Cuplikan Kisah “Karna” (2) – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” (2)

oleh Yanusa Nugroho pada 13 September 2011 jam 9:04

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150288812441835

 

“Hari ini, kita akan ke istana?”

 

“Ya.”

 

“Ada pesta?”

 

“Ya.”Jawab Nyai Radea sambil tetap sibuk mendandani Karna kecil dengan pakaian yang

layak untuk acara istana. Dia sendiri telah siap.

 

“Mengapa?”

 

“Apanya, yang mengapa?”

 

“Mengapa kita diundang?”

 

“Ini bukan undangan. Ini perintah.”

 

“Mengapa?”

 

NyaiRadea menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mengambil tepung bedak dan mulai

membedaki wajah Karna.

 

“Ibu, mengapa kita diperintah?”

 

“Karena kita adalah rakyat Hastina.”

 

“Siapa yang memerintah?”

 

“Tentusaja paduka raja..” jemari Nyai Radea merapikan rambut Karna, yang terlalu

kecil untuk diikat di atas kepalanya. Dia tak ingin rambut anaknya kusut.

 

“Mengapa?”

 

Nyai Radea menatap sepasang mata Karna, lalu:”Karena dia raja, anakku.”

 

“Raja bisa memerintah?”

 

“Tentu saja.”

 

“Kalau begitu, aku juga raja..”

 

Nyai Radea tersenyum. “Oh, tentu. Kau adalah raja di hatiku.”

 

“Bukan itu. Aku kemarin memerintah Sarpa..”

 

“Sarpa?”

 

“Ya. Sarpa..”

 

“Si raksasa itu?”

 

“Iyaa.”

 

“Kau bisa memerintah Sarpa si raksasa?”

 

“Ya. Dia selalu baik padaku.”

 

Nyai Radea sekali lagi menarik nafas. Masih ditatapnya mata bening Karna. Setelah

beberapa saat terdiam dan mencoba menata kilasan aneh di benaknya, Nyai Radea

berkata, “..kau perintah apa si raksasa itu?”

 

“Menggendongku.”

 

Nyai Radea tertawa geli. Dia bayangkan Si Sarpa, raksasa yang tinggal di sebelah

selatan Bukit Socamala, yang selama ini tak begitu dianggap masyarakat sekitar

lantaran aneh, menggendong Karna kecil. Umumnya anak-anak takut melihat sosok

besar Sarpa. Tetapi Karna bisa begitu mudah mengajaknya bermain-main.

 

“Menggendongmu?”

 

Karna kecil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Kedua bola matanya

berbinar-binar.

 

“Oh,kau memang raja di setiap hati manusia.” Lalu dipeluknya Karna. “Tapi,

sebaiknya hati-hati… betapapun, raksasa adalah pemakan manusia.” Bisiknya

lembut.

 

“Dia tak akan berani.”

 

Nayi Radea melepas pelukannya. Sekali lagi ditatapnya wajah bercahaya itu. “Tentu

saja,..” sambungnya kemudian dengan senyum bangga, “.. karena kau adalah

seorang raja..”

 

“Tidak. Bukan begitu.”

 

“Maksudmu?”

 

“Dulu, ketika dia mau menangkapku, siang hari ketika aku bermain dengan kawan-kawanku

di kaki Socamala, dia kukalahkan.”

 

Nyai Radea kembali terhenyak. “Kau mengalahkan raksasa?”

 

“Ya.”

 

“Kau memukulnya?”

 

“Tak perlu..”

 

Nyai Radea tak bisa menahan geli. “Ya, ya.. ibu percaya, kau raja yang sakti.”

 

“Aku hanya berdiri. Begini..” Karna merentangkan kaki dan berkacak pinggang dengan

bangga, di depan Nyai Radea.

 

“Lalu?”

 

“Ketika Sarpa mau menangkapku, tiba-tiba ada cahaya dari dadaku.. wuuss.. dan Sarpa

meraung. Rambutnya terbakar..”

 

Nyai Radea tertawa lebar. Dia begitu bahagia bersama Karna, pagi itu.

 

“Cahaya memancar dari dadamu? Hebat.. Hanya dewa-dewa yang bisa melakukan hal itu.

Manusia tak bisa.”

 

“Kalau begitu, aku dewa?”

 

“Ya, kau memang dewa di hatiku.” Ucap Nyai Radea sambil menghapus setitik airmata

bahagianya.

 

“Tapi..”

 

“Sudah, mari kita berangkat, ayahmu pasti sudah menunggu kita..”

 

***

 

Ketiganya kemudian membaur bersama rakyat Hastina lainnya. Mereka menuju lapangan besar

di depan istana. Mereka menjadi saksi sejarah Hastina.

 

Ribuan manusia melaut memenuhi lapangan. Radea, karena dia dianggap memiliki kedudukan

istimewa—bahkan oleh kawan-kawannya disebut sebagai satu-satunya manusia

Hastina yang berani memunggungi raja—diberi tempat di dekat panggung utama.

Lautan manusia itu semuanya duduk bersimpuh.

 

“Ayah,mengapa kita di sini?” bisik Karna, karena sebetulnya dia ingin berada bersama

kawan-kawan sedesanya, yang berada jauh di tepi lapangan besar itu.

 

“Karena ayah adalah orang kepercayaan raja.”

 

“Mengapa?”

 

“Ayahbukan saja mengendalikan kereta, tetapi juga harus bisa melindungi raja dari

serangan lawannya..”

 

“Bagaimana bisa?”

 

“Bisa,anakku. Sais kereta raja adalah kedudukan penting, setelah pasukan pelindung

raja. Kau tahu paman Wisaya, dan ketujuh paman-pamanmu yang lainnya itu? Mereka

adalah pelindung raja, yang selalu berada di sekitar raja, siang-malam. Ayahmu,

adalah orang kesembilan, yang langsung berada di kereta raja.”

 

“Jadi, ayah orang sakti?”

 

“Ssst.. jangan keras-keras suaramu..”

 

“Haha.. ayah orang sakti, seperti dewa..”

 

“Sssst..”

 

Gong dipukul, dan dari dalam istana rombongan pun bermunculan. Prabu Pandu dengan

mahkota kebesarannya yang gemerlap oleh intan berlian, berjalan diapit dua

orang istrinya. Dewi Madrim, yang tampak terlalu muda untuk menjadi seorang

istri, masih tampak kekanak-kanakan, berjalan kaku. Beberapa kali tampak dia

memainkan kuku jemari tangannya sendiri. Kunti, yang bersikap dewasa, selalu

membimbingnya, layaknya seorang kakak terhadap adiknya.

 

Di belakang Pandu, tampak Drestarastra dituntun Widura, berdampingan dengan

istrinya, Dewi Gendari. Ada yang aneh, paling tidak di mata Karna, bahwa Dewi

Gendari mengenakan kain penutup matanya.

 

“Ayah, mengapa dewi itu menutupi matanya dengan kain?” bisiknya tiba-tiba.

 

“Ssst.. jangan tanya-tanya..”

 

“Tapi, mengapa?”

 

“Karena suaminya buta..”

 

“Tapi, mengapa?”

 

“Ssst.. ayah tidak tahu. Dan apa urusanmu?”

 

Karna terdiam.

 

Seorang pemuda tegap, dengan kumis tipis, dan rambut panjang lebat yang tergelung besar

di kepalanya, segera menuju tempat yang disediakan. Dialah Patih Gandamana,

orang paling disegani dan dihormati kalangan istana. Dialah salah satu dari

sedikit tangan kanan raja. Gandamana sebetulnya adalah seorang pangeran, yang

kelak akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Pancala. Namun, sang

ayah, Prabu Gandabayu, yang bersahabat karib dengan Pandudewanata, ingin agar

anak laki-lakinya mendapatkan ilmu ketatanegaraan dari raja Hastina tersebut.

Maka, sejak belia, Gandamana diserahkan kepada Pandudewanata.

 

“Rakyat Hastina.. mari kita beri salam dan doa bagi para pengantin Hastinapura.”

 

Asap dupa menggulung-gulung, membubung. Kidung dan senandung, mengalun. Suara-suara

mengendap. Angin berbisik, tak ingin mengusik. Semua mata terpejam, mengikuti

kata-kata mantra yang mengalir.

 

Karna lurus menatap wajah Kunti.

 

Kunti yang tunduk, tiba-tiba mengangkat pandang, mencari sepasang mata yang

memanggilnya.

 

Pandangan mata mereka bertemu di satu kehampaan. Hanya kebisuan. Kata-kata, seperti

anjing hutan mengintip mangsa, hilir mudik di sekitar semak, sesekali mengintip dan menjaga jarak.

 

Matahari menyaksikan, matahari bersinar-sinar.

 

Siapakah engkau wajah malaikat? Matamu. Ramping hidungmu. Alis matamu. Caramu memandang.

Gerak dan bahasa tubuhmu, begitu kukenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: