Cuplikan Kisah “Karna” 12 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 12

oleh Yanusa Nugroho pada 20 September 2011 jam 22:28

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150297302711835

 

Dalam bayangan cahaya, Karna menyaksikan sesosok makhluk tinggi besar, berambut

sangat panjang, yang diikat, agak menggumpal di atas kepalanya. Kain penutup

tubuhnya, dicawatkan begitu saja, sementara dadanya telanjang. Dia berkacak

pinggang menatap sebungkah bara. Karna ragu melanjutkan langkah. Dia

mencoba mereka-reka apa sebenarnya yang dilakukan laki-laki itu.

 

Melihat ciri-cirinya, persis sebagaimana yang digambarkan Hadimanggala, tak salah lagi,

dia adalah Resi Parasu.

 

Karna melihat Parasu mengangkat kepalanya, dan pandangannya menebar, seakan menembus

kegelapan malam. “Siapapun kau, keluarlah..jangan bersembunyi..” teriaknya.

Tertegun Karna menyaksikan Parasu. Orang itu mampu mengetahui kehadirannya,

yang bahkan cukup jauh dari tempatnya berdiri. Apalagi, Karna berada di tempat

yang cukup tersembunyi, dan malam hari.

 

Tak ada pilihan lain, Karna melangkah mendekati laki-laki itu.

 

Parasu tegak dalam jarak. Matanya seakan menembus dan membaca gerak-gerik Karna.

 

“Siapa kau?” teriaknya seakan memberi tombak agar Karna berhati-hati sebelum mendekat.

 

“Saya Karna, sang resi..”

 

“Karna? Jika bukan orang gila, tentu kau orang bodoh.”

 

Karna diam tak menjawab.

 

“Mau apa kau mengintip-intip aku?”

 

Karna tak punya jawaban. Keberaniannya seakan meleleh di hadapan Parasu.

 

“Kemari kau, tikus kecil!”

 

Dengan gemetar, Karna melangkah. Dan kira-kira sepuluh langkah di depan Parasu, Karna

berhenti. Karna memandang wajah Parasu, yang kian mengerikan dipoles pendar

kemerahan cahaya api.

 

“Mau apa, kau, Karna?”

 

“Berguru.”

 

“Berburu?” kemudian Parasu terbahak-bahak. Suaranya lantang, keras dan memiliki kekuatan menguasai sangat

besar.

 

Karna percaya bahwa itu hanyalah sebuah cara yang aneh di dalam bertegur sapa. Dia

percaya, telinga Parasu tidaklah tuli.

 

“Benar, sang resi. Saya berburu.”

 

Parasu tertegun beberapa saat. “Hmm..apa yang kau buru? Hewan buruan mencari selamat.

Semua sudah minggat.”

 

“Memburu tuanku..” Karna mulai bangkit dan mencoba melawan rasa takutnya sendiri.

 

Parasu tergelak-gelak. Tubuh besarnya terguncang-guncang.

 

“Berapa usiamu?”

 

“Delapan belas, tuanku..”

 

“Anak bau kencur! Hahahahaha.. Memburu Parasu? .untuk apa?”

 

Setelah terdiam sesaat, “Untuk mendapatkan diriku..” jawab Karna sungguh-sungguh. Entah

mengapa, dia merasakan getaran aneh yang membuatnya yakin, manusia gila inilah

yang dicarinya.

 

Parasu seperti membeku tiba-tiba. Dia seakan mencerna jawaban Karna.

 

“Kau lapar? Aku lapar sekali. Rasanya aku punya daging rusa.” Lalu seolah tak pernah

terjadi pembicaraan apa-apa sebelumnya, Parasu berbalik dan memasuki pondoknya.

 

Perut Karna menyanyi.

 

Parasu keluar membawa dua tombak panjang dengan dua gumpalan daging ditusukkan di

ujung masing-masing. Parasu melemparkan sebuah tombak ke arah Karna. Karna

menangkapnya. Sekilas Parasu melihat, kecekatan tangan Karna yang terlatih.

 

Karna mengikuti laki-laki besar itu melangkah. Di aliran lava yang masih memerah,

Parasu mendekatkan gumpalan daging itu ke lava. “Tak perlu membuat api lagi.”

 

***

 

Karna duduk berdampingan dengan laki-laki besar itu. Terdengar suara kecapan mulut

yang kasar dan terkesan rakus dari Parasu. Begitu bersemangat. Buas dan aneh.

Karna menggigit makanannya sedikit demi sedikit.

 

“Hmm.. aturan istana.. “ucap Parasu dengan mulut penuh mengunyah-ngunyah.

 

Karna tersenyum. Baru disadarinya, cara mereka mengunyah pun sudah jauh berbeda.

 

“Jika saja kau seorang kesatria, kau harus beruntung bertemu denganku di usiaku saat

ini..”

 

“Aku sudah mendengar kisahmu, sang resi..”

 

“Hmm.. bagus.. bagus..” Parasu menggigit lagi dan mengunyah lagi.

 

Karna mengamati wajah Parasu dengan seksama. Ada pertanyaan besar yang tiba-tiba

mencuat. Parasu yang juga dikenal sebagai Rama Bargawa, hidup sejak beratus

tahun lampau. Dia hidup sejak sebelum jaman Prabu Arjunasasra lahir. Mengarungi

hidup melampaui masa kejayaan Prabu Ramawijaya dari kerajaan Ayodyapala.

 

“Yang kudengar, tuanku wafat di tangan Baginda Ramawijaya, raja Ayodya itu..”

 

“Yang kau dengar.. hahahah.. yang kau dengar.. Lalu apa yang kau lihat? Hahaha..Mana

yang kau percaya, mata atau telingamu? Hahahahaha..”

 

“Maaf tuanku, saya hanya ingin mendengar sendiri kebenaran itu dari mulut tuanku

sendiri..”

 

“Hahahahaha..tadi telinga, mata, sekarang mulut. Hahahaha.. mulutku, lagi… hahahahahaha…

Karna, anak bau kencur mau bertanya tentang nasib kisahku. Jangankan engkau,

sang waktu pun mungkin sudah bosan padaku, sehingga tak dipedulikannya lagi

diriku yang masih berkeliaran di muka bumi ini.”

 

“Jadi, bahkan Guawijaya—panah sakti sang Rama pun tak mampu melukai kulitmu?”

 

Tanpa peduli pertanyaan Karna, Parasu mengalihkan pembicaraan semau-maunya.

“Bagaimana, enak, daging rusa masakanku..? Hmmmh? Hahahahahahaha,…Aku pernah

ke negeri-negeri aneh, melintasi lautan pasir..”

 

“Lautan pasir?”

 

“Hahahahahaha..sudah kuduga. Ya, negeri yang dikepung oleh lautan pasir. Di sana, aku belajar

bagaimana mengolah daging hewan. Bagaimana mengawetkannya sehingga bisa kita

bawa pergi selama berbulan-bulan dan tidak membusuk… hahahaha.. hebat. Hebat

sekali mereka.. Manusianya kecil-kecil, kulitnya putih bersih dan mata mereka

hanya segaris.. hahahaha.. mereka orang-orang bijak.

 

Dan..sebagaimana lidahmu merasakannya tadi, ada sesuatu yang lain, bukan?

Tidak hanya asin, tetapi sesuatu yang lain… “

 

“Lautan pasir?”

 

“Hahahahahaha.. lihatlah dirimu Karna..hahahahahaha”

 

“Apakah.. mmm..”

 

“…ada ikannya, tuanku resi?. huahahahahahahahahaa..” ledek Parasu menirukan suara Karna.

 

Karna terdiam. Sungguh dahsyat orang tua ini.

 

“Mereka bukan hanya memiliki kuda, tetapi juga hewan-hewan berleher panjang dengan dua

gunung di punggungnya.. Karna, jangan menganga, dagingmu jatuh..

huahahahahahaha..”

 

Karna ikut tertawa, dia tersedak. Parasu kian tergelak-gelak.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: