Archive for October, 2011

Cuplikan Kisah “Karna” 07 – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” 07

oleh Yanusa Nugroho pada 16 September 2011 jam 19:18

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150292504706835

 

 

Kedua anak itu asyik menendang dan menggiring bola. Tak mereka sadari, langkah mereka

mendekati bukit Socamala. Ketika peluh membasah, dan nafas tersengal-sengal,

mereka pun segera mencari pohon salam dan berteduh di bawahnya. Rimbunnya

daun-daun salam membuat tubuh mereka merasa sejuk.

 

Narayana masih tersenyum, memuji kehebatan Karna dalam menggiring bola.

 

“Pangeran Narayana juga kencang sekali larinya..” puji Karna.

 

“Jangan panggil aku pangeran. Sebaiknya panggil saja aku.. mmm berapa umurmu,

Karna?”

 

“Tujuh.”

 

“Aku sembilan. Kalau begitu kau harus menyebutku kakanda.”

 

“Baiklah,…kanda Narayana..” Karna tampak kaku menyebut Narayana dengan sebutan kakanda.

Keduanya tertawa senang.

 

“Apa kau tak punya kawan bermain yang sebayamu, Karna?”

 

Karna terdiam sejenak, lalu..” Tadinya, aku punya kawan banyak sekali. Tetapi,

setelah aku berkawan dengan Sarpa..mereka tak mau lagi mendekatiku. Apalagi

setelah mereka tahu apa yang kulakukan terhadap Sarpa, mereka menganggapku anak

aneh.”

 

“Siapakah Sarpa?”

 

“Raksasa.”

 

“Raksasa?”

 

“Ya. Apa yang aneh berkawan dengan raksasa?”

 

“Entahlah.”

 

“Kau apakan Si Sarpa?”

 

Karna diam tak menjawab. Tiba-tiba dia berdiri, menantang matahari, berkacak

pinggang, lalu.. keajaiban itu terulang kembali. Dada Karna mengeluarkan cahaya

keperakan, dan dalam sekedipan mata, cahaya itu memancar dan menghancurkan

pohon kelapa. Suaranya menderu dan mendebum keras.

 

Narayana terpaku. Matanya seperti mengumpulkan serpihan-serpihan aneh yang ditemuinya

sepanjang hidupnya yang masih muda itu. Dia tak bertanya, tetapi hanya diam

mengamati, mengumpulkan dan menyatukan apa yang ditemuinya.

 

Dia hanya mencocokkan dengan kisah yang pernah dituturkan bibinya, semasa masih

tinggal di Mandura, bahwa terkadang alam dengan caranya yang aneh, memilih

seseorang untuk menunjukkan dirinya. Alam meminjam tubuh manusia untuk

membuktikan, bahwa dirinya adalah sesuatu yang sesungguhnya tak terjamah

manusia. Demikianlah kata-kata Kunti, yang tersimpan dengan baik di sanubari

Narayana.

 

“Bagaimana bibi bisa mengetahuinya?”

 

“Resi Druwasa memberiku pelajaran tentang bagaimana memahami perilaku alam semesta

ini.”

 

“Apakah aku juga bisa mempelajarinya, bibi?”

 

“Bisa. Kau kesatria kecilku yang cerdas. Kaulah satu-satunya kesatriaku yang mau

menyimak tembang-tembang bibi, kau pasti bisa..Narayana.”

 

Dan Narayana pun menyadari ketika –pada suatu kali berjalan di sekitar istana, dan

mendapati seorang prajurit terluka akibat gigitan ular kobra. Prajurit itu

nyaris tewas, jika saja tangan Narayana tak menjamah kepalanya. Kejadiannya

begitu cepat. Ketika itu, Narayana dikawal beberapa prajurit sedang bermain. Di

tengah sebuah rumpun ilalang, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba kaki prajurit

itu mengusik seekor kobra.

 

Sebuah patukan cepat, mengenai betis si prajurit. Dia mengerang, dan tak lama tubuhnya

kejang-kejang.

 

Narayana kecil dengan sigap menekan luka itu. Aneh, wajah si sakit berangsur-angsur

segar kembali, dan ketika benar-benar bisa bangkit, dia hanya merasakan sisa

pegal di betisnya. Ketika hal itu diceritakannya pada Kunti, bibinya itu hanya

tersenyum, lalu berkata bahwa itulah cara alam menunjukkan keperkasaannya.

 

“Mengapa aku dipilihnya?”

 

“Karena kau adalah kesatriaku..”

 

“Keluarga kita banyak yang bisa melakukan hal-hal aneh. Mengapa?”

 

“Mungkin alam memang memilih keluarga kita. Siapa yang tahu?”

 

Narayana tersenyum menatap Karna.

 

“Waktu itu, rambutnya terbakar..”

 

“Hati-hati Karna, bagaimana seandainya bukan rambutnya, tetapi tubuhnya.. kau bisa

membunuh seseorang yang belum tentu berniat jahat padamu..”

 

Karna kembali duduk di samping Narayana. “Benar juga. Aku menyesal, melakukan hal itu

pada Sarpa. Padahal, kini, dia begitu baik padaku. Aku yakin, tindakannya waktu

itu karena tidurnya terganggu keributan kami; bukan ingin mencelakai kami.”

 

“Dimana Sarpa?”

 

Karna seperti diingatkan. Dia pun bangkit. Matanya mencari-cari di sekitar

semak-semak. “Sarpaaa…” teriaknya. Hening. “Biasanya, dia akan segera keluar

begitu tahu aku di sini. Kasihan, dia tak memiliki teman bermain.”

 

“Mengapa dia dimusuhi?”

 

“Entahlah.Karena aku bersahabat dengan Sarpa, keluargaku dikucilkan, tak boleh ke candi

Badra.”

 

“Keluargamu penyembah bulan?”

 

Karna mengangguk lemah.

 

“Di Hastina masih ada kaum penyembah bulan?” gumam Narayana.

 

“Penyembah bulan, matahari, sungai, pohon, batu, api.. apapun.”

 

“Di Mandura sudah tak diperbolehkan lagi.”

 

“Lalu, keluarga kanda menyembah apa?”

 

“Sang Maha Tunggal.”

 

“Apa itu?”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Aneh.”

 

“Mengapa?”

 

“Kalian menyembah sesuatu yang tak kalian ketahui.”

 

“Maksudku, aku yang belum tahu. Mungkin ayah-ibuku tahu.”

 

“Apa candi kalian?”

 

“Tak perlu candi. Caranya hanya dengan bersemadi.”

 

“Apa itu?”

 

“Begini.” Narayana lalu melipat tangannya. Duduk bersila dan memejamkan matanya.

 

Karna tertawa geli. “Lucu.”

 

“Apanya yang lucu?”

 

“Cara kanda menyembah.. seperti orang tidur sambil duduk.”

 

Narayana tersenyum. “Tapi, lihatlah.. dengan tidur-duduk itu, aku bisa melakukan ini…

perhatikan.”

 

Karna ternganga. Keheningan menggenang. Kesunyian melayang bersama uap panas siang

hari. Mata Karna melihat tubuh Narayana perlahan-lahan terangkat, melayang dari

tempat duduknya. Karna tak percaya, ketika– masih dengan sikap bersemadi,

tubuh Narayana melayang nyaris menyamai tinggi pohon salam.

 

“Seperti ilmu sihir..” teriaknya karena kagum.

 

“Ini bukan sihir, tetapi ..ah, entahlah..aku bisa melakukannya sejak aku belum bisa

bicara..” sahut Narayana dari ketinggian.

 

“Kanda bisa terbang?”

 

“Entahlah, tapi.. apakah namanya yang sedang kulakukan ini?”

 

Seusai berkata begitu, tubuh Narayana perlahan turun dan akhirnya kembali ke tempatnya

semula.

 

“Mengapa kita bisa melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh anak lain?” gumam

Karna seperti ditujukan pada dirinya sendiri. Narayana kemudian menjawab,

persis seperti jawaban Kunti kepadanya.

 

“Mana, Sarpa, sahabatmu?” tiba-tiba Narayana mengalihkan pembicaraan.

 

Karna seperti diingatkan, segera berdiri dan kembali kepalanya menjelajah lembah.

“Sarpaaa..”

 

Sekali lagi hanya keheningan yang menyahut.

 

“Kurasa, Sarpa sedang mengamati kita dari balik persembunyiannya. Dia belum

mengenalku..” kata Narayana.

 

“Mungkin. Sudahlah, mari kita pulang.. ayah dan ibu tentu sudah menunggu kita.”

 

Keduanya kemudian berjalan perlahan-lahan. Karna mengepit bola kulitnya. Terik matahari

menyengat.

 

“Panas, ya?”

 

“Ya.”

 

“Aku bisa menyuruh hujan turun..” kata Narayana ringan.

 

“Ah, jangan bercanda. Bagaimana mungkin kanda bisa berbicara pada awan di atas

sana?”

 

“Aku juga tidak tahu. Kadang bisa, kadang tidak.. “

 

“Mengapa begitu?”

 

“Seperti anjing, kadang dia menurut perintah, kadang membandel..”

 

“Aku ingin melihat..”

 

“Baiklah.”Lalu Narayana kembali mengambil sikap seperti semula. Tangannya ditangkupkan di

depan dadanya. Tiba-tiba angin menderu. Langit perlahan menggelap dan awan pun

menggumpal di langit. Petir menggelegar dan hujan deras mengguyur kedua anak

itu.

 

Karna tertawa-tawa. Narayana tersenyum bahagia. Manusia yang lain hanya bisa

ternganga dan bertanya-tanya; musim apakah sekarang, bukankah masih masa katiga

(kemarau)?

Cuplikan Kisah “Karna” 06 – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” 06

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 22:16

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291567061835

 

 

Semburan api tiba-tiba menderu, panasnya segera menghanguskan berpuluh manusia, yang

siaga dengan tombak mereka. Batang-batang tombak melengkung, hangus dalam sekejap. Naga-naga yang masih di udara segera meluncur, menyambar dan menyembur. Mulut dan ekor menghantam manusia yang bubar menyelamatkan diri.

 

Jarak terbang mereka sangat rendah. Pandu yang telah memperhitungkan isyarat Antisura

segera melepaskan panahnya. Mendesing panah itu, hanya menyerempet leher seekor

naga. Berdengkang suaranya, seakan memberi isyarat kepada kawan-kawannya bahwa musuh berada di wilayah mereka.

 

Seekor naga menyemburkan api besar. Perisai-perisai memerah, para prajurit yang ada di

bawahnya berlarian. Semburan dahsyat bertubi-tubi. Antisura memerintahkan

pasukan pelanting melemparkan tombak-tombaknya.

 

Berdesing-desing tombak-tombak itu melayang. Beberapa mengenai dua –tiga ekor naga. Tubuh-tubuh

mereka meliuk, tertembus tombak. Namun, kekuatan mereka memang luar biasa.

Dengan sisa kekuatannya mereka mengamuk. Api-api dari mulut mereka menghanguskan

manusia yang melukainya.

 

Siasat Antisura agar pasukan menyebar, memang membawa hasil. Naga-naga itu, meskipun

berpuluh-puluh, menjadi kehilangan arah. Mereka merasa terkepung manusia.

Teriakan dan senjata manusia-manusia itu benar-benar merepotkan.

 

Korban di kedua belah pihak mulai berjatuhan.

 

Pandu,melolos pedangnya. Tangan kirinya menggenggam tali kulit kuda. Dan dengan gagah

berani mencoba menyongsong seekor naga yang melayang ke arahnya. Radea tak

sempat berkata apa-apa ketika naga itu menderas ke arah junjungannya, namun

hampir tak bisa dipercaya, sesaat kemudian tampak Pandu sudah bertengger di

belakang kepala naga itu.

 

Sulit dipercaya bahwa Pandu seakan menunggangi naga. Tali kulit kuda itu menjerat

erat di kepala naga, dan digunakan sebagai pegangan bagi Pandu. Naga itu

meronta, berusaha membuang Pandu dari tubuhnya. Namun, Pandu seakan merekat

erat. Naga yang melayang, layaknya sebuah babut terbang yang dikendarai Pandu.

Dengan sekuat tenaganya, Pandu mengendalikan naga marah itu, yang melayang tak

tentu arah. Beberapa naga yang berpapasan, menjadi sasaran pedang Pandu.

Tubuh-tubuh naga yang robek. Kepala-kepala yang luka parah, atau bahkan nyaris

lepas dari tubuhnya, menjadikan pemandangan kian aneh dan mengerikan.

 

Melihat junjungan mereka berhasil menunggangi naga, Radea dan Wisaya serta adik-adiknya

mencoba melakukan hal yang sama. Radea berhasil mencengkam tulang mendosol

menyerupai tanduk di kepala salah seekor naga yang menyambarnya. Dia pun

berhasil menikamkan pedangnya, dan bersama dengan tubuh naga, Radea meluncur

berdebum ke bumi.

 

Tubuh naga yang berdebum ke tanah kian deras. Semangat prajurit Hastina seperti

tersulut. Mereka bersorak dan melontarkan beratus-ratus bilah tombak. Hujan

tombak itu memang membuahkan hasil.

 

Seekor naga bermaksud melarikan diri, namun hujan tombak merajam tubuhnya. Di udara,

makhluk raksasa itu seakan berubah menjadi ulat bulu dengan ratusan tombak

menancap di sekujur tubuhnya. Sorak sorai meluap ke angkasa.

 

Naga-naga yang sudah tak berdaya, menjadi luapan kemarahan para prajurit. Tubuh besar itu

melawan sia-sia. Robek, koyak, tercacah, bergelimang darah. Sorak-sorai,

mengiringi arwah naga yang mati di lembah Selapraba.

 

Pasukan Hastina mendesak sisa-sisa kaum naga itu kembali ke sarang mereka. Lelah merajam

kedua belah pihak. Tubuh-tubuh mati tak terhitung. Menjelang fajar, sorak

kemenangan Hastina membahana. Menciutkan nyali para naga.

 

Dari kejauhan, dari dalam sebuah gua batu, sepasang mata naga menyaksikan

pembantaian kaum keluarganya dengan tatapan dendam. Dia sempat menyaksikan para

prajurit membelah-belah kepala naga yang telah mati. Sayup dia mendengar

teriakan lantang bernada sombong dari seseorang yang tentunya adalah raja para

manusia itu. Dengan pongahnya, laki-laki itu tegak menginjak kepala naga yang

dikeratnya. Dan kepala naga itu adalah kepala ayahnya.

 

“Dengarlah wahai Hastina, lembah Selapraba ini adalah milik Pandu sang penakluk. Hai..

kaum naga, rajamu adalah Pandudewanata. Jika kalian ingin tetap hidup di muka

bumi, takluklah kepadaku..”

 

Sorak sorai kembali terdengar. Kemenangan berkibar di pihak Hastinapura.

 

***

 

Setelah beristirahat beberapa saat, dan mengurus jenazah prajurit yang tewas di

pertempuran itu, Pandu melanjutkan perjalanan ke Mandura. Beberapa orang

prajurit baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka menancapkan sebuah perisai

berlambang Hastinapura di sebuah tempat yang bisa dilihat manusia. Itu adalah

tanda sementara, bahwa wilayah itu, kini, menjadi milik Hastinapura.

 

Radea masih terdiam. Pikirannya masih diliputi kekaguman terhadap keperkasaan

rajanya. Baru kali ini, dia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa

raja muda Pandudewanata memang manusia pilihan. Kepongahan dan kekerasannya,

rasanya memang bukan sebuah omongkosong.

 

Demikian juga dengan Antisura. Dia memang pernah mengikuti Pandu dalam pertempuran

melawan Prabu Nagapaya. Tetapi, ketika itu, Pandu tidak sendirian. Pasukan

Hastina mendapat dukungan banyak pihak, sehingga kemenangannya kali itu, adalah

hal yang biasa saja. Namun, yang satu ini, memang istimewa. Sebagaimana halnya

Radea, Antisura pun nyaris tak percaya dengan matanya sendiri. Kecepatan dan

ketangkasan, juga keberanian Pandu, sungguh di luar perhitungannya.

 

Kereta yang seharusnya membawa Pandu, kosong. Pandu minta dipindahkan ke tenda

punggung, pada salah satu gajah, dia ingin tidur dalam perjalanan itu. Semua

orang maklum. Semua orang bertambah kagum.

 

Perjalanan panjang di siang terik itu, hanya diselimuti keheningan. Kelelahan luar biasa

mendera setiap tubuh manusia Hastina itu. Angin panas membubung, kadang

berpilin, menyentakkan rumput, debu dan daun-daun kering.

***

 

Ketika Pandu meraih anaknya, dan menimang-nimangnya, Kunti melihat sosok Narayana

berdiri di dekat pintu.

 

“Hei.. kaukah itu, Narayana? Kemarilah, sayangku.. peluk bibimu..”

 

Narayana menghambur dan memeluk Kunti.

 

“Kau,kesatria kecilku.. sudah melakukan perjalanan yang jauh di usiamu yang masih

muda.”

 

“Aku rindu tembang-tembangmu, bibi..”

 

Kunti menghapus airmata harunya.

 

“Dengan siapa kau kemari?”

 

“Sendiri. Aku duduk di punggung gajah, ditemani paman..”

 

“Bagaimana si Sembadra..”

 

“Si Kura-kura?”

 

Kunti tergelak, “Ya..si kura-kura kecil yang jelita.. ah, sudah bisa apa dia

sekarang..”

 

“Berteriak..”

 

Kunti, Pandu dan akhirnya Narayana, tertawa menikmati kebahagiaan hari itu.

 

***

 

Karna menatap anak laki-laki berkulit hitam manis itu lekat-lekat. Anak itu bersama Radea.

 

“Karna, berilah salam pada pangeran Narayana.. dia adalah kemenakan baginda.”

 

Karna, untuk sesaat masih terpaku, namun segera menangkupkan telapak

tangannya—sebagaimana diajarkan Radea untuk menghormati kalangan istana.

 

Demikian pula Narayana. Tatapannya lurus ke sepasang bola mata Karna. Ada kekuatan aneh

yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan.

 

Hening mengalir, menghentikan angin yang terperangah. Udara terdiam, seperti ingin

mengatakan sesuatu.

 

“Kau siapa?” ucap Narayana tiba-tiba.

 

“Hamba, Karna.. putra Radea..”

 

“Siapakah engkau, Karna?”

 

Karna terdiam. Radea pun tercekat. Ada kilasan aneh di pertanyaan Narayana. Namun,

Radea hanya mencoba menghibur diri dengan menyalahkan sepasang telinganya yang

mulai menua.

 

“Karna, ajaklah pangeran Narayana bermain.. Jangan jauh-jauh.”

 

Karna seperti disentakkan sesuatu, segera berlari mengambil bola kulit kuda.

 

“Aku ingin tahu, apakah seorang pangeran bisa menendang bola..” kemudian menendang

bola ke tengah tanah terbuka. Karna meledek dengan tertawa-tawa.

 

“Bola adalah permainanku, Karna..”jawab Narayana berlari menyusul Karna yang

mendahului mempermainkan bola dengan kakinya.

 

***

 

Radea dan istrinya hanya mengamati kedua anak kecil itu bermain bola. Berlarian

berebut, berteriak, menendang, tertawa, berkejaran lagi.

 

“Mengapa dia bertanya demikian?” bisik Nyai Radea mengulangi pertanyaan Narayana pada

Karna.

 

“Entahlah..Yang aku dengar dari pembicaraan orang-orang Mandura, putra Basudewa yang satu ini

memang agak istimewa.”

 

Nyai Radea terdiam sesaat. “Mungkinkah dia mengetahui siapa sesungguhnya Karna?”

 

“Nyai, jangan berpikiran macam-macam.”

 

“Tetapi, mana mungkin seseorang yang baru kenal, bertutur seperti itu?”

 

Radea diam. Matanya masih saja menyaksikan kegembiraan kedua anak kecil itu berebut

bola. “Kata orang-orang Mandura, pangeran Narayana memiliki daya pandang ke

masa lalu dan masa depan seseorang. Itu sebabnya, kadang-kadang dia bersikap,

atau berkata aneh di telinga kita.”

 

“Itulah, mungkin saja dia sudah bisa membaca, siapa Karna di masa lalunya..”

 

“Nyai..anak itu masih terlalu hijau untuk menerima kenyataan. Akan tiba masanya kita

menceritakan siapa dia sesungguhnya; meskipun aku sendiri tak yakin, apakah

akan membawa kebaikan baginya. Aku kadang berpikir, biarlah kisah hidupnya

kubawa mati saja. Mungkin akan membuatnya berbahagia.”

 

“Tetapi, membawa kebohongan adalah beban. Apakah kita sanggup membawanya sampai ajal

kita tiba?”

 

“Entahlah. Aku sangat menyayanginya. Kadang terlintas di benakku, aku akan melakukan

apapun agar dia bahagia. Apapun.”

 

“Berhati-hatilah bicara, suamiku. Di dusun ini, begitu banyak mata yang menyaksikan, bahwa aku

tak pernah hamil..”

 

***

Ebook “Serat Pustakaraja Purwa” jilid 9 kahimpun dening Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro.


Ebook WAYANG MADYA, buku WAYANG MADYA, naskah ketikan WAYANG MADYA, Suryosaputro, Tristuti Rahmadi Suryosaputro, Suryasaputra, Serat Pustakaraja Purwa, Aji Pamasa Rabi Putri Banyuwangi, Patine Swancaya, Lahire Citrasena, Keleme Kedhiri, Babad Pengging, Umbulsari, Rabine Citrasena, Sindurapati, Rabine Welakusuma, Lahire Poncodriyo, Rabine Poncodriyo, Bayi Anglingdriya Nangis, Lahire Ditya Gupala, Rabine Anglingdriya, Lahir Dewi Rarasati, Bandung, Lahire Sawelacala, Bedhahe Pengging, Jaka Linglung, Lahire Kandhuyu, Patine Sawelacala, Patine Daneswara.  

 

Data naskah ketikan jilid 09 : 

Kahimpun dening Ki Suryosaputro ing Surakarta  ; “ Serat Pustakaraja Purwa “ jilid 9 ; Isi 22 lampahan, wiwit saking AJI PAMASA RABI PUTRI BANYUWANGI ngantos dumugi PEJAHIPUN DANESWARA  ;  wiwit dinten Kemis Kliwon tanggal 23 Juli 1983 ; naskah ketikan mesin ketik manual format HVS Folio ; tidak diterbitkan ; 51 halaman ; bahasa Jawa.

 

Merujuk ke abstrak tesis S2 Purbo Asmoro, disebutkan bahwa dalam jilid 9 ini (dan juga jilid 8 sebelumnya) dihimpun cerita-cerita WAYANG MADYA.

 

Ebook naskah ketikan cerita wayang madya ini ( dalam 1 file saja ) bisa diunduh gratis di server file sharing dengan alamat URL :

http://www.4shared.com/document/c8NY9Lkt/Srt_Pustakaraja_Prw_09_Suryosa.html

 

 

Daftar isi jilid 09 :

 

 

 

Catatan :

(1)

Menurut Ki Tristuti Rahmadi Suryosaputro – dalam wawancara oleh Ki Purbo Asmoro – bahwa Serat Pustakaraja Purwa yang dihimpunnya ini adalah berdasar cerita yang dipahami dalang-dalang daerah Ngasinan, Klaten.

(2)

Foto copy naskah ketikan ini diusahakan oleh mas Giri Neno seorang pecinta wayang kulit purwa Jawa yang bermukim di Leuwinanggung, (Depok Timur), Cibubur, Jakarta. Kami mengucapkan terima kasih kepada mas Neno Giri yang memungkinkan konservasi ini.

Cuplikan Kisah “Karna” (5) – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” (5)

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 11:34

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291179086835

 

“Ayah.. mau kemana?”

 

Radea yang saat itu tengah menerima buntalan perbekalan dari istrinya, terpaksa duduk

di pembaringan Karna. Anak kecil itu terjaga dari lelapnya.

 

Dibelainya kepala Karna, lalu berkata, “.. malam ini, ayah harus ke istana. Sebelum fajar,

baginda akan ke Mandura..”

 

“Mengapa?”

 

“Mandura mendapat serangan musuh.”

 

“Musuh?”

 

“Ya. Kaum raksasa..”

 

Ucapan Radea tentang raksasa, terasa begitu berat di telinga Karna. Entah mengapa,

setiap kali ayahnya mengucapkan ‘raksasa’ yang terbayang di mata Karna adalah

wajah Sarpa yang tolol namun baik hati itu.

 

“Ayah akan berperang melawan raksasa?”

 

“Jika harus demikian, itulah tugas ayah. Sudah, kembalilah tidur, hari masih larut

malam..”

 

“Ayah akan membunuh raksasa?”

 

“Ini perang anakku. Berdoalah, agar ayah bisa kembali dengan selamat.”

 

“Kepada siapa aku harus berdoa?”

 

Radea terdiam. Dia paham betul bahwa Karna kecewa dengan perlakuan kaum pemuja

purnama yang mengucilkan mereka sekeluarga.

 

“Paling tidak, .. rindukanlah ayah, itu akan membuat ayah bertambah hebat..” ucapnya

sambil membelai kepala Karna.

 

Radea berangkat, meninggalkan Karna yang masih diselimuti pertanyaan.

 

Dari dalam biliknya Karna sempat mendengar dua orang ponggawa berkuda bercakap-cakap

sebentar dengan ayahnya, lalu derap ladam-ladam kuda bergerak dan menjauh.

 

Malam melarut, namun sepasang mata Karna tak mau terpejam. Kata-kata “perang melawan

raksasa”,  membuatnya gelisah. Di benaknya terbayang beratus-ratus mayat raksasa, yang jatuh bertumbangan. Dan

wajah mereka, semuanya adalah wajah Sarpa.

 

Mengapa Sarpa-Sarpa itu harus dimusuhi dan dibunuh? Apa salah mereka? Ah, semoga

saja..Tak mungkin dewi bulan akan melindungi kaum raksasa. Tidak.

 

Mungkinkah matahari akan melindunginya? Mengapa tidak, sebaiknya aku memohon matahari

melindungi kaum raksasa. Matahari lebih perkasa. Matahari lebih dahsyat. Matahari

pasti mau memberi pertolongan kepada kaum raksasa.

 

Akhirnya, setelah merasa mendapat jawaban atas kegelisahannya, Karna terlelap di samping

ibunya.

 

***

 

Pandu tercenung, pertimbangannya meminta bantuan orang Pringgandani tak salah.

 

Matahari telah naik nyaris tepat di ubun-ubun.

 

“Radea, bulan apakah ini?”

 

“Saat ini adalah bulan Asuji tuanku. Kekeringan di mana-mana.”

 

“Hmm.. apakah kita mempunyai air minum cukup?”

 

“Tentu tuanku.”

 

“Pantas mereka melakukan serangan. Menurut perhitungan mereka, kita akan kehabisan

tenaga karena kehausan. Siang hari panas akan membakar, sementara malam, dingin

akan melumpuhkan persendian kita. Aku bisa mengerti mengapa Mandura terdesak.

Lawan telah memperhitungkan benar.

 

Berapa lama lagi kita akan sampai di Mandura?”

 

“Jika kita melintasi Selapraba, memang, perjalan akan lebih cepat sehari, tuanku.”

 

“Mengapa kau agaknya tidak menyarankan kita melintasi Selapraba?”

 

“Lembah itu biasanya dihuni kaum Naga, tuanku..”

 

“Oo. Lalu, apa masalahnya?”

 

“Kita tak ingin menambah masalah dengan mengusik ketenangan mereka, tuanku.”

 

“Tetapi, keadaan Mandura bergantung pada kecepatan kita.”

 

Radea terdiam.

 

Pandu melambaikan tangannya, seorang pembesar berkuda mendekat. “Perintahkan pasukan

mendirikan tenda di sini, sekarang. Kita beristirahat. Kita akan berangkat

setelah matahari terbenam.”

 

Ponggawa berkuda itu kemudian membunyikan terompet. Pasukan berhenti dan kesibukan pun

terjadi. Dalam beberapa saat tenda-tenda berdiri. Buah semangka merah, dibelah.

Sekadar penghilang dahaga di terik matahari.

 

Sambil menikmati piala airnya, Pandu memerintahkan pimpinan perjalanan melaporkan apa yang

diketahuinya mengenai Selapraba. Radea, Wisaya dan adik-adiknya berkeliling

menyimak rencana.

 

“Selapraba, tuanku?” tanya laki-laki yang rambutnya sebagian besar telah beruban itu.

Dialah Antisura, yang telah menduduki jabatan penting itu sejak jaman Prabu

Kresnadipayana, ayah Pandu.

 

“Mengapa kau ragu, paman Antisura?”

 

Antisura menarik nafas dalam-dalam, dia harus pandai-pandai menyampaikan pendapat di

hadapan raja mudanya. “Maafkan tuanku. Bukankah tuanku menyadari bahwa kita tak

pernah mengusik wilayah para naga.”

 

“Aku paham, Antisura. Tetapi, Mandura dalam keadaan terdesak. Satu-satunya jalan

adalah melintasi lembah itu.”

 

“Hamba tidak yakin, tuanku.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kaum naga adalah makhluk yang terlalu tinggi hati. Mereka memang tak pernah

mendahului, namun jika didahului, biasanya mereka akan mengganas dan dendam

mereka berkepanjangan…”

 

“Kalau begitu, kita habisi yang mencoba menghalangi langkah kita,” ujar Pandu sambil

meneguk minumannya.

 

“Bukankah akan mengurangi jumlah kekuatan kita, tuanku?” ucap Radea hati-hati.

 

“Apakah kau pernah bertempur melawan naga, Radea?”

 

Radea tertunduk. Pertempuran dahsyat antara rajanya melawan Nagapaya, berkelebat.

 

“Jika terpaksa, akan kugunakan Hrudedali..” ucap Pandu dengan wajah merah padam.

 

“Arahkan perjalanan kita malam ini melintasi Selapraba,” katanya menutup pertemuan siang

terik itu. “O, sebelum lupa, persiapkan tentara agar menggunakan ‘langkah

rumput’..” tambahnya sebelum semuanya bergerak dari tempatnya.

 

Mereka pun undur dengan kecamuk pikiran masing-masing.

 

“Langkah rumput? ..kita tak mempersiapkan perlengkapan untuk itu.” Bisik Wisaya.

 

“Gunakan perisai sebagai pelindung kepala, dan pasukan harus berpencar tanpa harus

kehilangan jejak. Yang kita hadapi adalah para naga.” Antisura mendengus geram.

 

“Bagaimana dengan gajah-gajah itu?”

 

“Sebaiknya mereka merapat ke dinding-dinding batu, atau jangan berada di dekat lembah.

Kita akan hancur sebelum mencapai Mandura, jika ini gagal. Siapkan juga

pelanting-pelanting tombak..”

 

Maka menjelang senja itu, para kepala pasukan mengatur anak buahnya dengan

tergesa-gesa. Para prajurit, meksipun patuh akan perintah atasannya, dalam hati

sempat bertanya-tanya. Bahkan beberapa orang sempat saling bisik, bahwa

lokasi pertempuran berpindah tempat. Tak ada kejelasan. Yang ada hanyalah

kecemasan.

 

Pandu tegak menyapu pandang. Jauh di sana, tampak lembah Selapraba. Bentangan lembah

terbuka berbatu-batu besar. Sebuah bentangan pembantaian yang sangat

mengerikan, jika saja orang mengetahui makhluk apa yang akan mereka hadapi di

sana.

 

Dari gua-gua batu, akan bermunculan naga-naga raksasa yang bukan saja ganas, tetapi

juga kuat. Jumlah mereka pun tak sedikit. Dan yang lebih mengerikan lagi,

makhluk-makhluk ini mampu melayang di udara, meskipun mereka tak memiliki

sayap. Mereka akan meluncur, menukik, melesat, sebagaimana mereka berada di

dalam air. Ditambah dengan semburan-semburan api dan bisa dari mulut-mulut

mereka, lengkaplah kehebatan kaum naga ini.

 

Selama ratusan tahun, wilayah ini tak tertundukkan manusia. Tak ada seorang raja pun

yang mau berurusan dengan kaum naga. Kini, Pandu tak bisa lagi menelan

ucapannya. Dengan sedikit ragu, dia pun melambaikan tangan. Aba-aba itu

diteruskan oleh para panglimanya. Maka pasukan Hastina pun melakukan

 

perjalanannya perlahan-lahan. Langkah mereka menuju matahari terbenam. Hawa

dingin mulai menghembus. Awan jingga mengelam.

Cuplikan Kisah “Karna” (4) – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” (4)

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 11:11

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291158456835

 

Sejak peristiwa upacara purnama raya itu, Karna lebih banyak diam. Keriangannya

seakan lenyap entah kemana. Begitu banyak pertanyaan untuk jiwanya yang masih

begitu muda. Dia lebih suka menyendiri, dan tempat paling menentramkan baginya

adalah Bukit Socamala.

 

Seperti siang itu, ketika panas terik menghanguskan bumi Hastinapura, Karna berada di

kaki Socamala. Dan tentu saja, Sarpa selalu berada di dekatnya. Sarpa dengan

tubuh besarnya itu bersandar pada pohon trembesi, dan membiarkan kedua lututnya

dijadikan tempat duduk bagi Karna.

 

Biasanya, Karna akan meminta Sarpa untuk menggendongnya dan berjalan-jalan kemana dia

suka. Namun kali ini, Sarpa hanya tercenung, melihat Karna kecil hanya merenung

dan diam. Beberapa kali Sarpa menawarkan untuk bermain atau jalan-jalan, namun

Karna hanya menggeleng dan diam kembali.

 

“Harna..haku hau… horang-horang henci Harpa…” ucap Sarpa seperti sudah memahami

persoalan yang dihadapi sahabatnya. Namun, karena Karna hanya diam, dia pun

mencoba mendongengkan sesuatu kepada sahabatnya.

 

Dulu kala, begitu Sarpa mengawali ceritanya, ada dua kakak beradik. Yang satu

berwajah tampan dan yang satu lagi berwajah raksasa—kerdil pula tubuhnya.

Mereka, menurut cerita tutur para moyang raksasa, bernama Sumantri dan

Sokrasana.

 

Sumantri, sang kakak yang berwajah tampan, mengabdi pada raja Maespati. Karena perjuangan

dan kegigihannya, akhirnya Sumantri mendapat kepercayaan raja. Dia pun diangkat

menjadi maha menteri. Namanya harum, siapapun menganggapnya keturunan dewa.

Akan tetapi, secara tiba-tiba sang adik, yang buruk rupa pun menyusul sang

kakak. Karena pertimbangan aneh, malu memiliki adik berwajah raksasa, maka

Sumantri tega membunuh adiknya sendiri.

 

Karna terdiam mendengar penuturan Sarpa. Tetapi, setelah menarik nafas dalam-dalam,

dia pun bicara: “Tetapi, itu kisah kuno, Sarpa.

 

Aku pun pernah mendengar kisah kepahlawanan Sumantri. Kata ayahku, itu adalah kisah

leluhur, yang telah ada bahkan jauh sebelum Sri Rama dari Ayodya, yang terkenal

itu. Aku sudah tahu itu…”

 

Sarpa terdiam. Kemudian dia menggumam dan Karna mengerti benar setiap kata yang

digumamkannya. Sarpa mengeluh bahwa sejak jaman nenek moyangnya, bangsa raksasa

selalu dimusuhi manusia. Hanya karena kaum raksasa bertaring, dan menurut mata

manusia lebih mendekati binatang buas, maka manusia berhak memusuhi, bahkan

membantai raksasa.

 

“Aku tidak akan memusuhimu, Sarpa. Kau sahabatku. Jika saja waktu itu, kau tidak

menyerangku, mungkin aku pun tak membakar rambutmu..” ujar Karna dengan suara

tertahan.

 

Sarpa mengusap-usap kepalanya, “Humbuh..”

 

Karna tertawa, “Tentu saja rambutmu tumbuh, karena yang terbakar hanya bagian

atasnya..”

 

Sarpa tersenyum. Dua gigi depannya yang tanggal, membuat mulutnya jadi tampak lucu di

mata Karna.

 

Setelah terdiam beberapa saat, Sarpa melanjutkan bukti-bukti kebuasan manusia atas

bangsa raksasa. Dia bercerita tentang kisah Narasoma.

 

“Siapa dia?”

 

“Harasoma..hakak Hadim..”

 

“Narasoma kakak dewi Madrim? Dewi Madrim istri raja?”

 

Sarpa menganggukkan kepalanya. Dikatakannya bahwa Narasoma mempunyai istri cantik

bernama dewi Pujawati. Dewi Pujawati adalah anak seorang pertapa bernama

Bagaspati—yang berwujud raksasa.

 

Karena malu bermertuakan seorang raksasa, sekalipun seorang pertapa, Narasoma tega

membunuh mertuanya sendiri.

 

“Membunuh ayah dari istrinya?”

 

“Ha..”

 

Karna terdiam kembali. Gambaran-gambaran kekejaman manusia atas bangsa raksasa kian

jelas di benaknya.

 

Angin siang membawa hawa panas naik ke udara. Langit biru bersih. Awan-awan hanya

terserak di tepi-tepi cakrawala. Karna turun dari lutut Sarpa, dan berlari ke

tengah lahan terbuka.

 

“Hei, Harna.. hau hana?”

 

“Aku ingin memanggil dewi bulan, beranikah dia muncul di siang hari..”

 

“Ha..ha…ha… Hulan hanya halam..”

 

“Aku tahu. Bulan hanya muncul di malam hari.. Tapi beranikah dia muncul di siang

hari?”

 

“Hau hapa?”

 

“Aku benci bulan. Keindahannya ternyata harus dibayar dengan kekejaman..”

 

“Ha..ha… Harna hanak hecil… haha..haha..haaa..”

 

Karna tegak di tengah terik matahari. Uap panas meruap dari bumi. Sepasang matanya

menatap langit, dan rajaman cahaya terasa menyakitkan. Oleh rasa jengkel dan

kesalnya, Karna terus menatap bola matahari yang berpendar-pendar memancarkan

cahayanya. Sebetulnya, dia mencari-cari bulan, yang seringkali juga menampakkan

diri di siang hari. Namun, saat itu, yang terpandang di matanya adalah

matahari. Entah mengapa, Karna mengalihkan kekesalannya pada matahari.

 

“Harnaaa!”

 

Peluh membasahi wajah dan tubuhnya. Bola matanya perih mengering.

 

“Harnaa.. hei, hoblok!”

 

Kepalanya tiba-tiba berkunang-kunang.

 

“Harnaa…”

 

Karna rebah. Tubuhnya lunglai tersengat matahari. Sarpa tergopoh-gopoh menolongnya.

Digendongnya tubuh Karna, dan dibawanya berlari ke sebuah telaga di kaki

Socamala. Di situ tubuh Karna diceburkan ke dalam dinginnya air telaga.

Seketika Karna siuman, dan merasakan tubuhnya segar kembali.

 

“Sarpa, kau menolongku..”

 

“Holol.. “

 

“Mungkin aku memang tolol. Tapi kurasa, matahari memang lebih hebat daripada bulan.

Wajah bulan bisa kupandangi. Tapi matahari.. dia lebih hebat. Jauh lebih kuat

daripada bulan..”

 

“Holol.. hodoh…” ucap Sarpa sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

 

Karna diam. Tubuhnya terasa lelah.

 

“Halau hau hiat hatahari..” ucap Sarpa dengan nada iba. Lalu dia mengatakan bahwa

sebentar lagi sebaiknya mendaki ke puncak Socamala. Matahari senja akan bisa

disaksikan dengan sepuas-puasnya.

 

Mata Karna berbinar kembali. “Aku akan bisa melihat wajah matahari?”

 

Sarpa tertawa geli, “hanak hodoh.. hasian..”

Cuplikan Kisah “Karna” (3) – Yanusa Nugroho


Cuplikan kisah “Karna” (3) – Yanusa Nugroho

oleh Yanusa Nugroho pada 13 September 2011 jam 9:31

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150288839281835

 

Suatu kali, di malam purnama raya, Karna merasakan ada yang aneh di wajah kedua

orangtuanya. Biasanya, pada malam-malam seperti itu, sebelumnya, keduanya

begitu gembira. Sebagaimana para pemuja dewi bulan lainnya, malam purnama raya

adalah puncak upacara penyembahan, dan Radea sekeluarga adalah manusia yang

taat menjalani keyakinannya.

 

Akan tetapi, malam itu, suami istri itu tampak murung. Bahkan mereka tak menunjukkan

tanda-tanda akan mengikuti upacara persembahan di candi Badra. Palung dan

nampan kayu, yang biasanya diisi berbagai bunga dan buah-buahan, tampak kosong.

Karna mengamati semuanya dengan tatapan sedih dan bertanya-tanya.

 

Dilihatnya, kedua orangtuanya duduk diam memandangi cahaya pelita minyak kelapa.

 

“Ayah, ibu… mengapa kita tidak pergi?”

 

Radea mengangkat wajah dan memandang Karna tanpa kata-kata.

 

“Kami sedang tidak enak badan, Karna..” jawab Nyai Radea dengan suara parau.

 

“Ibu sakit? Ayah juga?”

 

Ibunya mengangguk.

Karna terdiam. Hatinya yang jernih menangkap bahwa ucapan itu hanya untuk menutupi

sesuatu. Dia menduga, bahwa peristiwa bulan lalu itulah yang menyebabkan kedua

orangtuanya tak melakukan upacara kali ini.

 

“Aku berjanji.. tidak akan seperti itu lagi..” ucapnya dengan suara rendah.

 

Nyai Radea memeluknya. “Jiwamu begitu bening, rajaku. Kami bisa memahami.. tetapi,

mereka menghendaki semuanya sempurna.”

 

“Kami tak boleh menghadiri upacara, sampai usiamu cukup layak untuk disertakan…”

sambung Radea dengan suara geram dan berat.

 

“Kurasa, dewi bulan tak akan keberatan dengan kekagumanku..”

 

“Tentu,rajaku, tentu. Ibu sangat mengerti.. tetapi, mereka adalah orang-orang yang

sangat taat, anakku..”

 

“Mereka takut, bukan taat.”

 

“Karna, bicaramu seperti orang dewasa.” gumam Radea menahan gejolak hatinya.

 

Karna terdiam. Tampak ayahnya begitu sedih.

 

“Ayah, katakan pada mereka, aku tidak akan pernah ke candi Badra lagi..”

 

“Karna,itu tidak mungkin. Kau pikir semudah itu? Ah, kau masih terlalu kecil, Karna.

kau masih bocah. Memang bicaramu kadang melebihi orang dewasa, tapi.. kau masih

kanak-kanak.”

 

“Mengapa? Aku, kan, memang anak kecil..”

 

“Setiappenyembah purnama, dituntut untuk bisa mengajarkan kepada keluarganya bagaimana

menyempurnakan hidupnya. Ah, mengapa aku bicara seperti ini kepadamu? Kau

bahkan belum bisa membedakan mana kenyataan dan mana mimpi indahmu..”

 

“Dari setiap upacara yang dilakukan, hidup kita dinilai. Jika kita memiliki nilai

kebaikan yang banyak, maka hidup kita akan lebih baik.. “ sambung nyai Radea

dengan suara yang hampir-hampir sesuram ruangan kecil itu.

 

“Bukan hanya itu.. para penyembah dewi bulan dilarang bersahabat dengan raksasa..”

 ucapan Radea terasa menggelegar di telinga Karna.

 

“Mengapa?”

 

“Dahulu kala, dewi bulan pernah dimakan raksasa. Dan itu diperingati turun temurun. Kau

lihat jika ada gerhana bulan, seluruh penduduk di sini segera membunyikan

apapun, agar si raksasa segera melepaskan sang dewi. Dan kau sendiri sudah

tahu, mengapa itu kita lakukan..”

 

“Tapi, Sarpa..baik kepadaku. Dia pun mengagumi keindahan purnama raya..”

 

“Pokoknya, penyembah bulan dilarang bersahabat dengan raksasa. Kau dengar ucapanku?”

 

Karna terdiam. Dalam diamnya, hatinya luka; bukan karena nada ucapan ayahnya,

melainkan makna yang tiba-tiba disemburkan ke nuraninya yang masih hijau itu.

Bagaimana mungkin seseorang yang setia kepada kelembutan dan keindahan,

sebagaimana yang dituturkan mengenai sifat-sifat purnama, bisa menanamkan rasa

permusuhan abadi seperti itu? Dalam diamnya, Karna merasa kecewa. Namun,

kepada siapa kekecewaannya ditumpahkan, dia tak tahu.

 

“Apakah ayah juga tidak menyukai Sarpa?”

 

“Ayah hanya khawatir dia melukaimu.”

 

“Nyatanya, tidak, kan?”

 

“Raksasa bersifat licik. Mereka pemakan manusia.”

 

“Tapi raja kita bersahabat dengan para raksasa..”

 

“Karna, segeralah kau dewasa, maka kau akan segera mengerti semuanya..”

 

“Tidak mau!”

 

“Rajaku, jangan begitu..” suara lembut itu mencoba meredam.

 

“Aku tidak mau!”

 

“Jangan sakiti perasaan ibumu, Karna..” bisik Nyai Radea lembut.

 

Karna terdiam beku, air matanya meleleh.

Cuplikan Kisah “Karna” (2) – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” (2)

oleh Yanusa Nugroho pada 13 September 2011 jam 9:04

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150288812441835

 

“Hari ini, kita akan ke istana?”

 

“Ya.”

 

“Ada pesta?”

 

“Ya.”Jawab Nyai Radea sambil tetap sibuk mendandani Karna kecil dengan pakaian yang

layak untuk acara istana. Dia sendiri telah siap.

 

“Mengapa?”

 

“Apanya, yang mengapa?”

 

“Mengapa kita diundang?”

 

“Ini bukan undangan. Ini perintah.”

 

“Mengapa?”

 

NyaiRadea menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mengambil tepung bedak dan mulai

membedaki wajah Karna.

 

“Ibu, mengapa kita diperintah?”

 

“Karena kita adalah rakyat Hastina.”

 

“Siapa yang memerintah?”

 

“Tentusaja paduka raja..” jemari Nyai Radea merapikan rambut Karna, yang terlalu

kecil untuk diikat di atas kepalanya. Dia tak ingin rambut anaknya kusut.

 

“Mengapa?”

 

Nyai Radea menatap sepasang mata Karna, lalu:”Karena dia raja, anakku.”

 

“Raja bisa memerintah?”

 

“Tentu saja.”

 

“Kalau begitu, aku juga raja..”

 

Nyai Radea tersenyum. “Oh, tentu. Kau adalah raja di hatiku.”

 

“Bukan itu. Aku kemarin memerintah Sarpa..”

 

“Sarpa?”

 

“Ya. Sarpa..”

 

“Si raksasa itu?”

 

“Iyaa.”

 

“Kau bisa memerintah Sarpa si raksasa?”

 

“Ya. Dia selalu baik padaku.”

 

Nyai Radea sekali lagi menarik nafas. Masih ditatapnya mata bening Karna. Setelah

beberapa saat terdiam dan mencoba menata kilasan aneh di benaknya, Nyai Radea

berkata, “..kau perintah apa si raksasa itu?”

 

“Menggendongku.”

 

Nyai Radea tertawa geli. Dia bayangkan Si Sarpa, raksasa yang tinggal di sebelah

selatan Bukit Socamala, yang selama ini tak begitu dianggap masyarakat sekitar

lantaran aneh, menggendong Karna kecil. Umumnya anak-anak takut melihat sosok

besar Sarpa. Tetapi Karna bisa begitu mudah mengajaknya bermain-main.

 

“Menggendongmu?”

 

Karna kecil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Kedua bola matanya

berbinar-binar.

 

“Oh,kau memang raja di setiap hati manusia.” Lalu dipeluknya Karna. “Tapi,

sebaiknya hati-hati… betapapun, raksasa adalah pemakan manusia.” Bisiknya

lembut.

 

“Dia tak akan berani.”

 

Nayi Radea melepas pelukannya. Sekali lagi ditatapnya wajah bercahaya itu. “Tentu

saja,..” sambungnya kemudian dengan senyum bangga, “.. karena kau adalah

seorang raja..”

 

“Tidak. Bukan begitu.”

 

“Maksudmu?”

 

“Dulu, ketika dia mau menangkapku, siang hari ketika aku bermain dengan kawan-kawanku

di kaki Socamala, dia kukalahkan.”

 

Nyai Radea kembali terhenyak. “Kau mengalahkan raksasa?”

 

“Ya.”

 

“Kau memukulnya?”

 

“Tak perlu..”

 

Nyai Radea tak bisa menahan geli. “Ya, ya.. ibu percaya, kau raja yang sakti.”

 

“Aku hanya berdiri. Begini..” Karna merentangkan kaki dan berkacak pinggang dengan

bangga, di depan Nyai Radea.

 

“Lalu?”

 

“Ketika Sarpa mau menangkapku, tiba-tiba ada cahaya dari dadaku.. wuuss.. dan Sarpa

meraung. Rambutnya terbakar..”

 

Nyai Radea tertawa lebar. Dia begitu bahagia bersama Karna, pagi itu.

 

“Cahaya memancar dari dadamu? Hebat.. Hanya dewa-dewa yang bisa melakukan hal itu.

Manusia tak bisa.”

 

“Kalau begitu, aku dewa?”

 

“Ya, kau memang dewa di hatiku.” Ucap Nyai Radea sambil menghapus setitik airmata

bahagianya.

 

“Tapi..”

 

“Sudah, mari kita berangkat, ayahmu pasti sudah menunggu kita..”

 

***

 

Ketiganya kemudian membaur bersama rakyat Hastina lainnya. Mereka menuju lapangan besar

di depan istana. Mereka menjadi saksi sejarah Hastina.

 

Ribuan manusia melaut memenuhi lapangan. Radea, karena dia dianggap memiliki kedudukan

istimewa—bahkan oleh kawan-kawannya disebut sebagai satu-satunya manusia

Hastina yang berani memunggungi raja—diberi tempat di dekat panggung utama.

Lautan manusia itu semuanya duduk bersimpuh.

 

“Ayah,mengapa kita di sini?” bisik Karna, karena sebetulnya dia ingin berada bersama

kawan-kawan sedesanya, yang berada jauh di tepi lapangan besar itu.

 

“Karena ayah adalah orang kepercayaan raja.”

 

“Mengapa?”

 

“Ayahbukan saja mengendalikan kereta, tetapi juga harus bisa melindungi raja dari

serangan lawannya..”

 

“Bagaimana bisa?”

 

“Bisa,anakku. Sais kereta raja adalah kedudukan penting, setelah pasukan pelindung

raja. Kau tahu paman Wisaya, dan ketujuh paman-pamanmu yang lainnya itu? Mereka

adalah pelindung raja, yang selalu berada di sekitar raja, siang-malam. Ayahmu,

adalah orang kesembilan, yang langsung berada di kereta raja.”

 

“Jadi, ayah orang sakti?”

 

“Ssst.. jangan keras-keras suaramu..”

 

“Haha.. ayah orang sakti, seperti dewa..”

 

“Sssst..”

 

Gong dipukul, dan dari dalam istana rombongan pun bermunculan. Prabu Pandu dengan

mahkota kebesarannya yang gemerlap oleh intan berlian, berjalan diapit dua

orang istrinya. Dewi Madrim, yang tampak terlalu muda untuk menjadi seorang

istri, masih tampak kekanak-kanakan, berjalan kaku. Beberapa kali tampak dia

memainkan kuku jemari tangannya sendiri. Kunti, yang bersikap dewasa, selalu

membimbingnya, layaknya seorang kakak terhadap adiknya.

 

Di belakang Pandu, tampak Drestarastra dituntun Widura, berdampingan dengan

istrinya, Dewi Gendari. Ada yang aneh, paling tidak di mata Karna, bahwa Dewi

Gendari mengenakan kain penutup matanya.

 

“Ayah, mengapa dewi itu menutupi matanya dengan kain?” bisiknya tiba-tiba.

 

“Ssst.. jangan tanya-tanya..”

 

“Tapi, mengapa?”

 

“Karena suaminya buta..”

 

“Tapi, mengapa?”

 

“Ssst.. ayah tidak tahu. Dan apa urusanmu?”

 

Karna terdiam.

 

Seorang pemuda tegap, dengan kumis tipis, dan rambut panjang lebat yang tergelung besar

di kepalanya, segera menuju tempat yang disediakan. Dialah Patih Gandamana,

orang paling disegani dan dihormati kalangan istana. Dialah salah satu dari

sedikit tangan kanan raja. Gandamana sebetulnya adalah seorang pangeran, yang

kelak akan menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Pancala. Namun, sang

ayah, Prabu Gandabayu, yang bersahabat karib dengan Pandudewanata, ingin agar

anak laki-lakinya mendapatkan ilmu ketatanegaraan dari raja Hastina tersebut.

Maka, sejak belia, Gandamana diserahkan kepada Pandudewanata.

 

“Rakyat Hastina.. mari kita beri salam dan doa bagi para pengantin Hastinapura.”

 

Asap dupa menggulung-gulung, membubung. Kidung dan senandung, mengalun. Suara-suara

mengendap. Angin berbisik, tak ingin mengusik. Semua mata terpejam, mengikuti

kata-kata mantra yang mengalir.

 

Karna lurus menatap wajah Kunti.

 

Kunti yang tunduk, tiba-tiba mengangkat pandang, mencari sepasang mata yang

memanggilnya.

 

Pandangan mata mereka bertemu di satu kehampaan. Hanya kebisuan. Kata-kata, seperti

anjing hutan mengintip mangsa, hilir mudik di sekitar semak, sesekali mengintip dan menjaga jarak.

 

Matahari menyaksikan, matahari bersinar-sinar.

 

Siapakah engkau wajah malaikat? Matamu. Ramping hidungmu. Alis matamu. Caramu memandang.

Gerak dan bahasa tubuhmu, begitu kukenal.