Cuplikan Kisah “Karna” 07 – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” 07

oleh Yanusa Nugroho pada 16 September 2011 jam 19:18

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150292504706835

 

 

Kedua anak itu asyik menendang dan menggiring bola. Tak mereka sadari, langkah mereka

mendekati bukit Socamala. Ketika peluh membasah, dan nafas tersengal-sengal,

mereka pun segera mencari pohon salam dan berteduh di bawahnya. Rimbunnya

daun-daun salam membuat tubuh mereka merasa sejuk.

 

Narayana masih tersenyum, memuji kehebatan Karna dalam menggiring bola.

 

“Pangeran Narayana juga kencang sekali larinya..” puji Karna.

 

“Jangan panggil aku pangeran. Sebaiknya panggil saja aku.. mmm berapa umurmu,

Karna?”

 

“Tujuh.”

 

“Aku sembilan. Kalau begitu kau harus menyebutku kakanda.”

 

“Baiklah,…kanda Narayana..” Karna tampak kaku menyebut Narayana dengan sebutan kakanda.

Keduanya tertawa senang.

 

“Apa kau tak punya kawan bermain yang sebayamu, Karna?”

 

Karna terdiam sejenak, lalu..” Tadinya, aku punya kawan banyak sekali. Tetapi,

setelah aku berkawan dengan Sarpa..mereka tak mau lagi mendekatiku. Apalagi

setelah mereka tahu apa yang kulakukan terhadap Sarpa, mereka menganggapku anak

aneh.”

 

“Siapakah Sarpa?”

 

“Raksasa.”

 

“Raksasa?”

 

“Ya. Apa yang aneh berkawan dengan raksasa?”

 

“Entahlah.”

 

“Kau apakan Si Sarpa?”

 

Karna diam tak menjawab. Tiba-tiba dia berdiri, menantang matahari, berkacak

pinggang, lalu.. keajaiban itu terulang kembali. Dada Karna mengeluarkan cahaya

keperakan, dan dalam sekedipan mata, cahaya itu memancar dan menghancurkan

pohon kelapa. Suaranya menderu dan mendebum keras.

 

Narayana terpaku. Matanya seperti mengumpulkan serpihan-serpihan aneh yang ditemuinya

sepanjang hidupnya yang masih muda itu. Dia tak bertanya, tetapi hanya diam

mengamati, mengumpulkan dan menyatukan apa yang ditemuinya.

 

Dia hanya mencocokkan dengan kisah yang pernah dituturkan bibinya, semasa masih

tinggal di Mandura, bahwa terkadang alam dengan caranya yang aneh, memilih

seseorang untuk menunjukkan dirinya. Alam meminjam tubuh manusia untuk

membuktikan, bahwa dirinya adalah sesuatu yang sesungguhnya tak terjamah

manusia. Demikianlah kata-kata Kunti, yang tersimpan dengan baik di sanubari

Narayana.

 

“Bagaimana bibi bisa mengetahuinya?”

 

“Resi Druwasa memberiku pelajaran tentang bagaimana memahami perilaku alam semesta

ini.”

 

“Apakah aku juga bisa mempelajarinya, bibi?”

 

“Bisa. Kau kesatria kecilku yang cerdas. Kaulah satu-satunya kesatriaku yang mau

menyimak tembang-tembang bibi, kau pasti bisa..Narayana.”

 

Dan Narayana pun menyadari ketika –pada suatu kali berjalan di sekitar istana, dan

mendapati seorang prajurit terluka akibat gigitan ular kobra. Prajurit itu

nyaris tewas, jika saja tangan Narayana tak menjamah kepalanya. Kejadiannya

begitu cepat. Ketika itu, Narayana dikawal beberapa prajurit sedang bermain. Di

tengah sebuah rumpun ilalang, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba kaki prajurit

itu mengusik seekor kobra.

 

Sebuah patukan cepat, mengenai betis si prajurit. Dia mengerang, dan tak lama tubuhnya

kejang-kejang.

 

Narayana kecil dengan sigap menekan luka itu. Aneh, wajah si sakit berangsur-angsur

segar kembali, dan ketika benar-benar bisa bangkit, dia hanya merasakan sisa

pegal di betisnya. Ketika hal itu diceritakannya pada Kunti, bibinya itu hanya

tersenyum, lalu berkata bahwa itulah cara alam menunjukkan keperkasaannya.

 

“Mengapa aku dipilihnya?”

 

“Karena kau adalah kesatriaku..”

 

“Keluarga kita banyak yang bisa melakukan hal-hal aneh. Mengapa?”

 

“Mungkin alam memang memilih keluarga kita. Siapa yang tahu?”

 

Narayana tersenyum menatap Karna.

 

“Waktu itu, rambutnya terbakar..”

 

“Hati-hati Karna, bagaimana seandainya bukan rambutnya, tetapi tubuhnya.. kau bisa

membunuh seseorang yang belum tentu berniat jahat padamu..”

 

Karna kembali duduk di samping Narayana. “Benar juga. Aku menyesal, melakukan hal itu

pada Sarpa. Padahal, kini, dia begitu baik padaku. Aku yakin, tindakannya waktu

itu karena tidurnya terganggu keributan kami; bukan ingin mencelakai kami.”

 

“Dimana Sarpa?”

 

Karna seperti diingatkan. Dia pun bangkit. Matanya mencari-cari di sekitar

semak-semak. “Sarpaaa…” teriaknya. Hening. “Biasanya, dia akan segera keluar

begitu tahu aku di sini. Kasihan, dia tak memiliki teman bermain.”

 

“Mengapa dia dimusuhi?”

 

“Entahlah.Karena aku bersahabat dengan Sarpa, keluargaku dikucilkan, tak boleh ke candi

Badra.”

 

“Keluargamu penyembah bulan?”

 

Karna mengangguk lemah.

 

“Di Hastina masih ada kaum penyembah bulan?” gumam Narayana.

 

“Penyembah bulan, matahari, sungai, pohon, batu, api.. apapun.”

 

“Di Mandura sudah tak diperbolehkan lagi.”

 

“Lalu, keluarga kanda menyembah apa?”

 

“Sang Maha Tunggal.”

 

“Apa itu?”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Aneh.”

 

“Mengapa?”

 

“Kalian menyembah sesuatu yang tak kalian ketahui.”

 

“Maksudku, aku yang belum tahu. Mungkin ayah-ibuku tahu.”

 

“Apa candi kalian?”

 

“Tak perlu candi. Caranya hanya dengan bersemadi.”

 

“Apa itu?”

 

“Begini.” Narayana lalu melipat tangannya. Duduk bersila dan memejamkan matanya.

 

Karna tertawa geli. “Lucu.”

 

“Apanya yang lucu?”

 

“Cara kanda menyembah.. seperti orang tidur sambil duduk.”

 

Narayana tersenyum. “Tapi, lihatlah.. dengan tidur-duduk itu, aku bisa melakukan ini…

perhatikan.”

 

Karna ternganga. Keheningan menggenang. Kesunyian melayang bersama uap panas siang

hari. Mata Karna melihat tubuh Narayana perlahan-lahan terangkat, melayang dari

tempat duduknya. Karna tak percaya, ketika– masih dengan sikap bersemadi,

tubuh Narayana melayang nyaris menyamai tinggi pohon salam.

 

“Seperti ilmu sihir..” teriaknya karena kagum.

 

“Ini bukan sihir, tetapi ..ah, entahlah..aku bisa melakukannya sejak aku belum bisa

bicara..” sahut Narayana dari ketinggian.

 

“Kanda bisa terbang?”

 

“Entahlah, tapi.. apakah namanya yang sedang kulakukan ini?”

 

Seusai berkata begitu, tubuh Narayana perlahan turun dan akhirnya kembali ke tempatnya

semula.

 

“Mengapa kita bisa melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh anak lain?” gumam

Karna seperti ditujukan pada dirinya sendiri. Narayana kemudian menjawab,

persis seperti jawaban Kunti kepadanya.

 

“Mana, Sarpa, sahabatmu?” tiba-tiba Narayana mengalihkan pembicaraan.

 

Karna seperti diingatkan, segera berdiri dan kembali kepalanya menjelajah lembah.

“Sarpaaa..”

 

Sekali lagi hanya keheningan yang menyahut.

 

“Kurasa, Sarpa sedang mengamati kita dari balik persembunyiannya. Dia belum

mengenalku..” kata Narayana.

 

“Mungkin. Sudahlah, mari kita pulang.. ayah dan ibu tentu sudah menunggu kita.”

 

Keduanya kemudian berjalan perlahan-lahan. Karna mengepit bola kulitnya. Terik matahari

menyengat.

 

“Panas, ya?”

 

“Ya.”

 

“Aku bisa menyuruh hujan turun..” kata Narayana ringan.

 

“Ah, jangan bercanda. Bagaimana mungkin kanda bisa berbicara pada awan di atas

sana?”

 

“Aku juga tidak tahu. Kadang bisa, kadang tidak.. “

 

“Mengapa begitu?”

 

“Seperti anjing, kadang dia menurut perintah, kadang membandel..”

 

“Aku ingin melihat..”

 

“Baiklah.”Lalu Narayana kembali mengambil sikap seperti semula. Tangannya ditangkupkan di

depan dadanya. Tiba-tiba angin menderu. Langit perlahan menggelap dan awan pun

menggumpal di langit. Petir menggelegar dan hujan deras mengguyur kedua anak

itu.

 

Karna tertawa-tawa. Narayana tersenyum bahagia. Manusia yang lain hanya bisa

ternganga dan bertanya-tanya; musim apakah sekarang, bukankah masih masa katiga

(kemarau)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: