Archive for January, 2014

“ RAMA’S CROWN. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “ ; dalang : Ki Purbo Asmoro ; transkripsi Inggris : Kathryn Emerson – 2013 – [ buku pedalangan jangkep berbahasa Ingrris ]


.

" RAMA'S CROWN. Texyts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. " , dalang : Ki Purbo Asmoro, texts in English : Kathryn Emerson , publisher : The Lontar Foundation Jakarta

” RAMA’S CROWN. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. ” , dalang : Ki Purbo Asmoro, texts in English : Kathryn Emerson , publisher : The Lontar Foundation Jakarta

.

Data buku :

RAMA’S CROWN. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “  ;  dalang : Ki Purbo Asmoro  ;  penulis transkripsi dalam Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson  ;  Jakarta  ;  penerbit The Lontar Foundation  ;  ISBN-13: 9789798083976  ;  606 halaman  ;  Bahasa Inggris.

.

Buku ini adalah buku pedalangan jangkep dalam Bahasa Inggris. Merupakan terjemahan ke dalam Bahasa Inggris dari transkripsi pakeliran berbahasa Jawa Ki Purbo Asmoro lakon “ Makutharama, serta dilengkapi dengan film / DVD pakeliran tersebut. Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package terbitan The Lontar Foundation.

.

Anda juga bisa melihat info ( dan membeli ) buku ini di laman Barnes and Noble.

Buku “ GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “ ; dalang : Ki Purbo Asmoro ; transkripsi Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson – 2013 – [ buku pedalangan jangkep dalam Bahasa Inggris ]


.

" GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Purwa Tale Performanced in Three Dramatic Styles. " ; dalang Ki Purbo Asmoro ; transkripsi bahasa Inggris : Kathryn Emerson ; penerbit The Lontar Foundation.

” GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Purwa Tale Performanced in Three Dramatic Styles. ” ; dalang Ki Purbo Asmoro ; transkripsi bahasa Inggris : Kathryn Emerson ; penerbit The Lontar Foundation.

.

Data buku :

GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “  ;  dalang : Ki Purbo Asmoro  ;  penulis transkripsi dalam Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson  ;  Jakarta  ;  penerbit The Lontar Foundation  ;  ISBN-13: 9786029144000  ;  578 halaman  ;  Bahasa Inggris.
.
Buku ini adalah buku pedalangan jangkep dalam Bahasa Inggris. Merupakan terjemahan ke dalam Bahasa Inggris dari transkripsi pakeliran berbahasa Jawa Ki Purbo Asmoro lakon “ Sesaji Raja Suya “, serta dilengkapi dengan film / DVD pakeliran tersebut. Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package terbitan The Lontar Foundation.
.

Anda juga bisa melihat info ( dan membeli ) buku ini di laman Barnes and Noble.

Kliping : Esai : ” Ardjuna Wiwaha : Romantisisme dan Transformasi ” tulisan Kurnia JR.


Kliping : Esai : ” Ardjuna Wiwaha : Romantisisme dan Transformasi ” tulisan Kurnia JR.

.

Kliping " ARDJUNA WIWAHA : Romantisisme dan Tranformasi. " tulisan Kurnia JR

Kliping ” ARDJUNA WIWAHA : Romantisisme dan Tranformasi. ” tulisan Kurnia JR

.

Kliping Ardjuna Wiwaha 2 cmprs

.

 

Kliping : ” Bedaya Membangun Karisma Raja ” tulisan Thomas Pudjo Widijanto.


Kliping : ” Bedaya Membangun Karisma Raja ” tulisan Thomas Pudjo Widijanto.

.

Kliping BEDAYA MEMBANGUN KARISMA RAJA.

Kliping BEDAYA MEMBANGUN KARISMA RAJA. tulisan Thomas Pudjo Widijanto

.

Kliping Bedaya Mbangun Karisma Raja 2 cmprs

.

Kliping Bedaya Mbangun Karisma Raja 3 cmprs

.

 

.

Profil Penulis : Karsono H Saputra.


.

Profil Penulis : Karsono H Saputra.
Info didapat dari sampul belakang bukunya “ Sekar Macapat “.

Lahir di sebuah desa kecil di Prambanan, Klaten. Menamatkan pendidikan SD hingga SMA di Klaten. Ia meraih gelar Sarjana Sastra di Fakultas Sastra Universitas Indonesia kemudian memperoleh gelar Master Humaniora bidang studi Ilmu Susastra dari Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Ia menjadi staf pengajar di almamaternya untuk mata kuliah Pengkajian Puisi Jawa, Metode Penelitian Sastra, dan Pengntar Filologi Umum. Selain mengajar, ia juga menulis esai, fiksi, dan karya-karya ilmiah.

Buku-bukunya yang telah diterbitkan antara lain :

Matahari Senjakala ( Pranawajati, 1990 ),
Genderang Perang di Padang Kurusetra ( Balai Pustaka, 1991 dan 1992 ),
Pengantar Sekar Macapat ( FSUI, 1992 ),
Aspek Kesastraan Serat Panji Angreni ( FSUI, 1998 ), dan
Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa ( KMSJ, 2001 ).

Buku “ Sekar Macapat “ oleh Karsono H Saputra – 2010 – [tembang Jawa, karawitan Jawa]


.

buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra, penerbit Wedatama Widya Sastra, 2010

buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra, penerbit Wedatama Widya Sastra, 2010

.

Data buku :

Karsono H Saputra  ;  “ Sekar Macapat “  ;  Jakarta  ;  penerbit Wedatama Widya Sastra  ;  Oktober 2010 = cetakan ketiga  ;  ISBN 979-96530-0-2  ;  xii + 132 halaman  ;  Bahasa Indonesia  . Catatan : Diterbitkan pertama kali dengan judul Pengantar Sekar Macapat oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1992.

Alamat penerbit :

Wedatama Widya Sastra,
Jl Muh. Kahfi I, Gg. H. Tohir II no.46,
Jakarta Selatan

.

.

Bagian Pendahuluan buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra.

Bagian Pendahuluan buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra.

.

Pendahuluan 2 Sekar Macapat- Karsono H S cmprs

.

Pendahuluan 3 Sekar Macapat- Karsono H S cmprs

.

Pendahuluan 4 Sekar Macapat- Karsono H S cmprs

.

Pendahuluan 5 Sekar Macapat- Karsono H S cmprs

.

.

DAFTAR ISI BUKU :

.

Daftar Isi buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra.

Daftar Isi buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra.

.

Dfr Isi 2 Sekar Macapat- Karsono H S cmprs

.

.

CONTOH GLOSARIUM DI AKHIR BUKU :

.

Glosarium di buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra.

Glosarium di buku SEKAR MACAPAT oleh Karsono H Saputra.

.

Profil Penulis (dan dalang wayang golek Sunda) : R U Partasuwanda.


.

Admin pernah menerima kiriman dari Bp Sam Askari Soemadipradja, Bandung lima jilid buku terbitan lawas berisi ringkasan lakon wayang golek Sunda berjudul ” Pawajangan Windu Krama ” ditulis oleh R U Partasuwanda.

Buku-buku tersebut telah dikonservasi dan Anda dapat memperoleh informasinya ( serta mengunduh gratis ebook nya ) di postingan ini :
.

Ebook ” Pawajangan Windu Krama Ka 1 ”
berisi ringkasan adegan=adegan lakon-lakon :

 Alap-alap Erawati  ( Aladara Rarabi )
Aradea Maling ( Krama Dewi Sutrikanti )
Sujudana Krama
Alap-alap Dursilawati ( Tumenggung Djajadrata Krama )
Dewi Rukmini krama ka R. Narajana
Dewi Setiaboma krama ka R. Narajana
Prabu Gorawangsa Maling
.

Ebook ” Pawajangan Windu Krama Ka 2 ”
berisi ringkasan adegan-adegan lakon-lakon :

Kangsa Adu Djago
Rebutan Tjupu Lengatal
Obong Bale Si Gala Gala
Babad Alas Amer ( Babad Alas Mertani )
Arya Gandamanah ( Puntadewa Krama )
Parta Krama ( Ardjuna nikah ka Sumadra )
Djungkung Maradea ( Srikandi Krama )
.

Ebook ” Pawajangan Windu Krama Ka 3 ”
berisi ringkasan adegan-adegan lakon-lakon :

Lalampahan Dangian Wiswakrama ( Dewi Retna Manuara krama ka Ardjuna )
Saembara Dewi Gandawati ( Ardjuna Krama )
Mintaraga
Winduwulan ( Ardjuna Krama )
Nakula Rarabi
Sadewa Rarabi
Bangbang Kombajana ( Rarabi )
Lalampahan Djaka Gentiri ( Semar Rarabi )
.

Ebook ” Pawajangan Windu Krama Ka 4 ”
berisi ringkasan adegan-adegan lakon-lakon :

Lahirna Lasmana Mandrakomara
Pantjawala Lahir
Bimanju Lahir
Djakatawan Lahir
Anantaredja Lahir
Tjaringin Bodas
Djabang Tutuka Gatotkatja Lahir
Bradjamusti
.

Ebook ” Pawajangan Windu Krama Ka 5 ”
berisi adegan-adegan lakon-lakon :

Bimanju nikah ka Dew Sitisondari
Bimanju nikah ka Dew Utari
Pergiwa – Pergiwati
Pantjawala Rarabi
Djaja Sumpena (Gatotkatja Rarabi)
Tjepot Rarabi (Lalakon Tambilung)
Sangga-Langit  Sangga-Bumi
R. Gandawerdaja
.

.

Siapakah R U Partasuwanda ?

Dari buku ” Tetekon Padalangan Sunda ” diperoleh informasi bahwa bapak R U Partasuwanda adalah seorang dalang wayang golek Sunda, dan beliau juga menulis buku ringkasan lakon wayang golek Sunda. Cuplikan halaman buku yang berisi informasi tersebut :

.

Data dalang wayang golek RU Partasuwanda.

Data dalang wayang golek RU Partasuwanda.

.

Profil 2A R U Partasuwanda cmprs

.

Profil 2B R U Partasuwanda cmprs

.

Foto di bawah ini didapat dari sumber lain :

.

Profil 2C R U Partasuwanda cmprs

.

Foto di bawah ini didapat dari sumber lain :

.

Foto RU Partasuwanda dipindai dari bukunya PAWAJANGAN WINDU KRAMA.

Foto RU Partasuwanda dipindai dari bukunya PAWAJANGAN WINDU KRAMA.

.

Buku Pedalangan Wayang Golek Sunda.


.

Admin hanya sedikit mempunyai informasi mengenai buku-buku pedalangan wayang golek Sunda.

Kebetulan waktu membaca buku ” Tetekon Padalangan Sunda .” menemukan informasi mengenai beberapa buku pedalangan wayang golek Sunda yang pernah terbit :

.

Buku-buku pedalangan wayang golek Sunda.

Buku-buku pedalangan wayang golek Sunda.

.

Buku-buku pedalangan wayang golek Sunda.

Buku-buku pedalangan wayang golek Sunda.

.

 

 

Landung Simatupang Membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya – 03 September 2013


09 Sep 2013 06:00:00
Berita Budaya
Sumber :
http://www.tembi.net/id/news/landung-simatupang-membaca-arjunawiwaha-di-tembi-rumah-budaya-5152.html

Landung Simatupang Membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya

Landung Simatupang tidak sekadar membaca, dia menyelami teks yang dia baca dari naskah Arjunawiwaha, karya Empu Kanwa, yang telah diterjemahkan oleh Romo Kuntara.

.

Landung Simatupang

.
Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya,
Foto: Sartono

.

Setiap kali tampil membaca puisi, cerpen ataupun pethilan novel, dimana pun, Landung Simatupang selalu memikat. Pada Selasa, 3 September 2013, di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Landung kembali memperlihatkan daya pikatnya, dengan mengambil petikan dari sebelas pupuh awal Arjunawiwaha, karya Empu Kanwa.

Naskah ini telah diterjemahkan oleh Kuntara Wiryamartana, seorang ahli Sastra Jawa Kuna ke dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan terjemahan Romo Kuntara tersebut Landung mengadaptasi, yang kemudian dibacanya untuk mengenang ’40 Hari Kuntara Wiryamartana’.

Ada detail properti yang dihadirkan, setidaknya untuk ‘menyapa’ Romo Kuntara yang sudah 40 hari lebih meninggal. Detail itu sekaligus mengingatkan keakraban Romo Kuntara dengan teman-temannya. Misalnya disajikan satu gelas teh tubruk dan satu gelas kopi, dilengkapi sebungkus rokok kretek Gudang Garam merah kesukaannya.

