Cuplikan Kisah “Karna” 11 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 11

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 23:42

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150296104596835

 

Adalah seorang dara jelita. Tubuhnya adalah seni keindahan yang selalu membayang di

setiap mimpi lelaki. Suaranya merdu, menembangkan kidung-kidung sastra.

Gerakannya gemulai, menggoda siapapun yang menatapnya.

 

Dialah dara dusun yang menjadi juru kidung istana Mandura. Sagopi, dara prenjak

berambut panjang, menjadi idaman para pangeran Mandura. Ketiga pemuda Mandura

itu diam-diam memperebutkan Sagopi agar bisa setiap malam menembang di

kasatrian mereka masing-masing. Arya Basudewa, Arya Rukma dan Arya Ugrasena

dengan cara masing-masing, memang berhasil mengajak dara jelita itu ke peraduan

mereka.

 

Sagopi, keindahannya adalah milik Mandura, meskipun sebetulnya dia dinikahkan dengan

seorang tua renta—demang Antagupa, oleh raja Mandura yang berkuasa pada saat

itu.

 

“Aku adalah anak dari salah satu pangeran itu..” ucap Hadimanggala seakan menelan

ucapannya sendiri.

 

Karna membeku.

 

“..dan aku, bukan satu-satunya..”

 

“Maksudmu?”

 

“Saudaraku yang lainnya, Ken Larasati, dan Udawa.. juga demikian..”

 

“Mereka..?”

 

Hadimanggala mengangguk lemah.

 

“Waktu itu, kemarahanku meluap-luap. Aku bahkan sempat menghunus keris dan siap

menghabisi ibuku sendiri. Tetapi.. entahlah. Aku terpaku pada wajah perempuan

yang melahirkanku. Wajah yang bahkan serasa tak dimilikinya itu. Bukan hanya

itu, aku merasa bahwa bahkan jiwanya—apalagi raganya, bukanlah miliknya. Dia

hanya menembang dan menembang sepanjang hari. Hingga akhirnya aku tak bisa

berbuat lain, kecuali melimpahinya dengan kasih sayang. Hanya itu yang aku

miliki saat itu.

 

Ada sesuatu yang lebih besar daripada pemahamanku tentang duniaku sendiri. Apalagi

ketika kutatap wajah tua demang Antagupa, aku pun tak bisa melakukan apa-apa

selain memeluk tubuh rentanya…”

 

Karna menatap mata Hadimanggala yang membasah. Bayangan api menari di bola matanya.

 

***

 

Perbincangannya dengan Hadimanggala pada malam itu, membuat Karna merasa mendapatkan sahabat

karib. Hadimanggala bagaikan seorang kakak baginya. Kakak yang bisa diajaknya

berbincang. Kakak yang bisa ditanyainya dalam berbagai hal, juga tentang

keanehan yang dialaminya.

 

Pengetahuan dan kebijaksanaan Hadimanggala, di mata Karna, memiliki kesamaan dengan apa

yang pernah diperolehnya dari Pangeran Narayana. Bagi Karna, pada akhirnya, itu

tak mengherankan, mengingat antara Pangeran Narayana dan Hadimanggala

dipertalikan oleh sumber yang sama. Jika Pangeran Narayana adalah putra resmi

Basudewa—yang kini naik tahta sebagai raja Dwarawati– Hadimanggala adalah

kemenakan tak resmi raja Mandura tersebut. Hadimanggala adalah anak yang lahir

dari Pangeran Ugrasena, adik Prabu Basudewa; paman Narayana.

 

Hadimanggala sendiri memilih untuk tidak menampakkan diri di Mandura. Sejak dia bisa

melakukan perjalanan sendiri, Hadimanggala pamit kepada ayah-ibunya di

Widurakandang bahwa dirinya akan berkelana, mereguk kehidupan di negeri lain.

 

Siapapun, bahkan ayah kandungnya sendiri pun, tak mengetahui bahwa Hadimanggala memiliki

darah Mandura. Lahir dari kalangan istana, namun, tampaknya, gemerlap garis

keturunan bukanlah sesuatu yang layak diperhitungkan. Hadimanggala memilih

kehidupan orang kebanyakan. Meniti hidup sebagai prajurit.

 

Sebagaimana biasanya, seusai menjalankan tugas mereka sebagai prajurit, pada malam-malam

tertentu, mereka berkumpul. Kebijaksanaan Gandamana memang demikian. Kadang,

Gandamana mengundang senapati tua Hastina, yang telah menelan asam-garam

kehidupannya di Hastina di masa lalu, untuk bercerita kepada yang muda-muda.

Ini dilakukan di saat-saat seperti itu.

 

Malam itu, bulan sedang terang-terangnya di angkasa. Karna menatap keindahan itu

dengan kebencian sekaligus kekaguman yang pernah melanda jiwanya. Sekilas wajah

Sarpa membayang. Lalu wajah Kunti. Lalu Nyai Radea dan tentu saja Radea.

 

“Biasanya, orang yang tenggelam bermandi cahaya bulan, hatinya sedang dirundung

kegelisahan..” sapaan lembut penuh canda itu membuat Karna tersenyum.

 

“Ya. Benar, kakang..”

 

“Siapa yang kau bayangkan? Apakah salah satu dara Mandaraka yang kemarin ikut ayahnya

ke Hastina itu yang menjadi perhatianmu?”

 

Karna terkejut. Dia tak mengetahui bahwa rombongan kerajaan Mandaraka yang berkunjung

beberapa hari lalu itu membawa putri.

 

“Ha..ha.. jangan-jangan..” Hadimanggala menggoda.

 

“Kakang, aku bahkan tak tahu kalau kereta itu juga berisi gadis cantik. Siapa mereka?”

 

“Prabu Narasoma, yang kini bergelar Prabu Salya.. kakak dewi Madrim.”

 

“Aku tahu.”

 

“Oh, dara-dara itu, maksudmu.. hahahaha,,”

 

“Siapa lagi..?”

 

“Aku tak tahu namanya..tetapi, kedua putri itu, meskipun terlalu muda untukku…

memang luar biasa..”

 

“Kau melihatnya?”

 

“Dari jauh.. hahahaha.. mana mungkin aku diijinkan mendekat.”

 

“Bagaimana kau bisa menilai kecantikannya jika dari kejauhan?”

 

“Ini mata istimewa, Karna…hahahahaha..”

 

Karna tertawa. Sekilas, Karna teringat akan cerita Sarpa tentang Narasoma yang tega

membunuh mertuanya sendiri, hanya karena sang mertua adalah seorang raksasa

pertapa. Ingatan itu mengubah mimik wajah Karna dan Hadimanggala menangkapnya.

 

“Kau kurang suka pada Prabu Salya?”

 

“Picik. Anaknya dia kawini, ayahnya dia bunuh; hanya karena sang ayahmertua raksasa…”

 

Hadimanggala tersenyum masam. Ucapan Karna terasa memiliki kegetiran sama dengan apa yang

dialaminya. Kisah masa lalu yang terlalu pekat dan pahit untuk dikenang.

 

“Jadi, bukan karena dara-dara Mandaraka itu?” Hadimanggala mengalihkan pembicaraan.

 

“Bukan, Kakang. Aku hanya memikirkan siapa sebetulnya diriku..”

 

“Ah, anak muda suka merenung.. sebentar lagi rambutmu ditumbuhi uban..hahahaha..”

 

“Biarlah uban merajai rambutku, jika memang mampu menjawab pertanyaanku.”

 

Hadimanggala terdiam. Karna tampak bersungguh-sungguh. “Jadi masih tentang peristiwa babi

hutan itu?”

 

“Antara lain..” kemudian Karna menyambungnya dengan peristiwa terbakarnya rambut Sarpa.

 

“Hmm..pertanyaan sulit. Aku tak tahu jawabannya, tetapi, mungkin aku tahu seseorang

yang mampu menjawab pertanyaanmu..”

 

“Siapa?”

 

“Sayangnya, jika kau ingin menemuinya, kau harus pergi dari Hastina..”

 

Karna tercenung beberapa saat. “Berarti sangat jauh dan memerlukan waktu sangat

lama..”

 

“Bisa jadi sebanyak seluruh umur yang kau miliki, belum tentu cukup untuk menemukan

jawaban itu..”

 

“Tetapi, aku tak mau seluruh hidupku mengambang di lautan pertanyaan..”

 

“Ya, aku tahu, meskipun ‘pelabuhan’ yang kita darati, belum tentu membuat kita

bahagia..”

 

“Siapa dan di mana ‘pelabuhan’ yang mungkin akan memberiku jawaban itu, kakang.”

 

Hadimanggala kemudian menyebut nama seorang resi tua yang tinggal di belahan lain gunung

Sapta Arga. Untuk mencapainya, Karna harus mampu melintasi perjalanan yang

sangat jauh dan asing. Karna menyimak ucapan Hadimanggala dengan

sungguh-sungguh.

 

Bagi Hadimanggala, sikap dan kesungguhan, di samping kehebatan Karna menimbulkan

pertanyaan, siapa sebenarnya engkau, Karna?

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: