Cuplikan Kisah “Karna” (5) – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” (5)

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 11:34

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291179086835

 

“Ayah.. mau kemana?”

 

Radea yang saat itu tengah menerima buntalan perbekalan dari istrinya, terpaksa duduk

di pembaringan Karna. Anak kecil itu terjaga dari lelapnya.

 

Dibelainya kepala Karna, lalu berkata, “.. malam ini, ayah harus ke istana. Sebelum fajar,

baginda akan ke Mandura..”

 

“Mengapa?”

 

“Mandura mendapat serangan musuh.”

 

“Musuh?”

 

“Ya. Kaum raksasa..”

 

Ucapan Radea tentang raksasa, terasa begitu berat di telinga Karna. Entah mengapa,

setiap kali ayahnya mengucapkan ‘raksasa’ yang terbayang di mata Karna adalah

wajah Sarpa yang tolol namun baik hati itu.

 

“Ayah akan berperang melawan raksasa?”

 

“Jika harus demikian, itulah tugas ayah. Sudah, kembalilah tidur, hari masih larut

malam..”

 

“Ayah akan membunuh raksasa?”

 

“Ini perang anakku. Berdoalah, agar ayah bisa kembali dengan selamat.”

 

“Kepada siapa aku harus berdoa?”

 

Radea terdiam. Dia paham betul bahwa Karna kecewa dengan perlakuan kaum pemuja

purnama yang mengucilkan mereka sekeluarga.

 

“Paling tidak, .. rindukanlah ayah, itu akan membuat ayah bertambah hebat..” ucapnya

sambil membelai kepala Karna.

 

Radea berangkat, meninggalkan Karna yang masih diselimuti pertanyaan.

 

Dari dalam biliknya Karna sempat mendengar dua orang ponggawa berkuda bercakap-cakap

sebentar dengan ayahnya, lalu derap ladam-ladam kuda bergerak dan menjauh.

 

Malam melarut, namun sepasang mata Karna tak mau terpejam. Kata-kata “perang melawan

raksasa”,  membuatnya gelisah. Di benaknya terbayang beratus-ratus mayat raksasa, yang jatuh bertumbangan. Dan

wajah mereka, semuanya adalah wajah Sarpa.

 

Mengapa Sarpa-Sarpa itu harus dimusuhi dan dibunuh? Apa salah mereka? Ah, semoga

saja..Tak mungkin dewi bulan akan melindungi kaum raksasa. Tidak.

 

Mungkinkah matahari akan melindunginya? Mengapa tidak, sebaiknya aku memohon matahari

melindungi kaum raksasa. Matahari lebih perkasa. Matahari lebih dahsyat. Matahari

pasti mau memberi pertolongan kepada kaum raksasa.

 

Akhirnya, setelah merasa mendapat jawaban atas kegelisahannya, Karna terlelap di samping

ibunya.

 

***

 

Pandu tercenung, pertimbangannya meminta bantuan orang Pringgandani tak salah.

 

Matahari telah naik nyaris tepat di ubun-ubun.

 

“Radea, bulan apakah ini?”

 

“Saat ini adalah bulan Asuji tuanku. Kekeringan di mana-mana.”

 

“Hmm.. apakah kita mempunyai air minum cukup?”

 

“Tentu tuanku.”

 

“Pantas mereka melakukan serangan. Menurut perhitungan mereka, kita akan kehabisan

tenaga karena kehausan. Siang hari panas akan membakar, sementara malam, dingin

akan melumpuhkan persendian kita. Aku bisa mengerti mengapa Mandura terdesak.

Lawan telah memperhitungkan benar.

 

Berapa lama lagi kita akan sampai di Mandura?”

 

“Jika kita melintasi Selapraba, memang, perjalan akan lebih cepat sehari, tuanku.”

 

“Mengapa kau agaknya tidak menyarankan kita melintasi Selapraba?”

 

“Lembah itu biasanya dihuni kaum Naga, tuanku..”

 

“Oo. Lalu, apa masalahnya?”

 

“Kita tak ingin menambah masalah dengan mengusik ketenangan mereka, tuanku.”

 

“Tetapi, keadaan Mandura bergantung pada kecepatan kita.”

 

Radea terdiam.

 

Pandu melambaikan tangannya, seorang pembesar berkuda mendekat. “Perintahkan pasukan

mendirikan tenda di sini, sekarang. Kita beristirahat. Kita akan berangkat

setelah matahari terbenam.”

 

Ponggawa berkuda itu kemudian membunyikan terompet. Pasukan berhenti dan kesibukan pun

terjadi. Dalam beberapa saat tenda-tenda berdiri. Buah semangka merah, dibelah.

Sekadar penghilang dahaga di terik matahari.

 

Sambil menikmati piala airnya, Pandu memerintahkan pimpinan perjalanan melaporkan apa yang

diketahuinya mengenai Selapraba. Radea, Wisaya dan adik-adiknya berkeliling

menyimak rencana.

 

“Selapraba, tuanku?” tanya laki-laki yang rambutnya sebagian besar telah beruban itu.

Dialah Antisura, yang telah menduduki jabatan penting itu sejak jaman Prabu

Kresnadipayana, ayah Pandu.

 

“Mengapa kau ragu, paman Antisura?”

 

Antisura menarik nafas dalam-dalam, dia harus pandai-pandai menyampaikan pendapat di

hadapan raja mudanya. “Maafkan tuanku. Bukankah tuanku menyadari bahwa kita tak

pernah mengusik wilayah para naga.”

 

“Aku paham, Antisura. Tetapi, Mandura dalam keadaan terdesak. Satu-satunya jalan

adalah melintasi lembah itu.”

 

“Hamba tidak yakin, tuanku.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kaum naga adalah makhluk yang terlalu tinggi hati. Mereka memang tak pernah

mendahului, namun jika didahului, biasanya mereka akan mengganas dan dendam

mereka berkepanjangan…”

 

“Kalau begitu, kita habisi yang mencoba menghalangi langkah kita,” ujar Pandu sambil

meneguk minumannya.

 

“Bukankah akan mengurangi jumlah kekuatan kita, tuanku?” ucap Radea hati-hati.

 

“Apakah kau pernah bertempur melawan naga, Radea?”

 

Radea tertunduk. Pertempuran dahsyat antara rajanya melawan Nagapaya, berkelebat.

 

“Jika terpaksa, akan kugunakan Hrudedali..” ucap Pandu dengan wajah merah padam.

 

“Arahkan perjalanan kita malam ini melintasi Selapraba,” katanya menutup pertemuan siang

terik itu. “O, sebelum lupa, persiapkan tentara agar menggunakan ‘langkah

rumput’..” tambahnya sebelum semuanya bergerak dari tempatnya.

 

Mereka pun undur dengan kecamuk pikiran masing-masing.

 

“Langkah rumput? ..kita tak mempersiapkan perlengkapan untuk itu.” Bisik Wisaya.

 

“Gunakan perisai sebagai pelindung kepala, dan pasukan harus berpencar tanpa harus

kehilangan jejak. Yang kita hadapi adalah para naga.” Antisura mendengus geram.

 

“Bagaimana dengan gajah-gajah itu?”

 

“Sebaiknya mereka merapat ke dinding-dinding batu, atau jangan berada di dekat lembah.

Kita akan hancur sebelum mencapai Mandura, jika ini gagal. Siapkan juga

pelanting-pelanting tombak..”

 

Maka menjelang senja itu, para kepala pasukan mengatur anak buahnya dengan

tergesa-gesa. Para prajurit, meksipun patuh akan perintah atasannya, dalam hati

sempat bertanya-tanya. Bahkan beberapa orang sempat saling bisik, bahwa

lokasi pertempuran berpindah tempat. Tak ada kejelasan. Yang ada hanyalah

kecemasan.

 

Pandu tegak menyapu pandang. Jauh di sana, tampak lembah Selapraba. Bentangan lembah

terbuka berbatu-batu besar. Sebuah bentangan pembantaian yang sangat

mengerikan, jika saja orang mengetahui makhluk apa yang akan mereka hadapi di

sana.

 

Dari gua-gua batu, akan bermunculan naga-naga raksasa yang bukan saja ganas, tetapi

juga kuat. Jumlah mereka pun tak sedikit. Dan yang lebih mengerikan lagi,

makhluk-makhluk ini mampu melayang di udara, meskipun mereka tak memiliki

sayap. Mereka akan meluncur, menukik, melesat, sebagaimana mereka berada di

dalam air. Ditambah dengan semburan-semburan api dan bisa dari mulut-mulut

mereka, lengkaplah kehebatan kaum naga ini.

 

Selama ratusan tahun, wilayah ini tak tertundukkan manusia. Tak ada seorang raja pun

yang mau berurusan dengan kaum naga. Kini, Pandu tak bisa lagi menelan

ucapannya. Dengan sedikit ragu, dia pun melambaikan tangan. Aba-aba itu

diteruskan oleh para panglimanya. Maka pasukan Hastina pun melakukan

 

perjalanannya perlahan-lahan. Langkah mereka menuju matahari terbenam. Hawa

dingin mulai menghembus. Awan jingga mengelam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: