Archive for August, 2011

Bhagawad Gita – penafsiran dengan cita rasa Jawa.


Bhagawad Gita – penafsiran dengan cita rasa Jawa.

.

Bhagawad Gita adalah bagian dari Mahabharata di Parwa VI Bhismaparwa. Berisi rangkaian pertanyaan Arjuna dan jawaban nasehat dari Prabu Kresna yang terjadi saat Arjuna berada di atas kereta perangnya – yang dikusiri Prabu Kresna – menuju medan perang akan menghadapi Karna. Bermula dari keragu-raguan Arjuna melanjutkan perjalanannya – karena ragu menghadapi Karna yang ternyata saudara seibu dengannya serta lawan lainnya yang masih tergolong saudara sendiri. ( Kemudian berkembang menjadi suatu rangkaian tanya jawab bermacam hal ).


Arjuna : “ ….. kadospundi sagedipun hamba gadhah ambek eca, sasampunipun damel pejah kulawandawa ing palagan ngriki ?  Hamba boten kapengin kawijayan, boten melik kaprabon utawi kawibawan. Punapa prelunipun gesang tuwin kasenengan, manawi sarana damel pejah sadaya ingkang sarwa gesang, utawi nyirnakaken sanak-sadherek piyambak ?  Raos tresna-asih adamel trenyuhing manah hamba. …..“

 

[ “ ….. bagaimana saya merasa tenteram sejahtera, sesudah menyebabkan kematian keluarga sendiri di peperangan ini ?  Hamba tidak menginginkan kejayaan, tidak menginginkan pangkat atau kemuliaan. Apa jadinya hidup serta kesenangan, dari akibat mencabut nyawa segala yang bernyawa, atau menyirnakan sanak saudara sendiri ?  Rasa cinta-welas-asih membuat hatiku trenyuh nelangsa ….. “

 

Bhagawad Gita sudah demikian terkenalnya berabad-abad, dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. S Padmosoekotjo di dalam buku nya “ Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita “ jilid 7 (terakhir) juga menampilkan Bhagawad Gita. Di situ S Padmosoekotjo mengutip tulisan gubahan bebas R Boedihardja yang dimuat berkala di majalah bahasa Jawa Jaya Baya terbitan tahun ke X nomor 48 ~ 50 dan dilanjutkan ke terbitan tahun ke XI nomor 1 ~ 3.

Menurut S Padmosoekotjo, dari banyak tulisan gubahan bebas Bhagawad Gita yang pernah dibacanya, tulisan R Boedihardja adalah yang paling enak dimengerti dan disertai banyak catatan penjelasan.

Blog Wayangpustaka meng-konservasi halaman-halaman yang memuat tulisan R Boedihardja mengenai Bhagawad Gita ini dan ingin “ berbagi baca “ dengan Pembaca group Facebook Wayang Nusantara yang ingin membaca kembali Bhagawad Gita – namun kali ini – dengan sentuhan cita rasa Jawa.

Silakan unduh gratis file digital konservasi nya di alamat URL :
http://www.4shared.com/document/jTkaPTzp/Bhagawad_Gita_bhs_Jawa.html

.

Catatan :

Bagi Pembaca yang sudah pernah mengunduh file digital konsevasi “ Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita “ jilid 7 , tidak perlu mengunduh lagi karena file digital tersebut telah mengandung episode Bhagawad Gita ini di halaman 38 ~ 53.

Barangkali Pembaca ingin lebih tahu tentang buku “ Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita “ jilid 1 ~ 7 karya S Padmosoekotjo yang pernah terbit antara tahun 1979 ~ 1986 ; dan mengunduh gratis file digital konservasi nya, bisa mengunjungi halaman di blog Wayangpustaka URL :
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/06/29/201/

.

Dari penelusuran kepustakaan, Admin blog Wayangpustaka mendapatkan data bahwa pernah diterbitkan satu buku tentang Bhagawad Gita dalam bahasa Jawa ( kapan tahun diterbitkannya belum diketahui ) berjudul “ Arjuna – Kresna Bawa Rasa “. Dalam bahasa Jawa, kata “ Bawa Rasa “ bisa diartikan sebagai “ olah rasa “ yaitu suatu kegiatan diskusi, percakapan, tanya jawab, debat tentang hal kebatinan atau hal yang berkaitan dengan “ rasa batin “ dalam atmosfer mistis Jawa. Admin blog Wayangpustaka belum berhasil mendapatkan buku ini – buku aslinya atau foto copy ataupun file digital konservasi-nya. 

Didapat data berikutnya bahwa pada antara tahun 1979 ~ 1985 suatu proyek di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI bernama Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah menerjemahkan (ke dalam bahasa Indonesia) dan menerbitkan kembali buku ini – sebagai salah satu buku produk proyek ini. Proyek tersebut dikenal dengan kegiatannya meng-alihaksara-kan (dari huruf tradisional lokal ke huruf Latin), menerjemahkan (dari bahasa tradisonal lokal ke bahasa Indonesia) dan menerbitkan kembali buku-buku sastra Indonesia dan daerah. Admin blog Wayangpustaka juga belum berhasil mendapatkan buku terbitan kembali ini – bukunya atau foto copy nya ataupun file digital konservasi-nya.

.

Jakarta, Agustus 2011
Admin Blog Wayangpustaka
Budi Adi Soewirjo

Advertisements

Ebook Wayang Madya dalam “Serat Pustakaraja Purwa” jilid 8 kahimpun dening Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro.


Ebook WAYANG MADYA, buku WAYANG MADYA, naskah ketikan WAYANG MADYA, Suryosaputro, Tristuti Rahmadi Suryosaputro, Suryasaputra, Serat Pustakaraja Purwa, Lahire Yudayaka, Babad Mamenang, Lahire Kijing Wahono, Lahire Jayabaya, Rabine Ditya Sarsihawa, Lahire Meru Supadmo, Sudarsono Mukswa, Rabine Jayabaya, Lahire Jaya Amijaya, Patine Kijing Wahono, Mayangkara, Rabine Jaya Amijaya, Lahire Anglingdarmo, Jayabaya Mukswa, Rabine Jayamiseno, Meru Supadmo, Lahire Kusuma Wicitra, Setyawati Obong, Badhare Anglingdarmo, Rabine Anglingdarmo, Lahire Gondokusumo, Rabine Kusuma Wicitra, Patine Anglingdarmo.

 

Data naskah ketikan jilid 08 : 

Kahimpun dening Ki Suryosaputro ing Surakarta  ; “ Serat Pustakaraja Purwa “ jilid 8 ; Isi 23 lampahan, wiwit saking RABINIPUN PRABU YUDAYAKA ngantos dumugi PEJAHIPUN ANGLING KUSUMA  ;  wiwit dinten Selasa Legi tanggal 19 JuLi 1983 ; naskah ketikan mesin ketik manual format HVS Folio ; tidak diterbitkan ; 63 halaman ; bahasa Jawa.

Merujuk ke abstrak tesis S2 Purbo Asmoro, disebutkan bahwa dalam jilid 8 ini (dan juga jilid 9) dihimpun cerita-cerita WAYANG MADYA.

 

Ebook naskah ketikan cerita wayang madya ini ( dalam 1 file saja ) bisa diunduh gratis di server file sharing dengan alamat URL :
http://www.4shared.com/document/YY7QRrlq/Srt_Pustakaraja_Prw_08_Suryosa.html

 

Daftar isi jilid 08 :

 

 

Catatan :

 (1)

Menurut Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro – dalam wawancara oleh Ki Purbo Asmoro – bahwa Serat Pustakaraja Purwa yang dihimpunnya ini adalah berdasar cerita yang dipahami dalang-dalang daerah Ngasinan, Klaten.

(2)

Foto copy naskah ketikan ini diusahakan oleh mas Giri Neno seorang pecinta wayang kulit purwa Jawa yang bermukim di Leuwinanggung, (Depok Timur), Cibubur, Jakarta. Kami mengucapkan terima kasih kepada mas Neno Giri yang memungkinkan konservasi ini.

Ebook Kamus “Kawi – Djarwa” oleh WJS Poerwadarminta , 1941~1945.


Ebook Kamus Bahasa Kawi ke Bahasa Jawa, Poerwadarminta WJS, Bale Poestaka, 1941 ~ 1945.

.

Data buku :

WJS Poerwadarminta ; “ KAWI – DJARWA “ ; Djakarta ; Bale Poestaka ; 2603 [tahun Jepang] atau sekitar tahun Masehi 1941 ~ 1945 ; 48 halaman ; kamus Bahasa Kawi ke Bahasa Jawa.

Buku kamus ini memuat kata-kata bahasa Kawi yang masih populer dipakai dalang dalam pagelaran wayang kulit purwa. Sangat berguna bagi siapapun – juga bagi penutur bahasa Jawa yang kurang memahami bahasa Kawi – yang ingin mempelajari pedalangan wayang kulit Jawa purwa.

.

Ebook buku ini bisa diunduh melalui URL :
http://www.4shared.com/document/B7IA3ijd/Kawi-Djarwa_Poerwadarminta.html

.

Beberapa kata yang secara acak Admin coba tulis di sini :

[ Bahasa Kawi = K ] mredangga = merdangga = padhahi —>  [ Bahasa Jawa = J ] gamelan
[K] widu —> [J] pasindhen

[K] wanawasa —> [J] 1. dedunung ing alas ; 2. alas gedhe

[K] tekwan —> [J] sarta, malah

[K] di-sidikara —> [J] di-dongani

[K] redite = kalacakra = kaladara= arka = dewangkara = surya = suwandagni—> [J] srengenge

[K] sasi = nisakara = sitakara = sitangsu = sitaresmi —> [J] rembulan
[K] ardacandra —> [J] rembulan tumanggal

[K] ardi —> [J] gunung
[K] siladri –> [J] gunung (watu)
[K] srenggi —> [J] 1. gunung, 2. sapi

[K] dhomas —> [J] wolung atus = 800

[K] kirna —> [J] 1.000.000.000.000

.

.

Catatan :

Konservasi buku ini dimungkinkan berkat bantuan Sdr Akhy Dchocholate / Habibuddin, Jakarta yang secara tidak sengaja “ menemukan “ buku ini di tempat kerjanya dan meminjamnya agar bisa dikonservasi oleh blog wayangpustaka. Buku asli adalah koleksi pribadi Raden Ayu Wongsosewojo. Terima kasih kami ucapkan kepada pemilik buku dan yang mengusahakannya.

.

Semoga bermanfaat bagi para pengunduh.

Ebook “Serat Pustakaraja Purwa” jilid 7 kahimpun dening Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro.


Ebook wayang purwa, buku wayang purwa, naskah ketikan wayang, Suryosaputro, Tristuti Rahmadi Suryosaputro, Suryasaputra, Serat Pustakaraja Purwa, Bratayuda Seta Gugur, Ranjapan, Suluhan, Jambakan (Karna Tandhing), Rubuhan, Kartamarma Maling, Abyasa Mukswa, Aswatama Nglandak, Udawa Tandang, Anak Niwata Males Janaka, Pandhawa Mukswa, Setyaki Gugur, Parikesit Grogol, Niradha Kawaca jaman Aneras, Lahire Gendrayana lan Sudarsana, Kridhatama, Baladewa Mukswa, Parikesit Mantu, Rabine Yudayana, Rabine Gendrayana Sakadang, Wahyu Tiga, Kepyakan Yudayana, Parikesit Mukswa, Gendrayana Rabi Putri Buta, Sudharsana Kethok.

 

Data naskah ketikan jilid 07 :

Kahimpun dening Ki Suryosaputro ing Surakarta  ; “ Serat Pustakaraja Purwa “ jilid 7 ; Isi 25 lampahan, wiwit saking BRATAYUDA SETA GUGUR ngantos dumugi SUDARSONO KETHOK  ;  wiwit dinten Selasa Wage tanggal 12 Juli 1983 ; naskah ketikan mesin ketik manual format HVS Folio ; tidak diterbitkan ; 68 halaman ; bahasa Jawa.

.

Ebook naskah ketikan cerita wayang ini ( dalam 1 file saja ) bisa diunduh gratis di server file sharing dengan alamat URL :
http://www.4shared.com/document/47XEIL4n/Srt_Pustakaraja_Prw_07_Suryosa.html

.

.

Daftar isi jilid 07 :

 

Catatan :

(1)

Menurut Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro – dalam wawancara oleh Ki Purbo Asmoro – bahwa Serat Pustakaraja Purwa yang dihimpunnya ini adalah berdasar cerita yang dipahami dalang-dalang daerah Ngasinan, Klaten.

(2)

Foto copy naskah ketikan ini diusahakan oleh mas Giri Neno seorang pecinta wayang kulit purwa Jawa yang bermukim di Leuwinanggung, (Depok Timur), Cibubur, Jakarta. Kami mengucapkan terima kasih kepada mas Neno Giri yang memungkinkan konservasi ini.

Ebook ” Serat Pustakaraja Purwa” jilid 6 kahimpun dening Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro.


Ebook wayang purwa, buku wayang purwa, naskah ketikan wayang, Suryosaputro, Tristuti Rahmadi Suryosaputro, Suryasaputra, Serat Pustakaraja Purwa, Somadinala, Gepak Jendhul, Jaya Nirwindi, Sri Kandhi Merong, Ekalaya, Palgunadi, Sekar Mlathisari, Pama Prasu, Begawan Nirseca / Srikandhi Ledhek, Arjuna Budhu / Sidalamong, Kandhihawa / Lahire Ditya Nirbita,Rabine Dursasana, Kresna Begal, Lintang Trenggana, Bambang Dana Sarira, Swarga Bandhang / Nyi Ayu Lalijiwa, Resi Banalaba, Rabine Lesmana Mandrakumara, Rabine Burisrawa, Rabine Rukmarata, Rabine Nakula, Rabine Sadewa, Rabine Arjunapati, Rabine Rukmara, Rabine Kartamarma, Mbangun Candi Gadamadana. 

Data naskah ketikan jilid 06 :

Kahimpun dening Ki Suryosaputro ing Surakarta  ; “ Serat Pustakaraja Purwa “ jilid 6 ; Isi 25 lampahan, wiwit saking SOMADINALA ngantos dumugi MBANGUN CANDI GADAMADANA  ;  wiwit dinten Minggu Kliwon tanggal 03 JuLi 1983 ; naskah ketikan mesin ketik manual format HVS Folio ; tidak diterbitkan ; 51 halaman ; bahasa Jawa.

Ebook naskah ketikan cerita wayang ini ( dalam 1 file saja ) bisa diunduh gratis di server file sharing dengan alamat URL :
http://www.4shared.com/document/7oyiv_IQ/Srt_Pustakaraja_Prw_06_Suryasa.html

Daftar isi jilid 06 :

 

Catatan :

(1)

Menurut Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro – dalam wawancara oleh Ki Purbo Asmoro – bahwa Serat Pustakaraja Purwa yang dihimpunnya ini adalah berdasar cerita yang dipahami dalang-dalang daerah Ngasinan, Klaten.

(2)

Foto copy naskah ketikan ini diusahakan oleh mas Giri Neno seorang pecinta wayang kulit purwa Jawa yang bermukim di Leuwinanggung, (Depok Timur), Cibubur, Jakarta. Kami mengucapkan terima kasih kepada mas Neno Giri yang memungkinkan konservasi ini.

Siapakah R Ng Poerbatjaraka ?


Siapakah R Ng Poerbatjaraka ?

Sumber 1 :
http://69.56.139.170/DetailPenulis.asp?strAu_Name=Poerbatjaraka

Poerbatjaraka (Surakarta 1884 – Jakarta 1964), merupakan seorang sarjana yang berhasil meraih gelarnya tanpa melalui jalur sekolah menengah yang disyaratkan. Sejak kecil dengan belajar sendiri, ia menekuni berbagai macam pelajaran anak sekolah dasar, terutama bahasa Jawa Kuno dan bahasa Belanda. Setelah merasa mampu membaca beberapa kepustakaan Jawa Kuno, ia minta diuji kemampuannya oleh Residen (Belanda) di Surakarta. Kemudian ia dipekerjakan di Dinas Kepurbakalaaan di Jakarta, dan mendalami bahasa Jawa Kuno.

Pada tahun 1914 terbit karya ilmiah pertamanya De Dood van Raden Widjaya den Fersten Koning en Stichter van Madjapahit. Tahun 1926 ia berhasil meraih gelar doktor dengan tesisnya Agastya di Nusantara.

Sumber 2 :
http://www.prigibeach.com/?soda=YmFjYV9iZXJpdGE=&pan=NDAyMA==

RADEN MAS NGABEHI POERBATJARAKA, Bapak perintis Ilmu sastra Indonesia. Bapak Epigrafi Indonesia. Ia melakukan penelitian di bidang sastra Indonesia kuno kususnya bahasa Jawa. Perintis berdirinya Fakultas Sastra UGM. Sebagai ahli sastra Indonesia lama ia disebut-sebut tak memiliki tandingan.
.
Jika dewasa ini masyarakat dapat menikmati Sendratari Ramayana, membaca Ramayana, Arjunawiwaha, Dewa Ruci, Smaradahana, Nitisastra dan warisan kekayaan Sastra Indonesia dari Jawa yang begitu melimpah, itu sebagian besar berkat jasa penelitian dan terjemahan Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatajraka.

Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka lahir bulan Januari 1884 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia terlahir dengan nama Leisija yang berarti lucu, putra pasangan RMT Purbodipuro dengan Raden Ajeng Semu. Darah seni yang mengalir kepadanya berasal dari kakek pihak ayah yang bernama Josodipuro. Leisija Poerbatjaraka adalah anak nomor dua Raden Mas Tumenggung Poerbadipoera, Bupati Anom Kasunanan Surakarta. Hubungan antara Bupati Anom dengan Sunan Paku Buwono X baik sekali, karena sejak bayi, sunan ini diasuh oleh Tumenggung Poerbadipoera. Pendidikan tari-nyanyi-sastra diberikan oleh Bupati Anom tersebut.

Pada awalnya ia masuk sekolah rendah Jawa. Saat menjadi anak abdi dalem Kraton Surakarta, ia mendapat tugas mengantarkan putra-putri Susuhunan Paku Buwono X ke ELS, sekolah yang hanya bisa dimasuki keluarga kraton dan orang-orang kaya. Kesempatan itu tak disia-siakannya. Ia pandai mencuri-curi kesempatan mempelajari bahasa Belanda. Caranya ia ikut mendengarkan dan menyimak pelajaran Bahasa Belanda kendati hal itu hanya bisa ia dapatkan di luar ruang kelas.

Pada tahun 1900 ia tamat ELS “tak resmi”. Leisija lantas diangkat sebagai pegawai magang di Kraton Surakarta, dengan nama Atmopradonggo. Nama itu disesuaikan dengan tugas yang diembannya di kraton yakni sebagai penabuh gamelan, menyelenggarakan uyon-uyon serta “nembang” atau melantunkan lagu-lagu Jawa. Suatu hari ia diajak kawan-kawannya bergabung dengan perkumpulan “Sita Dinuja”, namun tawaran ini ditolaknya. Alasan Leisija Atmopradonggo adalah nama perkumpulan itu tak disukainya karena “Sita” berarti dingin sedangkan “Danuja” berarti anak Danu atau Danuja yang berarti raksasa. Dengan demikian “Sita Danuja” mengandung arti raksasa yang kedinginan. Penolakan itu menyulut sakit hati kawan-kawannya. Purbatjaraka dikucilkan dan difitnah.

Suatu saat ia dipanggil Susuhanan Paku Buwono X untuk menerima hukuman lantaran kesalahannya melanggar peraturan kraton karena bermain mata dengan seorang putri kraton, serta menyalahgunakan gunakan kepercayaan raja. Fitnah yang berhasil. Atmopradonggo dipecat. Ia berusaha mendapatkan pekerjaan dengan melamar sebagai pegawai di Museum Radja Pustaka, namun ditolak.

Pada tahun 1905 Leisija diangkat sebagai mandor jalan, namun pekerjaan ini hanya sebentar saja ia lakoni. Tugas sebagai pengawas kebersihan jalan, selokan dan pohon-pohon perindang tak pernah ia minati. Di sela-sela istirahatnya ia memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dirintisnya, yakni bahasa dan sastra Indonesia. Tak betah dengan pekerjaannya Leisija merantau ke Jakarta. Di tempat baru itu ia belajar bahasa Jawa Kuno dan Sansekerta pada Dr. N.J. Krom. Ia juga berguru Bahasa Jawa pada Dr. Stein Callaenfels.

Tahun 1915 Leisija kembali ke Surakarta dan bekerja sebagai pustakawan di Museum Radya Pustaka. Dua tahun kemudian ia pindah bekerja ke Museum Jakarta. Pada tahun 1921 Leisija mendapat bea siswa dari yayasan Kern untuk meneruskan pendidikan di Universitas Leiden Belanda. Ia mengambil jurusan bahasa Arya dan lulus dengan predikat cum laude tahun 1926 setelah mempertahankan tesis “Agastya in den Archipel” (Agastya di Nusantara Ini). Ia merupakan orang Indonesia kedua yang memperoleh gelar tersebut. Yang pertama adalah Prof. Dr. R.A. Husein Djajadiningrat.

Pada tahun 1928 Leisija kembali ke tanah air dan berganti nama menjadi Poerbotjaroko. Ia kembali bekerja di Museum Pusat Jakarta sembari meneruskan penelitian di bidang sastra Jawa yang pernah dirintisnya sebelum berangkat ke Negeri Belanda. Berkat penelitiannya itu ia dijuluki sebagai “Bapak dan perintis ilmu Sastra Indonesia”.

Di bidang sastra Indonesia lama terutama bahasa Jawa Kuno Purbatjaroko tampil nyaris tanpa tandingan. Anggapan ini juga datang dari sarjana Belanda Dr. C. Hooykas. Poerbatjaroko juga diakui sebagai perintis dalam bidang lapangan monografi dan epigrafi pertama di Indonesia. Ia sangat ahli dalam bidang studi kakawin Smaradahana. Sejak tahun 1914 Poerbotjaroko telah menghasilkan 73 judul tulisan dalam bahasa Belanda.

Pada jaman kemerdekaan Poerbotjaroko mengajar dan membantu di Dinas Purbakala RI, disamping mengerjakan tugas menyusun pembentukan Fakultas Sastra pada Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Setelah Fakultas Sastra UGM berdiri, ia mendapatkan status sebagai Guru Besar. Selanjutnya pada periode 1950-1955 ia menjadi Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) dan dosen pada Uiversitas Nasional Jakarta.

Pada tanggal 3 Mei 1964 civitas akademika Universitas Nasional Jakarta memberinya gelar “Mpu” atas jasa-jasanya di bidang penelitian dan pengembangan ilmu sastra di Indonesia. Prof. Dr. Poerbotjaroko meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1964. Karya Poerbotjaroko menghasilkan banyak sekali karya tulis di bidang ilmu sastra dan sejarah nusantara. Salah satunya berudul De dood van R Wijaya den eersten Koning en stichter van Majapahit (Kematian Raden Wijaya, Raja Pertama dan Pendiri Majapahit).

.

—–

.

Buku-buku tulisan Poerbatjaraka yang bisa Anda temui di blog ini – dan juga bisa Anda unduh hasil konservasi nya – sebagai berikut :

 

Mpu Sedah en Mpu Panuluh – Bharata Yuddha “ dalam bahasa Belanda.

Kapustakan Djawi “ dalam bahasa Jawa.

 

Ebook Serat Bharata Yuddha bahasa Belanda.


Ebook wayang, ebook wayang purwa, Serat Bharata Yuddha, Mpu Sedah, Mpu Panuluh, Poerbatjaraka R. Ng., Hooykas C Dr., terjemahan Serat Bharata Yuddha dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda, Baratayuda, Bharata Yudha.
.
 

Data buku : 

(vertaald door) Poerbatjaraka R. Ng. , Hooykas C Dr. ; “ Mpu Sedah en Mpu Panuluh – BHARATA YUDDHA “ ; (Gedrukt bij) G. Kolff & Co ; Batavia ; sekitar 1933 [ tidak ada ciri tahun di buku tetapi dari tanggal ditulisnya kata pengantar adalah 1931 ~ 1933 ] ; 87 halaman ; foto lukisan Bali adegan wayang versi Bali ; foto adegan wayang kulit purwa Jawa dengan wayang kulit dari Pakoe Alam VII ; bahasa Belanda.

Merupakan terjemahan pupuh-pupuh serat Bharata Yuddha asli karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda yang dilaksanakan oleh R. Ng. Poerbatjaraka dan Dr C Hooykas.
.

Konservasi buku ini dimungkinkan berkat bantuan Sdr Akhy Dchocholate / Habibuddin, Jakarta yang secara tidak sengaja “ menemukan “ buku ini di tempat kerjanya dan meminjamnya agar bisa dikonservasi oleh blog wayangpustaka. Buku asli adalah koleksi pribadi Raden Ayu Wongsosewojo. Terima kasih kami ucapkan kepada pemilik buku dan yang mengusahakannya. 

Buku ini sudah sangat lama sehingga kondisi kertas sampulnya sudah getas seperti kerupuk, gampang patah berkeping. Sedangkan kertas isi buku masih baik karena memang aslinya kertas nya tebal. 
.

Foto sampul dan buku tersebut :

 

 

 


Hasil konservasi :
 

Karena bukunya cukup tebal dan warna halaman buku sudah menguning, maka pindaian harus dilakukan dengan mode sumber dokumen berwarna ( agar huruf masih kelihatan terbaca) sehingga jumlah byte file digitalnya besar. Oleh karena itu akan dibagi menjadi tiga file. Anda bisa mengunduh gratis di URL :

Bagian 1 :
http://www.4shared.com/document/DbXuJCp-/BharataYuddha_Poerbatjaraka.html

Bagian 2 :
Dalam persiapan.

Bagian 3 :
Dalam persiapan.
.

Buku Serat Bharata Yuddha lain nya :

Ada satu buku lain – terbitan disertasi Dr Soetjipto di tahun 1960an – mengulas tentang Serat Bharata Yuddha serta berisi terjemahan lengkap pupuh-pupuh Serat Bharata Yuddha dari bahasa Kawi ke bahasa Indonesia. Blog wayangpustaka sudah mempunyai buku tersebut dan sedang menyiapkan konservasi nya. Silakan ditunggu.