Cuplikan kisah “Karna” (1) – Yanusa Nugroho.


Bocoran kecil tulisan Yanusa Nugroho 1, persiapan novel nya bercerita tentang Karna

 

Catatan Admin :

Yanusa Nugroho ; seniman, pecinta wayang, penulis novel (ada beberapa novelnya terinspirasi wayang) ; saat ini tengah menulis karya berikutnya , sebuah novel bercerita tentang Karna. Di bawah ini bocoran kecil dari beliau. Di copy paste disini dengan seijin beliau. Meskipun ‘bocoran kecil’ ternyata cukup panjang untuk dijadikan satu posting, maka akan ada tiga posting berturut-turut.

 

Silakan diicipi sambil menunggu selesainya karya tersebut serta terbitnya novel tersebut.

 

 

Cuplikan kisah “Karna” (1)

oleh Yanusa Nugroho pada 12 September 2011 jam 6:57

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150287460796835

 

Gerbang megah itu terbuka lebar. Rakyat ibukota bersorak sorai. Serunai dan tambur

dibunyikan. Payung-payung membundar, dengan kain-kain kuning-merah, disulami

benang emas, bersembulan. Panji-panji kebesaran, berlambang kepala gajah dengan

belalai mengungkit langit, berkibaran. Bunga-bunga ditaburkan ke udara. Langit

biru cerah. Awan putih kapas. Wajah-wajah gembira. Baju-baju warna-warni.

Anak-anak kecil berebut mencari celah di antara tubuh-tubuh orang dewasa. Ada

yang tersikut dan menangis. Ada yang lebih peduli pada makanannya.

 

Beberapa laki-laki ponggawa istana dengan berdiri di atas anjungan-anjungan yang

dibangun di sepanjang jalan utama ibukota, meneriakkan berita gembira.

“Sambutlah sang raja muda Pandu Dewanata. Hampir satu purnama meninggalkan

Hastinapura,…”

 

 

Seorang anak laki-laki kecil, mungkin usianya belum tujuh tahun, dengan telanjang dada

dan rambut panjang terurai, berlari mencari celah agar dapat berada di depan

pagar manusia itu. Matanya berbinar-binar. Semangatnya menyala. Kulitnya bersih

dan bahasa tubuhnya memang menarik perhatian. Beberapa wanita sempat

memperhatikannya, meski hanya sekilas.

 

Anak kecil itu, terus merangsek dan menguak. Gagal di celah yang satu, dia mencari

yang lain. Berlari, sesekali melompat, seakan mengikuti arus iring-iringan

kerajaan.

 

Di belakang gajah yang ditunggangi sang raja, tampak sebuah kereta terbuka.

Ditarik empat ekor kuda hitam, kereta itu seperti bercahaya. Keempat rodanya

berputar perlahan mengikuti gerak maju gajah yang lima tombak berada di

depannya. Namun, yang membuat mata rakyat terpaku adalah para penumpang yang

ada di kereta kerajaan itu.

 

Laki-laki di anjungan berteriak: “ Inilah hadiah bagi Hastinapuraaa..”

 

Rakyat gemuruh bersorak-sorai.

 

Tiga orang putri elok duduk berdampingan di kereta itu. Yang satu masih terlalu

muda, dan tampak wajahnya murung. Rambutnya tergelung kecil dengan hiasan

permata yang tampak masih agak terlalu besar untuk gelungan rambutnya. Yang

seorang lagi tampak anggun dan terlihat dewasa. Senyumnya seakan tertahan

sekaligus tersebar bagi siapapun yang mengamati wajah mungilnya. Siapapun yang

sempat menatap matanya, akan merasakan pancaran kecerdasan putri itu.

 

Yang seorang lagi, sebaya dengan putri kedua, tampak lebih bergairah. Rambutnya

ikal, hitam berkilau-kilau diterpa cahaya matahari sore. Rambutnya diurai dan

hanya ditutupi selapis tipis kain sutera merah.Dia mengenakan kain dan

selendang merah menyala, dan rasanya sesuai dengan tatapan mata serta potongan

tubuhnya. Sebutir batu mirah berantai emas digantungkan tepat di tengah keningnya.

 

Anak kecil yang tengah menyuruk-nyuruk di antara para penonton iring-iringan itu

akhirnya berhasil menemukan celah. Segera dia menerobos dan berlari kecil

mengikuti kereta.

 

“Ayah!” tiba-tiba dia berteriak. Karena melihat yang dipanggil tak bereaksi, dia pun

mengulangi teriakannya. Masih belum berhasil, dia pun berlari lebih cepat dari

kereta, dan pada tempat yang diperkirakannya, dia pun melompat-lompat menarik

perhatian laki-laki yang dipanggilnya ‘ayah’.

 

Laki-laki yang dipanggil “ayah” melirik. Dengan tangan masih mengendalikan kekang kuda

kereta,  dia memberi isyarat agar anak kecil itu jangan melakukan apa yang baru saja diteriakkannya.

Namun, si kecil hanya berjingkrak-jingkrak girang. Sorot matanya makin berbinar.

 

“Ayaaah!”

ulangnya sambil tertawa-tawa bangga. Kakinya masih berlari-lari kecil

mengiringi kereta dari jarak tertentu. Sesekali dia menabrak penonton yang lain

dan mendapat makian, tapi dia tak peduli. “Lihat, sais kereta itu adalah

ayahku.. hebat, kan?” ucapnya bangga pada siapapun; baik yang bertanya

maupun tidak.

 

Ulah anak kecil itu sempat menarik perhatian putri kedua. Matanya yang indah menatap

anak kecil itu dalam-dalam. Seakan-akan ada kekuatan gaib yang memaksanya

memperhatikan si kecil. Aneh, ada deburan dahsyat di jantungnya.

 

Gerak tubuh si kecil yang lincah bertenaga, meluapkan daya hidup yang luar biasa

bersama keriangan dan kebahagiaannya menyaksikan sang ayah pulang dari manca,

membuat sepasang mata putri jelita itu berkaca-kaca. Sebuah sambutan yang

paling membahagiakan jiwa manusia. Sebuah kehangatan yang tak akan pernah bisa

digantikan oleh apapun di dunia ini.

 

Keharuan itu, dengan caranya yang aneh, membuat putri kedua itu melambaikan tangan ke

bocah bahagia itu. Dia menghendaki agar si bocah mendekat ke kereta.

 

Mula-mula bocah kecil itu ragu, karena memang bukan putri itu perhatian utamanya. Namun,

karena berulang-ulang tangan sang putri melambai, dia pun berlari mendekati

kereta. Beberapa pengawal berkuda yang berada di belakang kereta segera

berusaha mencegah. Orang-orang pun tertawa, karena sempat melihat kejar-kejaran

antara si bocah dan dua lelaki berkuda.

 

Gelak tawa itu menarik perhatian bukan saja si sais kereta, tetapi juga sang raja.

Sang raja menoleh dan menyaksikan kelucuan itu; dia hanya tersenyum.

 

Yang pucat pasi adalah si sais kereta. Tubuhnya makin seperti batu karang.

 

Namun, isyarat putri kedua, mampu menghentikan dua pengawal berkuda itu.

 

“Siapa yang kau panggil tadi?” tanyanya dengan senyum bahagia kepada si bocah nakal

itu.

 

Anak kecil itu hanya menatapnya. Sepasang bola mata bulatnya seakan menyerap seluruh

wajah juwita putri yang menyapanya. Dia masih berlari-lari kecil, di samping

kereta.

 

“Dia ayahmu?” tanya sang putri lagi, sambil menunjuk pada sais kereta.

 

Si kecil hanya mengangguk. Dan berlari lebih cepat, mendekati ayahnya.

 

“Ayah!” teriaknya sekali lagi.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” ayahnya setengah berteriak, berusaha mengatasi hiruk

pikuk kota, tanpa memandangnya.

 

“Nanti malam ayah harus bercerita..”

 

“Baik.. baik..”

 

“Mulai dari perjalanan sampai sayembara itu..“

 

“Baik..”

 

“Juga tentang putri-putri ini..”

 

“Ya, baik..baik.. sekarang pulang.”

 

“Aku hanya mau pulang bersama ayah..”

 

“Jangan nakal. Nanti ayah bisa dihukum baginda..”

 

“Kenapa?Aku hanya mau pulang bersama ayah..”

 

“Jangan manja. Ayo pulang..”

 

“Tidak mau!”

 

“Pulang!”

 

“Pokoknya tidak mau!” dan anak itu tetap berlari di samping kereta.

 

“Sais, ajaklah anakmu..”

 

Sais kereta itu seperti tak percaya pada pendengarannya sendiri. Mana mungkin

seorang putri calon istri raja berbicara padanya? Namun, ketika sang putri

mengulangi ucapannya, barulah dia percaya bahwa telinganya masih benar.

 

“Tapi, tuanku putri..”

 

“Ini perintah.”

 

Sikecil melompat girang, rambutnya meriap-riap. Lalu, tanpa berkata apa-apa dia

pun melompat dan duduk di samping sais kereta. Orang-orang tertawa. Sekali lagi

Prabu Pandu menoleh, dan begitu menyaksikan si kecil nakal itu duduk di samping

saisnya, dia pun tertawa kecil.

 

Iring-iringan itu pun terus mengalir menuju istana. Sementara si ayah beku oleh perasaan

hatinya, si anak begitu menikmati kebahagiaannya.

 

Dia berdiri, berkacak pinggang dan melambai-lambaikan tangannya seakan dialah raja

yang berhasil memboyong ketiga putri itu. Orang-orang bersorak gembira

menyaksikan pemandangan lucu itu.

 

“Duduk!”

 

Si kecil membandel. Dia tertawa-tawa layaknya orang dewasa, menirukan entah siapa.

 

“Duduk!”

 

Si kecil menjadi raja sehari.

 

“Ayah tak mau bercerita, kalau begitu..”

 

“Tapi, ayah sudah berjanjiii..”

 

“Duduk!”

 

Si kecil membanting tubuhnya. Pipinya menggembung; cemberut.

 

Sementara sepasang mata indah tengah mengamati kebahagiaan itu dengan genangan haru di

pelupuk matanya. Entah mengapa, dia membayangkan dirinya bagian dari keluarga

itu. Dia meneguk kerinduan getir yang ditelannya bersama angan-angan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: