ini semua ke telinganya. Bawalah beliau menepi bila beliau sedang mandi di tengah telaga. Kabarkan tangisku dengan segera. Tunjukkan dengan jelas, ke arah mana beliau harus mengejar musuhnya. ‘

Ia terus menangis sepanjang jalan. ….. “

( Halaman 205 )

 

Di atas adalah kutipan-kutipan  dari buku :

Herman Pratikto ; “ Hamba Sebut Paduka Ramadewa. Teladan Cinta dan Kehidupan Rama ~ Sinta “ ; Penerbit Buku Kompas ; Februari 2011 [ diterbitkan ulang dalam bahasa Indonesia ; terbitan sebelumnya oleh penerbit Widjaja, Jakarta, 1983 = cetakan ke-2 ] ; xvii + 486 halaman ; 14 cm x 21 cm ; bahasa Indonesia ; beberapa gambar wayang kulit purwa ; ISBN 978-979-709-551-2 .

 

Data penerbit :

Penerbit Buku Kompas,
PT Kompas Media Nusantara
Jl. Palmerah Selatan 26 ~ 28,
Jakarta 10270
Email : buku@kompas.com


Tentang penulisnya – Herman Pratikto
:

Herman Pratikto lahir di Blora, Jawa Tengah, 18 Agustus 1929 dan meninggal 13 Februari 1987. Semasa hidup, banyak sekali karangan yang telah dihasilkannya. Selain karya sastra klasik Timur, yang diceritakan kembali, seperti Hamba Sebut Paduka Ramadewa ( Ramayana ) dan Mahabharata, masih ada lagi sejumlah buku yang ditulisnya. Buku Bende Mataram yang merupakan karya best seller-nya di paruh waktu tahun 1960-an, pernah dibuat sinetron, drama radio, ketoprak, cerita bersambung bahkan komik. Buku lainnya yaitu Mencari Bende Mataram, Patih Lawa Ijo, Bunga Ceplok Ungu Dari Banten, Pedang Sakti Tunggul Wulung, Melawat ke Barat, Jalan Simpang DI Atas Bukit, Gledek di Loano, Bulan Jatuh Di Lereng Gunung, Bayar Nyawa Ayahku, dan Pedang Sakti Tongkat Mustika.

Di samping karya-karya yang berlatar belakang penceritaannya sarat dengan napas budaya dan silat Jawa, ia juga membuat karya tulis berdasarkan kisah sejarah, antara lain Dari Westerling Sampai Kartosuwiryo dan Nikolas II. Masih ada beberapa karyanya yang lain, seperti Bunga Bangsa, Kusuma Ria dan lain-lain berbentuk cerpen, yang tidak terdokumentasi.

Herman yang ketika muda juga senang berteater dan siaran drama di radio, juga seorang penulis skenario film. Yakni film Si Midah Bergigi Emas, Rela, Semalam Di Solo, Warok Suramenggala, dan Desa Yang Dilupakan. Selama hidupnya disamping menulis, juga hobi melukis dan mencipta lagu. Seniman tulen yang komplet ini juga mendalami seni pedalangan (wayang kulit). Beberapa kali mendalang wayang purwa di berbagai tempat dan kalangan. Ia pun seorang budayawan dan Javanolog. Pengasuh siaran berbahasa Jawa di beberapa radio mengenai kebudayaan Jawa serta seputar masalah seni pewayangan. Ia hidup dan menghidupi keluarganya hanya dari hasil menulis dan berkesenian. Ia betul-betul seorang seniman murni.

Menulis sejak masa mudanya dengan nama samaran Sedah Mirah, Herman pernah pula bekerja di bidang jurnalistik (wartawan). Ia salah seorang pendiri Majalah Mingguan Minggu Pagi (sekarang menjadi koran) di Yogyakarta, dan pernah bekerja di Harian Nasional, di kota yang sama, sebagai Pemimpin Redaksi Kebudayaan dan Seni. Sekitar tahun 1957, pernah pula bekerja di Jawa Pos ketika tinggal di Surabaya.

Ia seorang otodidak, tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang seni, sastra dan budaya, akan tetapi banyak membaca buku tentang filsafat, sejarah, seni, sastra budaya, dan lain-lain. Pernah kuliah di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, di Yogyakarta, namun tak selesai.

( Dikutip dari buku ‘ Hamba Sebut Paduka Ramadewa ‘ )

 

Berkatalah Dewa Brahma pada pujangga Walmiki ketika akan menulis Adikawya Ramayana :

 Selama bukit berdiri tegak dan sungai mengalir ria, maka kisah Ramayana tiada ‘kan sirna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: