Cuplikan Kisah “Karna” 08 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 08

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 20:50

https://www.facebook.com/#!/notes/yanusa-nugroho/cuplikan-karna-8/10150295925701835

 

Perkenalan dengan Narayana, membuat Karna lebih sering merenung. Begitu banyak sesuatu

yang melintas dan belum dipahaminya. Terutama ucapan Narayana tentang ‘Hyang

Tunggal’, sungguh sulit diterima akalnya. Namun, anehnya, ada panggilan sayup

dan lembut yang bergetar dari sanubarinya bahwa apa yang diucapkan Narayana

adalah sebuah kebenaran.

 

Radea mengamati perubahan sikap anaknya. Dicarinya waktu dan kesempatan yang tepat

untuk mencari tahu. Dan malam itu, ketika Karna belum juga mau tidur, meskipun

hari telah mendekati tengah malam, Radea mendekati Karna.

 

“Mengapa kau belum tidur Karna?”

 

“Panas.”

 

Radea diam sejenak. Sebuah alasan yang masuk akal. Dia sendiri merasakan hal itu.

 

“Ya, tetapi.. apakah kau belum mengantuk?”

 

“Belum.”

 

Radea terdiam kembali. Karna seakan mengetahui bahwa Radea akan bertanya macam-macam,

karenanya, jawaban singkat dan tepat, cukup mengunci mulut Radea. Dia harus

mencari akal agar anak kecil yang cerdas itu bisa berbicara banyak, tanpa

merasa disuruh berbicara.

 

“Ayah sebenarnya ingin bercerita, tetapi tampaknya kau lebih suka diam..”

 

“Ayah akan bercerita apa?”

 

“Tentang seorang raja yang mampu mengendarai naga?”

 

“Waaah, hebat sekali. Naga? Sebesar apa hewan itu?”

 

Radea tersenyum. Umpannya berhasil menarik perhatian Karna. Segeralah dia bercerita

tentang pertempuran hebat antara Hastina dan kaum naga di Selapraba. Dia yakin,

kisah hebat itu belum diceritakannya pada Karna.

 

Dengan kepandaiannya bercerita, Radea menggambarkan dengan gerak-gerak tubuhnya betapa

naga-naga itu begitu ganas, namun yang ternyata lebih dahsyat adalah Prabu

Pandudewanata. Dengan tangan kanan dan kirinya, Radea menggambarkan gerakan

Pandu menyambut naga. Sesekali diperhatikannya wajah Karna yang begitu ingin

tahu.

 

“Tak kusangka.. raja kita adalah orang paling hebat di dunia ini..” pancing Radea.

 

Karna terdiam. Radea gelisah.

 

Tiba-tiba, seperti menggumam, Karna bicara:”.. ternyata naga pun bisa terbang..”

 

“Hmm..naga memang bisa terbang. Capung, nyamuk, burung, bisa terbang. Hanya manusia

yang tak bisa melakukannya..” ucapnya tak acuh, sambil berharap ada sesuatu

yang akan diucapkan Karna.

 

“Pangeran Narayana bisa.” Sanggahnya tak mau kalah.

 

Bagai disengat lebah, Radea tersentak. Kecurigaannya akan pangeran Mandura ini

seperti menemukan titik terang.

 

“Ah, tak mungkin..” ucap Radea seakan Karna adalah anak kecil yang mudah dibodohi

tukang sulap.

 

“Aku melihatnya sendiri, ayah. Dia duduk dan melayang setinggi pohon salam!”

 

Radea terbahak, tentu saja masih dalam upaya mengorek keterangan lebih banyak lagi,

“Ooo.. seperti ceritamu pada ibu, bahwa dadamu bisa mengeluarkan cahaya?

Hahahaha.. Lalu membakar rambut Sarpa? Hahahahha.. Karna, Karna.. “

 

Karna terdiam. Dia kecewa, dan diam-diam dia membenarkan ucapan Narayana beberapa

waktu yang lalu bahwa sebaiknya apa yang terjadi di bukit Socamala itu tak usah

diceritakan kepada orang dewasa. “Mereka akan menganggap kita membual,

berkhayal. Percuma saja meyakinkan mereka..” begitu ucap Narayana waktu itu.

 

Melihat Karna membeku, Radea meredakan gelak tawanya. Kemudian, seolah menyesali apa

yang baru saja dilakukan, Radea berkata lebih lembut.

 

“Ayah bukan tak percaya pada ucapanmu. Ayah sudah menduga bahwa pangeran Narayana

adalah bocah istimewa, sebagaimana engkau, Karna.

 

Tetapi, kita berada di tengah manusia yang tak menentu. Karena tak menentu, mereka bisa

melakukan apa saja, demi kepentingan mereka. Ayah hanya khawatir, jika kau

memamerkan kekuatanmu kepada sembarang orang, maka akan tidak baik jadinya.”

 

Karna masih diam. Ucapan ayahnya, ada benarnya.

 

“Selain itu, dia bicara apa lagi padamu?”

 

“Tidak ada.”

 

“Apakah dia bertanya lagi, soal siapa engkau?”

 

“Tidak.”

 

“Tidak?”

 

“Tidak. Mengapa ayah bertanya soal itu?”

 

“Yaa..ayah hanya merasa, pertanyaan itu.. aneh. Masih ingat, ketika pertama kali

bertanya kepadamu; menurutmu, tidak aneh?”

 

“Entahlah. Pertemuan itu sendiri..aku merasakan seperti… apa,ya? Aku bingung.”

 

“Coba ceritakan, apa yang membuatmu bingung.”

 

Dengan suara terpatah-patah, Karna menuturkan perasaannya. Dikatakannya bahwa

pertemuannya dengan pangeran Narayana, memiliki suasana yang sama dengan ketika

dia bertemu dengan Dewi Kunti.

 

“Maksudmu, bagaimana?” Radea merasa ada sesuatu yang mungkin menjadi jawaban atas

pertanyaan yang selama ini masih hitam kelam itu.

 

“Aku tidak tahu. Kalau aku merasa rindu pada ayah, karena ayah pergi mengikuti

baginda.. kurasa, biasa saja. Tetapi, ketika aku merasakannya pada dewi Kunti

atau pangeran Narayana, .. apakah bisa disebut rindu? Aku, kan, belum

pernah bertemu sebelumnya”

 

Berdebar jantung Radea, mendengar penuturan Karna yang nyaris sekelam malam itu.

 

Terbawa perasaan hatinya, Radea gelisah. Dia bangkit, berjalan sebentar, menatap Karna,

berjalan lagi, kembali duduk, dan bangkit lagi. Mungkinkah engkau adalah,.. ah,

tak mungkin. Tetapi, kau memang tidak seperti anak-anak sebayamu. Kau memang

istimewa. Kehadiranmu di dalam hidup kami, memang memberi ruh pada kehidupan

ini.

 

***

 

Sesosok bayi merah, merobek kesunyian malam. Menangis, meraung, meronta karena enggan

dipeluk dingin malam. Padahal, mungkin dewi malam iba kepadanya.

 

Saat itu awal musim panas. Tetumbuhan segar bersemi. Bunga-bunga soka memerah,

memamerkan kecantikannya pada matahari. Radea, mengantarkan para pangeran ke

lembah perburuan. Tiga pangeran muda Hastinapura: Pangeran Drestarastra, Pandu

dan Widura, ingin sekadar menikmati keindahan alam dan bersenang-senang,

setelah terkungkung berbagai pelajaran para wiku dan guru-guru perang istana.

 

Berhari-hari mereka berada di sebuah lembah di dekat hutan dan menikmati keindahan alam

seolah melepaskan kuda-kuda keliaran mereka ke alam bebas. Sepulangnya dari

perjalanan itu, Radea lelah. Hari telah larut malam ketika dia usai

mengantarkan ketiga pangeran itu ke istana. Bersama beberapa ponggawa yang

bertugas pada perjalanan itu, Radea kembali ke rumahnya.

 

Malam itu, Radea seperti memasuki gerbang kesunyian hidupnya lagi. Akan dijumpainya

istrinya, yang tetap setia, yang selalu ditinggalkan, dan tentunya selalu

kesepian. Terbawa pikirannya yang carut-marut, tak menentu, Radea tanpa sadar

melangkah ke utara. Ketika tangis bayi itu sayup-sayup terdengar, di antara

gejolak suara air menghantami bebatuan, Radea hanya berpikir bahwa itu mungkin

jeritan jiwanya yang paling dalam.

 

Ya, tangisan bayi. Sesuatu yang sudah sangat lama dirindukan hadir dalam

perkawinannya. Karenanya, Radea tak begitu memperhatikannya. Namun, raungan

tangis bayi itu terlalu keras. Mematung, Radea di tempatnya berdiri.

Disadarinya, dia tengah berada di kekelaman malam. Aliran sungai menderas,

terbelah batu-batu, meliuk, menjeram, dan mengarus tenang. Tak mungkin itu adalah

tangisan bayi dari rumah penduduk. Di sekitar itu tak menunjukkan adanya

pemukiman.

 

Tiba-tiba,sayup terdengar seperti dengking gajah menerompet. Radea tersadar, sungai ini

tentunya sungai Limanbenawi. Mungkinkah gajah-gajah itu berada di tepian sungai

pada malam-malam seperti ini? Siang hari, sungai ini akan dipenuhi

beratus-ratus ekor gajah yang berendam mendinginkan tubuh dari sengatan

matahari. Tapi, malam?

 

Dan bayi itu, mengapa pula ada di sungai ini?

 

Bergegas Radea menyusuri tepian sungai. Di keremangan malam, matanya sempat melihat

beberapa ekor gajah berkitaran di sebuah lekukan tepi. Lekukan berbatu-batu

seperti itu, rasanya mustahil menjadi tempat berkumpulnya gajah. Karena

gajah-gajah biasanya memilih tempat yang rata, landai dan banyak rumput tumbuh

di sekitarnya.

 

Melihat ada manusia mendekati wilayahnya, gajah-gajah itu perlahan-lahan menyingkir.

Radea berteriak-teriak dan menepuk-nepukkan telapak tangannya. Gajah-gajah itu

kian menjauh.

 

Tangisan bayi itu memang berasal dari lekukan tepi sungai itu. Berdegup jantung Radea,

ketika langkahnya kian mendekati asal tangisan. Di keremangan malam itu, di

antara bebatuan padas yang bersembulan di sekitar lekukan tepi itu, dilihatnya

sebuah kotak terapung. Hati-hati Radea menapaki bebatuan. Arus sungai

menggelegak, menggoyangkan kotak. Tangan Radea berhasil meraih kotak itu dan

dilihatnya bayi mungil berselimutkan kain.

 

Merasa ada gapaian tangan manusia, tangisan itu terhenti, menyisakan isakan kecil yang

kian mereda. Airmata Radea tak terbendung. Senyumnya mengembang. “Anak siapakah

engkau, bayi mungil?”

 

Tanpa berpikir panjang, Radea bergegas pulang, membawa bayi berikut kotaknya.

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: