Archive for the ‘Sunardi DM’ Category

Ebook BARATA YUDHA oleh Sunardi DM – 1995, 1993, 1991, 1986, 1978 – [cerita wayang]


.

Data buku :

 

Sunardi DM  ;  “ Barata Yudha “  ;  Jakarta  ;  Balai Pustaka  ;  1995 = cetakan kelima , 1993 = cetakan keempat , 1991 = cetakan ketiga , 1986 = cetakan kedua , 1978 = cetakan pertama  ;  BP no.2777  ;  135 halaman  ;  gambar wayang  ;  Bahasa Indonesia.

 

 

Buku ini secara ringkas ( tanpa banyak menuliskan dialog di antara tokoh nya ) menceritakan latar belakang Pandawa dan Kurawa , serta jalan cerita perang Barata Yudha. Mengambil sumber dari versi Jawa. Menurut Admin buku ini cocok untuk seorang pemula yang ingin mengenal cerita Barata Yudha versi Jawa, sebelum membaca buku Barata Yudha dari bermacam versi lainnya.

 

 

Catatan pendahuluan oleh penulis buku mengenai sumber kepustakaan buku ini :

 

Kisah Barata Yudha ini memilih versi Indonesia [ baca : Jawa ].

Ia disadur dari Kakawin Barata Yudha hasil karya Empu Sedah dan Empu Panuluh di jaman pemerintahan Prabu Jajabaya Kediri (1135 – 1157),

 

Saduran tersebut dilengkapi dengan mengawinkannya dengan buku-buku Serat Padalangan Ringgit Purwa jilid 30 (Kalabendana Pejah dan Kresna Duta), jilid 31 (Kresna Gugah, Tewasnya Bisma dan Seta), jilid 32 (Tewasnya Angkawijaya, Jayadrata, Burisrawa, Gatotkaca dan Dursasana), dan jilid 33 (Tewasnya Adipati Karna da Prabu Suyudana, dan Lahirnya Parikesit). Semuanya terbitan Balai Pustaka Batavia Centrum tahun 1933.

 

Buku Serat Padalangan Ringgit Purwa itu sendiri terdiri dari 37 jilid. Aslinya ditulis dalam huruf Jawa, diterbitkan oleh Balai Pustaka seri nomor 443.

 

Penghimpun buku tersebut adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara VII di Surakarta, Kanjeng Pangeran Arya Kusumadiningrat di Surakarta dan J. Kats,

 

Gambar-gambar wayang yang dijadikan ilustrasi aslinya diambil dari koleksi wayang kulit milik Kanjeng Gusti Adipati Arya Mangkunagara IV di Surakarta.

 

…..

 

Kemudian di awal bagian yang menceritakan perang Barata Yudha, penulis buku menuliskan kembali tentang sumber kepustakaan yang dipakainya untuk rujukan buku ini :

 

Kisah Barata Yudha berikut ini disadur langsung dari karangan Empu Sedah seorang pujangga terkenal dari Prabu Jajabaya di Kediri.

 

Kisah berikut ditulis oleh Empu Sedah pada sekitar tahun 1079. Keuntungan memilish versi ini adalah kita dapat merasakan suasanan hidup kenegaraan pada waktu itu. Tidak hanya itu. Paling sedikit dapat mendekatkan kisah-kisah Barata Yudha versi Surakarta dan versi Yogyakarta yang kadang-kadang ada perbedaan sedikit. Karena betapapun juga versi Empu Sedah ini ditulis lebih dahulu dari versi-versi yang lain tersebut.

 

 

 

Admin kutipkan bagian cerita ketika kereta Prabu Kresna – sebagai utusan Pandawa – melaju menuju Astina.

 

Suasana sepanjang jalan ke Astina menyedihkan.

 

Rakyat yang berdiam di kiri kanan jalan yang dilalui kendaraan Prabu Kresna kelihatan murung dan prihatin, karena betapa pun juga persiapan perang yang mereka saksikan telah memberi petunjuk kepada mereka situasi kenegaraan yang ada.

 

Desah bunyi daun-daun beringin yang bergerak terkena angin seperti tarikan napas manusia saja layaknya yang mengeluh dirundung malang. Seperti seorang pria yang sedih karena cintanya tidak mendapat tanggapan dari kekasihnya.

 

Gapura negri Astina yang mulai kelihatan di kejauhan seperti melambai-lambai saja layaknya, mengelu-elukan kedatangan utusan Pandawa tersebut. Pintu gerbang yang kemudian tampak seperti mempunyai keinginan untuk berdatang sembah. Bergeraknya daun-daunan pohon-pohon bunga cempaka yang semerbak baunya, yang tumbuh di kiri kanan jalan, yang terkena angin seperti tangan-tangan permaisuri Astina Dewi Banowati saja yang melambai-lambai menanyakan kepada Prabu Kresna apakah Raden Arjuna ikut.

 

Suara roda kereta yang dinaiki Sri Kresna dibarengi dengan mengkilatnya hiasan-hiasannya, seakan-akan memberikan jawaban kepada sang permaisuri bahwa kekasihnya ialah sang Arjuna tidak ikut, bahwa ia masih tertinggal di Wirata, bahwa saudara-saudaranya tidak seorang pun ikut.

 

Sebuah cabang pohon yang bergerak kena tiupan angina di tepi jalan seolah-olah berubah menjadi sang dewi yang kecewa, memalingkan muka sambil cemberut, merenungi nasibnya, mengapa Arjuna sendiri tidak ikut datang ke Astina, menuntut sendiri kembalinya begreinya ?

 

Burung-burung beterbangan berbunyi lirih seakan-akan berbisik mengapa ia tidak iukt, ia Arjuna. Begitu juga bunga-bunga yang terkena angina berjatuhan di batu-batu seakan-akan menyesali sang tamu mengapa tidak membawa serta Pandawa.

 

Kelelawar-kelelawar yang bergantungan di dahan-dahan pohon menggerak-gerakkan sayapnya seakan-akan ikut merasa khawatir. Andaikata dapat berbicara mungkin mereka bertanya, “ Mengapa putra-putra Pandudewanata tidak dating sendiri menuntut kembali negrinya ?”

 

Kumbang-kumbang yang terbang ke sana ke mari mencari bunga mengikuti riak air seperti menangis saja layaknya, menyesali mengapa Sri Kresna dating tidak bersama Arjuna. Bahkan lumut kering yang menempel di batu-batu seakan-akan tidak mau ketinggalan menyesali, seperti seorang wanita yang dirundung cinta kepada sang Arjuna yang tidak dating.

 

Terlampau panjang untuk diceritakan, tetapi suasana mencekam dan menyedihkan, semuanya prihatin, baik yang berada di tepi jalan maupun yang berada di tepi rawa-rawa.

 

………

 

 

Untuk keperluan study wayang dan konservasi kepustakaan wayang yang sudah saat ini sudah sulit ditemui, Admin sudah berhasil memindai buku ini menjadi file digital berformat PDF. Bagi Anda yang berminat bisa mengunduh gratis di alamat URL :

http://www.mediafire.com/view/9y8fsqblqd00c66/Barata_Yudha_Sunardi_DM.pdf

 

.

.

Buku BARATA YUDHA oleh Sunardi DM

Buku BARATA YUDHA oleh Sunardi DM

.

 

Advertisements

Profil penulis Sunardi DM – [penulis buku cerita wayang]


Profil penulis Sunardi DM

Sunardi DM adalah seorang wartawan dan Pemimpin Redaksi harian Berita Yudha yang terbit di Jakarta. Antara tahun 1960 an sampai dengan 1980 an beliau rajin dan teratur menulis cerita wayang yang dimuat di harian Berita Yudha dan mingguan Bhuana Minggu.

Demikian juga menulis buku cerita wayang yang merujuk ke naskah-naskah wayang versi Jawa tulisan Yasadipura atau Sindusastra. Buku cerita wayang tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka yang mengalami cetakan ulang beberapa kali. Judul cerita antara lain : “ Kisah Keluarga Pendawa dan Kurawa “ , “ Arjuna Krama “ , “ Srikandi Belajar Memanah “ , “ Arjuna Sasrabahu “ , “ Barata Yudha “ , “ Arjuna Wiwaha “ dan “ Sembadra Larung “ .

Sangat disayangkan bahwa saat ini tidak terlihat / terdengar kegiatan Balai Pustaka menerbitkan lagi buku-buku wayang , padahal tercatat peran Balai Pustaka yang besar dalam menerbitkan secara terus menerus buku wayang , dari awal kemerdekaan RI sampai (paling tidak) awal tahun 2000 an.

Di bawah ini pindaian profil Sunardi DM yang tercetak di sampul belakang bukunya ” Arjuna Krama ” :

.

.