Landung Simatupang Membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya – 03 September 2013


09 Sep 2013 06:00:00
Berita Budaya
Sumber :
http://www.tembi.net/id/news/landung-simatupang-membaca-arjunawiwaha-di-tembi-rumah-budaya-5152.html

Landung Simatupang Membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya

Landung Simatupang tidak sekadar membaca, dia menyelami teks yang dia baca dari naskah Arjunawiwaha, karya Empu Kanwa, yang telah diterjemahkan oleh Romo Kuntara.

.

Landung Simatupang

.
Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya,
Foto: Sartono

.

Setiap kali tampil membaca puisi, cerpen ataupun pethilan novel, dimana pun, Landung Simatupang selalu memikat. Pada Selasa, 3 September 2013, di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Landung kembali memperlihatkan daya pikatnya, dengan mengambil petikan dari sebelas pupuh awal Arjunawiwaha, karya Empu Kanwa.

Naskah ini telah diterjemahkan oleh Kuntara Wiryamartana, seorang ahli Sastra Jawa Kuna ke dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan terjemahan Romo Kuntara tersebut Landung mengadaptasi, yang kemudian dibacanya untuk mengenang ’40 Hari Kuntara Wiryamartana’.

Ada detail properti yang dihadirkan, setidaknya untuk ‘menyapa’ Romo Kuntara yang sudah 40 hari lebih meninggal. Detail itu sekaligus mengingatkan keakraban Romo Kuntara dengan teman-temannya. Misalnya disajikan satu gelas teh tubruk dan satu gelas kopi, dilengkapi sebungkus rokok kretek Gudang Garam merah kesukaannya.

Panggung terdiri dari dua lefel yang dibungkus kain hitam dan di atasnya digelar karpet warna coklat, dilengkapi dengan kembang yang diletakkan di atas cobek. Dilengkapi pula hiasan dua pot kembang, dan wayang. Dibawahnya ada sesaji ingkung. Aroma bau hio mewarnai sekitar panggung, sehingga seperti ‘mengundang’ Romo Kuntara hadir dalam acara 40 hari untuknya.

Landung membaca dengan nada yang terjaga. Emosinya terkendali, sehingga ‘menghidupkan’ setiap kata yang ia baca. Di sebelahnya, ada dua pembaca perempuan Like dan Dinar menemani, dan tentu saja selang-seling berganti membaca. Memang fokus Landung sangat kuat. Sebut saja, Landung ‘menghidupkan’ pertunjukan, dan mungkin bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan bentuk lain dari donga, dalam istilah Jawa.

Apalagi, sebelum Landung Simatupang memulai membaca, ada sejenis ‘ritual’ untuk mengantarkan pertunjukan. Ritual kesenian sebagai bentuk dari doa, yang dilakukan oleh Yoyok, Cicit Kaswani dan teman-temannya, seperti memberi warna magis dari pertunjukan “Membaca Arjunawiwaha”.

Landung Simatupang memang tidak sekadar membaca, dia menyelami teks yang dia baca. Pembacaan dia, selain diberi latar belakang gambar-gambar candi-candi, gambar Romo Kuntara dan Romo Zoet, dilengkapi artistik oleh Pius dan Jay dan diiringi musik yang pas, yang dimainkan oleh Eko, Trikoyo, Irul, Agnes, Wisnu. Suara musiknya lembut dan ‘menghidupkan’ teks yang dibaca Landung.

Duduk di atas panggung, Landung mengenakan baju putih dan mengenakan udeng warna putih. Dua perempuan pembaca pendamping juga mengenakan gaun warna putih, duduk di kanan dan kiri Landung Simatupang.

.

Landung dan Like

.
Landung Simatupang didampingi Like dalam membaca Arjunawiwaha di Tembi Rumah Budaya

.

“Di Khayangan, Batara Sakra, alias Sang Hyang Indra, kekuasaannya sedang ditantang: ia terancam bahaya. Ada daitya, Nitwatakawaca namanya, bangkit berkuasa, masyhur di dunia, jaya di mana-mana” begitulah teks awal bergulir.

Terlihat, penonton diam menyimak. Seolah tak ingin terputus dari kata, perhatian tertuju pada panggung. Landung dengan ekspresi wajah serta gerak tangan ‘menghadirkan’ kisah di hadapan publik. Kalimat-kalimat lanjutan seperti semakin menggoda imajinasi penonton untuk terus menyimak.

“Bunga-bunga ayu di tamansari Surgaloka sudah sering berjasa membongkar dan menggerus lumat tapa dan brata. Jadi dipilihlah tujuh bidadari. Mereka ini karya cipta para dewa mengukir permata. Dua yang utama: Tilotama, buah bibir penghuni Kahyangan, dan Supraba. Keduanya sari mahajelita pembangkit rasa. Dari dewi ratih lebih menawan, jika boleh dibandingkan,” begilah Landung seperti mengajak penonton untu terus dalam imajinasinya.

Suasana getir, dan bayangan mengerikan karena senjata saling digunakan, seperti hadir dalam angan kita. Landung ‘menghidupkannya’ melalui pembacaan, dan kita seolah seperti melihat pertarungan yang seru. Kita simak teks yang memberi imajinasi seperti itu:

“Arjuna menggeram, mengusap tanah, menengadah. Panah Pencegah pun sudah siap, tak pernah lengah. Seribu banyaknya, berkepala besi sebesar menara. Alangkah gemuruh! Serentak meluncur dan memagut. Seketika, banjir batu di tengah medan laga.

Hyang Siwa terperanjat. Gunung Batu yang dilepasnya lenyap. Sebat ia sambar senjatanya yang lain, panah ampuh berupa api yang banyak berjasa. Serta-merta Sang Arjuna waspada pikir dan batin.

Ia melawan dengan melepas Panah Pemusnah. Maka awan pun menjulang, tegak menghalang di tengah gelanggang. Angin bertiup kencang, kilat bersambungan, hujan lebat tercurahkan. Maka musnah api itu, bersih tersapu, binasa seketika.

Tak terkata lagi marah Sang Hyang Siwa. Senjata jerat ia bentangkan, Inilah panah berwujud rantai, berkepala naga garang, memekik menantang. Masih dirangkapi dengan Taring Kala, pengiring sang senjata pencabut nyawa.

Sang Arjuna, ya Sang Parta, terbahak keras, merentang busur lagi, membalas. Panah Garuda dicabutnya, penangkal panah berkepala naga Sang Siwa.

Tapi benturan Taring Kala tak sempat ia tolak; maka merunduk Arjuna, mengelak. Taring Kala membentur busur, ketopong di kepala hancur, permatanya terhambur. Mendidihlah darah Arjuna. Ia menyerang. Busur patah menjadi gada, dihantamkan.

.

Melati Liestyorini

.
Melati Liestyorini menari di saat menjelang akhir pertunjukan

 .

Hyang Siwa membusungkan dada. Serempak keduanya saling mendekat. Senjata sudah mereka tinggalkan. Bertangan kosong mereka bergulat. Tak putus beradu kuat bertanding siasat. Melepas belitan, menemu cengkraman. Arjuna tertindih. Tapi kedua kaki Siwa dipagutnya, dicengkam, rapat-rapat, dikunci.

Arjuna di atas angin, nyaris mengangkat lawan, hendak dibanting. Tapi kaki itu raib! Sia-sialah Arjuna berjerih-payah.

Lalu hujan bunga tercurah seiring kidung pujian kejayaan.

Arjuna terperangah. Dilihatnya gemilang cahaya: Hyang Iswara, Sang Siwa semata, dalam rupa Setengah Pria Setengah Wanodya, semayam di atas padmasana manikam. Bersegera menyembah Arjuna Sang Panduputra yang mahir dalam memuja dewata”

Akhir dari pertunjukan terasa menjadi tambah hidup, ketika sebelum tuntas, seorang penari tampil dan memberi suasana lain pada pertunjukan. Tarian yang diperankan oleh Melati Listyorini melengkapi petikan Arjunawiwaha yang dibacakan Landung Simatupang.

Ons Untoro
Foto: Sartono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: