Cuplikan Kisah “Karna” (3) – Yanusa Nugroho


Cuplikan kisah “Karna” (3) – Yanusa Nugroho

oleh Yanusa Nugroho pada 13 September 2011 jam 9:31

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150288839281835

 

Suatu kali, di malam purnama raya, Karna merasakan ada yang aneh di wajah kedua

orangtuanya. Biasanya, pada malam-malam seperti itu, sebelumnya, keduanya

begitu gembira. Sebagaimana para pemuja dewi bulan lainnya, malam purnama raya

adalah puncak upacara penyembahan, dan Radea sekeluarga adalah manusia yang

taat menjalani keyakinannya.

 

Akan tetapi, malam itu, suami istri itu tampak murung. Bahkan mereka tak menunjukkan

tanda-tanda akan mengikuti upacara persembahan di candi Badra. Palung dan

nampan kayu, yang biasanya diisi berbagai bunga dan buah-buahan, tampak kosong.

Karna mengamati semuanya dengan tatapan sedih dan bertanya-tanya.

 

Dilihatnya, kedua orangtuanya duduk diam memandangi cahaya pelita minyak kelapa.

 

“Ayah, ibu… mengapa kita tidak pergi?”

 

Radea mengangkat wajah dan memandang Karna tanpa kata-kata.

 

“Kami sedang tidak enak badan, Karna..” jawab Nyai Radea dengan suara parau.

 

“Ibu sakit? Ayah juga?”

 

Ibunya mengangguk.

Karna terdiam. Hatinya yang jernih menangkap bahwa ucapan itu hanya untuk menutupi

sesuatu. Dia menduga, bahwa peristiwa bulan lalu itulah yang menyebabkan kedua

orangtuanya tak melakukan upacara kali ini.

 

“Aku berjanji.. tidak akan seperti itu lagi..” ucapnya dengan suara rendah.

 

Nyai Radea memeluknya. “Jiwamu begitu bening, rajaku. Kami bisa memahami.. tetapi,

mereka menghendaki semuanya sempurna.”

 

“Kami tak boleh menghadiri upacara, sampai usiamu cukup layak untuk disertakan…”

sambung Radea dengan suara geram dan berat.

 

“Kurasa, dewi bulan tak akan keberatan dengan kekagumanku..”

 

“Tentu,rajaku, tentu. Ibu sangat mengerti.. tetapi, mereka adalah orang-orang yang

sangat taat, anakku..”

 

“Mereka takut, bukan taat.”

 

“Karna, bicaramu seperti orang dewasa.” gumam Radea menahan gejolak hatinya.

 

Karna terdiam. Tampak ayahnya begitu sedih.

 

“Ayah, katakan pada mereka, aku tidak akan pernah ke candi Badra lagi..”

 

“Karna,itu tidak mungkin. Kau pikir semudah itu? Ah, kau masih terlalu kecil, Karna.

kau masih bocah. Memang bicaramu kadang melebihi orang dewasa, tapi.. kau masih

kanak-kanak.”

 

“Mengapa? Aku, kan, memang anak kecil..”

 

“Setiappenyembah purnama, dituntut untuk bisa mengajarkan kepada keluarganya bagaimana

menyempurnakan hidupnya. Ah, mengapa aku bicara seperti ini kepadamu? Kau

bahkan belum bisa membedakan mana kenyataan dan mana mimpi indahmu..”

 

“Dari setiap upacara yang dilakukan, hidup kita dinilai. Jika kita memiliki nilai

kebaikan yang banyak, maka hidup kita akan lebih baik.. “ sambung nyai Radea

dengan suara yang hampir-hampir sesuram ruangan kecil itu.

 

“Bukan hanya itu.. para penyembah dewi bulan dilarang bersahabat dengan raksasa..”

 ucapan Radea terasa menggelegar di telinga Karna.

 

“Mengapa?”

 

“Dahulu kala, dewi bulan pernah dimakan raksasa. Dan itu diperingati turun temurun. Kau

lihat jika ada gerhana bulan, seluruh penduduk di sini segera membunyikan

apapun, agar si raksasa segera melepaskan sang dewi. Dan kau sendiri sudah

tahu, mengapa itu kita lakukan..”

 

“Tapi, Sarpa..baik kepadaku. Dia pun mengagumi keindahan purnama raya..”

 

“Pokoknya, penyembah bulan dilarang bersahabat dengan raksasa. Kau dengar ucapanku?”

 

Karna terdiam. Dalam diamnya, hatinya luka; bukan karena nada ucapan ayahnya,

melainkan makna yang tiba-tiba disemburkan ke nuraninya yang masih hijau itu.

Bagaimana mungkin seseorang yang setia kepada kelembutan dan keindahan,

sebagaimana yang dituturkan mengenai sifat-sifat purnama, bisa menanamkan rasa

permusuhan abadi seperti itu? Dalam diamnya, Karna merasa kecewa. Namun,

kepada siapa kekecewaannya ditumpahkan, dia tak tahu.

 

“Apakah ayah juga tidak menyukai Sarpa?”

 

“Ayah hanya khawatir dia melukaimu.”

 

“Nyatanya, tidak, kan?”

 

“Raksasa bersifat licik. Mereka pemakan manusia.”

 

“Tapi raja kita bersahabat dengan para raksasa..”

 

“Karna, segeralah kau dewasa, maka kau akan segera mengerti semuanya..”

 

“Tidak mau!”

 

“Rajaku, jangan begitu..” suara lembut itu mencoba meredam.

 

“Aku tidak mau!”

 

“Jangan sakiti perasaan ibumu, Karna..” bisik Nyai Radea lembut.

 

Karna terdiam beku, air matanya meleleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: