Cuplikan Kisah “Karna” 10 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 10

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 23:25

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150296066526835

 

Dengan darah mengucur, bahkan oleh anak panah yang nyaris menembus seluruh tubuhnya,

babi itu masih setan. Dia berlari memimpin gerombolannya. Mendengus nafas

kemarahannya. Matanya liar, menaruh dendam. Luka di tubuhnya menganga.

 

Karna berteriak lantang, diikuti kawan-kawannya. Tombak dan belati di tangan mereka.

“Kejaaar.. huuu..haaaaaa..hoi. hoii..”

 

“Aaaww..aaww..awww…”

 

“Yaaa..yaaa,..,yyaaaaa..”

 

Dan berpasang-pasang kaki itu membelah bumi. Menerabas semak belukar, mematahkan

ranting-ranting dan merontokkan dedaunan. Lumpur menyibak, menyemprot-nyemprot.

Beberapa babi hutan bahkan tergelincir, namun berusaha bangkit dan berlari

menyusul rombongannya.

 

Pengejaran itu sampai di sebuah tebing. Para babi saling bertubrukan, karena tak ada lagi

jalan bagi mereka. Tak mungkin mereka melompat, apalagi mendaki tebing. Jalan

satu-satunya adalah melompat ke dalam air.

 

Karna dan rombongannya kian bersemangat. Tombak-tombak diluncurkan. Seekor babi

tersungkur, sebilah tombak menancap di perutnya. Kakinya menendang-nendang,

tubuhnya berkubang darahnya sendiri. Para prajurit muda itu kian bersemangat;

makan malam mereka menjemput maut.

 

Namun, di tengah kegalauan itu, Karna tiba-tiba melihat gelagat buruk. Dia segera

mengisyaratkan agar teman-temannya berhenti. Nafas mereka tersengal-sengal.

 

“Ada apa?”

 

Karna hanya melemparkan pandangan ke arah si pemimpin.

 

Babibesar itu benar-benar menantang si penyerang. Dengan merah darah di sekujur

tubuhnya, yang memoles bulu-bulu kasar hitam itu, babi besar itu lebih mirip

siluman dari neraka. Matanya merah, marah. Kepalanya agak ditundukkan, seakan

menyiapkan serudukan dahsyat bagi siapapun yang ada di depannya.

 

Para prajurit muda itu bagai terpasak ke tanah. Mata mereka tak mau lepas dari

setiap gerak yang mungkin saja mendadak. Ketegangan mengalir. Dada yang turun

naik. Denyut jantung yang menguat. Jemari tangan yang kian erat memegang

senjata.

 

Dan tanpa mengindahkan apapun yang ada di sekitarnya, babi besar itu melesat

sekuat-kuatnya, menderu ke arah para prajurit muda itu.

 

Karna ternganga, tak menyangka bahwa makhluk hitam ganas itu memiliki kecepatan

berlari seperti itu. Sesungguhnya, masih ada kesempatan untuk berlari, paling

tidak melompat ke samping agar tidak benar-benar tepat di muka si babi. Akan

tetapi, rasa takut dan ketegangan yang melilit tubuh mereka, membuat keenam

orang itu benar-benar membatu di tempatnya berdiri.

 

Mata Karna hanya menangkap waktu yang meleleh, bergerak bagai aliran madu kental.

Telinganya hanya menangkap suara-suara menggaung tak jelas. Kakinya terasa

begitu berat, dan bola hitam yang menderu ke arahnya itu nyaris tak bisa

diikuti mata.

 

Karna terpental, tubuhnya menghantam pohon.

 

***

 

Hutan sunyi. Gelap kian pekat. Karna membuka pelupuk matanya. Kelima kawannya

melingkarinya dengan wajah duka.

 

“Apa yang terjadi?” bisik Karna lemah.

 

“Karna? Kau masih hidup?” kata salah seorang seakan tak percaya dengan apa yang

dilihatnya.

 

Karna duduk, dan suasana mendadak riang gembira.

 

“Tak mungkin ini. Tapi, kau memang sakti, Karna..”

 

“Ya, kami semua menyangka dadamu hancur diterjang si babi itu..”

 

“Aa..apa yang terjadi?” Karna makin tak mengerti.

 

“Lihatlah..”kata salah seorang sambil menunjuk ke bungkahan hitam yang teronggok beberapa

tombak di depan mereka.

 

“Babi itu mati, tulang kepalanya remuk.”

 

“Remuk?” 

 

”Ya, setelah menghantam dadamu..”

 

Karna meraba dadanya sendiri. Sedikit ngilu memang terasa di sebidang dadanya itu,

tetapi, selebihnya, dia merasa baik-baik saja. Matanya meneliti permukaan

dadanya sendiri, tak ada goresan atau noda apapun di sana; tentu saja selain

bercak lumpur dan darah babi yang mati itu.

 

“Bagaimana mungkin?” ucapnya, seolah, kepada diri sendiri.

 

“Kau memang sakti Karna. belajar dari mana ilmu seperti itu?”

 

Karna tak menjawab. Aneh. Tak masuk akal. Tetapi nyata dan disaksikan paling tidak lima

pasang mata kawan-kawannya.

 

Di perjalanan pulang dengan dua ekor babi hutan hasil buruan dalam pikulan, keenam

orang itu berjalan dengan pikiran masing-masing. Karna masih mencari jawaban

atas keanehan yang terjadi pada dirinya. Setelah peristiwa Sarpa, kini babi

hutan. Apa yang melapisi dadanya? Kekuatan apa sesungguhnya yang tersimpan di

tubuhnya ini? Sejak diperingatkan oleh Pangeran Narayana, Karna memang dengan

sekuat tenaga mencegah agar kekuatan yang ada di tubuhnya itu tak keluar

semau-maunya. Bertahun-tahun hal itu berhasil dikendalikannya, namun hari ini,

ketika nyawanya terancam, kekuatan itu muncul tanpa perintahnya.

 

Karna masih menunduk, berjalan di belakang teman-temannya yang memikul hasil buruan.

Siapakah engkau, Karna? desahnya putus asa.

 

***

 

Secara bisik-bisik, peristiwa babi hutan itu membuat nama Karna kian dikenal luas.

Meskipun tak seorang pun menunjukkan kekagumannya pada Karna secara

terang-terangan, namun Karna bisa merasakannya. Dia sendiri sesungguhnya tak

berharap hal itu terjadi, bahkan kepada kelima kawannya Karna melarang cerita

di hutan itu dituturkan. Namun, sekuat apapun lapisan pembungkus, cairan akan

merembes juga.

 

Bukan hanya mereka yang berkumpul dan bertugas membuka hutan itu saja yang diam-diam

kagum dan segan pada Karna, bahkan dua belas purnama kemudian, ketika mereka

sudah kembali ke Hastina, berita itu cepat menyebar. Orang yang—entah

mengapa—paling merasa beruntung adalah Gajah Sura. Dengan bualannya dia

mengatakan bahwa dia memiliki cara tertentu dalam menemukan bakat seseorang,

dan Karna adalah buktinya. Tentu saja, yang mendengar semua itu hanya menarik

nafas maklum. Ah, Gajah Sura, selalu saja ada orang macam dia di dunia ini..

Itulah yang tiba-tiba menjawab perasaan orang-orang tentang Gajah Sura.

 

Kisah seorang manusia yang memiliki tubuh sekuat batu gunung itu menjadi syair-syair

para penyair jalanan. Mereka mendendangkannya lewat tembang-tembang

kepahlawanan. Seakan peristiwa itu merupakan jawaban akan keresahan mereka pada

kedahsyatan manusia. Peristiwa itu adalah seteguk air kehausan yang entah

mengapa merebak di seluruh penduduk Hastina. Kehausan akan sesuatu yang lain,

yang anehnya terjadi ketika Hastina berada di jaman keemasannya. Karna, tanpa

kehendaknya, menjelma dewa perkasa di sudut-sudut hati pemujanya.

 

 

Namun, Karna hanya merasakan semua sikap yang ditujukan kepadanya itu, seolah sebuah

jeruji penjara yang kian membuatnya kesepian. Beban berat itu dirasakannya kian

besar, manakala banyak di antara mereka yang diam-diam datang ke biliknya dan

membawakannya berbagai macam makanan. Dia terasing di dalam limpahan

keistimewaan.

 

***

 

Malam  itu, ketika banyak manusia terlelap dalam kelam malam, Karna berada di luar

barak. Di tengah halaman, biasanya api unggun dinyalakan. Biasanya pula, pada

saat-saat seperti itu, masih tampak beberapa prajurit muda yang mengelilingi

api, sekadar menghangatkan badan atau berbincang tentang apa saja. Namun, malam

itu, entah mengapa, Karna tak melihat seorang pun di sana.

 

Karna duduk. Diam. Menikmati hening. Sesekali dia memasukkan ranting, atau sekadar

menghangatkan telapak tangan ke dekat bara.

 

“Hmm.. tidak mudah menjadi pahlawan..”

 

Karna menoleh. “Kakang Hadi Manggala..” sapanya kepada pemuda tegap, yang usianya

lebih tua darinya.

 

Hadi Manggala adalah juga seorang pimpinan regu prajurit muda. Kumis tipis tergores

di wajahnya yang selalu tersenyum. Bungkah otot di kedua lengannya mulai

tampak. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dibandingkan Karna.

 

“Karna.. sayang sekali waktu itu, aku tak dikirim ke dalam kelompokmu..”

 

“Ah, Kakang.. masih percaya cerita omong kosong itu..” sanggah Karna.

 

“Bagiku, itu bukan omong kosong, Karna. Aku dibesarkan oleh kisah-kisah semacam itu.”

 

“Maaf, Kakang.. Kau berasal dari mana?”

 

“Sebuah wilayah kecil di bawah kekuasaan Mandura: Widurakandang.”

 

“Widurakandang? Rasanya aku pernah mendengar nama itu..”

 

“Ah, ya.. setiap orang kemudian mengenal nama itu begitu cepat.”

 

“Bukankah.. tunggu.. Apakah kau dikirim ke Mandura?”

 

“Ya..ketika kau selama setahun berada di hutan, membuka lahan, kami dikirim ke

Mandura. Pertempuran dengan Gorawangsa kami menangkan dengan gilang gemilang..”

 

Karnaterdiam. Pertukaran kisah di antara para prajurit muda, saat itu adalah hal

yang biasa. Mereka biasa bertukar kisah tentang tugas yang mereka emban di

wilayah masing-masing. Jadi, tak mengherankan jika mereka pun dengan cepat

mengetahui setiap perkembangan yang terjadi di negara mereka.

 

“Apakah kau sempat pulang ke Widurakandang?”

 

“Sempat. Aku bertemu dengan ayah-ibu dan saudara-saudaraku.”

 

“Ah,aku belum sempat menjenguk ayah-ibuku.” Karna terdiam beberapa saat, lalu..”

Benarkah bahwa istri Prabu Basudewa sempat diperistri Gorawangsa?”

 

“Begitulah.”

 

“Bagaimana mungkin?”

 

“Yaah, begitulah kalau kebanyakan istri.. hehehe..”

 

“Bukan begitu.. maksudku..”

 

“Ah,Karna.. itu biasa terjadi. Basudewa berburu—entah hewan entah

perempuan—hahahaha.. Nah, ketika itulah Gorawangsa masuk ke istana, menyamar

sebagai Basudewa..”

 

“Bagaimanamungkin istrinya tak bisa mengenali suaminya sendiri? Gorawangsa berujud

raksasa—itu yang aku dengar—dan Basudewa, manusia biasa..”

 

“Hahahaha..sekali lagi, itulah yang aku dengar. Berita resmi memang begitu. Tetapi,

siapakah yang tahu, jika—misalnya—Gorawangsa adalah ,ternyata, kekasih lama

Dewi Mahira.. Hahahahahaa..”

 

“Hahahahaha.. itu lebih masuk akal..”

 

“Lebih masuk akal karena, hasil ‘pergulatan cinta itu’..” Hadimanggala berusaha

menahan gelak ketawanya,”.. hasil ‘pergulatan cinta’.. itu membuat dewi Mahira

hamil..”

 

“Hamil? Ah, itu pelanggaran berat. Hukuman mati..”

 

“Seharusnya. Nyatanya, tidak, kan?”

 

“Mengapa?”

 

“Nah, itu dia. Tentu ada pertimbangan lain.”

 

“Hmm..Bisa jadi, tiba-tiba Dewi Mahira mengungkap kebenaran peristiwa. Dan ucapannya

itu akan membuat Mandura kehilangan muka di dunia.”

 

“Persis. Dan karena pertimbangan tersebut, maka kisah itu diredam, Dewi Mahira

diungsikan ke Sengkapura dan Gorawangsa dibunuh. Peristiwa itu bungkam. Yang

terdengar di luar adalah Gorawangsa ingin mengambil Mandura dan karenanya harus

diperangi.. ”

 

Karna terdiam. Terdengar desah nafas beratnya. Tangannya memasukkan ranting kayu ke

tengah api. Api menjilat. Kayu terbakar.

 

“Kakang, aku ingin berkunjung ke Widurakandang, ke rumahmu, jika diperbolehkan..”

 

Hadimanggala terdiam. Wajahnya lurus menatap api, seakan ingin menembusnya. “Boleh,” ujarnya

sesaat kemudian.

 

“Ayahmu tentu orang bijaksana, karena kulihat itu ada pada dirimu..”

 

Hadimanggala membeku. Dia tak segera menjawab ucapan Karna.

 

Karna merasa ada sesuatu yang tiba-tiba membebani perasaan Hadimanggala. “Maaf,

Kakang..apakah ucapanku ..”

 

“Tidak. Hanya saja, setiap kali orang lain menyebut kata ‘ayah’, aku merasa …ah,

entahlah.”

 

“Oh, maaf.”

 

“Takapa, Karna. Orang mengenalku sebagai anak demang Antagupa. Tetapi,

sesungguhnya.. orangtua itu.. menurut ibuku, dia bukan ayah kandungku..”

 

Bagai tersulut bara, Karna terkejut. Sebatang kayu, berdetak terbakar, meletupkan

percikan bunga api ke udara.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: