Buku “Pranata Mangsa” terbitan Bentara Budaya bekerja sama dengan Kepustakaan Populer Gramedia, 2011.


Buku Pranata Mangsa, Bentara Budaya, Kepustakaan Populer Gramedia, Bentara Budaya Yogyakarta, Sindhunata, Dewi Sri, Sang Hyang Sadana, Sang Hyang Basuki, Dewi Sri Boyong.

 

Sebelum klik hyperlink dalam tulisan di bawah, harap sign in dulu ke akun Anda di Facebook, karena beberapa tautan tertuju ke halaman Facebook.

  

Tulisan ke 1 tentang buku “Pranata Mangsa” yang akan di posting ke blog rumpun Paguyuban Pecinta Wayang  (https://wayangpustaka02.wordpress.com)  dan yang nantinya tertaut ke purwa rupa Portal Wayang (dalam persiapan)

 

 

Buku “Pranata Mangsa” terbitan Bentara Budaya bekerja sama dengan Kepustakaan Populer Gramedia, 2011.

 


 


Data buku :

Sindhunata (penulis), Hermanu (penyusun), M Wuryani (penyunting) ;  PRANATA MANGSA ; Jakarta, Bentara Budaya ( tautan lain ) bekerja sama dengan Kepustakaan Populer Gramedia ; Oktober 2011 = cetakan 1 ;  80 halaman ; foto ; gambar wayang . Dengan catatan tambahan : Berdasarkan Katalog Pameran “ Ana Dina Ana Upa : Pranata Mangsa “ di Bentara Budaya Yogyakarta pada 15 ~ 25 Agustus 2009.

 

 

Makanan pokok sebagian besar bangsa Nusantara (termasuk suku Jawa) adalah beras yang diperoleh dari hasil panen pertanian padi di sawah. Oleh karenanya keberhasilan pertanian padi sangatlah diharapkan oleh para petani Nusantara. Di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Bali yang sangat mengakrabi seni budaya wayang ; ada suatu mitos kekuatan lebih / super yang mempengaruhi keberhasilan pertanian padi tersebut. Tersebutlah mitos Dewi Sri – seorang dewi pewayangan era / jaman para dewa – yang di personifikasi kan sebagai Dewi Padi. Para petani merasa  haruslah mengakrabi, mencintai, mengharapkan berkah nya. Banyak ritual upacara adat tradisional yang dilaksanakan sebagai penyongsongan kedatangan Dewi Sri ketika mulai bertanam dan juga upacara persembahan sebagai rasa sukur ketika panen berhasil.

 


Materi terkait :

Terbaca di bukuPranata Mangsa ini : Keberadaan Dewi Sri sering dikaitkan dengan Sang Hyang Sadana ; lihat juga ebook “Sedjarah Wayang Purwa “ karya R. Hardjowirogo terbitan Balai Pustaka.

 

Info file konservasi audio pagelaran wayang kulit lakon “Dewi Sri Boyong” oleh dalang Ki Manteb Soedharsana bisa dilihat dilihat di wayangprabu.com . File lain tentang dalang ini.
Situs resmi Ki Manteb Soedharsana bisa Anda kunjungi untuk mengetahui jadwal pentasnya.

 

Penulis buku Pranata Mangsa ini – Sindhunata seorang wartawan, penulis, pemikir falsafah & budaya Jawa – diawal buku menuliskan lirik suatu lagu tentang rasa pengharapan yang besar akan kedatangan Dewi Sri.

 

Catatan Admin : “ Ndilalah “ , pada masa yang bersamaan dengan penulisan buku ini seorang tokoh wanita Indonesia pindah tugas ke luar negeri padahal masyarakat mengharapkan ke beradaannya di Indonesia untuk ikut memimpin dan mengatur kehidupan masyarakat.  Jadi lirik ini bertafsir ganda. … Walahualam …

 

 

Sri, Isenana Ajangku …

 

Sri, kapan kowe bali
kowe lunga ora pamit aku
jarene ning pasar pamit tuku trasi
nganti saiki kowe ora bali.

Parine wis dakdeder wingi-wingi
mangsane wis lingsir ing ngasepi
anjrah kusumaning Sang Hyang Basuki
geneya parine durung gelem semi
Sri, kapan kowe bali.

…..

…..

Bumi ilang ijo royo-royone
Wulanjaranngirim wis ora sumorot tejane.
Mbok randha nggruguh sedih tangise
mung pari sawiji wae wis ora ana ing ajange.
Sri, kapan kowe bali.

Ndang baliya Sri, ndang baliya
tega tenan kowe minggat ninggalke aku.
Yen pancene Sri, kowe eling aku
ndang baliya, isenana maneh ajangku
ndang baliya, isenana maneh ajangku.

 

Ditulis di buku ini oleh Sindhunata.
Berdasarkan lagu “Sri Minggat” ciptaan Sonny Josz.
Pernah dipopulerkan pula oleh Sujiwo Tejo.

 

Sindhunata adalah penulis karya sastra cerita wayang “ Anak Bajang Menggiring Angin “ terbitan Gramedi Pustaka Utama Jakarta. Karya ini adalah suatu lakon wayang era Arjunasasrabahu, dengan tokoh sentral Sukrasana, adik Bambang Sumantri.

 

Catatan Admin :

Ajang = piring.
Ngajangi pakeliran = memberi tempat untuk pertunjukan wayang kulit.

Parine wis dakdeder = saya sudah menanam tunas padi ( menyemai ).
Ndeder =( jalan) menanjak.
Ndedel = melesat ke atas.

Mangsane = waktunya, musimnya.
Mangsane sardula = makanan (dengan konotasi hewan korban yang dimangsa) macan.

Lingsir = ngglewang, nisih (ora ana tengah bener) = bergeser.

Anjrah = sumebar wrata, mratah = tersebar merata.
Anjrah (ingkang) puspita rum (di suluk pedalangan Jawa) = semerbak harum bunga tersebar (luas) merata.
Kasiliring samirana mrik (di suluk pedalangan Jawa) = bau harumnya terbawa angin.
Samirana = angin
Mrik = ngambar gandane.
Ngambar kongas (di lirik tembang karawitan Jawa).
Ngambar = mambu wangi = bau harum.
Kongas = 1.sumerbak ambune, 2.misuwur banget.

Basuki = slamet, rahayu
Sang Hyang Basuki = dewa yang menebarkan keselamatan (pitoyo.com)

Wulanjar-angirim = nama salah satu bintang yang diamati petani untuk mengetahui pergantian iklim berkaitan dengan pranata mangsa. Wulanjarangirim berarti janda muda belum beranak mengirim makanan ke sawah.

Teja =sinar, aura
Tejane = sinarnya, auranya

 

Arti kata-kata bahasa Jawa yang ditulis di atas tersebut sebagian besar mengacu ke “ Kamus Basa Jawa “  susunan Tim Balai Bahasa Yogyakarta terbitan penerbit Kanisius Yogyakarta

 

  

Buku Pranata Mangsa ini – yang merupakan salah satu dari terbitan seri buku lawasan – berguna dibaca generasi muda untuk mengenali adat tradisi budaya leluhurnya. Sensus penduduk Indonesia terakhir menyimpulkan bahwa jumlah penduduk perkotaan hampir sama dengan jumlah pendudukan pedesaan. Artinya makin banyak orang pindah ke kota ; generasi muda banyak lahir di kota sehingga sudah tidak mengenal atau merasakan lagi atmosfer budaya atau tradisi agraris.

 

Tulisan bersumber dari buku terbitan lama ; seperti “Kumpulan Tjerita Rakjat Indonesia” diterbitkan oleh Urusan Adat-Istiadat dan Tjerita Rakjat Dep. P.D. dan K., Djawatan Kebudajaan pada tahun 1963 , “Dongeng Lelucon” oleh Marjana dan Mas Samoed Sastrawardaja dalam Pacitan I diterbitkan oleh J.B. Wolters-Groningen, Jakarta pada tahun 1953 , “Almanak Waspada”, terbitan Yayasan Penerbit Pesat, Pakuningratan, Yogyakarta tahun 1960. ( Almanak adalah buku tahunan yang berisi puspa ragam tulisan yang ditulis ringkas namun menarik. Bahkan, dalam almanak sering termuat juga daftar jam keberangkatan dan kedatangan kereta api di setasiun Tugu Yogyakarta. )

 

 

 

Bersambung ke tulisan ke 2 …..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: