Cuplikan Kisah “Karna” 06 – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” 06

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 22:16

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291567061835

 

 

Semburan api tiba-tiba menderu, panasnya segera menghanguskan berpuluh manusia, yang

siaga dengan tombak mereka. Batang-batang tombak melengkung, hangus dalam sekejap. Naga-naga yang masih di udara segera meluncur, menyambar dan menyembur. Mulut dan ekor menghantam manusia yang bubar menyelamatkan diri.

 

Jarak terbang mereka sangat rendah. Pandu yang telah memperhitungkan isyarat Antisura

segera melepaskan panahnya. Mendesing panah itu, hanya menyerempet leher seekor

naga. Berdengkang suaranya, seakan memberi isyarat kepada kawan-kawannya bahwa musuh berada di wilayah mereka.

 

Seekor naga menyemburkan api besar. Perisai-perisai memerah, para prajurit yang ada di

bawahnya berlarian. Semburan dahsyat bertubi-tubi. Antisura memerintahkan

pasukan pelanting melemparkan tombak-tombaknya.

 

Berdesing-desing tombak-tombak itu melayang. Beberapa mengenai dua –tiga ekor naga. Tubuh-tubuh

mereka meliuk, tertembus tombak. Namun, kekuatan mereka memang luar biasa.

Dengan sisa kekuatannya mereka mengamuk. Api-api dari mulut mereka menghanguskan

manusia yang melukainya.

 

Siasat Antisura agar pasukan menyebar, memang membawa hasil. Naga-naga itu, meskipun

berpuluh-puluh, menjadi kehilangan arah. Mereka merasa terkepung manusia.

Teriakan dan senjata manusia-manusia itu benar-benar merepotkan.

 

Korban di kedua belah pihak mulai berjatuhan.

 

Pandu,melolos pedangnya. Tangan kirinya menggenggam tali kulit kuda. Dan dengan gagah

berani mencoba menyongsong seekor naga yang melayang ke arahnya. Radea tak

sempat berkata apa-apa ketika naga itu menderas ke arah junjungannya, namun

hampir tak bisa dipercaya, sesaat kemudian tampak Pandu sudah bertengger di

belakang kepala naga itu.

 

Sulit dipercaya bahwa Pandu seakan menunggangi naga. Tali kulit kuda itu menjerat

erat di kepala naga, dan digunakan sebagai pegangan bagi Pandu. Naga itu

meronta, berusaha membuang Pandu dari tubuhnya. Namun, Pandu seakan merekat

erat. Naga yang melayang, layaknya sebuah babut terbang yang dikendarai Pandu.

Dengan sekuat tenaganya, Pandu mengendalikan naga marah itu, yang melayang tak

tentu arah. Beberapa naga yang berpapasan, menjadi sasaran pedang Pandu.

Tubuh-tubuh naga yang robek. Kepala-kepala yang luka parah, atau bahkan nyaris

lepas dari tubuhnya, menjadikan pemandangan kian aneh dan mengerikan.

 

Melihat junjungan mereka berhasil menunggangi naga, Radea dan Wisaya serta adik-adiknya

mencoba melakukan hal yang sama. Radea berhasil mencengkam tulang mendosol

menyerupai tanduk di kepala salah seekor naga yang menyambarnya. Dia pun

berhasil menikamkan pedangnya, dan bersama dengan tubuh naga, Radea meluncur

berdebum ke bumi.

 

Tubuh naga yang berdebum ke tanah kian deras. Semangat prajurit Hastina seperti

tersulut. Mereka bersorak dan melontarkan beratus-ratus bilah tombak. Hujan

tombak itu memang membuahkan hasil.

 

Seekor naga bermaksud melarikan diri, namun hujan tombak merajam tubuhnya. Di udara,

makhluk raksasa itu seakan berubah menjadi ulat bulu dengan ratusan tombak

menancap di sekujur tubuhnya. Sorak sorai meluap ke angkasa.

 

Naga-naga yang sudah tak berdaya, menjadi luapan kemarahan para prajurit. Tubuh besar itu

melawan sia-sia. Robek, koyak, tercacah, bergelimang darah. Sorak-sorai,

mengiringi arwah naga yang mati di lembah Selapraba.

 

Pasukan Hastina mendesak sisa-sisa kaum naga itu kembali ke sarang mereka. Lelah merajam

kedua belah pihak. Tubuh-tubuh mati tak terhitung. Menjelang fajar, sorak

kemenangan Hastina membahana. Menciutkan nyali para naga.

 

Dari kejauhan, dari dalam sebuah gua batu, sepasang mata naga menyaksikan

pembantaian kaum keluarganya dengan tatapan dendam. Dia sempat menyaksikan para

prajurit membelah-belah kepala naga yang telah mati. Sayup dia mendengar

teriakan lantang bernada sombong dari seseorang yang tentunya adalah raja para

manusia itu. Dengan pongahnya, laki-laki itu tegak menginjak kepala naga yang

dikeratnya. Dan kepala naga itu adalah kepala ayahnya.

 

“Dengarlah wahai Hastina, lembah Selapraba ini adalah milik Pandu sang penakluk. Hai..

kaum naga, rajamu adalah Pandudewanata. Jika kalian ingin tetap hidup di muka

bumi, takluklah kepadaku..”

 

Sorak sorai kembali terdengar. Kemenangan berkibar di pihak Hastinapura.

 

***

 

Setelah beristirahat beberapa saat, dan mengurus jenazah prajurit yang tewas di

pertempuran itu, Pandu melanjutkan perjalanan ke Mandura. Beberapa orang

prajurit baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka menancapkan sebuah perisai

berlambang Hastinapura di sebuah tempat yang bisa dilihat manusia. Itu adalah

tanda sementara, bahwa wilayah itu, kini, menjadi milik Hastinapura.

 

Radea masih terdiam. Pikirannya masih diliputi kekaguman terhadap keperkasaan

rajanya. Baru kali ini, dia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa

raja muda Pandudewanata memang manusia pilihan. Kepongahan dan kekerasannya,

rasanya memang bukan sebuah omongkosong.

 

Demikian juga dengan Antisura. Dia memang pernah mengikuti Pandu dalam pertempuran

melawan Prabu Nagapaya. Tetapi, ketika itu, Pandu tidak sendirian. Pasukan

Hastina mendapat dukungan banyak pihak, sehingga kemenangannya kali itu, adalah

hal yang biasa saja. Namun, yang satu ini, memang istimewa. Sebagaimana halnya

Radea, Antisura pun nyaris tak percaya dengan matanya sendiri. Kecepatan dan

ketangkasan, juga keberanian Pandu, sungguh di luar perhitungannya.

 

Kereta yang seharusnya membawa Pandu, kosong. Pandu minta dipindahkan ke tenda

punggung, pada salah satu gajah, dia ingin tidur dalam perjalanan itu. Semua

orang maklum. Semua orang bertambah kagum.

 

Perjalanan panjang di siang terik itu, hanya diselimuti keheningan. Kelelahan luar biasa

mendera setiap tubuh manusia Hastina itu. Angin panas membubung, kadang

berpilin, menyentakkan rumput, debu dan daun-daun kering.

***

 

Ketika Pandu meraih anaknya, dan menimang-nimangnya, Kunti melihat sosok Narayana

berdiri di dekat pintu.

 

“Hei.. kaukah itu, Narayana? Kemarilah, sayangku.. peluk bibimu..”

 

Narayana menghambur dan memeluk Kunti.

 

“Kau,kesatria kecilku.. sudah melakukan perjalanan yang jauh di usiamu yang masih

muda.”

 

“Aku rindu tembang-tembangmu, bibi..”

 

Kunti menghapus airmata harunya.

 

“Dengan siapa kau kemari?”

 

“Sendiri. Aku duduk di punggung gajah, ditemani paman..”

 

“Bagaimana si Sembadra..”

 

“Si Kura-kura?”

 

Kunti tergelak, “Ya..si kura-kura kecil yang jelita.. ah, sudah bisa apa dia

sekarang..”

 

“Berteriak..”

 

Kunti, Pandu dan akhirnya Narayana, tertawa menikmati kebahagiaan hari itu.

 

***

 

Karna menatap anak laki-laki berkulit hitam manis itu lekat-lekat. Anak itu bersama Radea.

 

“Karna, berilah salam pada pangeran Narayana.. dia adalah kemenakan baginda.”

 

Karna, untuk sesaat masih terpaku, namun segera menangkupkan telapak

tangannya—sebagaimana diajarkan Radea untuk menghormati kalangan istana.

 

Demikian pula Narayana. Tatapannya lurus ke sepasang bola mata Karna. Ada kekuatan aneh

yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan.

 

Hening mengalir, menghentikan angin yang terperangah. Udara terdiam, seperti ingin

mengatakan sesuatu.

 

“Kau siapa?” ucap Narayana tiba-tiba.

 

“Hamba, Karna.. putra Radea..”

 

“Siapakah engkau, Karna?”

 

Karna terdiam. Radea pun tercekat. Ada kilasan aneh di pertanyaan Narayana. Namun,

Radea hanya mencoba menghibur diri dengan menyalahkan sepasang telinganya yang

mulai menua.

 

“Karna, ajaklah pangeran Narayana bermain.. Jangan jauh-jauh.”

 

Karna seperti disentakkan sesuatu, segera berlari mengambil bola kulit kuda.

 

“Aku ingin tahu, apakah seorang pangeran bisa menendang bola..” kemudian menendang

bola ke tengah tanah terbuka. Karna meledek dengan tertawa-tawa.

 

“Bola adalah permainanku, Karna..”jawab Narayana berlari menyusul Karna yang

mendahului mempermainkan bola dengan kakinya.

 

***

 

Radea dan istrinya hanya mengamati kedua anak kecil itu bermain bola. Berlarian

berebut, berteriak, menendang, tertawa, berkejaran lagi.

 

“Mengapa dia bertanya demikian?” bisik Nyai Radea mengulangi pertanyaan Narayana pada

Karna.

 

“Entahlah..Yang aku dengar dari pembicaraan orang-orang Mandura, putra Basudewa yang satu ini

memang agak istimewa.”

 

Nyai Radea terdiam sesaat. “Mungkinkah dia mengetahui siapa sesungguhnya Karna?”

 

“Nyai, jangan berpikiran macam-macam.”

 

“Tetapi, mana mungkin seseorang yang baru kenal, bertutur seperti itu?”

 

Radea diam. Matanya masih saja menyaksikan kegembiraan kedua anak kecil itu berebut

bola. “Kata orang-orang Mandura, pangeran Narayana memiliki daya pandang ke

masa lalu dan masa depan seseorang. Itu sebabnya, kadang-kadang dia bersikap,

atau berkata aneh di telinga kita.”

 

“Itulah, mungkin saja dia sudah bisa membaca, siapa Karna di masa lalunya..”

 

“Nyai..anak itu masih terlalu hijau untuk menerima kenyataan. Akan tiba masanya kita

menceritakan siapa dia sesungguhnya; meskipun aku sendiri tak yakin, apakah

akan membawa kebaikan baginya. Aku kadang berpikir, biarlah kisah hidupnya

kubawa mati saja. Mungkin akan membuatnya berbahagia.”

 

“Tetapi, membawa kebohongan adalah beban. Apakah kita sanggup membawanya sampai ajal

kita tiba?”

 

“Entahlah. Aku sangat menyayanginya. Kadang terlintas di benakku, aku akan melakukan

apapun agar dia bahagia. Apapun.”

 

“Berhati-hatilah bicara, suamiku. Di dusun ini, begitu banyak mata yang menyaksikan, bahwa aku

tak pernah hamil..”

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: