Cuplikan Kisah “Karna” (4) – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” (4)

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 11:11

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291158456835

 

Sejak peristiwa upacara purnama raya itu, Karna lebih banyak diam. Keriangannya

seakan lenyap entah kemana. Begitu banyak pertanyaan untuk jiwanya yang masih

begitu muda. Dia lebih suka menyendiri, dan tempat paling menentramkan baginya

adalah Bukit Socamala.

 

Seperti siang itu, ketika panas terik menghanguskan bumi Hastinapura, Karna berada di

kaki Socamala. Dan tentu saja, Sarpa selalu berada di dekatnya. Sarpa dengan

tubuh besarnya itu bersandar pada pohon trembesi, dan membiarkan kedua lututnya

dijadikan tempat duduk bagi Karna.

 

Biasanya, Karna akan meminta Sarpa untuk menggendongnya dan berjalan-jalan kemana dia

suka. Namun kali ini, Sarpa hanya tercenung, melihat Karna kecil hanya merenung

dan diam. Beberapa kali Sarpa menawarkan untuk bermain atau jalan-jalan, namun

Karna hanya menggeleng dan diam kembali.

 

“Harna..haku hau… horang-horang henci Harpa…” ucap Sarpa seperti sudah memahami

persoalan yang dihadapi sahabatnya. Namun, karena Karna hanya diam, dia pun

mencoba mendongengkan sesuatu kepada sahabatnya.

 

Dulu kala, begitu Sarpa mengawali ceritanya, ada dua kakak beradik. Yang satu

berwajah tampan dan yang satu lagi berwajah raksasa—kerdil pula tubuhnya.

Mereka, menurut cerita tutur para moyang raksasa, bernama Sumantri dan

Sokrasana.

 

Sumantri, sang kakak yang berwajah tampan, mengabdi pada raja Maespati. Karena perjuangan

dan kegigihannya, akhirnya Sumantri mendapat kepercayaan raja. Dia pun diangkat

menjadi maha menteri. Namanya harum, siapapun menganggapnya keturunan dewa.

Akan tetapi, secara tiba-tiba sang adik, yang buruk rupa pun menyusul sang

kakak. Karena pertimbangan aneh, malu memiliki adik berwajah raksasa, maka

Sumantri tega membunuh adiknya sendiri.

 

Karna terdiam mendengar penuturan Sarpa. Tetapi, setelah menarik nafas dalam-dalam,

dia pun bicara: “Tetapi, itu kisah kuno, Sarpa.

 

Aku pun pernah mendengar kisah kepahlawanan Sumantri. Kata ayahku, itu adalah kisah

leluhur, yang telah ada bahkan jauh sebelum Sri Rama dari Ayodya, yang terkenal

itu. Aku sudah tahu itu…”

 

Sarpa terdiam. Kemudian dia menggumam dan Karna mengerti benar setiap kata yang

digumamkannya. Sarpa mengeluh bahwa sejak jaman nenek moyangnya, bangsa raksasa

selalu dimusuhi manusia. Hanya karena kaum raksasa bertaring, dan menurut mata

manusia lebih mendekati binatang buas, maka manusia berhak memusuhi, bahkan

membantai raksasa.

 

“Aku tidak akan memusuhimu, Sarpa. Kau sahabatku. Jika saja waktu itu, kau tidak

menyerangku, mungkin aku pun tak membakar rambutmu..” ujar Karna dengan suara

tertahan.

 

Sarpa mengusap-usap kepalanya, “Humbuh..”

 

Karna tertawa, “Tentu saja rambutmu tumbuh, karena yang terbakar hanya bagian

atasnya..”

 

Sarpa tersenyum. Dua gigi depannya yang tanggal, membuat mulutnya jadi tampak lucu di

mata Karna.

 

Setelah terdiam beberapa saat, Sarpa melanjutkan bukti-bukti kebuasan manusia atas

bangsa raksasa. Dia bercerita tentang kisah Narasoma.

 

“Siapa dia?”

 

“Harasoma..hakak Hadim..”

 

“Narasoma kakak dewi Madrim? Dewi Madrim istri raja?”

 

Sarpa menganggukkan kepalanya. Dikatakannya bahwa Narasoma mempunyai istri cantik

bernama dewi Pujawati. Dewi Pujawati adalah anak seorang pertapa bernama

Bagaspati—yang berwujud raksasa.

 

Karena malu bermertuakan seorang raksasa, sekalipun seorang pertapa, Narasoma tega

membunuh mertuanya sendiri.

 

“Membunuh ayah dari istrinya?”

 

“Ha..”

 

Karna terdiam kembali. Gambaran-gambaran kekejaman manusia atas bangsa raksasa kian

jelas di benaknya.

 

Angin siang membawa hawa panas naik ke udara. Langit biru bersih. Awan-awan hanya

terserak di tepi-tepi cakrawala. Karna turun dari lutut Sarpa, dan berlari ke

tengah lahan terbuka.

 

“Hei, Harna.. hau hana?”

 

“Aku ingin memanggil dewi bulan, beranikah dia muncul di siang hari..”

 

“Ha..ha…ha… Hulan hanya halam..”

 

“Aku tahu. Bulan hanya muncul di malam hari.. Tapi beranikah dia muncul di siang

hari?”

 

“Hau hapa?”

 

“Aku benci bulan. Keindahannya ternyata harus dibayar dengan kekejaman..”

 

“Ha..ha… Harna hanak hecil… haha..haha..haaa..”

 

Karna tegak di tengah terik matahari. Uap panas meruap dari bumi. Sepasang matanya

menatap langit, dan rajaman cahaya terasa menyakitkan. Oleh rasa jengkel dan

kesalnya, Karna terus menatap bola matahari yang berpendar-pendar memancarkan

cahayanya. Sebetulnya, dia mencari-cari bulan, yang seringkali juga menampakkan

diri di siang hari. Namun, saat itu, yang terpandang di matanya adalah

matahari. Entah mengapa, Karna mengalihkan kekesalannya pada matahari.

 

“Harnaaa!”

 

Peluh membasahi wajah dan tubuhnya. Bola matanya perih mengering.

 

“Harnaa.. hei, hoblok!”

 

Kepalanya tiba-tiba berkunang-kunang.

 

“Harnaa…”

 

Karna rebah. Tubuhnya lunglai tersengat matahari. Sarpa tergopoh-gopoh menolongnya.

Digendongnya tubuh Karna, dan dibawanya berlari ke sebuah telaga di kaki

Socamala. Di situ tubuh Karna diceburkan ke dalam dinginnya air telaga.

Seketika Karna siuman, dan merasakan tubuhnya segar kembali.

 

“Sarpa, kau menolongku..”

 

“Holol.. “

 

“Mungkin aku memang tolol. Tapi kurasa, matahari memang lebih hebat daripada bulan.

Wajah bulan bisa kupandangi. Tapi matahari.. dia lebih hebat. Jauh lebih kuat

daripada bulan..”

 

“Holol.. hodoh…” ucap Sarpa sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

 

Karna diam. Tubuhnya terasa lelah.

 

“Halau hau hiat hatahari..” ucap Sarpa dengan nada iba. Lalu dia mengatakan bahwa

sebentar lagi sebaiknya mendaki ke puncak Socamala. Matahari senja akan bisa

disaksikan dengan sepuas-puasnya.

 

Mata Karna berbinar kembali. “Aku akan bisa melihat wajah matahari?”

 

Sarpa tertawa geli, “hanak hodoh.. hasian..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: