Menemukan Kembali Herman Pratikto ( 1929 ~ 1987 )


Herman Pratikto, Hamba Sebut Paduka Ramadewa, Goenawan Mohamad, Ramayana

 

Menemukan Kembali Herman Pratikto ( 1929 ~ 1987 )  [1]

Herman Pratikto kini tak diingat orang. Atau sedikit yang mengingatnya. Di waktu kecil di Batang, Jawa Tengah, kami berlangganan beberapa majalah – anta lain Panjebar Semangat dari Surabaya, Minggu Pagi dari Yogya, Gembira dari Bandung, Kisah dari Jakarta. Di Minggu Pagi itulah saya ,dalam umur yang masih di SMP, menemukan tulisan-tulisan Herman Pratikto.

Saya masih ingat samar-samar sebuah cerita pendek yang seakan-akan dimuat di sana seperti terselip, tentang lampu sepeda. Herman Pratikto menceritakan sesuatu yang sederhana – bagaimana ia punya problem dengan lampu sepedanya. Tapi di situ rasanya saya, dalam umur yang masih belasan, menemukan satu contoh cerita pendek yang bagus : kompak tapi mengalir lancar, antara lucu dan memelas, dengan kalimat-kalimat – tanpa dialog – yang hidup.

Kalimat yang hidup, kocak tapi tenang, saya kira itu ciri Herman Pratikto. Adaptasinya atas lakon Armold Ridley, The Ghost Train, ( jadi “ Kereta Api Hantu “ ) yang dijadikan serial dalam Minggu Pagi masih terkenang sampai sekarang, lebih dari 50 tahun kemudian. Sejenis cerita detektif ini penuh suspens, tapi Herman Pratikto menyelipkan yang lucu di dalamnya, untuk membangun dan menegaskan karakter tokohnya. Novelanya, dalam bentuk cerita bersambung, Korban ke-80 ( judul ini saya kutip dari ingatan ) , mengisahkan kejahatan di kalangan gerilya, jurang mengesankan bagi saya,t  tapi keterampilan berkisah terasa sekali di situ.

Bahwa Herman Pratikto, dengan kemampuan literer yang besar, tak sampai dikenal dalam kancah sastra Indonesia, mungkin ini menggambarkan betapa terbatasnya sebenarnya majalah Kisah atau Siasat ( dengan rubrik Gelanggang ) yang terbit di Jakarta mencakup penulis-penulis yang andal. Herman menerbitkan karyanya praktis hanya di Minggu Pagi yang waktu itu bersifat “lokal” – meskipun dibaca di pelbagai tempat di Indonesia – dan tak khusus bersifat sastra.

Beberapa tahun setelah itu, pengarang yang memperkenalkan ke dalam bahasa Indonesia kata ‘ sinting ‘ ( untuk menggambarkan orang dengan pikiran aneh atau setengah waras ) ini menghilang dari halaman majalah apa pun. Atau saya luput membacanya. Atau dia memutuskan menjadi penulis tak banyak membantu hidupnya. Kemelut politik dan kemerosotan ekonomi sejak akhir 1950-an menyebabkan dunia penerbitan terpukul. Saya kira itu awal pudarnya majalah seperti Minggu Pagi. Tentang Herman, saya hanya mendengar, tak terlalu jelas, bahwa ia mencoba jadi dalang – satu hal yang menarik, sebenarnya, sebab sebelumnya tak pernah ada sastrawan berbahasa Indonesia masuk ke dunia pedalangan wayang kulit, yang memerlukan latihan dan ketrampilan tersendiri. Bagaimana dia berkesenian di sini – saya tak membayangkan ia tak akan mengadakan inovasi di sana-sini – tak tercatat.

Saya tak pernah mengenalnya. Bahkan biodatanya tak saya ketahui sama sekali, sampai sekarang. Seingat saya, hanya sekali saya melihat fotonya, tapi bukan sendirian. Ketika ia meninggal, saya tak tahu adakah orbituari ditulis tentang dia. Pengarang ini baru kembali ke ingatan saya setelah memimpin majalah Tempo dan ke majalh itu bekerja G. Sugrahetty, dulu sebagai wartawan dan kini sebagai wakil direktur. Hetty ternyata salah satu putri Herman Pratikto.

Lewat Hetty, naskah buku ini sampai ke tangan saya. Saya merasa bahagia sekali menemukan karya Herman Pratikto ini, tentu saja dengan sedikit nostalgia. Tapi, lebih dari itu, Hamba Sebut Paduka Ramadewa memberi bahan lebih banyak tentang Ramayana yang kita lazim dengar, dimulai dari lahirnya Ramaparasu sampai dengan pembakaran Sinta. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh yang selama ini tenggelam dalam garis besar perang Rama lawan Rahwana – lengkap dengan gambar-gambar wayang kulit yang akan sangat berguna bagi para peminat seni pertunjukan klasik ini.

Harus saya katakan, bahasa Herman Pratikto di sini berubah – bukan lagi ditandai kesegaran seorang sastrawan, melainkan dihiasi pemikat seorang dalang yang mendongen. Di samping itu, pengarangnya tak sempat hidup terus untuk menemukan tafsir-tafsir lain tentang Ramayana ; akhir dari buku ini, yang happy ending, tak memberikan kejutan. Herman Pratikto tak memilih versi yang ditemukan di India : Sinta tak kembali ke samping Rama, begitu ia dibakar untuk membuktikan kesuciannya, karena Dewi Agni membebaskannya dari fitnah dan ketidakadilan. Tapi, bagaimanapun, dalam buku ini kita temukan persilangan yang menarik antara satrawan dan dalang, dengan ketekunan mengumpulkan bahan dari pelbagai sumber. Buku ini memperkuat kesan saya waktu kecil dulu : kita menghadapi buah tangan seorang pencerita yang ulung.

Saya berharap, dengan ini Herman Pratikto akan dikenak kembali dan kerya-karyanya yang terserak bisa ditemukan kembali.

Jakarta, Januari 2011

—–

[1]

Tulisan Goenawan Mohamad sebagai Kata Pengantar di bagian depan buku “ Hamba Sebut Paduka Ramadewa “ karya Herman Pratikto yang diterbitkan kembali oleh Penerbit Buku Kompas pada Februari 2011.

—– 

Catatan : Buku “ Hamba Sebut Paduka Ramadewa “ sebelumnya sudah pernah diterbitkan – paling tidak dua kali cetak ( 1983 ) – oleh penerbit Widjaja, Jakarta.

One response to this post.

  1. luar biasa.. semoga beliau diberi tempat yang mulia disisiNya..
    heemm.. saya juga penggemar buku beliau..
    kalo ada soft copynya,.. boleh minta ya…
    berbagi ilmu…
    thank’s…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: