Cuplikan Kisah “Karna” 13 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 13

oleh Yanusa Nugroho pada 20 September 2011 jam 22:51

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150297326741835

 

“Karna, bunga-bunga ini, kolam ini, rerumputan, perdu, semak, pohon yang ada di sini, semuanya melaporkan apa yang terjadi denganmu. Kerinduanmu pada seorang perempuan; mungkin untuk kebutuhan jiwamu sendiri, mungkin juga kerinduan seorang anak pada ibunya—tanpa kau sadari, memberi warna pada apapun yang kau sentuh.”

 

“Tidak kah tuan selama ini merasakan hal yang sama?”

 

“Hal yang sama? Hahahahahahaa..Ya. Semua yang datang padaku, memiliki pertalian aneh tentang perempuan. Hahahahahahahaha…” gelak tawanya pecah, percikan merah air sirih terlontar dari mulutnya.

“Jauh, sebelum kau tiba, berpuluh tahun silam.. ada seorang pemuda bernama Dewabrata. Dia kemari karena hatinya terbebani masalah wanita. Dia tidak hanya belajar ilmu perang kepadaku, tetapi lebih banyak tentang bagaimana memerangi diri sendiri terhadap wanita.Kau seharusnya kenal laki-laki yang kini bernama Bisma itu.”

 

Karna terdiam. Bisma. Ya. Tentu saja dia kenal nama itu. Lelaki tua yang menjadi tetua kerajaan Hastinapura. Karna hanya sempat beberapa kali memperhatikan wajah laki-laki itu, dan belum pernah sama sekali berada pada jarak dua tombak sekalipun darinya. Tercekat hati Karna mendengar sekilas penjelasan Parasu tentang Bisma.

 

“Kemudian, datang seorang pemuda, bernama Kombayana. Dalam perjalanannya, dia sempat menjadi muridku. Dia membawa seorang anak yang masih kecil. Dia memiliki ilmu perang yang kuakui hebat. Tetapi, aku tahu, kedatangannya kemari, tak lain juga masalah wanita. Ibu si anak pergi meninggalkannya.Aku tak tahu, di mana dia kini berada. Apa kau pernah mendengarnya?”

 

“Tidak, tuanku resi.”

 

“Hmm. Nah, sekarang kau.. bukankah masalahmu juga tentang wanita?” 

 

“Tetapi bukan, tentang Ken Wasini, tuanku..”

 

“Ooo, jadi namanya Ken Wasini? Hahahahahahahaha..”

 

Karna yang lugu, hanya memerah malu.

 

“Tentu, tentu.. aku mengerti Karna. Hahahahahaha..”

 

“Maaf tuanku, hamba belum sempat bercerita..”

 

“Aku tahu! Memang bukan Wasini yang menjadi persoalanmu.”

 

Hening. Karna diam. Dadanya berkecamuk lagi.

 

“Aku kenal nama Hadimanggala. Dia pemuda yang hebat. Bukan muridku, tapi aku tahu siapa dia. Akulah pengelana yang mengenal baik setiap jengkal tanah di muka bumi ini. Jika Hadimanggala menyuruhmu menemuiku, pasti persoalanmu tak akan jauh berbeda darinya.”

 

Karna menatap wajah resi Parasu. Mata resi tua itu menatapnya tajam. Karna menunduk.

 

“Apakah Hadimanggala bercerita tentang bagaimana ibunya?”

 

Karna menunduk kian dalam.

 

“Apakah Hadimanggala berkisah tentang orang yang melahirkannya?”

 

Karna terlipat pertanyaan Parasu.

 

“Hahahahaha.. lihatlah Karna, nama-nama yang kusebutkan itu, semuanya memiliki masalah dengan perempuan. Dan aku sendiri… haaaaaaaahhrrrgghh..” Parasu melompat, mengayunkan kampaknya dan sebungkah batu di pekarangan terbelah.

 

Karna terpana.

 

Dilihatnya Parasu terduduk di tanah. Sesaat kemudian tegak, menantang langit, lalu teriakan dahsyat mengguntur dari mulutnya. “Renukaaaaaaaa….! maafkan anakmu.. “ resi tua itu pun menangis. Pundaknya terguncang. Karna mendekatinya.

 

“Apa yang kau cari dari laki-laki malang ini, Karna?” ucapnya di sela isak tangis.

“..dosaku tak termaafkan Karna. Penyucian ini begitu panjang dan berat..

Seorang perempuan berselingkuh, dan aku harus membunuhnya. Tetapi, perempuan itu adalah orang yang melahirkanku, Karna.Haruskah aku membunuhnya?

Bisakah aku menghilangkan kenyataan bahwa dia tidur bukan dengan ayahku?

Kesucian, kesetiaan, aahhhhrrrghh.. semuanya membuatku muak.

Darah..ya, darah itu melumuri hidupku Karna. Darah yang membaluri tubuhku ketika lahir, juga melumuri tanganku ketika aku membunuhnya… aaaarrrrghhh..”

 

Singa tua itu mengaum dan menerjang apa saja yang ada di depannya. Batu-batu terbelah, pohon-pohon patah. Karna gemetar.“Dan kau, Karna.. apa yang membuatmu menemuiku?”

 

“Aa..aku mencari diriku..” jawab Karna masih diliputi rasa takut.

 

“Hah! Sebegitu pentingkah itu?”

 

Karna diam saja.

 

“Tahukah kau Karna, kau adalah nasib sial yang menggumpal. Kau dihapuskan dari sejarah seorang perempuan!”

 

Telinga Karna memerah. Dibayangkannya wajah Nyai Radea yang penuh kasih sayang. Dibayangkannya belaian dan kebanggaan ibunya kepadanya.

“Mengapa kau menghina ibuku, tuanku resi?”

 

“Menghina? Hahahaha.. aku bahkan membunuh ibuku sendiri, Karna, jadi apa sulitnya menginjak-injak harga diri ibumu, atau ibu siapapun di dunia ini. Kau mau apa? Membelanya? Silakan. Kau harus menghadapi Parasu, si pembunuh ibu kandungnya.. haarrrggggh..”

 

Parasu menerkamnya dengan tebasan kampak besarnya. Karna—meskipun terkejut—dia sempat berkelit ke samping. Kampak Parasu menghantam batu. Pijaran bunga api memercik, sebelum akhirnya membuat batu itu terbelah.

Karna menggelegak. Serangan mendadak Parasu dibalasnya dengan sebuah tendangan. Resi tua itu bagai karang.

 

Tubuhnya kukuh, layaknya gunung batu.

 

Hanya sekedipan mata kemudian, kampak besar itu meluncur deras dan menghantam dada Karna.

Sebuah dentuman dahyat terdengar. Tubuh Karna terpental beberapa tombak.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: