Cuplikan Kisah “Karna” 14 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 14

oleh Yanusa Nugroho pada 21 September 2011 jam 12:22

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150298211516835

 

Di sungai Limanbenawi, yang lebar, yang mengalir tak jauh dari sisi utara lapangan

istana Hastinapura, tampak dua orang pemuda berada di rakit bambu. Mereka

adalah Tarka dan Sarka, dua kakak beradik yang bekerja sebagai juru mudi rakit

penyeberangan. Keduanya mencari nafkah dengan menyeberangkan siapapun yang akan

menuju sisi lain Limanbenawi.

 

Mereka adalah anak seorang pertapa. Dan mereka menjalani hidup sesuai dengan perintah

sang ayah. “Cobalah kalian mengunci rapat-rapat mulut kalian. Membisu. Kalian

akan mendengar begitu banyak pengetahuan secara diam-diam. Karena seringkali

lidah kita mengeluarkan bisa fitnah yang tak bisa kita duga. Karenanya, cobalah

kalian menjalani bertapa bisu. Lakukanlah pekerjaan kalian sebagaimana biasa,

namun dengan satu pantangan: jangan berbicara sepatah kata pun tentang apapun.”

 

“Jika ternyata ada yang membayar kurang dari seharusnya?” sela Tarka, ketika itu.

 

“Terimalah. Jangan bertanya atau mempertanyakan. Terimalah. Mudah-mudahan Yang Maha Adil

akan memberimu keadilan.”

 

Maka, sejak empat puluh hari lalu, kedua kakak beradik itu bekerja dalam kebisuan.

Mereka hanya tersenyum atau mengangguk. Kadang menggeleng. Berapa besar pun

kepeng uang yang diberikan para penumpang, mereka terima dengan dada lapang.

Dan nyatanya, pendapatan mereka lebih besar daripada sebelumnya. Para

penumpang, yang umumnya adalah istri-istri tentara Hastina—yang tentu saja

memiliki uang lebih—dengan senang hati memberikan bayaran lebih, karena

menganggap kedua juru getek itu sangat sopan dan tak banyak tanya.

 

Sore itu, ketika mereka menambatkan rakit bambu di tepi selatan, sambil menunggu

penumpang, Tarka dan Sarka dikejutkan oleh suara mendesing dan ceburan kuat di

permukaan sungai. Bola kulit. Mereka pun kemudian hanya diam, dan membiarkan

bola itu dibawa hanyut ke muara.

 

Sepak bola, permainan baru yang hanya boleh dimainkan kalangan istana. Dan tentunya,

bola itu milik kaum bangsawan Hastinapura. Sebuah permainan aneh yang dibawa

dari manca. Bulatan itu mereka kejar, untuk mereka tendang. Memang kelihatan

menarik, tetapi bagi Tarka dan adiknya, tak lebih dari permainan orang bodoh.

Mereka tak tertarik, dan karenanya, mereka diamkan saja bola itu hanyut dibawa

arus sungai Limanbenawi.

 

Hening senja itu. Langit di barat sudah menunjukkan garis-garis jingga. Sebentar lagi,

sesaat sebelum matahari benar-benar tenggelam, mereka akan pulang. Namun,

sampai saat itu tiba, mereka memang masih menunggu, barangkali saja masih ada

satu atau dua orang yang ingin menggunakan tenaga mereka.

 

Tiba-tiba..” Ahh, pasti masuk sungai. Sena, kau yang harus mencarinya.. tendanganmu terlalu

kuat!”

 

Ketiga kesatria muda Hastina itu sampai di tepian sungai. Mereka tak melihat apa-apa

kecuali gelegak arus sungai dan kedua kakak-beradik itu.

 

“Hei, kalian? Apakah kalian melihat sebuah bola, bola kami, meluncur ke arah ini?”

tanya Dursasana pada Tarka dan Sarka.

 

Kedua orang itu menyembah, lalu salah seorang menunjuk arah sungai dengan ibu

jarinya.

 

“Bodoh! Mengapa kalian diam saja? Seharusnya kalian mengejarnya!” sergah Duryudana.

 

Kedua orang itu diam saja.

 

Sena segera mencebur ke dalam arus sungai dan berenang menuju muara.

 

Sepeninggal Sena, Duryudana dan adiknya mondar-mandir gelisah. Nafas mereka masih memburu.

Sementara itu, Tarka dan Sarka masih bersimpuh di tanah, menunduk memandang ke

bawah. Entah nasib apa yang berikutnya akan menggilas mereka.

 

“Hei, siapa namamu?” tiba-tiba Duryudana membentak.

 

Tarka diam saja, karena hari itu dia memang bertapa bisu.

 

Duryudana tercenung, tidak biasanya seorang jelata diam bila ditanya bangsawan.

 

Tiba-tiba kaki Dursasana bertengger di pundak Tarka, “Hei, tanah liat, apakah kau tuli.

Pangeran Duryudana bertanya siapa namamu, mengapa kau diam saja.”

Digerak-gerakkannya tubuh Tarka dengan kaki kirinya. Tarka masih diam.

 

“Dan kau.. apakah kau juga bisu-tuli?” segah Dursasana pada Sarka.

 

Sarka menggigil ketakutan.

 

“Siapa namamu?” ulang Duryudana geram.

 

Keduanya masih saja membisu. Sebuah pelajaran penting yang mereka rasakan begitu berat,

terjadi di senja itu. Pesan sang ayah, agar mereka tidak berbicara, tiba-tiba

mengubah situasi menjadi pilihan, yang sangat mungkin berakhir buruk.

 

Burung-burung kembali ke sarang. Udara mendingin. Cerecet monyet bersahutan berebut dahan di

hutan-hutan. Semua berubah tanpa ada yang pernah menyadarinya.

 

Duryudana naik pitam. Siapakah kedua manusia jelata ini, yang dengan keraskepala berani

menentang seorang pangeran Hastina? Baru kali ini, Duryudana merasa dirinya

diabaikan rakyatnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

 

“Apakah kau akan tetap membisu, manakala rajamu bertanya padamu? Apa kau pikir dengan

begitu kau bisa lebih hebat dari penguasamu? Hah? Jawab!” dan sebuah tendangan

menghantam wajah Tarka. Tarka terguling, hidungnya mengucurkan darah. Sarka

mencoba membantu kakaknya, namun tendanganlah yang mencegahnya.

 

Kedua kakak-beradik itu terguling dengan darah bercampur tanah di wajah. Berkelebat

pesan sang ayah bahwa membisu, menjaga lidah agar tak melisankan apapun,

sepertinya laku yang mudah. Akan tetapi, pada kenyataannya, apalagi di tengah masyarakat yang

suka mengobral lisan dengan berbagai dalih, adalah sesuatu yang sangat sulit.

Membisukan lidah, pada hakikatnya adalah membiasakan diri berserah tanpa

bertanya. Dengan berserah tanpa suara, seseorang akan berlatih menuju alam

kekosongan dirinya sendiri. Dan dengan mengosongkan diri sendiri, seseorang

akan dengan mudah menerima keheningan dari sang Maha Hening. Hanya dengan

menyatu pada sang Maha Hening inilah manusia mampu mencacapai kesempurnaan

dirinya. Demikian kelebat ucapan sang ayah ketika menuturkan rahasia laku

bisu.

 

Karenanya, Tarka dan Sarka, pemuda yang belum genap 17 tahun itu hanya diam tak melawan

ketika kedua bangsawan Hastina itu menghajar mereka. Ada sesuatu yang jauh

lebih mulia dan layak diperoleh dengan mengorbankan nyawa sekalipun, yang

membuat mereka tahan terhadap siksaan badaniah. Mereka bahkan diam-diam

memanjatkan doa agar Duryudana dan Dursasana mendapatkan cahaya pengetahuan,

untuk akhirnya memahami bahwa mereka melakukan kesalahan.

 

Akan tetapi, kedua orang bangsawan Hastina itu, yang dengan bangga mengatakan

berdarah Kuru, anak keturunan keluarga Kuru itu, bahkan seakan ingin

menunjukkan kekuasaan. Tak ada bola, tubuh manusia pun jadilah!

 

Senja yang menggelap, seakan memekatkan hati nurani mereka. Kejengkelan mereka

memuncak, manakala setiap kali terjungkal, Tarka dan Sarka berusaha bangkit dan

bersimpuh seperti semula.

 

Duryudana yang bertubuh tinggi besar, kuat, tegap dan selalu berlatih gulat di

kasatriannya, bukanlah tandingan Tarka; pemuda desa yang bertubuh kurus kering,

kecil dan berkulit coklat gelap itu, yang bahkan lebih menyukai puasa dan

bersepi diri. Tak heran jika tubuhnya menjadi bulan-bulanan Duryudana. Begitu

pula dengan Dursasana. Kekuatan tenaganya seakan ditimpakannya ke tubuh Sarka—adik

Tarka.

 

Entah pada hantaman yang ke berapa, batas kekuatan tubuh kakak beradik itu sampailah.

Sebuah detak teredam, tulang-tulang yang remuk terasakan. Duryudana dan

Dursasana sebetulnya merasakan dan mengetahui bahwa tulang-tulang dua manusia malang

itu remuk, namun, entah mengapa, mereka tak berhenti.

 

Adik-adik Duryudana yang lain, karena merasa ketiga orang itu cukup lama tak kembali ke

lapangan, menyusul dan menyaksikan kedua orang itu tengah menghempaskan Tarka

dan Sarka. Mereka merasa ngeri menyaksikan tubuh Tarka dan Sarka, yang

berlumuran darah bercampur tanah.

 

Seekor burung hitam, secara aneh terbang melintas dan merobek sunyi dengan teriakan

paraunya.

 

Hening berlalu begitu saja. Senja menjadi kereta kesunyian yang menghantarkan Tarka

dan Sarka kembali ke alam keabadian. Bahkan, lihatlah, matahari seakan bergegas

menarik tirai malam, tak sampai hati menyaksikan penderitaan yang dialami kakak

beradik yang bahkan tak melakukan kesalahan apapun itu. Angin membeku, seakan

tak percaya bahwa Tarka dan Sarka yang selama ini mereka belai-belai ketika

beristirahat di atas rakit mereka, nyaris membentuk seonggok daging berbalut

debu darah.

 

Duryudana dan Dursasana tertegun, seakan baru tersadar pada perbuatan yang baru saja

mereka lakukan. Nafas mereka memburu, namun, ada kekosongan yang menganga dan

entah bagaimana, mereka berupaya mengusir kekosongan itu. Dursasana, bahkan

bertingkah aneh, bagai orang gila dia menceburkan diri ke sungai, membasuh diri

dan berteriak-teriak bagai orang gila.

 

Sena yang kebetulan baru saja tiba di tempat itu, terdiam. Begitu dilihatnya Tarka

dan Sarka telah menjadi mayat menyedihkan, Sena berteriak dan melompat ke arah

Duryudana. “Binatang!” Dihantamnya rahang Duryudana. Duryudana terjengkang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: