Archive for the ‘Yanusa Nugroho’ Category

Cuplikan Kisah “Karna” 14 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 14

oleh Yanusa Nugroho pada 21 September 2011 jam 12:22

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150298211516835

 

Di sungai Limanbenawi, yang lebar, yang mengalir tak jauh dari sisi utara lapangan

istana Hastinapura, tampak dua orang pemuda berada di rakit bambu. Mereka

adalah Tarka dan Sarka, dua kakak beradik yang bekerja sebagai juru mudi rakit

penyeberangan. Keduanya mencari nafkah dengan menyeberangkan siapapun yang akan

menuju sisi lain Limanbenawi.

 

Mereka adalah anak seorang pertapa. Dan mereka menjalani hidup sesuai dengan perintah

sang ayah. “Cobalah kalian mengunci rapat-rapat mulut kalian. Membisu. Kalian

akan mendengar begitu banyak pengetahuan secara diam-diam. Karena seringkali

lidah kita mengeluarkan bisa fitnah yang tak bisa kita duga. Karenanya, cobalah

kalian menjalani bertapa bisu. Lakukanlah pekerjaan kalian sebagaimana biasa,

namun dengan satu pantangan: jangan berbicara sepatah kata pun tentang apapun.”

 

“Jika ternyata ada yang membayar kurang dari seharusnya?” sela Tarka, ketika itu.

 

“Terimalah. Jangan bertanya atau mempertanyakan. Terimalah. Mudah-mudahan Yang Maha Adil

akan memberimu keadilan.”

 

Maka, sejak empat puluh hari lalu, kedua kakak beradik itu bekerja dalam kebisuan.

Mereka hanya tersenyum atau mengangguk. Kadang menggeleng. Berapa besar pun

kepeng uang yang diberikan para penumpang, mereka terima dengan dada lapang.

Dan nyatanya, pendapatan mereka lebih besar daripada sebelumnya. Para

penumpang, yang umumnya adalah istri-istri tentara Hastina—yang tentu saja

memiliki uang lebih—dengan senang hati memberikan bayaran lebih, karena

menganggap kedua juru getek itu sangat sopan dan tak banyak tanya.

 

Sore itu, ketika mereka menambatkan rakit bambu di tepi selatan, sambil menunggu

penumpang, Tarka dan Sarka dikejutkan oleh suara mendesing dan ceburan kuat di

permukaan sungai. Bola kulit. Mereka pun kemudian hanya diam, dan membiarkan

bola itu dibawa hanyut ke muara.

 

Sepak bola, permainan baru yang hanya boleh dimainkan kalangan istana. Dan tentunya,

bola itu milik kaum bangsawan Hastinapura. Sebuah permainan aneh yang dibawa

dari manca. Bulatan itu mereka kejar, untuk mereka tendang. Memang kelihatan

menarik, tetapi bagi Tarka dan adiknya, tak lebih dari permainan orang bodoh.

Mereka tak tertarik, dan karenanya, mereka diamkan saja bola itu hanyut dibawa

arus sungai Limanbenawi.

 

Hening senja itu. Langit di barat sudah menunjukkan garis-garis jingga. Sebentar lagi,

sesaat sebelum matahari benar-benar tenggelam, mereka akan pulang. Namun,

sampai saat itu tiba, mereka memang masih menunggu, barangkali saja masih ada

satu atau dua orang yang ingin menggunakan tenaga mereka.

 

Tiba-tiba..” Ahh, pasti masuk sungai. Sena, kau yang harus mencarinya.. tendanganmu terlalu

kuat!”

 

Ketiga kesatria muda Hastina itu sampai di tepian sungai. Mereka tak melihat apa-apa

kecuali gelegak arus sungai dan kedua kakak-beradik itu.

 

“Hei, kalian? Apakah kalian melihat sebuah bola, bola kami, meluncur ke arah ini?”

tanya Dursasana pada Tarka dan Sarka.

 

Kedua orang itu menyembah, lalu salah seorang menunjuk arah sungai dengan ibu

jarinya.

 

“Bodoh! Mengapa kalian diam saja? Seharusnya kalian mengejarnya!” sergah Duryudana.

 

Kedua orang itu diam saja.

 

Sena segera mencebur ke dalam arus sungai dan berenang menuju muara.

 

Sepeninggal Sena, Duryudana dan adiknya mondar-mandir gelisah. Nafas mereka masih memburu.

Sementara itu, Tarka dan Sarka masih bersimpuh di tanah, menunduk memandang ke

bawah. Entah nasib apa yang berikutnya akan menggilas mereka.

 

“Hei, siapa namamu?” tiba-tiba Duryudana membentak.

 

Tarka diam saja, karena hari itu dia memang bertapa bisu.

 

Duryudana tercenung, tidak biasanya seorang jelata diam bila ditanya bangsawan.

 

Tiba-tiba kaki Dursasana bertengger di pundak Tarka, “Hei, tanah liat, apakah kau tuli.

Pangeran Duryudana bertanya siapa namamu, mengapa kau diam saja.”

Digerak-gerakkannya tubuh Tarka dengan kaki kirinya. Tarka masih diam.

 

“Dan kau.. apakah kau juga bisu-tuli?” segah Dursasana pada Sarka.

 

Sarka menggigil ketakutan.

 

“Siapa namamu?” ulang Duryudana geram.

 

Keduanya masih saja membisu. Sebuah pelajaran penting yang mereka rasakan begitu berat,

terjadi di senja itu. Pesan sang ayah, agar mereka tidak berbicara, tiba-tiba

mengubah situasi menjadi pilihan, yang sangat mungkin berakhir buruk.

 

Burung-burung kembali ke sarang. Udara mendingin. Cerecet monyet bersahutan berebut dahan di

hutan-hutan. Semua berubah tanpa ada yang pernah menyadarinya.

 

Duryudana naik pitam. Siapakah kedua manusia jelata ini, yang dengan keraskepala berani

menentang seorang pangeran Hastina? Baru kali ini, Duryudana merasa dirinya

diabaikan rakyatnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

 

“Apakah kau akan tetap membisu, manakala rajamu bertanya padamu? Apa kau pikir dengan

begitu kau bisa lebih hebat dari penguasamu? Hah? Jawab!” dan sebuah tendangan

menghantam wajah Tarka. Tarka terguling, hidungnya mengucurkan darah. Sarka

mencoba membantu kakaknya, namun tendanganlah yang mencegahnya.

 

Kedua kakak-beradik itu terguling dengan darah bercampur tanah di wajah. Berkelebat

pesan sang ayah bahwa membisu, menjaga lidah agar tak melisankan apapun,

sepertinya laku yang mudah. Akan tetapi, pada kenyataannya, apalagi di tengah masyarakat yang

suka mengobral lisan dengan berbagai dalih, adalah sesuatu yang sangat sulit.

Membisukan lidah, pada hakikatnya adalah membiasakan diri berserah tanpa

bertanya. Dengan berserah tanpa suara, seseorang akan berlatih menuju alam

kekosongan dirinya sendiri. Dan dengan mengosongkan diri sendiri, seseorang

akan dengan mudah menerima keheningan dari sang Maha Hening. Hanya dengan

menyatu pada sang Maha Hening inilah manusia mampu mencacapai kesempurnaan

dirinya. Demikian kelebat ucapan sang ayah ketika menuturkan rahasia laku

bisu.

 

Karenanya, Tarka dan Sarka, pemuda yang belum genap 17 tahun itu hanya diam tak melawan

ketika kedua bangsawan Hastina itu menghajar mereka. Ada sesuatu yang jauh

lebih mulia dan layak diperoleh dengan mengorbankan nyawa sekalipun, yang

membuat mereka tahan terhadap siksaan badaniah. Mereka bahkan diam-diam

memanjatkan doa agar Duryudana dan Dursasana mendapatkan cahaya pengetahuan,

untuk akhirnya memahami bahwa mereka melakukan kesalahan.

 

Akan tetapi, kedua orang bangsawan Hastina itu, yang dengan bangga mengatakan

berdarah Kuru, anak keturunan keluarga Kuru itu, bahkan seakan ingin

menunjukkan kekuasaan. Tak ada bola, tubuh manusia pun jadilah!

 

Senja yang menggelap, seakan memekatkan hati nurani mereka. Kejengkelan mereka

memuncak, manakala setiap kali terjungkal, Tarka dan Sarka berusaha bangkit dan

bersimpuh seperti semula.

 

Duryudana yang bertubuh tinggi besar, kuat, tegap dan selalu berlatih gulat di

kasatriannya, bukanlah tandingan Tarka; pemuda desa yang bertubuh kurus kering,

kecil dan berkulit coklat gelap itu, yang bahkan lebih menyukai puasa dan

bersepi diri. Tak heran jika tubuhnya menjadi bulan-bulanan Duryudana. Begitu

pula dengan Dursasana. Kekuatan tenaganya seakan ditimpakannya ke tubuh Sarka—adik

Tarka.

 

Entah pada hantaman yang ke berapa, batas kekuatan tubuh kakak beradik itu sampailah.

Sebuah detak teredam, tulang-tulang yang remuk terasakan. Duryudana dan

Dursasana sebetulnya merasakan dan mengetahui bahwa tulang-tulang dua manusia malang

itu remuk, namun, entah mengapa, mereka tak berhenti.

 

Adik-adik Duryudana yang lain, karena merasa ketiga orang itu cukup lama tak kembali ke

lapangan, menyusul dan menyaksikan kedua orang itu tengah menghempaskan Tarka

dan Sarka. Mereka merasa ngeri menyaksikan tubuh Tarka dan Sarka, yang

berlumuran darah bercampur tanah.

 

Seekor burung hitam, secara aneh terbang melintas dan merobek sunyi dengan teriakan

paraunya.

 

Hening berlalu begitu saja. Senja menjadi kereta kesunyian yang menghantarkan Tarka

dan Sarka kembali ke alam keabadian. Bahkan, lihatlah, matahari seakan bergegas

menarik tirai malam, tak sampai hati menyaksikan penderitaan yang dialami kakak

beradik yang bahkan tak melakukan kesalahan apapun itu. Angin membeku, seakan

tak percaya bahwa Tarka dan Sarka yang selama ini mereka belai-belai ketika

beristirahat di atas rakit mereka, nyaris membentuk seonggok daging berbalut

debu darah.

 

Duryudana dan Dursasana tertegun, seakan baru tersadar pada perbuatan yang baru saja

mereka lakukan. Nafas mereka memburu, namun, ada kekosongan yang menganga dan

entah bagaimana, mereka berupaya mengusir kekosongan itu. Dursasana, bahkan

bertingkah aneh, bagai orang gila dia menceburkan diri ke sungai, membasuh diri

dan berteriak-teriak bagai orang gila.

 

Sena yang kebetulan baru saja tiba di tempat itu, terdiam. Begitu dilihatnya Tarka

dan Sarka telah menjadi mayat menyedihkan, Sena berteriak dan melompat ke arah

Duryudana. “Binatang!” Dihantamnya rahang Duryudana. Duryudana terjengkang.

Cuplikan Kisah “Karna” 13 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 13

oleh Yanusa Nugroho pada 20 September 2011 jam 22:51

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150297326741835

 

“Karna, bunga-bunga ini, kolam ini, rerumputan, perdu, semak, pohon yang ada di sini, semuanya melaporkan apa yang terjadi denganmu. Kerinduanmu pada seorang perempuan; mungkin untuk kebutuhan jiwamu sendiri, mungkin juga kerinduan seorang anak pada ibunya—tanpa kau sadari, memberi warna pada apapun yang kau sentuh.”

 

“Tidak kah tuan selama ini merasakan hal yang sama?”

 

“Hal yang sama? Hahahahahahaa..Ya. Semua yang datang padaku, memiliki pertalian aneh tentang perempuan. Hahahahahahahaha…” gelak tawanya pecah, percikan merah air sirih terlontar dari mulutnya.

“Jauh, sebelum kau tiba, berpuluh tahun silam.. ada seorang pemuda bernama Dewabrata. Dia kemari karena hatinya terbebani masalah wanita. Dia tidak hanya belajar ilmu perang kepadaku, tetapi lebih banyak tentang bagaimana memerangi diri sendiri terhadap wanita.Kau seharusnya kenal laki-laki yang kini bernama Bisma itu.”

 

Karna terdiam. Bisma. Ya. Tentu saja dia kenal nama itu. Lelaki tua yang menjadi tetua kerajaan Hastinapura. Karna hanya sempat beberapa kali memperhatikan wajah laki-laki itu, dan belum pernah sama sekali berada pada jarak dua tombak sekalipun darinya. Tercekat hati Karna mendengar sekilas penjelasan Parasu tentang Bisma.

 

“Kemudian, datang seorang pemuda, bernama Kombayana. Dalam perjalanannya, dia sempat menjadi muridku. Dia membawa seorang anak yang masih kecil. Dia memiliki ilmu perang yang kuakui hebat. Tetapi, aku tahu, kedatangannya kemari, tak lain juga masalah wanita. Ibu si anak pergi meninggalkannya.Aku tak tahu, di mana dia kini berada. Apa kau pernah mendengarnya?”

 

“Tidak, tuanku resi.”

 

“Hmm. Nah, sekarang kau.. bukankah masalahmu juga tentang wanita?” 

 

“Tetapi bukan, tentang Ken Wasini, tuanku..”

 

“Ooo, jadi namanya Ken Wasini? Hahahahahahahaha..”

 

Karna yang lugu, hanya memerah malu.

 

“Tentu, tentu.. aku mengerti Karna. Hahahahahaha..”

 

“Maaf tuanku, hamba belum sempat bercerita..”

 

“Aku tahu! Memang bukan Wasini yang menjadi persoalanmu.”

 

Hening. Karna diam. Dadanya berkecamuk lagi.

 

“Aku kenal nama Hadimanggala. Dia pemuda yang hebat. Bukan muridku, tapi aku tahu siapa dia. Akulah pengelana yang mengenal baik setiap jengkal tanah di muka bumi ini. Jika Hadimanggala menyuruhmu menemuiku, pasti persoalanmu tak akan jauh berbeda darinya.”

 

Karna menatap wajah resi Parasu. Mata resi tua itu menatapnya tajam. Karna menunduk.

 

“Apakah Hadimanggala bercerita tentang bagaimana ibunya?”

 

Karna menunduk kian dalam.

 

“Apakah Hadimanggala berkisah tentang orang yang melahirkannya?”

 

Karna terlipat pertanyaan Parasu.

 

“Hahahahaha.. lihatlah Karna, nama-nama yang kusebutkan itu, semuanya memiliki masalah dengan perempuan. Dan aku sendiri… haaaaaaaahhrrrgghh..” Parasu melompat, mengayunkan kampaknya dan sebungkah batu di pekarangan terbelah.

 

Karna terpana.

 

Dilihatnya Parasu terduduk di tanah. Sesaat kemudian tegak, menantang langit, lalu teriakan dahsyat mengguntur dari mulutnya. “Renukaaaaaaaa….! maafkan anakmu.. “ resi tua itu pun menangis. Pundaknya terguncang. Karna mendekatinya.

 

“Apa yang kau cari dari laki-laki malang ini, Karna?” ucapnya di sela isak tangis.

“..dosaku tak termaafkan Karna. Penyucian ini begitu panjang dan berat..

Seorang perempuan berselingkuh, dan aku harus membunuhnya. Tetapi, perempuan itu adalah orang yang melahirkanku, Karna.Haruskah aku membunuhnya?

Bisakah aku menghilangkan kenyataan bahwa dia tidur bukan dengan ayahku?

Kesucian, kesetiaan, aahhhhrrrghh.. semuanya membuatku muak.

Darah..ya, darah itu melumuri hidupku Karna. Darah yang membaluri tubuhku ketika lahir, juga melumuri tanganku ketika aku membunuhnya… aaaarrrrghhh..”

 

Singa tua itu mengaum dan menerjang apa saja yang ada di depannya. Batu-batu terbelah, pohon-pohon patah. Karna gemetar.“Dan kau, Karna.. apa yang membuatmu menemuiku?”

 

“Aa..aku mencari diriku..” jawab Karna masih diliputi rasa takut.

 

“Hah! Sebegitu pentingkah itu?”

 

Karna diam saja.

 

“Tahukah kau Karna, kau adalah nasib sial yang menggumpal. Kau dihapuskan dari sejarah seorang perempuan!”

 

Telinga Karna memerah. Dibayangkannya wajah Nyai Radea yang penuh kasih sayang. Dibayangkannya belaian dan kebanggaan ibunya kepadanya.

“Mengapa kau menghina ibuku, tuanku resi?”

 

“Menghina? Hahahaha.. aku bahkan membunuh ibuku sendiri, Karna, jadi apa sulitnya menginjak-injak harga diri ibumu, atau ibu siapapun di dunia ini. Kau mau apa? Membelanya? Silakan. Kau harus menghadapi Parasu, si pembunuh ibu kandungnya.. haarrrggggh..”

 

Parasu menerkamnya dengan tebasan kampak besarnya. Karna—meskipun terkejut—dia sempat berkelit ke samping. Kampak Parasu menghantam batu. Pijaran bunga api memercik, sebelum akhirnya membuat batu itu terbelah.

Karna menggelegak. Serangan mendadak Parasu dibalasnya dengan sebuah tendangan. Resi tua itu bagai karang.

 

Tubuhnya kukuh, layaknya gunung batu.

 

Hanya sekedipan mata kemudian, kampak besar itu meluncur deras dan menghantam dada Karna.

Sebuah dentuman dahyat terdengar. Tubuh Karna terpental beberapa tombak.

***

Cuplikan Kisah “Karna” 12 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 12

oleh Yanusa Nugroho pada 20 September 2011 jam 22:28

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150297302711835

 

Dalam bayangan cahaya, Karna menyaksikan sesosok makhluk tinggi besar, berambut

sangat panjang, yang diikat, agak menggumpal di atas kepalanya. Kain penutup

tubuhnya, dicawatkan begitu saja, sementara dadanya telanjang. Dia berkacak

pinggang menatap sebungkah bara. Karna ragu melanjutkan langkah. Dia

mencoba mereka-reka apa sebenarnya yang dilakukan laki-laki itu.

 

Melihat ciri-cirinya, persis sebagaimana yang digambarkan Hadimanggala, tak salah lagi,

dia adalah Resi Parasu.

 

Karna melihat Parasu mengangkat kepalanya, dan pandangannya menebar, seakan menembus

kegelapan malam. “Siapapun kau, keluarlah..jangan bersembunyi..” teriaknya.

Tertegun Karna menyaksikan Parasu. Orang itu mampu mengetahui kehadirannya,

yang bahkan cukup jauh dari tempatnya berdiri. Apalagi, Karna berada di tempat

yang cukup tersembunyi, dan malam hari.

 

Tak ada pilihan lain, Karna melangkah mendekati laki-laki itu.

 

Parasu tegak dalam jarak. Matanya seakan menembus dan membaca gerak-gerik Karna.

 

“Siapa kau?” teriaknya seakan memberi tombak agar Karna berhati-hati sebelum mendekat.

 

“Saya Karna, sang resi..”

 

“Karna? Jika bukan orang gila, tentu kau orang bodoh.”

 

Karna diam tak menjawab.

 

“Mau apa kau mengintip-intip aku?”

 

Karna tak punya jawaban. Keberaniannya seakan meleleh di hadapan Parasu.

 

“Kemari kau, tikus kecil!”

 

Dengan gemetar, Karna melangkah. Dan kira-kira sepuluh langkah di depan Parasu, Karna

berhenti. Karna memandang wajah Parasu, yang kian mengerikan dipoles pendar

kemerahan cahaya api.

 

“Mau apa, kau, Karna?”

 

“Berguru.”

 

“Berburu?” kemudian Parasu terbahak-bahak. Suaranya lantang, keras dan memiliki kekuatan menguasai sangat

besar.

 

Karna percaya bahwa itu hanyalah sebuah cara yang aneh di dalam bertegur sapa. Dia

percaya, telinga Parasu tidaklah tuli.

 

“Benar, sang resi. Saya berburu.”

 

Parasu tertegun beberapa saat. “Hmm..apa yang kau buru? Hewan buruan mencari selamat.

Semua sudah minggat.”

 

“Memburu tuanku..” Karna mulai bangkit dan mencoba melawan rasa takutnya sendiri.

 

Parasu tergelak-gelak. Tubuh besarnya terguncang-guncang.

 

“Berapa usiamu?”

 

“Delapan belas, tuanku..”

 

“Anak bau kencur! Hahahahaha.. Memburu Parasu? .untuk apa?”

 

Setelah terdiam sesaat, “Untuk mendapatkan diriku..” jawab Karna sungguh-sungguh. Entah

mengapa, dia merasakan getaran aneh yang membuatnya yakin, manusia gila inilah

yang dicarinya.

 

Parasu seperti membeku tiba-tiba. Dia seakan mencerna jawaban Karna.

 

“Kau lapar? Aku lapar sekali. Rasanya aku punya daging rusa.” Lalu seolah tak pernah

terjadi pembicaraan apa-apa sebelumnya, Parasu berbalik dan memasuki pondoknya.

 

Perut Karna menyanyi.

 

Parasu keluar membawa dua tombak panjang dengan dua gumpalan daging ditusukkan di

ujung masing-masing. Parasu melemparkan sebuah tombak ke arah Karna. Karna

menangkapnya. Sekilas Parasu melihat, kecekatan tangan Karna yang terlatih.

 

Karna mengikuti laki-laki besar itu melangkah. Di aliran lava yang masih memerah,

Parasu mendekatkan gumpalan daging itu ke lava. “Tak perlu membuat api lagi.”

 

***

 

Karna duduk berdampingan dengan laki-laki besar itu. Terdengar suara kecapan mulut

yang kasar dan terkesan rakus dari Parasu. Begitu bersemangat. Buas dan aneh.

Karna menggigit makanannya sedikit demi sedikit.

 

“Hmm.. aturan istana.. “ucap Parasu dengan mulut penuh mengunyah-ngunyah.

 

Karna tersenyum. Baru disadarinya, cara mereka mengunyah pun sudah jauh berbeda.

 

“Jika saja kau seorang kesatria, kau harus beruntung bertemu denganku di usiaku saat

ini..”

 

“Aku sudah mendengar kisahmu, sang resi..”

 

“Hmm.. bagus.. bagus..” Parasu menggigit lagi dan mengunyah lagi.

 

Karna mengamati wajah Parasu dengan seksama. Ada pertanyaan besar yang tiba-tiba

mencuat. Parasu yang juga dikenal sebagai Rama Bargawa, hidup sejak beratus

tahun lampau. Dia hidup sejak sebelum jaman Prabu Arjunasasra lahir. Mengarungi

hidup melampaui masa kejayaan Prabu Ramawijaya dari kerajaan Ayodyapala.

 

“Yang kudengar, tuanku wafat di tangan Baginda Ramawijaya, raja Ayodya itu..”

 

“Yang kau dengar.. hahahah.. yang kau dengar.. Lalu apa yang kau lihat? Hahaha..Mana

yang kau percaya, mata atau telingamu? Hahahahaha..”

 

“Maaf tuanku, saya hanya ingin mendengar sendiri kebenaran itu dari mulut tuanku

sendiri..”

 

“Hahahahaha..tadi telinga, mata, sekarang mulut. Hahahaha.. mulutku, lagi… hahahahahaha…

Karna, anak bau kencur mau bertanya tentang nasib kisahku. Jangankan engkau,

sang waktu pun mungkin sudah bosan padaku, sehingga tak dipedulikannya lagi

diriku yang masih berkeliaran di muka bumi ini.”

 

“Jadi, bahkan Guawijaya—panah sakti sang Rama pun tak mampu melukai kulitmu?”

 

Tanpa peduli pertanyaan Karna, Parasu mengalihkan pembicaraan semau-maunya.

“Bagaimana, enak, daging rusa masakanku..? Hmmmh? Hahahahahahaha,…Aku pernah

ke negeri-negeri aneh, melintasi lautan pasir..”

 

“Lautan pasir?”

 

“Hahahahahaha..sudah kuduga. Ya, negeri yang dikepung oleh lautan pasir. Di sana, aku belajar

bagaimana mengolah daging hewan. Bagaimana mengawetkannya sehingga bisa kita

bawa pergi selama berbulan-bulan dan tidak membusuk… hahahaha.. hebat. Hebat

sekali mereka.. Manusianya kecil-kecil, kulitnya putih bersih dan mata mereka

hanya segaris.. hahahaha.. mereka orang-orang bijak.

 

Dan..sebagaimana lidahmu merasakannya tadi, ada sesuatu yang lain, bukan?

Tidak hanya asin, tetapi sesuatu yang lain… “

 

“Lautan pasir?”

 

“Hahahahahaha.. lihatlah dirimu Karna..hahahahahaha”

 

“Apakah.. mmm..”

 

“…ada ikannya, tuanku resi?. huahahahahahahahahaa..” ledek Parasu menirukan suara Karna.

 

Karna terdiam. Sungguh dahsyat orang tua ini.

 

“Mereka bukan hanya memiliki kuda, tetapi juga hewan-hewan berleher panjang dengan dua

gunung di punggungnya.. Karna, jangan menganga, dagingmu jatuh..

huahahahahahaha..”

 

Karna ikut tertawa, dia tersedak. Parasu kian tergelak-gelak.

***

Cuplikan Kisah “Karna” 11 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 11

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 23:42

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150296104596835

 

Adalah seorang dara jelita. Tubuhnya adalah seni keindahan yang selalu membayang di

setiap mimpi lelaki. Suaranya merdu, menembangkan kidung-kidung sastra.

Gerakannya gemulai, menggoda siapapun yang menatapnya.

 

Dialah dara dusun yang menjadi juru kidung istana Mandura. Sagopi, dara prenjak

berambut panjang, menjadi idaman para pangeran Mandura. Ketiga pemuda Mandura

itu diam-diam memperebutkan Sagopi agar bisa setiap malam menembang di

kasatrian mereka masing-masing. Arya Basudewa, Arya Rukma dan Arya Ugrasena

dengan cara masing-masing, memang berhasil mengajak dara jelita itu ke peraduan

mereka.

 

Sagopi, keindahannya adalah milik Mandura, meskipun sebetulnya dia dinikahkan dengan

seorang tua renta—demang Antagupa, oleh raja Mandura yang berkuasa pada saat

itu.

 

“Aku adalah anak dari salah satu pangeran itu..” ucap Hadimanggala seakan menelan

ucapannya sendiri.

 

Karna membeku.

 

“..dan aku, bukan satu-satunya..”

 

“Maksudmu?”

 

“Saudaraku yang lainnya, Ken Larasati, dan Udawa.. juga demikian..”

 

“Mereka..?”

 

Hadimanggala mengangguk lemah.

 

“Waktu itu, kemarahanku meluap-luap. Aku bahkan sempat menghunus keris dan siap

menghabisi ibuku sendiri. Tetapi.. entahlah. Aku terpaku pada wajah perempuan

yang melahirkanku. Wajah yang bahkan serasa tak dimilikinya itu. Bukan hanya

itu, aku merasa bahwa bahkan jiwanya—apalagi raganya, bukanlah miliknya. Dia

hanya menembang dan menembang sepanjang hari. Hingga akhirnya aku tak bisa

berbuat lain, kecuali melimpahinya dengan kasih sayang. Hanya itu yang aku

miliki saat itu.

 

Ada sesuatu yang lebih besar daripada pemahamanku tentang duniaku sendiri. Apalagi

ketika kutatap wajah tua demang Antagupa, aku pun tak bisa melakukan apa-apa

selain memeluk tubuh rentanya…”

 

Karna menatap mata Hadimanggala yang membasah. Bayangan api menari di bola matanya.

 

***

 

Perbincangannya dengan Hadimanggala pada malam itu, membuat Karna merasa mendapatkan sahabat

karib. Hadimanggala bagaikan seorang kakak baginya. Kakak yang bisa diajaknya

berbincang. Kakak yang bisa ditanyainya dalam berbagai hal, juga tentang

keanehan yang dialaminya.

 

Pengetahuan dan kebijaksanaan Hadimanggala, di mata Karna, memiliki kesamaan dengan apa

yang pernah diperolehnya dari Pangeran Narayana. Bagi Karna, pada akhirnya, itu

tak mengherankan, mengingat antara Pangeran Narayana dan Hadimanggala

dipertalikan oleh sumber yang sama. Jika Pangeran Narayana adalah putra resmi

Basudewa—yang kini naik tahta sebagai raja Dwarawati– Hadimanggala adalah

kemenakan tak resmi raja Mandura tersebut. Hadimanggala adalah anak yang lahir

dari Pangeran Ugrasena, adik Prabu Basudewa; paman Narayana.

 

Hadimanggala sendiri memilih untuk tidak menampakkan diri di Mandura. Sejak dia bisa

melakukan perjalanan sendiri, Hadimanggala pamit kepada ayah-ibunya di

Widurakandang bahwa dirinya akan berkelana, mereguk kehidupan di negeri lain.

 

Siapapun, bahkan ayah kandungnya sendiri pun, tak mengetahui bahwa Hadimanggala memiliki

darah Mandura. Lahir dari kalangan istana, namun, tampaknya, gemerlap garis

keturunan bukanlah sesuatu yang layak diperhitungkan. Hadimanggala memilih

kehidupan orang kebanyakan. Meniti hidup sebagai prajurit.

 

Sebagaimana biasanya, seusai menjalankan tugas mereka sebagai prajurit, pada malam-malam

tertentu, mereka berkumpul. Kebijaksanaan Gandamana memang demikian. Kadang,

Gandamana mengundang senapati tua Hastina, yang telah menelan asam-garam

kehidupannya di Hastina di masa lalu, untuk bercerita kepada yang muda-muda.

Ini dilakukan di saat-saat seperti itu.

 

Malam itu, bulan sedang terang-terangnya di angkasa. Karna menatap keindahan itu

dengan kebencian sekaligus kekaguman yang pernah melanda jiwanya. Sekilas wajah

Sarpa membayang. Lalu wajah Kunti. Lalu Nyai Radea dan tentu saja Radea.

 

“Biasanya, orang yang tenggelam bermandi cahaya bulan, hatinya sedang dirundung

kegelisahan..” sapaan lembut penuh canda itu membuat Karna tersenyum.

 

“Ya. Benar, kakang..”

 

“Siapa yang kau bayangkan? Apakah salah satu dara Mandaraka yang kemarin ikut ayahnya

ke Hastina itu yang menjadi perhatianmu?”

 

Karna terkejut. Dia tak mengetahui bahwa rombongan kerajaan Mandaraka yang berkunjung

beberapa hari lalu itu membawa putri.

 

“Ha..ha.. jangan-jangan..” Hadimanggala menggoda.

 

“Kakang, aku bahkan tak tahu kalau kereta itu juga berisi gadis cantik. Siapa mereka?”

 

“Prabu Narasoma, yang kini bergelar Prabu Salya.. kakak dewi Madrim.”

 

“Aku tahu.”

 

“Oh, dara-dara itu, maksudmu.. hahahaha,,”

 

“Siapa lagi..?”

 

“Aku tak tahu namanya..tetapi, kedua putri itu, meskipun terlalu muda untukku…

memang luar biasa..”

 

“Kau melihatnya?”

 

“Dari jauh.. hahahaha.. mana mungkin aku diijinkan mendekat.”

 

“Bagaimana kau bisa menilai kecantikannya jika dari kejauhan?”

 

“Ini mata istimewa, Karna…hahahahaha..”

 

Karna tertawa. Sekilas, Karna teringat akan cerita Sarpa tentang Narasoma yang tega

membunuh mertuanya sendiri, hanya karena sang mertua adalah seorang raksasa

pertapa. Ingatan itu mengubah mimik wajah Karna dan Hadimanggala menangkapnya.

 

“Kau kurang suka pada Prabu Salya?”

 

“Picik. Anaknya dia kawini, ayahnya dia bunuh; hanya karena sang ayahmertua raksasa…”

 

Hadimanggala tersenyum masam. Ucapan Karna terasa memiliki kegetiran sama dengan apa yang

dialaminya. Kisah masa lalu yang terlalu pekat dan pahit untuk dikenang.

 

“Jadi, bukan karena dara-dara Mandaraka itu?” Hadimanggala mengalihkan pembicaraan.

 

“Bukan, Kakang. Aku hanya memikirkan siapa sebetulnya diriku..”

 

“Ah, anak muda suka merenung.. sebentar lagi rambutmu ditumbuhi uban..hahahaha..”

 

“Biarlah uban merajai rambutku, jika memang mampu menjawab pertanyaanku.”

 

Hadimanggala terdiam. Karna tampak bersungguh-sungguh. “Jadi masih tentang peristiwa babi

hutan itu?”

 

“Antara lain..” kemudian Karna menyambungnya dengan peristiwa terbakarnya rambut Sarpa.

 

“Hmm..pertanyaan sulit. Aku tak tahu jawabannya, tetapi, mungkin aku tahu seseorang

yang mampu menjawab pertanyaanmu..”

 

“Siapa?”

 

“Sayangnya, jika kau ingin menemuinya, kau harus pergi dari Hastina..”

 

Karna tercenung beberapa saat. “Berarti sangat jauh dan memerlukan waktu sangat

lama..”

 

“Bisa jadi sebanyak seluruh umur yang kau miliki, belum tentu cukup untuk menemukan

jawaban itu..”

 

“Tetapi, aku tak mau seluruh hidupku mengambang di lautan pertanyaan..”

 

“Ya, aku tahu, meskipun ‘pelabuhan’ yang kita darati, belum tentu membuat kita

bahagia..”

 

“Siapa dan di mana ‘pelabuhan’ yang mungkin akan memberiku jawaban itu, kakang.”

 

Hadimanggala kemudian menyebut nama seorang resi tua yang tinggal di belahan lain gunung

Sapta Arga. Untuk mencapainya, Karna harus mampu melintasi perjalanan yang

sangat jauh dan asing. Karna menyimak ucapan Hadimanggala dengan

sungguh-sungguh.

 

Bagi Hadimanggala, sikap dan kesungguhan, di samping kehebatan Karna menimbulkan

pertanyaan, siapa sebenarnya engkau, Karna?

 

***

Cuplikan Kisah “Karna” 10 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 10

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 23:25

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150296066526835

 

Dengan darah mengucur, bahkan oleh anak panah yang nyaris menembus seluruh tubuhnya,

babi itu masih setan. Dia berlari memimpin gerombolannya. Mendengus nafas

kemarahannya. Matanya liar, menaruh dendam. Luka di tubuhnya menganga.

 

Karna berteriak lantang, diikuti kawan-kawannya. Tombak dan belati di tangan mereka.

“Kejaaar.. huuu..haaaaaa..hoi. hoii..”

 

“Aaaww..aaww..awww…”

 

“Yaaa..yaaa,..,yyaaaaa..”

 

Dan berpasang-pasang kaki itu membelah bumi. Menerabas semak belukar, mematahkan

ranting-ranting dan merontokkan dedaunan. Lumpur menyibak, menyemprot-nyemprot.

Beberapa babi hutan bahkan tergelincir, namun berusaha bangkit dan berlari

menyusul rombongannya.

 

Pengejaran itu sampai di sebuah tebing. Para babi saling bertubrukan, karena tak ada lagi

jalan bagi mereka. Tak mungkin mereka melompat, apalagi mendaki tebing. Jalan

satu-satunya adalah melompat ke dalam air.

 

Karna dan rombongannya kian bersemangat. Tombak-tombak diluncurkan. Seekor babi

tersungkur, sebilah tombak menancap di perutnya. Kakinya menendang-nendang,

tubuhnya berkubang darahnya sendiri. Para prajurit muda itu kian bersemangat;

makan malam mereka menjemput maut.

 

Namun, di tengah kegalauan itu, Karna tiba-tiba melihat gelagat buruk. Dia segera

mengisyaratkan agar teman-temannya berhenti. Nafas mereka tersengal-sengal.

 

“Ada apa?”

 

Karna hanya melemparkan pandangan ke arah si pemimpin.

 

Babibesar itu benar-benar menantang si penyerang. Dengan merah darah di sekujur

tubuhnya, yang memoles bulu-bulu kasar hitam itu, babi besar itu lebih mirip

siluman dari neraka. Matanya merah, marah. Kepalanya agak ditundukkan, seakan

menyiapkan serudukan dahsyat bagi siapapun yang ada di depannya.

 

Para prajurit muda itu bagai terpasak ke tanah. Mata mereka tak mau lepas dari

setiap gerak yang mungkin saja mendadak. Ketegangan mengalir. Dada yang turun

naik. Denyut jantung yang menguat. Jemari tangan yang kian erat memegang

senjata.

 

Dan tanpa mengindahkan apapun yang ada di sekitarnya, babi besar itu melesat

sekuat-kuatnya, menderu ke arah para prajurit muda itu.

 

Karna ternganga, tak menyangka bahwa makhluk hitam ganas itu memiliki kecepatan

berlari seperti itu. Sesungguhnya, masih ada kesempatan untuk berlari, paling

tidak melompat ke samping agar tidak benar-benar tepat di muka si babi. Akan

tetapi, rasa takut dan ketegangan yang melilit tubuh mereka, membuat keenam

orang itu benar-benar membatu di tempatnya berdiri.

 

Mata Karna hanya menangkap waktu yang meleleh, bergerak bagai aliran madu kental.

Telinganya hanya menangkap suara-suara menggaung tak jelas. Kakinya terasa

begitu berat, dan bola hitam yang menderu ke arahnya itu nyaris tak bisa

diikuti mata.

 

Karna terpental, tubuhnya menghantam pohon.

 

***

 

Hutan sunyi. Gelap kian pekat. Karna membuka pelupuk matanya. Kelima kawannya

melingkarinya dengan wajah duka.

 

“Apa yang terjadi?” bisik Karna lemah.

 

“Karna? Kau masih hidup?” kata salah seorang seakan tak percaya dengan apa yang

dilihatnya.

 

Karna duduk, dan suasana mendadak riang gembira.

 

“Tak mungkin ini. Tapi, kau memang sakti, Karna..”

 

“Ya, kami semua menyangka dadamu hancur diterjang si babi itu..”

 

“Aa..apa yang terjadi?” Karna makin tak mengerti.

 

“Lihatlah..”kata salah seorang sambil menunjuk ke bungkahan hitam yang teronggok beberapa

tombak di depan mereka.

 

“Babi itu mati, tulang kepalanya remuk.”

 

“Remuk?” 

 

”Ya, setelah menghantam dadamu..”

 

Karna meraba dadanya sendiri. Sedikit ngilu memang terasa di sebidang dadanya itu,

tetapi, selebihnya, dia merasa baik-baik saja. Matanya meneliti permukaan

dadanya sendiri, tak ada goresan atau noda apapun di sana; tentu saja selain

bercak lumpur dan darah babi yang mati itu.

 

“Bagaimana mungkin?” ucapnya, seolah, kepada diri sendiri.

 

“Kau memang sakti Karna. belajar dari mana ilmu seperti itu?”

 

Karna tak menjawab. Aneh. Tak masuk akal. Tetapi nyata dan disaksikan paling tidak lima

pasang mata kawan-kawannya.

 

Di perjalanan pulang dengan dua ekor babi hutan hasil buruan dalam pikulan, keenam

orang itu berjalan dengan pikiran masing-masing. Karna masih mencari jawaban

atas keanehan yang terjadi pada dirinya. Setelah peristiwa Sarpa, kini babi

hutan. Apa yang melapisi dadanya? Kekuatan apa sesungguhnya yang tersimpan di

tubuhnya ini? Sejak diperingatkan oleh Pangeran Narayana, Karna memang dengan

sekuat tenaga mencegah agar kekuatan yang ada di tubuhnya itu tak keluar

semau-maunya. Bertahun-tahun hal itu berhasil dikendalikannya, namun hari ini,

ketika nyawanya terancam, kekuatan itu muncul tanpa perintahnya.

 

Karna masih menunduk, berjalan di belakang teman-temannya yang memikul hasil buruan.

Siapakah engkau, Karna? desahnya putus asa.

 

***

 

Secara bisik-bisik, peristiwa babi hutan itu membuat nama Karna kian dikenal luas.

Meskipun tak seorang pun menunjukkan kekagumannya pada Karna secara

terang-terangan, namun Karna bisa merasakannya. Dia sendiri sesungguhnya tak

berharap hal itu terjadi, bahkan kepada kelima kawannya Karna melarang cerita

di hutan itu dituturkan. Namun, sekuat apapun lapisan pembungkus, cairan akan

merembes juga.

 

Bukan hanya mereka yang berkumpul dan bertugas membuka hutan itu saja yang diam-diam

kagum dan segan pada Karna, bahkan dua belas purnama kemudian, ketika mereka

sudah kembali ke Hastina, berita itu cepat menyebar. Orang yang—entah

mengapa—paling merasa beruntung adalah Gajah Sura. Dengan bualannya dia

mengatakan bahwa dia memiliki cara tertentu dalam menemukan bakat seseorang,

dan Karna adalah buktinya. Tentu saja, yang mendengar semua itu hanya menarik

nafas maklum. Ah, Gajah Sura, selalu saja ada orang macam dia di dunia ini..

Itulah yang tiba-tiba menjawab perasaan orang-orang tentang Gajah Sura.

 

Kisah seorang manusia yang memiliki tubuh sekuat batu gunung itu menjadi syair-syair

para penyair jalanan. Mereka mendendangkannya lewat tembang-tembang

kepahlawanan. Seakan peristiwa itu merupakan jawaban akan keresahan mereka pada

kedahsyatan manusia. Peristiwa itu adalah seteguk air kehausan yang entah

mengapa merebak di seluruh penduduk Hastina. Kehausan akan sesuatu yang lain,

yang anehnya terjadi ketika Hastina berada di jaman keemasannya. Karna, tanpa

kehendaknya, menjelma dewa perkasa di sudut-sudut hati pemujanya.

 

 

Namun, Karna hanya merasakan semua sikap yang ditujukan kepadanya itu, seolah sebuah

jeruji penjara yang kian membuatnya kesepian. Beban berat itu dirasakannya kian

besar, manakala banyak di antara mereka yang diam-diam datang ke biliknya dan

membawakannya berbagai macam makanan. Dia terasing di dalam limpahan

keistimewaan.

 

***

 

Malam  itu, ketika banyak manusia terlelap dalam kelam malam, Karna berada di luar

barak. Di tengah halaman, biasanya api unggun dinyalakan. Biasanya pula, pada

saat-saat seperti itu, masih tampak beberapa prajurit muda yang mengelilingi

api, sekadar menghangatkan badan atau berbincang tentang apa saja. Namun, malam

itu, entah mengapa, Karna tak melihat seorang pun di sana.

 

Karna duduk. Diam. Menikmati hening. Sesekali dia memasukkan ranting, atau sekadar

menghangatkan telapak tangan ke dekat bara.

 

“Hmm.. tidak mudah menjadi pahlawan..”

 

Karna menoleh. “Kakang Hadi Manggala..” sapanya kepada pemuda tegap, yang usianya

lebih tua darinya.

 

Hadi Manggala adalah juga seorang pimpinan regu prajurit muda. Kumis tipis tergores

di wajahnya yang selalu tersenyum. Bungkah otot di kedua lengannya mulai

tampak. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dibandingkan Karna.

 

“Karna.. sayang sekali waktu itu, aku tak dikirim ke dalam kelompokmu..”

 

“Ah, Kakang.. masih percaya cerita omong kosong itu..” sanggah Karna.

 

“Bagiku, itu bukan omong kosong, Karna. Aku dibesarkan oleh kisah-kisah semacam itu.”

 

“Maaf, Kakang.. Kau berasal dari mana?”

 

“Sebuah wilayah kecil di bawah kekuasaan Mandura: Widurakandang.”

 

“Widurakandang? Rasanya aku pernah mendengar nama itu..”

 

“Ah, ya.. setiap orang kemudian mengenal nama itu begitu cepat.”

 

“Bukankah.. tunggu.. Apakah kau dikirim ke Mandura?”

 

“Ya..ketika kau selama setahun berada di hutan, membuka lahan, kami dikirim ke

Mandura. Pertempuran dengan Gorawangsa kami menangkan dengan gilang gemilang..”

 

Karnaterdiam. Pertukaran kisah di antara para prajurit muda, saat itu adalah hal

yang biasa. Mereka biasa bertukar kisah tentang tugas yang mereka emban di

wilayah masing-masing. Jadi, tak mengherankan jika mereka pun dengan cepat

mengetahui setiap perkembangan yang terjadi di negara mereka.

 

“Apakah kau sempat pulang ke Widurakandang?”

 

“Sempat. Aku bertemu dengan ayah-ibu dan saudara-saudaraku.”

 

“Ah,aku belum sempat menjenguk ayah-ibuku.” Karna terdiam beberapa saat, lalu..”

Benarkah bahwa istri Prabu Basudewa sempat diperistri Gorawangsa?”

 

“Begitulah.”

 

“Bagaimana mungkin?”

 

“Yaah, begitulah kalau kebanyakan istri.. hehehe..”

 

“Bukan begitu.. maksudku..”

 

“Ah,Karna.. itu biasa terjadi. Basudewa berburu—entah hewan entah

perempuan—hahahaha.. Nah, ketika itulah Gorawangsa masuk ke istana, menyamar

sebagai Basudewa..”

 

“Bagaimanamungkin istrinya tak bisa mengenali suaminya sendiri? Gorawangsa berujud

raksasa—itu yang aku dengar—dan Basudewa, manusia biasa..”

 

“Hahahaha..sekali lagi, itulah yang aku dengar. Berita resmi memang begitu. Tetapi,

siapakah yang tahu, jika—misalnya—Gorawangsa adalah ,ternyata, kekasih lama

Dewi Mahira.. Hahahahahaa..”

 

“Hahahahaha.. itu lebih masuk akal..”

 

“Lebih masuk akal karena, hasil ‘pergulatan cinta itu’..” Hadimanggala berusaha

menahan gelak ketawanya,”.. hasil ‘pergulatan cinta’.. itu membuat dewi Mahira

hamil..”

 

“Hamil? Ah, itu pelanggaran berat. Hukuman mati..”

 

“Seharusnya. Nyatanya, tidak, kan?”

 

“Mengapa?”

 

“Nah, itu dia. Tentu ada pertimbangan lain.”

 

“Hmm..Bisa jadi, tiba-tiba Dewi Mahira mengungkap kebenaran peristiwa. Dan ucapannya

itu akan membuat Mandura kehilangan muka di dunia.”

 

“Persis. Dan karena pertimbangan tersebut, maka kisah itu diredam, Dewi Mahira

diungsikan ke Sengkapura dan Gorawangsa dibunuh. Peristiwa itu bungkam. Yang

terdengar di luar adalah Gorawangsa ingin mengambil Mandura dan karenanya harus

diperangi.. ”

 

Karna terdiam. Terdengar desah nafas beratnya. Tangannya memasukkan ranting kayu ke

tengah api. Api menjilat. Kayu terbakar.

 

“Kakang, aku ingin berkunjung ke Widurakandang, ke rumahmu, jika diperbolehkan..”

 

Hadimanggala terdiam. Wajahnya lurus menatap api, seakan ingin menembusnya. “Boleh,” ujarnya

sesaat kemudian.

 

“Ayahmu tentu orang bijaksana, karena kulihat itu ada pada dirimu..”

 

Hadimanggala membeku. Dia tak segera menjawab ucapan Karna.

 

Karna merasa ada sesuatu yang tiba-tiba membebani perasaan Hadimanggala. “Maaf,

Kakang..apakah ucapanku ..”

 

“Tidak. Hanya saja, setiap kali orang lain menyebut kata ‘ayah’, aku merasa …ah,

entahlah.”

 

“Oh, maaf.”

 

“Takapa, Karna. Orang mengenalku sebagai anak demang Antagupa. Tetapi,

sesungguhnya.. orangtua itu.. menurut ibuku, dia bukan ayah kandungku..”

 

Bagai tersulut bara, Karna terkejut. Sebatang kayu, berdetak terbakar, meletupkan

percikan bunga api ke udara.

***

Cuplikan Kisah “Karna” 09 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 09

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 21:05

https://www.facebook.com/#!/notes/yanusa-nugroho/cuplikan-karna-9/10150295938931835

 

Peperangan demi peperangan selalu dimenangkan Hastinapura. Nama Gandamana kian harum.

Pemuda itu, di mata Pandu, kian matang. Pemikirannya kian bijaksana dan

kemampuan lapangannya memang mengagumkan. Bahkan, sebelum ajal menjemput di

suatu peperangan, Antisura sempat mengatakan kepada rajanya, bahwa Gandamana

adalah kekuatan lapangan Hastinapura.

 

Kisah kehebatan dan kesungguhan Gandamana, sampai juga ke telinga Karna, lewat

dongeng Radea. Pemuda gagah dan tak banyak bicara itu, muncul sebagai sosok

luar biasa di mata Karna.

 

Karna yang mulai tumbuh sebagai remaja, dengan caranya sendiri selalu mendapatkan

kisah-kisah itu dari Radea. Sampai suatu kali, dia menyatakan keinginannya agar

diijinkan menjadi prajurit Hastina, di bawah kepemimpinan Gandamana.

 

Radea terdiam beberapa saat. Rambutnya yang nyaris seluruhnya berwarna putih itu,

kian menunjukkan betapa banyak persoalan yang dihadapinya. “Memang sudah

saatnya kau meneguk pengetahuan di luar sana, anakku. Ayah akan coba bicara

dengan tuan Gandamana.”

 

“Ayah mengenalnya?”

 

“Ayah jarang berbicara dengannya, namun ayah yakin, dia mengetahui dengan pasti siapa

ayahmu ini.”

 

***

 

Siang itu, seusai mengurus kuda-kuda milik ayahnya, Karna mencari Sarpa, yang sudah

sangat lama tak dijumpainya. Hanya beberapa kali sejak peristiwa di Socamala,

ketika itu, Sarpa menemuinya. Itupun tak banyak bicara.

 

Socamala tampak kian sunyi. Pepohonan memang merimbun, namun di mata Karna seperti

sebuah lembah mati. Beberapa musim sudah dia tak berkunjung ke kaki bukit ini.

Tubuhnya mulai menunjukkan ketegapan seorang remaja. Rambutnya digerai,

menjuntai hingga sedikit di bawah pundaknya. Tatapan matanya kian tajam, dan

itu dipertegas dengan bentuk alisnya, yang menajam di bagian tengah itu.

 

Karna terus melangkah, menerabas semak-semak, menuruni tebing-tebing kecil di sekitar

aliran sungai kecil di Socamala. “Sarpaaa…” teriaknya lantang. Ada perubahan

besar di nada suara itu. Tak lagi mendengking seperti ketika dia memanggili

Sarpa beberapa tahun silam.

 

Tiba-tiba dari arah kerimbunan, karena perdu dan sulur-sulur akar gantung pepohonan

besar, muncul sesosok makhluk. Suaranya menggeram, bergelatak di

tenggorokkannya. Sekilas, Karna mengira makhluk itu adalah Sarpa, ternyata

bukan. Makhluk itu menggenggam sebuah gada besar di tangan kanannya.

 

Karna terdiam. Makhluk dengan kulit kehijauan dan kotor oleh lumut itu tak

menunjukkan persahabatan.

 

“Grrr…grrhhk.. manusia, menyingkir!” gertak makhluk itu sambil mengayun-ayunkan gada beratnya.

 

“Siapa kau?”

 

“Grrrkk..hhhkkk..ini tempatku. Kau harus menyebut namamu..”

 

“Aku mencari Sarpa..”

 

“Sebutkan namamu!..grrrhhkk.” ucapnya sambil menghantamkan gadanya ke arah pohon. Pohon

itu berderak patah. Gemerasak dedaunanya, untuk kemudian berdebum ke bumi.

 

“Aku mencari Sarpa..”

 

“Sarpa?… Hahahahahahaha… si tolol itu sudah mati di tanganku.. Grrhh.. hh

sekarang, kau akan menyusulnya… grrraaaahhhggg..”

 

Raksasa itu melompat tak memberi kesempatan Karna untuk mencerna ucapannya. Karna

menghindar. Dia masih tak percaya pada apa yang didengarnya.

 

“Mengapa kau bunuh, dia?”

 

Raksasa itu mengayunkan gadanya,..”Dia…. grrhh.. bersahabat dengan..hh..

manusiaaahh..grrrkk..” dan bumi pun bergetar oleh hantaman gadanya.

 

Karna muak. Tak bisa dibayangkannya, Sarpa mati oleh kerabatnya sendiri. Kasihan

Sarpa, dimusuhi manusia dan raksasa sekaligus. Di manakah tempatmu berada di

kehidupan ini, Sarpa? Kemuakannya mendidih menjadi kemarahan. Karna melompat

gesit. Dia yang telah mahir berkuda, dengan mudahnya, memanjat tubuh raksasa

itu dan mencengkeram rambut kasar makhluk mengerikan itu.

 

Namun, tanpa diduganya, raksasa itu membungkukkan tubuhnya dengan keras, dan Karna

terpelanting. Tubuhnya menghantam pohon. Kepalanya berkunang-kunang. Dan belum

lagi kesadarannya pulih seluruhnya, Karna melihat ayunan gada menderas ke

arahnya. Karna berguling-guling. Hantaman gada itu seakan mengejarnya ke

manapun dia berguling.

 

Di luar perkiraannya, raksasa bertubuh besar itu begitu gesit, tidak lamban

sebagaimana yang dibayangkannya bila Sarpa bergerak. Karna nyaris kehabisan

nafas, sampai tiba-tiba..

 

Sesaat ketika gada itu terarah tepat di kepala Karna, tubuh raksasa itu kaku. Sesaat

kemudian dari mulutnya mengaum suara kematiannya, untuk kemudian tubuhnya

berdebum, rebah terlentang di tanah. Beberapa kedipan mata kemudian, Karna

menyaksikan darah merembes dari celah-celah rambut raksasa itu, mengalir dan

membasahi dedaunan kering di tanah.

 

Karna masih terpaku pada sesuatu yang terjadi di depan matanya. Nafasnya turun naik,

keringat membasahi tubuhnya.

 

“Kau pasti Karna, anak Kakang Radea..” sebuah suara berat berwibawa, menyentakkan

Karna.

 

Si pemilik suara seorang laki-laki muda, dengan kumis lebat melintang dan rambut

tebal, hitam berombak yang digelung besar di kepalanya. Tubuhnya tinggi besar,

dan melihat tanda-tanda kebesaran di hiasan telinga dan lengan-lengannya,

tahulah Karna bahwa laki-laki yang berdiri tegak itu adalah salah seorang

pembesar Hastina.

 

“Bangunlah Karna..Berdirilah, sebagaimana seorang laki-laki berdiri.”

 

Karna tergeragap, segera bangkit dan merapikan dirinya. Dengan kikuk, dia pun

memberikan salam. Pesona laki-laki itu begitu kuat. Pembawaannya yang tegas,

menunjukkan jiwanya selurus tombak dan pemikirannya lebih tajam daripada

pedang.

 

“Te..terimakasih, tt..tuan..”

 

“Mengapa kau ada di sini, Karna?”

 

Karna menelan ludah, tenggorokkannya terasa kering. “Ss..saya mencari sahabat saya..

Sarpa.”

 

“Raksasa?”

 

Karna menggangguk-angguk.

 

“Dan yang menyerangmu juga raksasa?”

 

Sekali lagi Karna mengangguk.

 

Laki-laki itu tersenyum. Masih menatap Karna dalam-dalam, seakan meneliti setiap jengkal

permukaan kulit remaja itu, laki-laki itu sesekali mendesah dan

mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Mari ikut aku. Antarkan aku ke rumah ayahmu..”

 

“Ttt..tetapi, ayah ..mm..mungkin sedang ke kediaman tuan Gandamana..”

 

“Gandamana?” laki-laki itu tersenyum. “Ada kepentingan apa dia menemui ‘orang tak berguna’

itu?” wajah laki-laki itu begitu mengejek nama yang diagungkan Karna.

 

Berdegup jantung Karna, melihat cara laki-laki sombong itu menyebut Gandamana.

 

“Maaf, tuan. Aku tak tahu siapa tuan, juga jabatan tuan di Hastina. Tetapi, jujur

saja, aku mengaguminya. Jadi, kumohon berilah sedikit penghormatan pada tuan

Gandamana..”

 

Laki-laki itu terbahak-bahak. “Baru kali ini aku jumpai seorang remaja begitu kagum pada

Gandamana ‘sial’ itu.. hahahahahahahahaha..”

 

Karna menahan amarahnya. Dia tak ingin mendengar nama Gandamana dihina seperti itu.

“Tuan akan saya laporkan..”

 

“Kepada siapa? Dan apa yang akan kau laporkan? Wahai

Hastina… Gandamana telah dihina oleh seorang pembesar Hastina, yang aku tak

tahu siapa namanya…. hahahahahahahaha…”

 

Amarah Karna menggelegak. Dia melesat menerjang laki-laki itu. Anehnya, laki-laki itu

seperti tak mempedulikannya.

 

Lebih aneh lagi, Karna merasa tubuhnya melamban. Lompatannya terasa berada di dalam

air danau, tertahan oleh lapisan-lapisan kekuatan yang tak berwujud. Tubuhnya

melayang, lamban dan tangan-kakinya menggerapai tak tentu arah. Kian berontak,

kekuatan yang menghalanginya serasa kian membesar. Akhirnya Karna menyerah,

terduduk, tepat di hadapan kaki laki-laki itu.

 

“Bangkitlah Karna. Antarkan aku ke rumahmu. Katakan pada ayahmu, Gandamana ingin bertemu..”

 

Jantung Karna seakan berhenti berdegup mendengar kata-kata laki-laki itu. Bibirnya

gemetar oleh rasa gembira yang tiba-tiba menyiram jiwanya. Karna tegak, matanya

berkaca-kaca bahagia tak terkira, karena tanpa diduganya, hari itu dia bertemu

dengan orang yang sangat dikaguminya.

 

Gandamana tersenyum bangga. “Sudahlah. Aku tahu siapa kau, Karna. Ayo berangkat.”

 

***

Cuplikan Kisah “Karna” 08 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 08

oleh Yanusa Nugroho pada 19 September 2011 jam 20:50

https://www.facebook.com/#!/notes/yanusa-nugroho/cuplikan-karna-8/10150295925701835

 

Perkenalan dengan Narayana, membuat Karna lebih sering merenung. Begitu banyak sesuatu

yang melintas dan belum dipahaminya. Terutama ucapan Narayana tentang ‘Hyang

Tunggal’, sungguh sulit diterima akalnya. Namun, anehnya, ada panggilan sayup

dan lembut yang bergetar dari sanubarinya bahwa apa yang diucapkan Narayana

adalah sebuah kebenaran.

 

Radea mengamati perubahan sikap anaknya. Dicarinya waktu dan kesempatan yang tepat

untuk mencari tahu. Dan malam itu, ketika Karna belum juga mau tidur, meskipun

hari telah mendekati tengah malam, Radea mendekati Karna.

 

“Mengapa kau belum tidur Karna?”

 

“Panas.”

 

Radea diam sejenak. Sebuah alasan yang masuk akal. Dia sendiri merasakan hal itu.

 

“Ya, tetapi.. apakah kau belum mengantuk?”

 

“Belum.”

 

Radea terdiam kembali. Karna seakan mengetahui bahwa Radea akan bertanya macam-macam,

karenanya, jawaban singkat dan tepat, cukup mengunci mulut Radea. Dia harus

mencari akal agar anak kecil yang cerdas itu bisa berbicara banyak, tanpa

merasa disuruh berbicara.

 

“Ayah sebenarnya ingin bercerita, tetapi tampaknya kau lebih suka diam..”

 

“Ayah akan bercerita apa?”

 

“Tentang seorang raja yang mampu mengendarai naga?”

 

“Waaah, hebat sekali. Naga? Sebesar apa hewan itu?”

 

Radea tersenyum. Umpannya berhasil menarik perhatian Karna. Segeralah dia bercerita

tentang pertempuran hebat antara Hastina dan kaum naga di Selapraba. Dia yakin,

kisah hebat itu belum diceritakannya pada Karna.

 

Dengan kepandaiannya bercerita, Radea menggambarkan dengan gerak-gerak tubuhnya betapa

naga-naga itu begitu ganas, namun yang ternyata lebih dahsyat adalah Prabu

Pandudewanata. Dengan tangan kanan dan kirinya, Radea menggambarkan gerakan

Pandu menyambut naga. Sesekali diperhatikannya wajah Karna yang begitu ingin

tahu.

 

“Tak kusangka.. raja kita adalah orang paling hebat di dunia ini..” pancing Radea.

 

Karna terdiam. Radea gelisah.

 

Tiba-tiba, seperti menggumam, Karna bicara:”.. ternyata naga pun bisa terbang..”

 

“Hmm..naga memang bisa terbang. Capung, nyamuk, burung, bisa terbang. Hanya manusia

yang tak bisa melakukannya..” ucapnya tak acuh, sambil berharap ada sesuatu

yang akan diucapkan Karna.

 

“Pangeran Narayana bisa.” Sanggahnya tak mau kalah.

 

Bagai disengat lebah, Radea tersentak. Kecurigaannya akan pangeran Mandura ini

seperti menemukan titik terang.

 

“Ah, tak mungkin..” ucap Radea seakan Karna adalah anak kecil yang mudah dibodohi

tukang sulap.

 

“Aku melihatnya sendiri, ayah. Dia duduk dan melayang setinggi pohon salam!”

 

Radea terbahak, tentu saja masih dalam upaya mengorek keterangan lebih banyak lagi,

“Ooo.. seperti ceritamu pada ibu, bahwa dadamu bisa mengeluarkan cahaya?

Hahahaha.. Lalu membakar rambut Sarpa? Hahahahha.. Karna, Karna.. “

 

Karna terdiam. Dia kecewa, dan diam-diam dia membenarkan ucapan Narayana beberapa

waktu yang lalu bahwa sebaiknya apa yang terjadi di bukit Socamala itu tak usah

diceritakan kepada orang dewasa. “Mereka akan menganggap kita membual,

berkhayal. Percuma saja meyakinkan mereka..” begitu ucap Narayana waktu itu.

 

Melihat Karna membeku, Radea meredakan gelak tawanya. Kemudian, seolah menyesali apa

yang baru saja dilakukan, Radea berkata lebih lembut.

 

“Ayah bukan tak percaya pada ucapanmu. Ayah sudah menduga bahwa pangeran Narayana

adalah bocah istimewa, sebagaimana engkau, Karna.

 

Tetapi, kita berada di tengah manusia yang tak menentu. Karena tak menentu, mereka bisa

melakukan apa saja, demi kepentingan mereka. Ayah hanya khawatir, jika kau

memamerkan kekuatanmu kepada sembarang orang, maka akan tidak baik jadinya.”

 

Karna masih diam. Ucapan ayahnya, ada benarnya.

 

“Selain itu, dia bicara apa lagi padamu?”

 

“Tidak ada.”

 

“Apakah dia bertanya lagi, soal siapa engkau?”

 

“Tidak.”

 

“Tidak?”

 

“Tidak. Mengapa ayah bertanya soal itu?”

 

“Yaa..ayah hanya merasa, pertanyaan itu.. aneh. Masih ingat, ketika pertama kali

bertanya kepadamu; menurutmu, tidak aneh?”

 

“Entahlah. Pertemuan itu sendiri..aku merasakan seperti… apa,ya? Aku bingung.”

 

“Coba ceritakan, apa yang membuatmu bingung.”

 

Dengan suara terpatah-patah, Karna menuturkan perasaannya. Dikatakannya bahwa

pertemuannya dengan pangeran Narayana, memiliki suasana yang sama dengan ketika

dia bertemu dengan Dewi Kunti.

 

“Maksudmu, bagaimana?” Radea merasa ada sesuatu yang mungkin menjadi jawaban atas

pertanyaan yang selama ini masih hitam kelam itu.

 

“Aku tidak tahu. Kalau aku merasa rindu pada ayah, karena ayah pergi mengikuti

baginda.. kurasa, biasa saja. Tetapi, ketika aku merasakannya pada dewi Kunti

atau pangeran Narayana, .. apakah bisa disebut rindu? Aku, kan, belum

pernah bertemu sebelumnya”

 

Berdebar jantung Radea, mendengar penuturan Karna yang nyaris sekelam malam itu.

 

Terbawa perasaan hatinya, Radea gelisah. Dia bangkit, berjalan sebentar, menatap Karna,

berjalan lagi, kembali duduk, dan bangkit lagi. Mungkinkah engkau adalah,.. ah,

tak mungkin. Tetapi, kau memang tidak seperti anak-anak sebayamu. Kau memang

istimewa. Kehadiranmu di dalam hidup kami, memang memberi ruh pada kehidupan

ini.

 

***

 

Sesosok bayi merah, merobek kesunyian malam. Menangis, meraung, meronta karena enggan

dipeluk dingin malam. Padahal, mungkin dewi malam iba kepadanya.

 

Saat itu awal musim panas. Tetumbuhan segar bersemi. Bunga-bunga soka memerah,

memamerkan kecantikannya pada matahari. Radea, mengantarkan para pangeran ke

lembah perburuan. Tiga pangeran muda Hastinapura: Pangeran Drestarastra, Pandu

dan Widura, ingin sekadar menikmati keindahan alam dan bersenang-senang,

setelah terkungkung berbagai pelajaran para wiku dan guru-guru perang istana.

 

Berhari-hari mereka berada di sebuah lembah di dekat hutan dan menikmati keindahan alam

seolah melepaskan kuda-kuda keliaran mereka ke alam bebas. Sepulangnya dari

perjalanan itu, Radea lelah. Hari telah larut malam ketika dia usai

mengantarkan ketiga pangeran itu ke istana. Bersama beberapa ponggawa yang

bertugas pada perjalanan itu, Radea kembali ke rumahnya.

 

Malam itu, Radea seperti memasuki gerbang kesunyian hidupnya lagi. Akan dijumpainya

istrinya, yang tetap setia, yang selalu ditinggalkan, dan tentunya selalu

kesepian. Terbawa pikirannya yang carut-marut, tak menentu, Radea tanpa sadar

melangkah ke utara. Ketika tangis bayi itu sayup-sayup terdengar, di antara

gejolak suara air menghantami bebatuan, Radea hanya berpikir bahwa itu mungkin

jeritan jiwanya yang paling dalam.

 

Ya, tangisan bayi. Sesuatu yang sudah sangat lama dirindukan hadir dalam

perkawinannya. Karenanya, Radea tak begitu memperhatikannya. Namun, raungan

tangis bayi itu terlalu keras. Mematung, Radea di tempatnya berdiri.

Disadarinya, dia tengah berada di kekelaman malam. Aliran sungai menderas,

terbelah batu-batu, meliuk, menjeram, dan mengarus tenang. Tak mungkin itu adalah

tangisan bayi dari rumah penduduk. Di sekitar itu tak menunjukkan adanya

pemukiman.

 

Tiba-tiba,sayup terdengar seperti dengking gajah menerompet. Radea tersadar, sungai ini

tentunya sungai Limanbenawi. Mungkinkah gajah-gajah itu berada di tepian sungai

pada malam-malam seperti ini? Siang hari, sungai ini akan dipenuhi

beratus-ratus ekor gajah yang berendam mendinginkan tubuh dari sengatan

matahari. Tapi, malam?

 

Dan bayi itu, mengapa pula ada di sungai ini?

 

Bergegas Radea menyusuri tepian sungai. Di keremangan malam, matanya sempat melihat

beberapa ekor gajah berkitaran di sebuah lekukan tepi. Lekukan berbatu-batu

seperti itu, rasanya mustahil menjadi tempat berkumpulnya gajah. Karena

gajah-gajah biasanya memilih tempat yang rata, landai dan banyak rumput tumbuh

di sekitarnya.

 

Melihat ada manusia mendekati wilayahnya, gajah-gajah itu perlahan-lahan menyingkir.

Radea berteriak-teriak dan menepuk-nepukkan telapak tangannya. Gajah-gajah itu

kian menjauh.

 

Tangisan bayi itu memang berasal dari lekukan tepi sungai itu. Berdegup jantung Radea,

ketika langkahnya kian mendekati asal tangisan. Di keremangan malam itu, di

antara bebatuan padas yang bersembulan di sekitar lekukan tepi itu, dilihatnya

sebuah kotak terapung. Hati-hati Radea menapaki bebatuan. Arus sungai

menggelegak, menggoyangkan kotak. Tangan Radea berhasil meraih kotak itu dan

dilihatnya bayi mungil berselimutkan kain.

 

Merasa ada gapaian tangan manusia, tangisan itu terhenti, menyisakan isakan kecil yang

kian mereda. Airmata Radea tak terbendung. Senyumnya mengembang. “Anak siapakah

engkau, bayi mungil?”

 

Tanpa berpikir panjang, Radea bergegas pulang, membawa bayi berikut kotaknya.

 

***

Cuplikan Kisah “Karna” 07 – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” 07

oleh Yanusa Nugroho pada 16 September 2011 jam 19:18

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150292504706835

 

 

Kedua anak itu asyik menendang dan menggiring bola. Tak mereka sadari, langkah mereka

mendekati bukit Socamala. Ketika peluh membasah, dan nafas tersengal-sengal,

mereka pun segera mencari pohon salam dan berteduh di bawahnya. Rimbunnya

daun-daun salam membuat tubuh mereka merasa sejuk.

 

Narayana masih tersenyum, memuji kehebatan Karna dalam menggiring bola.

 

“Pangeran Narayana juga kencang sekali larinya..” puji Karna.

 

“Jangan panggil aku pangeran. Sebaiknya panggil saja aku.. mmm berapa umurmu,

Karna?”

 

“Tujuh.”

 

“Aku sembilan. Kalau begitu kau harus menyebutku kakanda.”

 

“Baiklah,…kanda Narayana..” Karna tampak kaku menyebut Narayana dengan sebutan kakanda.

Keduanya tertawa senang.

 

“Apa kau tak punya kawan bermain yang sebayamu, Karna?”

 

Karna terdiam sejenak, lalu..” Tadinya, aku punya kawan banyak sekali. Tetapi,

setelah aku berkawan dengan Sarpa..mereka tak mau lagi mendekatiku. Apalagi

setelah mereka tahu apa yang kulakukan terhadap Sarpa, mereka menganggapku anak

aneh.”

 

“Siapakah Sarpa?”

 

“Raksasa.”

 

“Raksasa?”

 

“Ya. Apa yang aneh berkawan dengan raksasa?”

 

“Entahlah.”

 

“Kau apakan Si Sarpa?”

 

Karna diam tak menjawab. Tiba-tiba dia berdiri, menantang matahari, berkacak

pinggang, lalu.. keajaiban itu terulang kembali. Dada Karna mengeluarkan cahaya

keperakan, dan dalam sekedipan mata, cahaya itu memancar dan menghancurkan

pohon kelapa. Suaranya menderu dan mendebum keras.

 

Narayana terpaku. Matanya seperti mengumpulkan serpihan-serpihan aneh yang ditemuinya

sepanjang hidupnya yang masih muda itu. Dia tak bertanya, tetapi hanya diam

mengamati, mengumpulkan dan menyatukan apa yang ditemuinya.

 

Dia hanya mencocokkan dengan kisah yang pernah dituturkan bibinya, semasa masih

tinggal di Mandura, bahwa terkadang alam dengan caranya yang aneh, memilih

seseorang untuk menunjukkan dirinya. Alam meminjam tubuh manusia untuk

membuktikan, bahwa dirinya adalah sesuatu yang sesungguhnya tak terjamah

manusia. Demikianlah kata-kata Kunti, yang tersimpan dengan baik di sanubari

Narayana.

 

“Bagaimana bibi bisa mengetahuinya?”

 

“Resi Druwasa memberiku pelajaran tentang bagaimana memahami perilaku alam semesta

ini.”

 

“Apakah aku juga bisa mempelajarinya, bibi?”

 

“Bisa. Kau kesatria kecilku yang cerdas. Kaulah satu-satunya kesatriaku yang mau

menyimak tembang-tembang bibi, kau pasti bisa..Narayana.”

 

Dan Narayana pun menyadari ketika –pada suatu kali berjalan di sekitar istana, dan

mendapati seorang prajurit terluka akibat gigitan ular kobra. Prajurit itu

nyaris tewas, jika saja tangan Narayana tak menjamah kepalanya. Kejadiannya

begitu cepat. Ketika itu, Narayana dikawal beberapa prajurit sedang bermain. Di

tengah sebuah rumpun ilalang, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba kaki prajurit

itu mengusik seekor kobra.

 

Sebuah patukan cepat, mengenai betis si prajurit. Dia mengerang, dan tak lama tubuhnya

kejang-kejang.

 

Narayana kecil dengan sigap menekan luka itu. Aneh, wajah si sakit berangsur-angsur

segar kembali, dan ketika benar-benar bisa bangkit, dia hanya merasakan sisa

pegal di betisnya. Ketika hal itu diceritakannya pada Kunti, bibinya itu hanya

tersenyum, lalu berkata bahwa itulah cara alam menunjukkan keperkasaannya.

 

“Mengapa aku dipilihnya?”

 

“Karena kau adalah kesatriaku..”

 

“Keluarga kita banyak yang bisa melakukan hal-hal aneh. Mengapa?”

 

“Mungkin alam memang memilih keluarga kita. Siapa yang tahu?”

 

Narayana tersenyum menatap Karna.

 

“Waktu itu, rambutnya terbakar..”

 

“Hati-hati Karna, bagaimana seandainya bukan rambutnya, tetapi tubuhnya.. kau bisa

membunuh seseorang yang belum tentu berniat jahat padamu..”

 

Karna kembali duduk di samping Narayana. “Benar juga. Aku menyesal, melakukan hal itu

pada Sarpa. Padahal, kini, dia begitu baik padaku. Aku yakin, tindakannya waktu

itu karena tidurnya terganggu keributan kami; bukan ingin mencelakai kami.”

 

“Dimana Sarpa?”

 

Karna seperti diingatkan. Dia pun bangkit. Matanya mencari-cari di sekitar

semak-semak. “Sarpaaa…” teriaknya. Hening. “Biasanya, dia akan segera keluar

begitu tahu aku di sini. Kasihan, dia tak memiliki teman bermain.”

 

“Mengapa dia dimusuhi?”

 

“Entahlah.Karena aku bersahabat dengan Sarpa, keluargaku dikucilkan, tak boleh ke candi

Badra.”

 

“Keluargamu penyembah bulan?”

 

Karna mengangguk lemah.

 

“Di Hastina masih ada kaum penyembah bulan?” gumam Narayana.

 

“Penyembah bulan, matahari, sungai, pohon, batu, api.. apapun.”

 

“Di Mandura sudah tak diperbolehkan lagi.”

 

“Lalu, keluarga kanda menyembah apa?”

 

“Sang Maha Tunggal.”

 

“Apa itu?”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Aneh.”

 

“Mengapa?”

 

“Kalian menyembah sesuatu yang tak kalian ketahui.”

 

“Maksudku, aku yang belum tahu. Mungkin ayah-ibuku tahu.”

 

“Apa candi kalian?”

 

“Tak perlu candi. Caranya hanya dengan bersemadi.”

 

“Apa itu?”

 

“Begini.” Narayana lalu melipat tangannya. Duduk bersila dan memejamkan matanya.

 

Karna tertawa geli. “Lucu.”

 

“Apanya yang lucu?”

 

“Cara kanda menyembah.. seperti orang tidur sambil duduk.”

 

Narayana tersenyum. “Tapi, lihatlah.. dengan tidur-duduk itu, aku bisa melakukan ini…

perhatikan.”

 

Karna ternganga. Keheningan menggenang. Kesunyian melayang bersama uap panas siang

hari. Mata Karna melihat tubuh Narayana perlahan-lahan terangkat, melayang dari

tempat duduknya. Karna tak percaya, ketika– masih dengan sikap bersemadi,

tubuh Narayana melayang nyaris menyamai tinggi pohon salam.

 

“Seperti ilmu sihir..” teriaknya karena kagum.

 

“Ini bukan sihir, tetapi ..ah, entahlah..aku bisa melakukannya sejak aku belum bisa

bicara..” sahut Narayana dari ketinggian.

 

“Kanda bisa terbang?”

 

“Entahlah, tapi.. apakah namanya yang sedang kulakukan ini?”

 

Seusai berkata begitu, tubuh Narayana perlahan turun dan akhirnya kembali ke tempatnya

semula.

 

“Mengapa kita bisa melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh anak lain?” gumam

Karna seperti ditujukan pada dirinya sendiri. Narayana kemudian menjawab,

persis seperti jawaban Kunti kepadanya.

 

“Mana, Sarpa, sahabatmu?” tiba-tiba Narayana mengalihkan pembicaraan.

 

Karna seperti diingatkan, segera berdiri dan kembali kepalanya menjelajah lembah.

“Sarpaaa..”

 

Sekali lagi hanya keheningan yang menyahut.

 

“Kurasa, Sarpa sedang mengamati kita dari balik persembunyiannya. Dia belum

mengenalku..” kata Narayana.

 

“Mungkin. Sudahlah, mari kita pulang.. ayah dan ibu tentu sudah menunggu kita.”

 

Keduanya kemudian berjalan perlahan-lahan. Karna mengepit bola kulitnya. Terik matahari

menyengat.

 

“Panas, ya?”

 

“Ya.”

 

“Aku bisa menyuruh hujan turun..” kata Narayana ringan.

 

“Ah, jangan bercanda. Bagaimana mungkin kanda bisa berbicara pada awan di atas

sana?”

 

“Aku juga tidak tahu. Kadang bisa, kadang tidak.. “

 

“Mengapa begitu?”

 

“Seperti anjing, kadang dia menurut perintah, kadang membandel..”

 

“Aku ingin melihat..”

 

“Baiklah.”Lalu Narayana kembali mengambil sikap seperti semula. Tangannya ditangkupkan di

depan dadanya. Tiba-tiba angin menderu. Langit perlahan menggelap dan awan pun

menggumpal di langit. Petir menggelegar dan hujan deras mengguyur kedua anak

itu.

 

Karna tertawa-tawa. Narayana tersenyum bahagia. Manusia yang lain hanya bisa

ternganga dan bertanya-tanya; musim apakah sekarang, bukankah masih masa katiga

(kemarau)?

Cuplikan Kisah “Karna” 06 – Yanusa Nugroho


Cuplikan Kisah “Karna” 06

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 22:16

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291567061835

 

 

Semburan api tiba-tiba menderu, panasnya segera menghanguskan berpuluh manusia, yang

siaga dengan tombak mereka. Batang-batang tombak melengkung, hangus dalam sekejap. Naga-naga yang masih di udara segera meluncur, menyambar dan menyembur. Mulut dan ekor menghantam manusia yang bubar menyelamatkan diri.

 

Jarak terbang mereka sangat rendah. Pandu yang telah memperhitungkan isyarat Antisura

segera melepaskan panahnya. Mendesing panah itu, hanya menyerempet leher seekor

naga. Berdengkang suaranya, seakan memberi isyarat kepada kawan-kawannya bahwa musuh berada di wilayah mereka.

 

Seekor naga menyemburkan api besar. Perisai-perisai memerah, para prajurit yang ada di

bawahnya berlarian. Semburan dahsyat bertubi-tubi. Antisura memerintahkan

pasukan pelanting melemparkan tombak-tombaknya.

 

Berdesing-desing tombak-tombak itu melayang. Beberapa mengenai dua –tiga ekor naga. Tubuh-tubuh

mereka meliuk, tertembus tombak. Namun, kekuatan mereka memang luar biasa.

Dengan sisa kekuatannya mereka mengamuk. Api-api dari mulut mereka menghanguskan

manusia yang melukainya.

 

Siasat Antisura agar pasukan menyebar, memang membawa hasil. Naga-naga itu, meskipun

berpuluh-puluh, menjadi kehilangan arah. Mereka merasa terkepung manusia.

Teriakan dan senjata manusia-manusia itu benar-benar merepotkan.

 

Korban di kedua belah pihak mulai berjatuhan.

 

Pandu,melolos pedangnya. Tangan kirinya menggenggam tali kulit kuda. Dan dengan gagah

berani mencoba menyongsong seekor naga yang melayang ke arahnya. Radea tak

sempat berkata apa-apa ketika naga itu menderas ke arah junjungannya, namun

hampir tak bisa dipercaya, sesaat kemudian tampak Pandu sudah bertengger di

belakang kepala naga itu.

 

Sulit dipercaya bahwa Pandu seakan menunggangi naga. Tali kulit kuda itu menjerat

erat di kepala naga, dan digunakan sebagai pegangan bagi Pandu. Naga itu

meronta, berusaha membuang Pandu dari tubuhnya. Namun, Pandu seakan merekat

erat. Naga yang melayang, layaknya sebuah babut terbang yang dikendarai Pandu.

Dengan sekuat tenaganya, Pandu mengendalikan naga marah itu, yang melayang tak

tentu arah. Beberapa naga yang berpapasan, menjadi sasaran pedang Pandu.

Tubuh-tubuh naga yang robek. Kepala-kepala yang luka parah, atau bahkan nyaris

lepas dari tubuhnya, menjadikan pemandangan kian aneh dan mengerikan.

 

Melihat junjungan mereka berhasil menunggangi naga, Radea dan Wisaya serta adik-adiknya

mencoba melakukan hal yang sama. Radea berhasil mencengkam tulang mendosol

menyerupai tanduk di kepala salah seekor naga yang menyambarnya. Dia pun

berhasil menikamkan pedangnya, dan bersama dengan tubuh naga, Radea meluncur

berdebum ke bumi.

 

Tubuh naga yang berdebum ke tanah kian deras. Semangat prajurit Hastina seperti

tersulut. Mereka bersorak dan melontarkan beratus-ratus bilah tombak. Hujan

tombak itu memang membuahkan hasil.

 

Seekor naga bermaksud melarikan diri, namun hujan tombak merajam tubuhnya. Di udara,

makhluk raksasa itu seakan berubah menjadi ulat bulu dengan ratusan tombak

menancap di sekujur tubuhnya. Sorak sorai meluap ke angkasa.

 

Naga-naga yang sudah tak berdaya, menjadi luapan kemarahan para prajurit. Tubuh besar itu

melawan sia-sia. Robek, koyak, tercacah, bergelimang darah. Sorak-sorai,

mengiringi arwah naga yang mati di lembah Selapraba.

 

Pasukan Hastina mendesak sisa-sisa kaum naga itu kembali ke sarang mereka. Lelah merajam

kedua belah pihak. Tubuh-tubuh mati tak terhitung. Menjelang fajar, sorak

kemenangan Hastina membahana. Menciutkan nyali para naga.

 

Dari kejauhan, dari dalam sebuah gua batu, sepasang mata naga menyaksikan

pembantaian kaum keluarganya dengan tatapan dendam. Dia sempat menyaksikan para

prajurit membelah-belah kepala naga yang telah mati. Sayup dia mendengar

teriakan lantang bernada sombong dari seseorang yang tentunya adalah raja para

manusia itu. Dengan pongahnya, laki-laki itu tegak menginjak kepala naga yang

dikeratnya. Dan kepala naga itu adalah kepala ayahnya.

 

“Dengarlah wahai Hastina, lembah Selapraba ini adalah milik Pandu sang penakluk. Hai..

kaum naga, rajamu adalah Pandudewanata. Jika kalian ingin tetap hidup di muka

bumi, takluklah kepadaku..”

 

Sorak sorai kembali terdengar. Kemenangan berkibar di pihak Hastinapura.

 

***

 

Setelah beristirahat beberapa saat, dan mengurus jenazah prajurit yang tewas di

pertempuran itu, Pandu melanjutkan perjalanan ke Mandura. Beberapa orang

prajurit baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka menancapkan sebuah perisai

berlambang Hastinapura di sebuah tempat yang bisa dilihat manusia. Itu adalah

tanda sementara, bahwa wilayah itu, kini, menjadi milik Hastinapura.

 

Radea masih terdiam. Pikirannya masih diliputi kekaguman terhadap keperkasaan

rajanya. Baru kali ini, dia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa

raja muda Pandudewanata memang manusia pilihan. Kepongahan dan kekerasannya,

rasanya memang bukan sebuah omongkosong.

 

Demikian juga dengan Antisura. Dia memang pernah mengikuti Pandu dalam pertempuran

melawan Prabu Nagapaya. Tetapi, ketika itu, Pandu tidak sendirian. Pasukan

Hastina mendapat dukungan banyak pihak, sehingga kemenangannya kali itu, adalah

hal yang biasa saja. Namun, yang satu ini, memang istimewa. Sebagaimana halnya

Radea, Antisura pun nyaris tak percaya dengan matanya sendiri. Kecepatan dan

ketangkasan, juga keberanian Pandu, sungguh di luar perhitungannya.

 

Kereta yang seharusnya membawa Pandu, kosong. Pandu minta dipindahkan ke tenda

punggung, pada salah satu gajah, dia ingin tidur dalam perjalanan itu. Semua

orang maklum. Semua orang bertambah kagum.

 

Perjalanan panjang di siang terik itu, hanya diselimuti keheningan. Kelelahan luar biasa

mendera setiap tubuh manusia Hastina itu. Angin panas membubung, kadang

berpilin, menyentakkan rumput, debu dan daun-daun kering.

***

 

Ketika Pandu meraih anaknya, dan menimang-nimangnya, Kunti melihat sosok Narayana

berdiri di dekat pintu.

 

“Hei.. kaukah itu, Narayana? Kemarilah, sayangku.. peluk bibimu..”

 

Narayana menghambur dan memeluk Kunti.

 

“Kau,kesatria kecilku.. sudah melakukan perjalanan yang jauh di usiamu yang masih

muda.”

 

“Aku rindu tembang-tembangmu, bibi..”

 

Kunti menghapus airmata harunya.

 

“Dengan siapa kau kemari?”

 

“Sendiri. Aku duduk di punggung gajah, ditemani paman..”

 

“Bagaimana si Sembadra..”

 

“Si Kura-kura?”

 

Kunti tergelak, “Ya..si kura-kura kecil yang jelita.. ah, sudah bisa apa dia

sekarang..”

 

“Berteriak..”

 

Kunti, Pandu dan akhirnya Narayana, tertawa menikmati kebahagiaan hari itu.

 

***

 

Karna menatap anak laki-laki berkulit hitam manis itu lekat-lekat. Anak itu bersama Radea.

 

“Karna, berilah salam pada pangeran Narayana.. dia adalah kemenakan baginda.”

 

Karna, untuk sesaat masih terpaku, namun segera menangkupkan telapak

tangannya—sebagaimana diajarkan Radea untuk menghormati kalangan istana.

 

Demikian pula Narayana. Tatapannya lurus ke sepasang bola mata Karna. Ada kekuatan aneh

yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan.

 

Hening mengalir, menghentikan angin yang terperangah. Udara terdiam, seperti ingin

mengatakan sesuatu.

 

“Kau siapa?” ucap Narayana tiba-tiba.

 

“Hamba, Karna.. putra Radea..”

 

“Siapakah engkau, Karna?”

 

Karna terdiam. Radea pun tercekat. Ada kilasan aneh di pertanyaan Narayana. Namun,

Radea hanya mencoba menghibur diri dengan menyalahkan sepasang telinganya yang

mulai menua.

 

“Karna, ajaklah pangeran Narayana bermain.. Jangan jauh-jauh.”

 

Karna seperti disentakkan sesuatu, segera berlari mengambil bola kulit kuda.

 

“Aku ingin tahu, apakah seorang pangeran bisa menendang bola..” kemudian menendang

bola ke tengah tanah terbuka. Karna meledek dengan tertawa-tawa.

 

“Bola adalah permainanku, Karna..”jawab Narayana berlari menyusul Karna yang

mendahului mempermainkan bola dengan kakinya.

 

***

 

Radea dan istrinya hanya mengamati kedua anak kecil itu bermain bola. Berlarian

berebut, berteriak, menendang, tertawa, berkejaran lagi.

 

“Mengapa dia bertanya demikian?” bisik Nyai Radea mengulangi pertanyaan Narayana pada

Karna.

 

“Entahlah..Yang aku dengar dari pembicaraan orang-orang Mandura, putra Basudewa yang satu ini

memang agak istimewa.”

 

Nyai Radea terdiam sesaat. “Mungkinkah dia mengetahui siapa sesungguhnya Karna?”

 

“Nyai, jangan berpikiran macam-macam.”

 

“Tetapi, mana mungkin seseorang yang baru kenal, bertutur seperti itu?”

 

Radea diam. Matanya masih saja menyaksikan kegembiraan kedua anak kecil itu berebut

bola. “Kata orang-orang Mandura, pangeran Narayana memiliki daya pandang ke

masa lalu dan masa depan seseorang. Itu sebabnya, kadang-kadang dia bersikap,

atau berkata aneh di telinga kita.”

 

“Itulah, mungkin saja dia sudah bisa membaca, siapa Karna di masa lalunya..”

 

“Nyai..anak itu masih terlalu hijau untuk menerima kenyataan. Akan tiba masanya kita

menceritakan siapa dia sesungguhnya; meskipun aku sendiri tak yakin, apakah

akan membawa kebaikan baginya. Aku kadang berpikir, biarlah kisah hidupnya

kubawa mati saja. Mungkin akan membuatnya berbahagia.”

 

“Tetapi, membawa kebohongan adalah beban. Apakah kita sanggup membawanya sampai ajal

kita tiba?”

 

“Entahlah. Aku sangat menyayanginya. Kadang terlintas di benakku, aku akan melakukan

apapun agar dia bahagia. Apapun.”

 

“Berhati-hatilah bicara, suamiku. Di dusun ini, begitu banyak mata yang menyaksikan, bahwa aku

tak pernah hamil..”

 

***

Cuplikan Kisah “Karna” (5) – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” (5)

oleh Yanusa Nugroho pada 15 September 2011 jam 11:34

https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150291179086835

 

“Ayah.. mau kemana?”

 

Radea yang saat itu tengah menerima buntalan perbekalan dari istrinya, terpaksa duduk

di pembaringan Karna. Anak kecil itu terjaga dari lelapnya.

 

Dibelainya kepala Karna, lalu berkata, “.. malam ini, ayah harus ke istana. Sebelum fajar,

baginda akan ke Mandura..”

 

“Mengapa?”

 

“Mandura mendapat serangan musuh.”

 

“Musuh?”

 

“Ya. Kaum raksasa..”

 

Ucapan Radea tentang raksasa, terasa begitu berat di telinga Karna. Entah mengapa,

setiap kali ayahnya mengucapkan ‘raksasa’ yang terbayang di mata Karna adalah

wajah Sarpa yang tolol namun baik hati itu.

 

“Ayah akan berperang melawan raksasa?”

 

“Jika harus demikian, itulah tugas ayah. Sudah, kembalilah tidur, hari masih larut

malam..”

 

“Ayah akan membunuh raksasa?”

 

“Ini perang anakku. Berdoalah, agar ayah bisa kembali dengan selamat.”

 

“Kepada siapa aku harus berdoa?”

 

Radea terdiam. Dia paham betul bahwa Karna kecewa dengan perlakuan kaum pemuja

purnama yang mengucilkan mereka sekeluarga.

 

“Paling tidak, .. rindukanlah ayah, itu akan membuat ayah bertambah hebat..” ucapnya

sambil membelai kepala Karna.

 

Radea berangkat, meninggalkan Karna yang masih diselimuti pertanyaan.

 

Dari dalam biliknya Karna sempat mendengar dua orang ponggawa berkuda bercakap-cakap

sebentar dengan ayahnya, lalu derap ladam-ladam kuda bergerak dan menjauh.

 

Malam melarut, namun sepasang mata Karna tak mau terpejam. Kata-kata “perang melawan

raksasa”,  membuatnya gelisah. Di benaknya terbayang beratus-ratus mayat raksasa, yang jatuh bertumbangan. Dan

wajah mereka, semuanya adalah wajah Sarpa.

 

Mengapa Sarpa-Sarpa itu harus dimusuhi dan dibunuh? Apa salah mereka? Ah, semoga

saja..Tak mungkin dewi bulan akan melindungi kaum raksasa. Tidak.

 

Mungkinkah matahari akan melindunginya? Mengapa tidak, sebaiknya aku memohon matahari

melindungi kaum raksasa. Matahari lebih perkasa. Matahari lebih dahsyat. Matahari

pasti mau memberi pertolongan kepada kaum raksasa.

 

Akhirnya, setelah merasa mendapat jawaban atas kegelisahannya, Karna terlelap di samping

ibunya.

 

***

 

Pandu tercenung, pertimbangannya meminta bantuan orang Pringgandani tak salah.

 

Matahari telah naik nyaris tepat di ubun-ubun.

 

“Radea, bulan apakah ini?”

 

“Saat ini adalah bulan Asuji tuanku. Kekeringan di mana-mana.”

 

“Hmm.. apakah kita mempunyai air minum cukup?”

 

“Tentu tuanku.”

 

“Pantas mereka melakukan serangan. Menurut perhitungan mereka, kita akan kehabisan

tenaga karena kehausan. Siang hari panas akan membakar, sementara malam, dingin

akan melumpuhkan persendian kita. Aku bisa mengerti mengapa Mandura terdesak.

Lawan telah memperhitungkan benar.

 

Berapa lama lagi kita akan sampai di Mandura?”

 

“Jika kita melintasi Selapraba, memang, perjalan akan lebih cepat sehari, tuanku.”

 

“Mengapa kau agaknya tidak menyarankan kita melintasi Selapraba?”

 

“Lembah itu biasanya dihuni kaum Naga, tuanku..”

 

“Oo. Lalu, apa masalahnya?”

 

“Kita tak ingin menambah masalah dengan mengusik ketenangan mereka, tuanku.”

 

“Tetapi, keadaan Mandura bergantung pada kecepatan kita.”

 

Radea terdiam.

 

Pandu melambaikan tangannya, seorang pembesar berkuda mendekat. “Perintahkan pasukan

mendirikan tenda di sini, sekarang. Kita beristirahat. Kita akan berangkat

setelah matahari terbenam.”

 

Ponggawa berkuda itu kemudian membunyikan terompet. Pasukan berhenti dan kesibukan pun

terjadi. Dalam beberapa saat tenda-tenda berdiri. Buah semangka merah, dibelah.

Sekadar penghilang dahaga di terik matahari.

 

Sambil menikmati piala airnya, Pandu memerintahkan pimpinan perjalanan melaporkan apa yang

diketahuinya mengenai Selapraba. Radea, Wisaya dan adik-adiknya berkeliling

menyimak rencana.

 

“Selapraba, tuanku?” tanya laki-laki yang rambutnya sebagian besar telah beruban itu.

Dialah Antisura, yang telah menduduki jabatan penting itu sejak jaman Prabu

Kresnadipayana, ayah Pandu.

 

“Mengapa kau ragu, paman Antisura?”

 

Antisura menarik nafas dalam-dalam, dia harus pandai-pandai menyampaikan pendapat di

hadapan raja mudanya. “Maafkan tuanku. Bukankah tuanku menyadari bahwa kita tak

pernah mengusik wilayah para naga.”

 

“Aku paham, Antisura. Tetapi, Mandura dalam keadaan terdesak. Satu-satunya jalan

adalah melintasi lembah itu.”

 

“Hamba tidak yakin, tuanku.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kaum naga adalah makhluk yang terlalu tinggi hati. Mereka memang tak pernah

mendahului, namun jika didahului, biasanya mereka akan mengganas dan dendam

mereka berkepanjangan…”

 

“Kalau begitu, kita habisi yang mencoba menghalangi langkah kita,” ujar Pandu sambil

meneguk minumannya.

 

“Bukankah akan mengurangi jumlah kekuatan kita, tuanku?” ucap Radea hati-hati.

 

“Apakah kau pernah bertempur melawan naga, Radea?”

 

Radea tertunduk. Pertempuran dahsyat antara rajanya melawan Nagapaya, berkelebat.

 

“Jika terpaksa, akan kugunakan Hrudedali..” ucap Pandu dengan wajah merah padam.

 

“Arahkan perjalanan kita malam ini melintasi Selapraba,” katanya menutup pertemuan siang

terik itu. “O, sebelum lupa, persiapkan tentara agar menggunakan ‘langkah

rumput’..” tambahnya sebelum semuanya bergerak dari tempatnya.

 

Mereka pun undur dengan kecamuk pikiran masing-masing.

 

“Langkah rumput? ..kita tak mempersiapkan perlengkapan untuk itu.” Bisik Wisaya.

 

“Gunakan perisai sebagai pelindung kepala, dan pasukan harus berpencar tanpa harus

kehilangan jejak. Yang kita hadapi adalah para naga.” Antisura mendengus geram.

 

“Bagaimana dengan gajah-gajah itu?”

 

“Sebaiknya mereka merapat ke dinding-dinding batu, atau jangan berada di dekat lembah.

Kita akan hancur sebelum mencapai Mandura, jika ini gagal. Siapkan juga

pelanting-pelanting tombak..”

 

Maka menjelang senja itu, para kepala pasukan mengatur anak buahnya dengan

tergesa-gesa. Para prajurit, meksipun patuh akan perintah atasannya, dalam hati

sempat bertanya-tanya. Bahkan beberapa orang sempat saling bisik, bahwa

lokasi pertempuran berpindah tempat. Tak ada kejelasan. Yang ada hanyalah

kecemasan.

 

Pandu tegak menyapu pandang. Jauh di sana, tampak lembah Selapraba. Bentangan lembah

terbuka berbatu-batu besar. Sebuah bentangan pembantaian yang sangat

mengerikan, jika saja orang mengetahui makhluk apa yang akan mereka hadapi di

sana.

 

Dari gua-gua batu, akan bermunculan naga-naga raksasa yang bukan saja ganas, tetapi

juga kuat. Jumlah mereka pun tak sedikit. Dan yang lebih mengerikan lagi,

makhluk-makhluk ini mampu melayang di udara, meskipun mereka tak memiliki

sayap. Mereka akan meluncur, menukik, melesat, sebagaimana mereka berada di

dalam air. Ditambah dengan semburan-semburan api dan bisa dari mulut-mulut

mereka, lengkaplah kehebatan kaum naga ini.

 

Selama ratusan tahun, wilayah ini tak tertundukkan manusia. Tak ada seorang raja pun

yang mau berurusan dengan kaum naga. Kini, Pandu tak bisa lagi menelan

ucapannya. Dengan sedikit ragu, dia pun melambaikan tangan. Aba-aba itu

diteruskan oleh para panglimanya. Maka pasukan Hastina pun melakukan

 

perjalanannya perlahan-lahan. Langkah mereka menuju matahari terbenam. Hawa

dingin mulai menghembus. Awan jingga mengelam.