Panggung terdiri dari dua lefel yang dibungkus kain hitam dan di atasnya digelar karpet warna coklat, dilengkapi dengan kembang yang diletakkan di atas cobek. Dilengkapi pula hiasan dua pot kembang, dan wayang. Dibawahnya ada sesaji ingkung. Aroma bau hio mewarnai sekitar panggung, sehingga seperti ‘mengundang’ Romo Kuntara hadir dalam acara 40 hari untuknya.

Landung membaca dengan nada yang terjaga. Emosinya terkendali, sehingga ‘menghidupkan’ setiap kata yang ia baca. Di sebelahnya, ada dua pembaca perempuan Like dan Dinar menemani, dan tentu saja selang-seling berganti membaca. Memang fokus Landung sangat kuat. Sebut saja, Landung ‘menghidupkan’ pertunjukan, dan mungkin bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan bentuk lain dari donga, dalam istilah Jawa.

Apalagi, sebelum Landung Simatupang memulai membaca, ada sejenis ‘ritual’ untuk mengantarkan pertunjukan. Ritual kesenian sebagai bentuk dari doa, yang dilakukan oleh Yoyok, Cicit Kaswani dan teman-temannya, seperti memberi warna magis dari pertunjukan “Membaca Arjunawiwaha”.

Landung Simatupang memang tidak sekadar membaca, dia menyelami teks yang dia baca. Pembacaan dia, selain diberi latar belakang gambar-gambar candi-candi, gambar Romo Kuntara dan Romo Zoet, dilengkapi artistik oleh Pius dan Jay dan diiringi musik yang pas, yang dimainkan oleh Eko, Trikoyo, Irul, Agnes, Wisnu. Suara musiknya lembut dan ‘menghidupkan’ teks yang dibaca Landung.

Duduk di atas panggung, Landung mengenakan baju putih dan mengenakan udeng warna putih. Dua perempuan pembaca pendamping juga mengenakan gaun warna putih, duduk di kanan dan kiri Landung Simatupang.

.

Landung dan Like

.
Landung Simatupang didampingi Like dalam membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya

.

“Di Khayangan, Batara Sakra, alias Sang Hyang Indra, kekuasaannya sedang ditantang: ia terancam bahaya. Ada daitya, Nitwatakawaca namanya, bangkit berkuasa, masyhur di dunia, jaya di mana-mana” begitulah teks awal bergulir.

Terlihat, penonton diam menyimak. Seolah tak ingin terputus dari kata, perhatian tertuju pada panggung. Landung dengan ekspresi wajah serta gerak tangan ‘menghadirkan’ kisah di hadapan publik. Kalimat-kalimat lanjutan seperti semakin menggoda imajinasi penonton untuk terus menyimak.

“Bunga-bunga ayu di tamansari Surgaloka sudah sering berjasa membongkar dan menggerus lumat tapa dan brata. Jadi dipilihlah tujuh bidadari. Mereka ini karya cipta para dewa mengukir permata. Dua yang utama: Tilotama, buah bibir penghuni Kahyangan, dan Supraba. Keduanya sari mahajelita pembangkit rasa. Dari dewi ratih lebih menawan, jika boleh dibandingkan,” begilah Landung seperti mengajak penonton untu terus dalam imajinasinya.

Suasana getir, dan bayangan mengerikan karena senjata saling digunakan, seperti hadir dalam angan kita. Landung ‘menghidupkannya’ melalui pembacaan, dan kita seolah seperti melihat pertarungan yang seru. Kita simak teks yang memberi imajinasi seperti itu:

“Arjuna menggeram, mengusap tanah, menengadah. Panah Pencegah pun sudah siap, tak pernah lengah. Seribu banyaknya, berkepala besi sebesar menara. Alangkah gemuruh! Serentak meluncur dan memagut. Seketika, banjir batu di tengah medan laga.

Hyang Siwa terperanjat. Gunung Batu yang dilepasnya lenyap. Sebat ia sambar senjatanya yang lain, panah ampuh berupa api yang banyak berjasa. Serta-merta Sang Arjuna waspada pikir dan batin.

Ia melawan dengan melepas Panah Pemusnah. Maka awan pun menjulang, tegak menghalang di tengah gelanggang. Angin bertiup kencang, kilat bersambungan, hujan lebat tercurahkan. Maka musnah api itu, bersih tersapu, binasa seketika.

Tak terkata lagi marah Sang Hyang Siwa. Senjata jerat ia bentangkan, Inilah panah berwujud rantai, berkepala naga garang, memekik menantang. Masih dirangkapi dengan Taring Kala, pengiring sang senjata pencabut nyawa.

Sang Arjuna, ya Sang Parta, terbahak keras, merentang busur lagi, membalas. Panah Garuda dicabutnya, penangkal panah berkepala naga Sang Siwa.

Tapi benturan Taring Kala tak sempat ia tolak; maka merunduk Arjuna, mengelak. Taring Kala membentur busur, ketopong di kepala hancur, permatanya terhambur. Mendidihlah darah Arjuna. Ia menyerang. Busur patah menjadi gada, dihantamkan.

.

Melati Liestyorini

.
Melati Liestyorini menari di saat menjelang akhir pertunjukan

 .

Hyang Siwa membusungkan dada. Serempak keduanya saling mendekat. Senjata sudah mereka tinggalkan. Bertangan kosong mereka bergulat. Tak putus beradu kuat bertanding siasat. Melepas belitan, menemu cengkraman. Arjuna tertindih. Tapi kedua kaki Siwa dipagutnya, dicengkam, rapat-rapat, dikunci.

Arjuna di atas angin, nyaris mengangkat lawan, hendak dibanting. Tapi kaki itu raib! Sia-sialah Arjuna berjerih-payah.

Lalu hujan bunga tercurah seiring kidung pujian kejayaan.

Arjuna terperangah. Dilihatnya gemilang cahaya: Hyang Iswara, Sang Siwa semata, dalam rupa Setengah Pria Setengah Wanodya, semayam di atas padmasana manikam. Bersegera menyembah Arjuna Sang Panduputra yang mahir dalam memuja dewata”

Akhir dari pertunjukan terasa menjadi tambah hidup, ketika sebelum tuntas, seorang penari tampil dan memberi suasana lain pada pertunjukan. Tarian yang diperankan oleh Melati Listyorini melengkapi petikan Arjunawiwaha yang dibacakan Landung Simatupang.

Ons Untoro
Foto: Sartono

Profil Penulis : Ignatius Kuntara Wiryamartana.


Dua berita dari http://www.sesawi.net di bawah ini sedikit banyak mengungkapkan profil penulis Ignatius Kuntara Wiryamarta. Disertasi beliau mengenai naskah Empu Kanwa : “ ARJUNAWIWAHA. Transformasi Teks Jawa Kuna Lewat Tanggapan dan Penciptaaan di Lingkungan Sastra Jawa.

.

Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana ( sumber foto : http://www.sesawi.net )

Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana ( sumber foto : http://www.sesawi.net )

.

RIP: Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana SJ, Ahli Sastra dan Bahasa Jawa KunaBy Mathias Hariyadi on July 26, 2013http://www.sesawi.net/2013/07/26/rip-romo-ignatius-kuntara-wiryamartana-sj-ahli-sastra-dan-bahasa-jawa-kuna/

KAWAT duka cita terkirim menjelang dini hari tanggal 26 Juli 2013 pada hari Jumat ini dari Provinsialat SJ Provinsi Indonesia.

Menjelang Jumat dini hari tadi kira-kira pukul 01.45 WIB telah meninggal dunia: Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana SJ, ahli sastra dan bahasa Jawa kuna di RS Elisabeth Semarang.

Beberapa pekan terakhir ini, kesehatan Romo Kuntara memburuk hingga akhirnya beliau disarankan untuk berhenti total sebagai tenaga pengajar Sastra Jawa Kuna di UGM –tempat beliau belajar dan mengajar selama beberapa dekade terakhir ini– dan menikmati masa pensiunnya di Wisma Emmaus Girisonta, Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah.

Sebelum bertolak ke Girisonta, beliau tinggal di residensi SJ di Wisma PTPM Jl. Sosrowijayan, Malioboro, Yogyakarta.

Belum ada informasi lebih lanjut jam dan kapan jenazah almarhum Romo Kuntara akan dibawa ke Girisonta untuk misa requiem dan pemakaman.

.

.

In Memoriam Romo I Kuntara SJ : Disertasi Beratnya 10 Kg (3)
By Mathias Hariyadi on July 26, 2013
http://www.sesawi.net/2013/07/26/in-memoriam-romo-i-kuntara-sj-disertasi-beratnya-10-kg-3/

SAYA tidak pernah hidup dalam satu komunitas residensi dengan alm. Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana SJ yang hari Jumat (26/7) dinihari tadi dipanggil Tuhan untuk selamanya di RS Elizabeth Semarang.

Namun saya ingat betul tentang sedikit kisah unik sekaligus menarik di balik sosok imam ahli Sastra dan Bahasa Jawa Kuna ini.

Sekali waktu, dalam sebuah pertemuan di forum SJ di Provindo, almarhum berkisah bagaimana dia berkutat hampir selama 10 tahun untuk merampungkan disertasinya tentang teks naskah kuna Kakawan Arjunawiwaha.

Beliau mengerjakan disertasinya di Pasturan Kolese de Britto waktu itu, persis ketika sekali waktu saya main ke SMA de Britto dari Kolese Loyola di Semarang.

Promotor beliau adalah Sang Begawan Ahli Sastra dan Bahasa Jawa Kuna di UGM  yakni Romo Prof. Dr. Piet Zoetmoelder SJ yang tak lain adalah rekan satu Ordo Jesuit sendiri.

Saat itu, Pater Zoetmoelder masih tinggal di Pasturan Kidul Loji Yogyakarta bersama rekan-rekan SJ lainnya seperti alm. Romo Th. Hendriks SJ (dulu bekerja di Percetakan dan Penerbit Kanisius Yogyakarta) dan Romo Jacques Lampe SJ yang kini telah pulang ‘mudik’ ke Negeri Belanda.

Belakangan, Romo Piet Zoetmoerlder SJ pindah dari Kidul Loji ke tempat lain di sebuah pastoran sederhana di sekitaran Malioboro, Yogyakarta.

Oleh sesama rekan Jesuit lainnya –demikian isi omongan glenak-glenik alm. Romo Kuntara SJ waktu itu—dirinya sering menjadi bahan olokan dan sindiran orang kalau pas ada acara temu dengan para Jesuit lainnya. Pokok perbincangan mereka tiada lain adalah soal waktu bertele-tele untuk bisa menyelesaikan disertasi.

Biasalah, di kalangan Jesuit yang pinter-pinter, menyelesaikan disertasi pada waktunya menjadi urusan penting di kelompok ini. Kalau tidak, ya pastilah menjadi bahan olok-olok di antara teman-temannya. Kadang bernada serius dan gurauan, tapi adakalanya juga menjadi obrolan serius yang nylekit.

Romo Kuntara boleh dibilang membiarkan dirinya jadi olok-olokan itu. Dia membuat dirinya tuli atas omongan-omongan nylekit itu. Itu terjadi bertahun-tahun sampai akhirnya beliau sukses merampung disertasinya dengan sangat menawan di UGM dengan ketebalan naskah yang lumayan dan katanya –sesuai omongan alm. Romo Guido Sabda Utomo SJ waktu itu di Kolese de Britto Yogyakarta awal tahun 1990 an— “Beratnya sampai 10 kilogram kalau naskah disertasinya ditimbang!”

Untuk menyelesaikan naskah disertasinya yang konon seberat 10 kg ini, alm. Romo Kuntara SJ sering bolak-balik ke Jerman dan Belanda untuk melakukan studi dan riset naskah-naskah kuna di Leiden.

Lahir tahun 1946 di Delanggu, Kabupaten Klaten di Jawa Tengah, alm. Romo Kuntara menikmati masa kecilnya di desa dan baru kemudian masuk seminari menengah dan lalu masuk Novisiat Serikat Jesus di Kolese St. Stanislaus Girisonta, Ungaran.

.

( sumber foto : http://www.sesawi.net )

( sumber foto : http://www.sesawi.net )

.

Photo credit: Alm. Romo Ignatius Kuntara Wiryamartana SJ memimpin perayaan ekaristi dalam sebuah acara peringatan (Ist)