Beragam Khasanah Kepustakaan Wayang Nusantara.


BERAGAM KHASANAH KEPUSTAKAAN WAYANG NUSANTARA.

Budi Adi Soewirjo, Jakarta, 20 Juni 2011  : 11.38 wib
https://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=10150644303115220 

 

(1)    Beragam Isi Lakon Wayang.  

Cerita wayang Ramayana dan Mahabarata sudah berusia ratusan tahun yang berasal dari India. Cerita tersebut terdiri dari ratusan episode atau lakon yang melibatkan puluhan tokoh yang terdiri dari beberapa generasi. Yang paling terkenal adalah lakon-lakon yang melibatkan keluarga Pandawa serta keluarga Kurawa yang bermuara pada lakon-lakon Baratayuda ( peperangan terakhir antara keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa ). Namun disamping cerita sentral tadi, banyak lakon-lakon yang melibatkan tokoh-tokoh generasi sebelumnya , dan beberapa lakon generasi sesudahnya.  

Di India sendiri versi isi lakon-lakon tersebut banyak. Setelah sampai di Nusantara, cerita wayang Mahabarata diwariskan turun temurun secara lisan. Tentu saja para pujangga Nusantara juga menuliskan kembali cerita wayang tersebut dalam serat-serat gubahan, yang  kemungkinan bisa terpengaruhi juga oleh pribadi pujangga Nusantara yang bersangkutan. Maka, bisa terjadi isi lakon-lakon di dalam serat gubahan sedikit berbeda dengan versi India nya.

   

(2)    Tokoh wayang selera Nusantara dan lakon di seputarnya.

 Bahkan pujangga Nusantara menuliskan lakon-lakon baru – dengan selera Nusantara – namun memakai tokoh-tokoh wayang Mahabarata ; yang ditulis sedemikian rupa memakai setting waktu suatu era peristiwa di cerita wayang Mahabarata ; sehingga seolah-olah lakon baru ini adalah bagian dari rangkaian cerita wayang Mahabarata. Orang Jawa menyebutnya sebagai “ lakon carangan “ . [ dalam bahasa Jawa, arti kata “ carang “ adalah cabang pohon. Jadi “ lakon carangan “ diartikan sebagai “ lakon cabang “ ].  

Bahkan (lagi) pujangga Nusantara menciptakan tokoh-tokoh wayang lain yang khas Nusantara yang tidak ada dalam cerita wayang versi India. Ada tokoh “ punakawan “ [ pamomong, pengemong, pamong ] , pengasuh ksatria [kaum bangsawan / elite] dari kalangan rakyat jelata yang selalu “ tut wuri handayani “. Tapi kalau diperlukan – karena sebetulnya punakawan tersebut adalah jelmaan para dewa – punakawan menampakkan kekuatannya untuk “memulihkan keadaan ke kondisi normal aman sejahtera“ atau “mengembalikan sesuatu ke jalan yang benar / semestinya” . Ada punakawan yang berada di “kawasan” ksatria aliran putih yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Ada punakawan yang berada di “kawasan” ksatria aliran Hitam yaitu : Togog dan Bilung ; meskipun Togog dan Bilung sama sekali tidak tercemar ideologi hitam walau sehari-hari berada di kalangan hitam , serta kedua tokoh itu terus menerus menyerukan kata “eling” ( “ingat” ) dan nasehat untuk “kembali ke jalan kebaikan” kepada para ksatria aliran hitam yang diikutinya ; the choice is your own. Ada pengasuh wanita untuk ksatria putri : Cangik dan Limbuk.  

Ada tokoh wayang  selera Nusantara – kebanyakan generasi kedua Pandawa – antara lain Antareja, Antasena, Wisanggeni – dengan beragam lakon carangan nya. Yang kebanyakan moral cerita lakon-lakon tersebut adalah “dalam bahasa Jawa : para taruna mbengkas karya” – generasi muda menyingsingkan lengan bajunya untuk peran serta menegakkan keadilan / membela kaum lemah / berbakti kepada leluhur / membantu saudara dalam kebaikan / menyelesaikan masalah. Ada yang menarik tentang penciptaan tokoh wayang selera Nusantara ini : pujangga Nusantara ternyata “teguh menjaga” sinopsis lakon-lakon perang Baratayuda versi India , dan tokoh wayang selera Nusantara tidak pernah muncul atau terlibat dalam lakon-lakon perang Baratayuda. Digubah lakon-lakon sebelum lakon perang Baratayuda yang “mencarikan sebab, mencarikan cara” agar penampilan tokoh wayang selera Nusantara “terhenti” sampai di sini.  

Sebenarnya ada tokoh wayang selera Nusantara lainnya lagi – seperti Dewa Ruci, Sang Hyang Wenang, Buta Cakil – yang belum diuraikan penampilannya di sini. Ada juga tokoh wayang yang ada di versi India tetapi penampilannya “digubah selera Nusantara” – Bathara Kala ( berkaitan dengan sifat atau situasi hitam yang harus diruwat ) , Anoman ( yang konon dianugerahi kemampuan untuk menentukan sendiri kapan dia meninggal dunia , dan dapat tugas mengawal kebaikan di dunia sepanjang masa – long life assigment ; di versi Jawa, Anoman bisa tampil di era Mahabarata, sampai era anak cucu Prabu Parikesit dan bahkan – dikaitkan – dengan cerita era Prabu Jayabaya di Kediri ).

   

(3)    Kepustakaan Wayang Untuk Memahami Keberagaman Isi Lakon.  

Kembali ke inti tulisan : “ Beragam Khasanah Kepustakaan Wayang Nusantara “ . Perjalanan cerita wayang Ramayana dan Mahabarata telah menempuh ratusan tahun dan bersentuhan dengan banyak pihak. Wajarlah kiranya jika suatu ketika kita mendengar atau membaca suatu kisah wayang yang sedikit berbeda dari apa yang sebelumnya pernah kita dengar atau baca. Dalam hal ini kurang bijak kalau kita menentukan mana versi yang paling benar. Terimalah sebagai suatu wawasan bahwa memang demikianlah Beragam(-nya) Khasanah Kepustakaan Wayang Nusantara.  

Salah satu kepustakaan wayang yang disarankan untuk dibaca agar lebih memahami beragamnya isi lakon wayang adalah kepustakaan berjudul “ Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita “ yang terdiri dari tujuh jilid yang ditulis oleh Bp S Padmosoekotjo. Diterbitkan oleh CV Citra Jaya, Surabaya – suatu badan penerbit yang bersaudara dengan penerbit majalah bahasa Jawa “Jaya Baya”. Mengapa disarankan ? Karena penulisnya menyusun buku tersebut berdasarkan banyak kepustakaan rujukan lama (kebanyakan masih berbahasa Jawa Kuna) meramu dengan tulisan di majalah / terbitan berkala lainnya serta meramu dengan cerita yang didengar dari pakeliran ; serta menyajikan dengan pendekatan uraian silsilah tokoh wayang disertai peristiwa di sekitar tokoh tersebut. Yang paling menjadi nilai tambah yang disarankan adalah : jika ditemui perbedaan di antara kepustakaan rujukan mengenai suatu tokoh atau peristiwa , penulis akan menyajikan suatu rangkuman ringkasan perbedaan tersebut.  

 

[ Tulisan tambahan tanggal 20 Juni 2011 jam 13.00 wib :

Saya ingin menambahkan tulisan lebih rinci tentang buku “ Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita jilid 1 ~ 7. Buku-buku ini diterbitkan pertama kali di kurun tahun 1979 ~ 1982. Dari hasil penelusuran diketahui bahwa beberapa jilid pernah di terbitkan ulang tiga kali, yaitu ketika tahun 1990. Setelah itu tidak pernah diterbitkan lagi. Saat ini penerbit CV Citra Jaya sudah tidak ada.  

Pada pertengahan bulan Mei 2011 lalu, saya sempat bepergian satu hari ke Surabaya. Saya sempatkan untuk mencari buku-buku tersebut barangkali masih ada yang jual. Saya ke toko buku besar di Surabaya, kemudian ke kios-kios penjual buku bekas di sepanjang jl Setasiun KA Pasar Turi, ke kios-kios di ‘Taman Pintar’ tetangganya setasiun KA Pasar Turi, ke kios-kios penjual buku bekas di lantai dasar suatu pasar dekat Jl Tunjungan. Namun saya sama sekali tidak menemukan buku tersebut. Bahkan buku wayang judul lainnya (terbitan lama) hanya menemukan 4 judul terbitan Departemen P dan K adanya di satu kios saja. Buku wayang terbitan baru pun tidak ada yang jual di kios-kios penjual buku bekas tadi ( di beberapa kios mereka juga menjual buku terbitan baru, tidak melulu buku bekas ).  

Awal bulan Juni 2011 rekan Paguyuban Pecinta Wayang Jawa Timur menanyakan ke penerbit majalah Jaya Baya dan mendapat info bahwa memang penerbit CV Citra Jaya sudah tidak ada dan mereka tidak lagi menyimpan buku-buku terbitan lama nya. Di infokan juga bahwa mulai sekitar awal 1990-an CV Citra Jaya sudah tidak menerbitkan ( terbitan baru maupun terbitan ulang ) buku wayang maupun buku berbahasa Jawa. 

Penelusuran keberadaan buku tersebut di perpustakaan saat ini : Ini bukan kesimpulan akhir karena saya hanya bisa menelusuri lewat sistem OPAC ( Online Public Access Catalog ) untuk perpustakaan yang sudah online. Hasil sementara : memang ada perpustakaan universitas swasta ( bukan universitas negeri ) dan satu perpustakaan lembaga bahasa negeri di Yogya yang mempunyai koleksi buku ini, namun tidak ada yang mempunyai koleksi tujuh jilid lengkap.  

Akhir tulisan tambahan 20 Juni 2011 jam 13.00 wib ]

.

. 

(4)    Kendala Kepustakaan Wayang di Era Tahun 2000-an dan Ajakan Mengatasinya.  

Bagaimana seseorang tahu Beragam Khasanah Kepustakaan Wayang Nusantara kalau seseorang tidak pernah bersentuhan dengan bahan / materi kepustakaannya ; karena tidak ada sarana yang memungkinkan seseorang bersentuhan dengannya.  

Fenomena ini sedikit demi sedikit mulai terjadi – tanpa terasa – awal tahun 1990-an , dan makin menjadi di era tahun 2000-an ini. Terbitan buku wayang menyusut. Apalagi menerbitkan , untuk menyimpan buku-buku wayang yang sudah pernah terbit saja , pribadi atau lembaga enggan.  

Apakah komunitas / masyarakat pecinta wayang Nusantara tega atau rela atau tidak merasa ‘getun’ / menyesal jika situasi tersebut makin menjadi , menjadi salah satu sebab menjauhnya masyarakat Nusantara dari wayang Nusantara ?  

Kalau kita tidak mampu jadi penulis wayang, tidak mampu jadi penerbit wayang, paling tidak kita mampu gotong royong swadaya ‘berbagi baca (dengan cara yang aman bagi koleksi)‘ kepustakaan wayang yang pernah ada yang sekarang sudah tidak terbit lagi – seandainya kita kebetulan mempunyai kepustakaan wayang tersebut. Dan lebih dari pada itu, kita berusaha gotong royong swadaya meng-konservasi kepustakaan wayang tersebut.  

Paguyuban Pecinta Wayang (PPW) daerah Jawa Timur telah melakukan konservasi buku “ Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita “ jilid 3 ~ 7 karya S Padmosoekotjo , memindah rekam kepustakaan wayang dari bentuk tercetak diatas kertas menjadi arsip digital wayang. Peran serta mendukung kegiatan konservasi kepustakaan wayang. Sebelumnya, seorang sukarelawan lain dari Surakarta – Ki Eko Prasetyo Sabdo Gotama – meng konservasi yang jilid 1 dan 2.  

Secara bertahap jilid-jilid kepustakaan tersebut akan diuraikan ringkasan isinya dan diberitahukan alamat URL file sharingnya di blog https://wayangpustaka02.wordpress.com– kegiatan serumpun Paguyuban Pecinta Wayang se Indonesia. Kegiatan yang memungkinkan siapapun bisa membaca kembali kepustakaan wayang karya leluhur yang sudah tidak terbit lagi. Sampai saat ini sudah tiga jilid yang tampil dan file digitalnya bisa diunduh gratis, silakan dikunjungi :  

Jilid 1 :
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/06/15/122/

Jilid 2 :
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/06/15/ebook-silsilah-wayang-purwa-mawa-carita-jilid-2-karya-s-padmosoekotjo/ 

Jilid 3 :
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/06/15/ebook-silsilah-wayang-purwa-jilid-3-karya-s-padmosoekotjo/

 

Kunjungi berkala blog tersebut untuk mengikuti tampilan jilid selanjutnya dan konservasi kepustakaan lainnya. Tak lupa Anda diundang untuk ber peran serta di kegiatan konservasi dan berbagi tersebut.  

 

(5)    Kepustakaan Wayang Berbentuk File Digital Audio Video ( dan nantinya Multi Media ).  

Di jaman digital ini , istilah kepustakaan wayang bisa melebar menjamah “media rekam” lain , tidak hanya media rekam berwujud tercetak di atas kertas. Definisi kepustakaan bisa juga mencakup media rekam berwujud rekaman pakeliran wayang terdengar ( file digital audio ) serta rekaman pakeliran wayang terdengar terlihat ( file digital audio visual ).  

Paguyuban Pecinta Wayang se Indonesia – dengan blog kegiatan serumpunnya http://www.wayangprabu.com– juga sudah melakukan konservasi file-file audio video wayang. Silakan kunjungi blog tersebut. Tak lupa Anda diundang untuk berperan serta dalam kegiatan konservasi tersebut.  

Sekarang sudah terlihat kegiatan-kegiatan pribadi lain yang mengarah ke pewujudan file Multi Media Wayang. Silakan ditengok salah satunya http://e-wayang.org . Semoga lancar dan berhasil mewujudkannya.

One response to this post.

  1. Bung Budi saya ganti memperkenalkan diri kembali, SUWADI KRIJO TARUNO penulis Buku WAYANG KULIT PURWA (Gaya Surakarta) melihat uraian Bung di atas ini saya juga tertarik akan gagasan-gagasan Bung dan kawan-kawan. Bisalah buku saya nanti diperkenalkan ke masyarakat penggemar/pencinta/pelestari/pemikir dan pencipta wayang sehingga dapat menjadi inspirasi/motivasi timbulnya Buku-buku wayang baru. Kalau buku saya masih terbatas dalam gaya Surakarta saya yakin kalau melihat buku saya pasti bakal ada yang menulis gaya lain (Jogyakarta, Banyumas, Jawa Timuran, Pesisiran, Bali, Sasak dsb) dengan ilustrasi wayang benar berwana yang dibuat oleh penulisnya sendiri. Memang sudah banyak juga yang menulis buku wayang ini, tetapi gambarnya masih grafis dan bukan penulisnya sendiri yang menciptakan. Karena saya menulis buku ini dengan tujuan mendokumentasikan wayang dalam bentuk buku sehingga dapat memancing karya-karya yang lebih hebat lagi. Jadi saya menulis buku wayang ini bukan karena tekanan akdemik, tetapi karena tujuan-tujuan ini, jadi samalah dengan apa yang Bung budi sampaikan di atas.
    Terima kasih adanya ruang komentar ini.

    SUWADI KRIJO TARUNO.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: