Cuplikan Kisah “Karna” 09 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 09

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 21:05

https://www.facebook.com/#!/notes/yanusa-nugroho/cuplikan-karna-9/10150295938931835

 

Peperangan demi peperangan selalu dimenangkan Hastinapura. Nama Gandamana kian harum.

Pemuda itu, di mata Pandu, kian matang. Pemikirannya kian bijaksana dan

kemampuan lapangannya memang mengagumkan. Bahkan, sebelum ajal menjemput di

suatu peperangan, Antisura sempat mengatakan kepada rajanya, bahwa Gandamana

adalah kekuatan lapangan Hastinapura.

 

Kisah kehebatan dan kesungguhan Gandamana, sampai juga ke telinga Karna, lewat

dongeng Radea. Pemuda gagah dan tak banyak bicara itu, muncul sebagai sosok

luar biasa di mata Karna.

 

Karna yang mulai tumbuh sebagai remaja, dengan caranya sendiri selalu mendapatkan

kisah-kisah itu dari Radea. Sampai suatu kali, dia menyatakan keinginannya agar

diijinkan menjadi prajurit Hastina, di bawah kepemimpinan Gandamana.

 

Radea terdiam beberapa saat. Rambutnya yang nyaris seluruhnya berwarna putih itu,

kian menunjukkan betapa banyak persoalan yang dihadapinya. “Memang sudah

saatnya kau meneguk pengetahuan di luar sana, anakku. Ayah akan coba bicara

dengan tuan Gandamana.”

 

“Ayah mengenalnya?”

 

“Ayah jarang berbicara dengannya, namun ayah yakin, dia mengetahui dengan pasti siapa

ayahmu ini.”

 

***

 

Siang itu, seusai mengurus kuda-kuda milik ayahnya, Karna mencari Sarpa, yang sudah

sangat lama tak dijumpainya. Hanya beberapa kali sejak peristiwa di Socamala,

ketika itu, Sarpa menemuinya. Itupun tak banyak bicara.

 

Socamala tampak kian sunyi. Pepohonan memang merimbun, namun di mata Karna seperti

sebuah lembah mati. Beberapa musim sudah dia tak berkunjung ke kaki bukit ini.

Tubuhnya mulai menunjukkan ketegapan seorang remaja. Rambutnya digerai,

menjuntai hingga sedikit di bawah pundaknya. Tatapan matanya kian tajam, dan

itu dipertegas dengan bentuk alisnya, yang menajam di bagian tengah itu.

 

Karna terus melangkah, menerabas semak-semak, menuruni tebing-tebing kecil di sekitar

aliran sungai kecil di Socamala. “Sarpaaa…” teriaknya lantang. Ada perubahan

besar di nada suara itu. Tak lagi mendengking seperti ketika dia memanggili

Sarpa beberapa tahun silam.

 

Tiba-tiba dari arah kerimbunan, karena perdu dan sulur-sulur akar gantung pepohonan

besar, muncul sesosok makhluk. Suaranya menggeram, bergelatak di

tenggorokkannya. Sekilas, Karna mengira makhluk itu adalah Sarpa, ternyata

bukan. Makhluk itu menggenggam sebuah gada besar di tangan kanannya.

 

Karna terdiam. Makhluk dengan kulit kehijauan dan kotor oleh lumut itu tak

menunjukkan persahabatan.

 

“Grrr…grrhhk.. manusia, menyingkir!” gertak makhluk itu sambil mengayun-ayunkan gada beratnya.

 

“Siapa kau?”

 

“Grrrkk..hhhkkk..ini tempatku. Kau harus menyebut namamu..”

 

“Aku mencari Sarpa..”

 

“Sebutkan namamu!..grrrhhkk.” ucapnya sambil menghantamkan gadanya ke arah pohon. Pohon

itu berderak patah. Gemerasak dedaunanya, untuk kemudian berdebum ke bumi.

 

“Aku mencari Sarpa..”

 

“Sarpa?… Hahahahahahaha… si tolol itu sudah mati di tanganku.. Grrhh.. hh

sekarang, kau akan menyusulnya… grrraaaahhhggg..”

 

Raksasa itu melompat tak memberi kesempatan Karna untuk mencerna ucapannya. Karna

menghindar. Dia masih tak percaya pada apa yang didengarnya.

 

“Mengapa kau bunuh, dia?”

 

Raksasa itu mengayunkan gadanya,..”Dia…. grrhh.. bersahabat dengan..hh..

manusiaaahh..grrrkk..” dan bumi pun bergetar oleh hantaman gadanya.

 

Karna muak. Tak bisa dibayangkannya, Sarpa mati oleh kerabatnya sendiri. Kasihan

Sarpa, dimusuhi manusia dan raksasa sekaligus. Di manakah tempatmu berada di

kehidupan ini, Sarpa? Kemuakannya mendidih menjadi kemarahan. Karna melompat

gesit. Dia yang telah mahir berkuda, dengan mudahnya, memanjat tubuh raksasa

itu dan mencengkeram rambut kasar makhluk mengerikan itu.

 

Namun, tanpa diduganya, raksasa itu membungkukkan tubuhnya dengan keras, dan Karna

terpelanting. Tubuhnya menghantam pohon. Kepalanya berkunang-kunang. Dan belum

lagi kesadarannya pulih seluruhnya, Karna melihat ayunan gada menderas ke

arahnya. Karna berguling-guling. Hantaman gada itu seakan mengejarnya ke

manapun dia berguling.

 

Di luar perkiraannya, raksasa bertubuh besar itu begitu gesit, tidak lamban

sebagaimana yang dibayangkannya bila Sarpa bergerak. Karna nyaris kehabisan

nafas, sampai tiba-tiba..

 

Sesaat ketika gada itu terarah tepat di kepala Karna, tubuh raksasa itu kaku. Sesaat

kemudian dari mulutnya mengaum suara kematiannya, untuk kemudian tubuhnya

berdebum, rebah terlentang di tanah. Beberapa kedipan mata kemudian, Karna

menyaksikan darah merembes dari celah-celah rambut raksasa itu, mengalir dan

membasahi dedaunan kering di tanah.

 

Karna masih terpaku pada sesuatu yang terjadi di depan matanya. Nafasnya turun naik,

keringat membasahi tubuhnya.

 

“Kau pasti Karna, anak Kakang Radea..” sebuah suara berat berwibawa, menyentakkan

Karna.

 

Si pemilik suara seorang laki-laki muda, dengan kumis lebat melintang dan rambut

tebal, hitam berombak yang digelung besar di kepalanya. Tubuhnya tinggi besar,

dan melihat tanda-tanda kebesaran di hiasan telinga dan lengan-lengannya,

tahulah Karna bahwa laki-laki yang berdiri tegak itu adalah salah seorang

pembesar Hastina.

 

“Bangunlah Karna..Berdirilah, sebagaimana seorang laki-laki berdiri.”

 

Karna tergeragap, segera bangkit dan merapikan dirinya. Dengan kikuk, dia pun

memberikan salam. Pesona laki-laki itu begitu kuat. Pembawaannya yang tegas,

menunjukkan jiwanya selurus tombak dan pemikirannya lebih tajam daripada

pedang.

 

“Te..terimakasih, tt..tuan..”

 

“Mengapa kau ada di sini, Karna?”

 

Karna menelan ludah, tenggorokkannya terasa kering. “Ss..saya mencari sahabat saya..

Sarpa.”

 

“Raksasa?”

 

Karna menggangguk-angguk.

 

“Dan yang menyerangmu juga raksasa?”

 

Sekali lagi Karna mengangguk.

 

Laki-laki itu tersenyum. Masih menatap Karna dalam-dalam, seakan meneliti setiap jengkal

permukaan kulit remaja itu, laki-laki itu sesekali mendesah dan

mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Mari ikut aku. Antarkan aku ke rumah ayahmu..”

 

“Ttt..tetapi, ayah ..mm..mungkin sedang ke kediaman tuan Gandamana..”

 

“Gandamana?” laki-laki itu tersenyum. “Ada kepentingan apa dia menemui ‘orang tak berguna’

itu?” wajah laki-laki itu begitu mengejek nama yang diagungkan Karna.

 

Berdegup jantung Karna, melihat cara laki-laki sombong itu menyebut Gandamana.

 

“Maaf, tuan. Aku tak tahu siapa tuan, juga jabatan tuan di Hastina. Tetapi, jujur

saja, aku mengaguminya. Jadi, kumohon berilah sedikit penghormatan pada tuan

Gandamana..”

 

Laki-laki itu terbahak-bahak. “Baru kali ini aku jumpai seorang remaja begitu kagum pada

Gandamana ‘sial’ itu.. hahahahahahahahaha..”

 

Karna menahan amarahnya. Dia tak ingin mendengar nama Gandamana dihina seperti itu.

“Tuan akan saya laporkan..”

 

“Kepada siapa? Dan apa yang akan kau laporkan? Wahai

Hastina… Gandamana telah dihina oleh seorang pembesar Hastina, yang aku tak

tahu siapa namanya…. hahahahahahahaha…”

 

Amarah Karna menggelegak. Dia melesat menerjang laki-laki itu. Anehnya, laki-laki itu

seperti tak mempedulikannya.

 

Lebih aneh lagi, Karna merasa tubuhnya melamban. Lompatannya terasa berada di dalam

air danau, tertahan oleh lapisan-lapisan kekuatan yang tak berwujud. Tubuhnya

melayang, lamban dan tangan-kakinya menggerapai tak tentu arah. Kian berontak,

kekuatan yang menghalanginya serasa kian membesar. Akhirnya Karna menyerah,

terduduk, tepat di hadapan kaki laki-laki itu.

 

“Bangkitlah Karna. Antarkan aku ke rumahmu. Katakan pada ayahmu, Gandamana ingin bertemu..”

 

Jantung Karna seakan berhenti berdegup mendengar kata-kata laki-laki itu. Bibirnya

gemetar oleh rasa gembira yang tiba-tiba menyiram jiwanya. Karna tegak, matanya

berkaca-kaca bahagia tak terkira, karena tanpa diduganya, hari itu dia bertemu

dengan orang yang sangat dikaguminya.

 

Gandamana tersenyum bangga. “Sudahlah. Aku tahu siapa kau, Karna. Ayo berangkat.”

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: