Posts Tagged ‘Bharata Yuddha’

Koleksi ebook BHARATA YUDDHA versi Jawa – [cerita wayang]


Barata Yuddha

 

Tanggal 23 April adalah Hari Buku Internasional. Kebetulan sekali dengan semangat tulisan ini. Semangat untuk merangsang hasrat membaca.

Setelah selesai membaca tulisan saya ini , mudah-mudahan Anda sepakat berkata : “ Sekarang tidak sulit mendapat bahan bacaan cerita Barata Yudha versi Jawa , dan saya akan mulai membacanya. “

 

 

A.

BHARATA YUDDHA versi Jawa.

 

Bharata Yuddha, inilah ejaan Barata Yudha dalam huruf Latin yang dipakai R Ng Poerbatjaraka dan R M Soetjipto Wirjosuparto dan merujuk ke Kakawin Bharata Yuddha gubahan Empu Sedah dan Empu Panuluh yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno. Seorang penulis dari Yogyakarta bernama Ki Siswoharsojo juga memakai ejaan seperti itu.

 

Cerita Barata Yudha sebagai puncak cerita Mahabarata sangat diminati penikmat wayang purwa Jawa sehingga banyak buku cerita wayang ditulis khusus hanya bagian Barata Yudha nya. Hasil penulusuran saya atas kepustakaan wayang purwa (Jawa) terbitan Indonesia, pada waktu itu penelusuran berakhir tahun 1995 dan hasilnya diterbitkan tahun 1997, khusus mengenai buku Barata Yudha bisa dilihat dengan klik bagian yang disorot. (*) Hampir sembilan belas tahun kemudian, daftar buku Barata Yudha tersebut bertambah, baik yang terbitan setelah tahun 1995 maupun terbitan sebelum tahun 1995 yang belum “tertangkap” pada penelusuran yang lalu itu.

 

(*)   Hasil keseluruhan penelusuran kepustakaan ( semua katagori isi kepustakaan ) bisa dibaca dengan klik bagian yang disorot.

 

Sejak Mei 2009 , saya mulai kegiatan konservasi kepustakaan lawas tentang wayang , dikonservasi menjadi bentuk digital format PDF , dan ditempatkan di server file sharing agar bisa diunduh gratis peminat, siapapun asal dia bisa masuk ke internet.

 

Sekarang kegiatan itu sudah berjalan lima tahun. Untuk hasil konservasi kepustakaan lawas Barata Yudha – menurut saya – sudah sangat lengkap dan beragam. Sudah sangat bisa memenuhi / menjawab keingintahuan peminat cerita Barata Yudha versi Jawa. Pengertian “Peminat” dalam konteks tulisan saya ini adalah peminat dari kalangan umum – bukan akademisi – yang bertempat tinggal jauh dari lokasi perpustakaan “tercetak” akademik atau  yang tidak mempunyai fasilitas untuk menyentuh perpustakaan “tercetak” akademik.

 

Anda, peminat dari kalangan umum, sekarang tanpa halangan bisa mendapat bahan bacaan berbagai kepustakaan Barata Yudha terbitan tahun 1933 sampai dengan 2000 an melalui “perpustakaan digital di dunia maya” lantaran blog wayangpustaka di server wordpress. Beragam ; ada yang diuraikan terinci, ada yang berisi cerita ringkasnya ; ada yang berbahasa Indonesia, Jawa, Belanda.  … Semangat !

 

Koleksi konservasi terpenting adalah kepustakaan tulisan Soetjipto Wirjosuparto (dalam Bahasa Indonesia). Memuat Kakawin asli dalam Bahasa Jawa Kuno dipindahaksara ke huruf Latin, kemudian terjemahannya (tetap dalam bentuk Kakawin) dalam Bahasa Indonesia, sejarah kepustakaan Kakawin Bharata Yuddha sampai saat Soetjipto menulis, uraian gelar pasukan perang diajang pertempuran Bharata Yuddha.

 

Sebelumnya Poerbatjaraka dan Hooykas menulis tentang Kakawin Bharata Yuddha dengan skema kepustakaan yang kurang lebih sama dengan kepustakaan Soetjipto , yaitu Kakawin asli diikuti dengan terjemahannya , tetapi dalam kepustakaan ini terjemahannya dalam Bahasa Belanda.

 

 

B.

Koleksi Konservasi Kepustakaan Barata Yudha.

( atau Koleksi Kepustakaan Digital Barata Yudha ).

 

Di bawah ini diuraikan tentang berbagai koleksi konservasi kepustakaan ( atau kepustakaan digital ) Barata Yudha yang saat ini sudah ada. Uraiannya mengikuti urutan tahun terbitnya kepustakaan.

 

 

 

Sekitar tahun 1933 terbitlah kepustakaan tulisan Poerbatjaraka dan Hooykas berbahasa Belanda diterbitkan oleh G. Kolff & Co, Jakarta. [ Catatan : belum semua bagian kepustakaan ini berhasil dikonservasi. ]

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

(vertaald door) Poerbatjaraka R. Ng. , Hooykas C Dr. ; “ Mpu Sedah en Mpu Panuluh – BHARATA YUDDHA “ ; (Gedrukt bij) G. Kolff & Co ; Batavia ; sekitar 1933 [ tidak ada ciri tahun di buku tetapi dari tanggal ditulisnya kata pengantar adalah 1931 ~ 1933 ] ; 87 halaman ; foto lukisan Bali adegan wayang versi Bali ; foto adegan wayang kulit purwa Jawa dengan wayang kulit dari Pakoe Alam VII ; bahasa Belanda.

 

 

 

Saya tidak tahu persis kapan pemerintah kolonial Belanda mendirikan Bale Poestaka – suatu badan penerbitan yang menerbitkan kepustakaan kebudayaan Nusantara termasuk kepustakaan wayang. Setelah kemerdekaan badan ini bernama Balai Pustaka (memakai Ejaan Yang Disempurnakan). Sepanjang yang saya tahu sudah ada kepustakaan wayang purwa yang diterbitkan Bale Poestaka di tahun 1918 an.

 

Buku Barata Yudha terbitan Bale Poestaka yang saya temui adalah terbitan tahun 1937 tulisan R Ng Kartapradja berupa “ gancaran “ / cerita mengalir. Di dalam buku ini ada beberapa gambar wayang kulit purwa Jawa karya penggambar legendaris Kasidi, Darmo Tjarito, R Soelardi. Yang “ membanggakan “ bahwa mutu cetakan huruf dan gambar oleh Bale Poestaka di tahun 1937 sangat baik , tajam dan garis di gambar tidak “ mbleber “. Dengan demikian saya dapat meng konservasi juga gambar wayang kulit purwa Jawa tersebut dengan resolusi tinggi.

 

 

Data “ ebook “ / PDF konservasi :

R Ng Kartapradja ; “ Bratajoeda. “ ; Batavia C ; Bale Poestaka ; 1937 ; halaman ; huruf Latin; bahasa Jawa; gambar wayang purwa.

 

Setelah kemerdekaan penerbit Balai Pustaka menerbitkan satu buku Barata Yudha tulisan Karel Fredrik Winter – seorang juru / ahli Bahasa Jawa ( di Surakarta) berkebangsaan Belanda. Penerbit Balai Pustaka kelihatannya tidak pernah menerbitkan ulang buku ini, sampai tahun 1980 satu proyek di Departemen Pendidik dan Kebudayaan RI menerbitkannya kembali.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

Karel Fredrik Winter ; Serat Bratayuda ; Jakarta ; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah (PPBSID) ; 1980 ; 243 halaman ; huruf Latin ; bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

 

 

 

Di kota Yogyakarta di tahun 1950 an ~ 1960 an, seorang penggiat kepustakaan wayang bernama Ki Siswoharsojo banyak menulis buku pedalangan jangkep wayang purwa ( gagrag Surakarta ) dan juga menulis buku Mahabarata lengkap sampai dengan perang Barata Yudha. Anehnya buku Mahabarata tadi oleh beliau diberi judul Serat Bharata Yuddha jilid 1 sampai dengan 3. Cerita perang Barata Yudha berada di jilid 2 dan 3. Di samping sebagai penulis buku wayang, Ki Siswoharsojo bertindak sebagai penerbit nya juga.

 

Data “ebook” / PDF konservasi jilid 3 :

Siswoharsojo, Ki ;  “ BHARATA YUDDHA 3 “ ;  Ngajogyakarta / Yogyakarta  ;  Babaranipun / diterbitkan oleh : Ki Siswoharsojo, Gondolaju Kulon Dj. VI / 151  ;  1963 = cetakan ke 2 , tahun ? = cetakan pertama  ;  160 halaman  ;  gambar wayang kulit purwa Jawa  ;  bahasa Jawa.

 

 

 

Sepanjang tahun 1958 ada seri pakeliran Barata Yudha di kota Yogyakarta, satu lakon per bulan.

Buku di bawah ini diterbitkan berkaitan dengan seri pakeliran wayang kulit purwa Baratayuda gagrag Mataraman di Yogyakarta yang dilaksanakan oleh koran Kedaulatan Rakjat, Yogyakarta bekerja sana dengan majalah Mekar Sari, Radio Republik Indonesia Yogyakarta dan beberapa pihak lain. Seri pakeliran tersebut diselenggarakan di Yogyakarta sepanjang tahun 1958, satu bulan satu lakon. Seri buku ini juga diterbitkan per bulan satu judul sesuai babak lakon pakeliran tersebut. Kelihatannya sebagai pengantar atau synopsis pendek dari pakeliran yang akan diadakan. Buku pertama berjudul Kalabendana Lena. Dan tautan untuk sebelas jilid lainnya berada di posting an di bawah ini.

 

Nama buku : “ Babak Ke 1. Kalabendana Lena “.
Nama penyusun : Bagian Penerangan Panitia Baratajuda 1958.
Nama penerbit : Kedaulatan Rakjat, Yogyakarta, 1958. = cetakan ke 2.
Berbahasa Indonesia, 18 halaman.

 

Di tahun berikutnya, 1959, penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta menerbitkan satu buku berbahasa Jawa berisi cerita Barata Yudha berdasarkan pakeliran sepanjang tahun 1958 yang diuraikan di atas. Bentuk ceritanya seperti bentuk isi buku pedalangan jangkep. Dibagi 12 lakon, yang masing-masing diceritakan adegan per adegan seperti adegan di pakeliran.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

( Kahimpun dening ) Radyomardowo MB, Soeparman, Soetomo  ;  “ SERAT BARATAJUDA  “  ;  Jogjakarta  ;  kawedalaken saha dipun tjap dening NV BP Kedaulatan Rakjat  ;  1959  ;  Bahasa Jawa.

 

‘Ebook’ ini merupakan catatan tertulis pagelaran 12 lakon wayang purwa terdiri dari dua lakon sebelum Baratayuda ditambah delapan lakon Baratayuda ditambah dua lakon sesudah Baratayuda, yang di pagelarkan oleh dalang Tjermakarsana di Sasana Hinggil ‘ Dwi Abad ‘ Keraton Yogyakarta pada tahun 1958. Pagelaran satu lakon per bulan, sehingga genap 12 lakon dalam satu tahun 1958.

 

[ Catatan mengenai pakeliran Barata Yudha sepanjang tahun lainnya :

 

Tahun 2014 ini di Sasana Hinggil “ Dwi Abad “ Keraton Yogyakarta kembali diadakan pakeliran lakon-lakon Barata Yudha sepanjang tahun dengan satu lakon per bulannya.

 

Tahun 1993 di Bentara Budaya Jakarta, dan tahun 1987 [ apakah juga di Bentara Budaya Jakarta ? ].

Tahun 1993 Ki Tristuti Rahmadi Suryasaputra menyusun naskah pakeliran serial Bharatayuda untuk Ki Manteb Soedharsono. Pakeliran satu tahun [ satu bulan satu episode ] di Bentara Budaya Jakarta atas prakarsa Yayasan Rara Wilis dan Harian Suara Karya. Kegiatan acara ini seperti yang sudah dilaksanakan tahun 1987. Sembilan lakon serial Bharatayuda susunan Tristuti : Bisma Gugur, Ranjapan (Abimanyu Gugur), Suluhan (Gathutkaca Gugur), Tigas/Timpalan (Burisrawa Lena), Jambakan (Dursasana Lena, Druna Gugur), Salya Gugur, Brubuh (Sangkuni, Duryudana Gugur), Aswatama Nglandhak, dan Parikesit Jumeneng Nata. ]

 

 

 

Tahun 1958 seorang penggiat kebudayaan Jawa di Yogyakarta, Karkono Kamajaya bersama U J Katidjo menulis serial buku Barata Yudha, dan diterbitkan oleh penerbit UP Indonesia yang dimiliki Karkono Kamajaya. Ada delapan judul buku, dimulai dari Seta Gugur sampai dengan Lahirnya Parikesit. Saya hanya punya buku nya jilid II. Kebetulan bulan ini mendapatkan satu jilid lagi yaitu jilid VI di bursa buku bekas Shopping Center Yogyakarta.

 

Data “ ebook “ / PDF konservasi  :

U. J. Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja ; ” Bratajuda II – Tawur (Bisma Mukswa) “ ; Yogyakarta ; Pusaka ; 1958 ; 99 halaman ; aksara Latin ; bahasa Jawa ; satu gambar wayang Srikandi.

 

 

 

Tahun 1961 dari Surabaya ( Jawa Timur ) terbit juga satu buku cerita Barata Yudha. Satu buku cerita ringkas dalam Bahasa Jawa. Tidak ada data / info lebih banyak mengenai penerbitan buku ini.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

Soerohamidjojo ;  “ BRATAJUDA DJAJABINANGUN.  Lelakon perange darah Barata, jaiku Pandawa lumawan Kurawa ana ing Tegal Kurusetra, – kaandarake kanthi reringkesan, nanging padet paseg, sadjilid tamat. “ ;  Surabaya  ;  Panjebar Semangat  ;  Mei 1961  ;  52 halaman  ;  bahasa Jawa  ;  cetak stencil.

 

 

 

Tahun 1968 terbit buku tulisan Soetjipto Wirjosuparto seorang pengajar Ilmu Purbakala dan Sejarah Kebudayaan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Bagi peminat cerita Bharata Yuddha versi Jawa, buku ini sangat bermanfaat. Berisi : Kakawin Bharata Yuddha gubahan Empu Sedah dan Empu Panuluh, dalam bahasa aslinya tetapi sudah digantiaksara aksara Latin, terjemahan Kakawin dalam bahasa Indonesia dengan bentuk seperti aslinya, uraian sejarah Kakawin Bharata Yuddha, uraian gelar pasukan perang di Bharata Yuddha.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

Sutjipto Wirjosuparto  (Prof. Dr. R.M.)  ;  “ Kakawin Bharata Yuddha “  ;  Jakarta  ;  Bhratara  ;  1968 = cetakan pertama  ;  395 halaman  ;  Bahasa Indonesia , Bahasa Jawa Kuna  ;  foto  ;  gambar.

 

 

 

Tahun 1970 an ~ 1980 an.

Siman Padmosoekotjo, seorang guru Bahasa Jawa di Purworejo ( Jawa Tengah ) yang juga menguasai Bahasa Kawi / Jawa Kuno menuliskan cerita Mahabarata versi Jawa dan diterbitkan menjadi tujuh jilid, yang terbit antara tahun 1970 an ~ 1980 an. Acuan kepustakaan beliau adalah parwa Mahabarata, juga kepustakaan gubahan pujangga Jawa “baru” Yasadipura, Sindusastra. Tulisan beliau mengenai jalan cerita perang Barata Yudha berada pada buku jilid 7 secara penuh.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

S Padmosoekotjo ; “ Silsilah Wayang Purwa Mawa Carita . Jilid 7 “ ; Surabaya ; CV Citra Jaya Murti ; 1992 = cetakan ke 3 ; 196 halaman ; aksara Latin ; bahasa Jawa ; diagram silsilah wayang, gambar gelar prajurit perang, gambar adegan wayang. [ ada catatan di dalam buku : 1986 = cetakan pertama, 1987 = cetakan kedua, 1992 = cetakan ketiga ]

 

 

 

Setelah terakhir kali menerbitkan buku Barata Yudha pada tahun 1945 , Balai Pustaka menerbitkan buku Barata Yudha tulisan Sunardi DM seorang pecinta wayang yang menjadi wartawan di harian Berita Yudha. Sebelumnya beliau banyak menulis cerita wayang di harian tersebut dan mingguan Buana Minggu. Rujukan kepustakaan lawas yang dipakai beliau adalah kepustakaan Kakawin Bharata Yuddha dan karya KGPAA Mangkunagara VII.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

Sunardi DM  ;  “ Barata Yudha “  ;  Jakarta  ;  Balai Pustaka  ;  1995 = cetakan kelima , 1993 = cetakan keempat , 1991 = cetakan ketiga , 1986 = cetakan kedua , 1978 = cetakan pertama  ;  BP no.2777  ;  135 halaman  ;  gambar wayang  ;  Bahasa Indonesia.

 

 

 

Setelah tahun 1978, penerbit Balai Pustaka menerbitkan satu lagi buku Barata Yudha yang ditulis oleh Karsono H Saputra seorang pengajar di Fakultas Sastra Jawa Universitas Indonesia. Sepengetahuan saya buku ini baru diterbitkan sekali (tahun 1991) dan belum pernah diterbitkan kembali.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

Karsono H Saputra  ;  “ Genderang Perang di Padang Kurusetra. “; Jakarta ;  Balai Pustaka ; 1991 = cetakan pertama, Bahasa Indonesia.

 

 

 

Di tahun 2005 suatu kegiatan pewayangan yang patut kita beri / haturkan terima kasih adalah penulisan Pakem Pakeliran Barata Yudha Gagrag Mataraman versi Ki Timbul Hadiprayitno. Penulisan dilakukan oleh team pengajar Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, dan penerbitannya atas kerja sama dengan Pemerintah Daerah Bantul serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bantul. Salah seorang pengajar yang ikut menyusun buku ini adalah Kasidi Hadiprayitno (Prof.). Beliau adalah salah seorang putra dari Ki Timbul Hadiprayitno.

 

Data “ebook” / PDF konservasi :

Kasidi Hadiprayitno, Udreka, Sigit Tri Purnomo, Margoyono. ; Pakem Balungan Ringgit Purwa Serial Bharatayudha Gaya Jogjakarta Versi Ki Timbul Hadiprayitno Cermo Manggolo.”  ;  Yogyakarta  ;   Pemerintah Daerah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta  ;  2005  ;  120 halaman  ;  bahasa Jawa.

 

 

C.

Terbitan Lain.

 

Buku terbitan baru tentang Barata Yudha :
Buku-buku terbitan baru ini masih bisa dibeli di toko buku.

2009  ;  Gamal Kamandoko ; ” Bharatayudha – Banjir Darah di Tegal Kurusetra “; Yogyakarta ; Penerbit Narasi ; 2009 = cetakan ke 1 ; ISBN 9791681511, 9789791681513 ; 308 halaman ; gambar wayang kulit ; bahasa Indonesia.

Tahun ?  ;  Wawan Susetya  ;  “ Bharata Yudha. “

2011  ;  Pitoyo Amrih  ;  “ Memburu Kurawa. Risalah Kematian di Padang Kurusetra! “

2012  ;  R. Toto Sugiharto  ;  ” GENDERANG BARATAYUDHA. Tumpahnya Air Mata dan Darah para Kesatria Sejati. “

 

 

Salam,

Budi Adi Soewirjo, Tangerang Selatan, 26 April 2014.

Ebook “Bharata Yuddha jilid 1” – Ki Siswoharsojo – 1965.


ebook wayang purwa, ebook cerita wayang, Bharata Yuddha, Ki Siswoharsojo

Data buku :

Siswoharsojo, Ki ; “ Bharata Yuddha ( Babad Bharata Yuddha djilid 1 ) “ ; Babaranipun : Ki Siswoharsojo, Gondolaju Kulon Dj. VI / 151, Ngajogyakarta ; Yogyakarta ; 1965 = tjithakan kaping II ; 180 halaman ; bahasa Jawa ; gambar wayang.

Ebook – dalam dua file – bisa diunduh di URL :

http://www.4shared.com/document/QMYyDE9y/Bharata_Yuddha_01_001_090_Sisw.html

http://www.4shared.com/document/uO66e8LY/Bharata_Yuddha_01_091_180_Sisw.html

Nama-nama 100 orang Kurawa di buku Bharata Yuddha 1 oleh Ki Siswoharsojo

.

.

Buku Bharata Yuddha ini terdiri dari tiga jilid. Meskipun judulnya Bharata Yuddha, namun sebetulnya isinya menceritakan kisah Mahabarata. Dilengkapi gambar wayang kulit purwa Jawa dari buku Sejarah Wayang Purwa terbitan Kapustakan Kementrian P. P dan K ( Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ).

Blog Wayang Pustaka – untuk keperluan study wayang dan memungkinkan lebih banyak orang yang bisa membacanya – sudah berhasil mengkonservasi ke tiga jilid tersebut menjadi file digital format PDF.

Anda bisa melihat data buku dan mengunduh gratis “e-book” dari jilid lainnya di halaman lain blog ini :

Bharata Yuddha Jilid 2 :
http://www.4shared.com/office/dzLU-iZw/Bharata_Yuddha_2-_Ki_Siswohars.html

Bharata Yuddha jilid 3 :
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2013/08/03/ebook-bharata-yuddha-jilid-3-ki-siswoharsojo/

Konservasi gambar wayang kulit purwa dari buku Bharata Yuddha 1 Ki Siswoharsojo 1965, dipindai dengan resolusi tinggi.


Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi, wayang, Kasidi, D Tjarito, Sulardi R, Bharata Yuddha jilid 1, Siswoharsojo Ki

 

Gambar wayang oleh Kasidi, D Tjarito, R Sulardi yang dimuat di dalam buku Bharata Yuddha jilid 1 karya Ki Siswoharsojo terbitan tahun 1965 (cetakan ke 2).

Abiyasa ( 671 Kb )
http://www.4shared.com/photo/-SPItFiP/Abiyasa_buku_Siswoharsojo_1965.html

Anggaraparna ( 1.098 Kb )
http://www.4shared.com/photo/8qbGm1xh/Anggaraparna-_D_Tjarita-_buku_.html

Anggendari ( 371 Kb )
http://www.4shared.com/photo/mrxISAyF/Anggendari-_buku_Siswoharsojo_.html

Arjuna 1 ( 468 Kb )
http://www.4shared.com/photo/r_Za3bas/Arjuna1-_buku_Siswoharsojo_196.html

Arjuna 2 ( 460 Kb )
http://www.4shared.com/photo/NfsHzjOk/Arjuna2-_buku_Siswoharsojo_196.html

Balarama ( 987 Kb )
http://www.4shared.com/photo/DPPAsF2O/Balarama-_Kasidi-_buku_Siswoha.html

Basukarna ( 686 Kb )
http://www.4shared.com/photo/AdSN3QjI/Basukarna-_Kasidi-_buku_Siswoh.html

Bathara Guru ( 842 Kb )
http://www.4shared.com/photo/nbpeNZaU/Bathara_Guru-_buku_Siswoharsoj.html

Bathara Indra ( 1.029 Kb )
http://www.4shared.com/photo/msWs7FeZ/Bathara_Indra-_buku_Siswoharso.html

Bimasena ( 1.190 Kb )
http://www.4shared.com/photo/dvDam3FN/Bimasena-_buku_Siswoharsojo_19.html

Bisma ( 876 Kb)
http://www.4shared.com/photo/qahZNHmo/Bisma-_D_Tjarita-_buku_Siswoha.html

Bratasena ( 1.181 Kb )
http://www.4shared.com/photo/VW65JooD/Bratasena-buku_Siswoharsojo_19.html

 

Yang di bawah ini sedang dipersiapkan. Silakan sering kunjungi untuk pemutakhiran.

[ telah dilakukan pemutakhiran pada tanggal 10 Juni 2012 , ditambahkan 19 gambar wayang kulit di URL : https://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/06/09/konservasi-2-gambar-wayang-kulit-purwa-dari-buku-bharata-yuddha-1-ki-siswoharsojo/  ]

 

Destrarastra

Dewabrata

Drestajumena

Drupada

Durna

Dursasana

Duryudana

Gatutkaca

Hanantaboga

Jarasanda

Karna

Niwatakawaca

Pandawa

Pandawa muda

Pandu

Puntadewa

Sangkuni

Sentanu

Srikandi

Srikandi dan Drestajumena

Supraba

Uruwasi

Uruwasi dan Arjuna

Wiyasa

.

———

Blog Wayang Pustaka mempunyai banyak koleksi gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi yang tersimpan di beberapa posting / alamat URL. Untuk melihat Daftar Gambar lengkap silakan kunjungi URL  :  https://wayangpustaka02.wordpress.com/daftar-gambar-wayang-purwa-dengan-resolusi-tinggi/
dan dari sana Anda bisa klik untuk masuk ke masing-masing koleksi.

Siapakah R Ng Poerbatjaraka ?


Siapakah R Ng Poerbatjaraka ?

Sumber 1 :
http://69.56.139.170/DetailPenulis.asp?strAu_Name=Poerbatjaraka

Poerbatjaraka (Surakarta 1884 – Jakarta 1964), merupakan seorang sarjana yang berhasil meraih gelarnya tanpa melalui jalur sekolah menengah yang disyaratkan. Sejak kecil dengan belajar sendiri, ia menekuni berbagai macam pelajaran anak sekolah dasar, terutama bahasa Jawa Kuno dan bahasa Belanda. Setelah merasa mampu membaca beberapa kepustakaan Jawa Kuno, ia minta diuji kemampuannya oleh Residen (Belanda) di Surakarta. Kemudian ia dipekerjakan di Dinas Kepurbakalaaan di Jakarta, dan mendalami bahasa Jawa Kuno.

Pada tahun 1914 terbit karya ilmiah pertamanya De Dood van Raden Widjaya den Fersten Koning en Stichter van Madjapahit. Tahun 1926 ia berhasil meraih gelar doktor dengan tesisnya Agastya di Nusantara.

Sumber 2 :
http://www.prigibeach.com/?soda=YmFjYV9iZXJpdGE=&pan=NDAyMA==

RADEN MAS NGABEHI POERBATJARAKA, Bapak perintis Ilmu sastra Indonesia. Bapak Epigrafi Indonesia. Ia melakukan penelitian di bidang sastra Indonesia kuno kususnya bahasa Jawa. Perintis berdirinya Fakultas Sastra UGM. Sebagai ahli sastra Indonesia lama ia disebut-sebut tak memiliki tandingan.
.
Jika dewasa ini masyarakat dapat menikmati Sendratari Ramayana, membaca Ramayana, Arjunawiwaha, Dewa Ruci, Smaradahana, Nitisastra dan warisan kekayaan Sastra Indonesia dari Jawa yang begitu melimpah, itu sebagian besar berkat jasa penelitian dan terjemahan Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatajraka.

Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka lahir bulan Januari 1884 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia terlahir dengan nama Leisija yang berarti lucu, putra pasangan RMT Purbodipuro dengan Raden Ajeng Semu. Darah seni yang mengalir kepadanya berasal dari kakek pihak ayah yang bernama Josodipuro. Leisija Poerbatjaraka adalah anak nomor dua Raden Mas Tumenggung Poerbadipoera, Bupati Anom Kasunanan Surakarta. Hubungan antara Bupati Anom dengan Sunan Paku Buwono X baik sekali, karena sejak bayi, sunan ini diasuh oleh Tumenggung Poerbadipoera. Pendidikan tari-nyanyi-sastra diberikan oleh Bupati Anom tersebut.

Pada awalnya ia masuk sekolah rendah Jawa. Saat menjadi anak abdi dalem Kraton Surakarta, ia mendapat tugas mengantarkan putra-putri Susuhunan Paku Buwono X ke ELS, sekolah yang hanya bisa dimasuki keluarga kraton dan orang-orang kaya. Kesempatan itu tak disia-siakannya. Ia pandai mencuri-curi kesempatan mempelajari bahasa Belanda. Caranya ia ikut mendengarkan dan menyimak pelajaran Bahasa Belanda kendati hal itu hanya bisa ia dapatkan di luar ruang kelas.

Pada tahun 1900 ia tamat ELS “tak resmi”. Leisija lantas diangkat sebagai pegawai magang di Kraton Surakarta, dengan nama Atmopradonggo. Nama itu disesuaikan dengan tugas yang diembannya di kraton yakni sebagai penabuh gamelan, menyelenggarakan uyon-uyon serta “nembang” atau melantunkan lagu-lagu Jawa. Suatu hari ia diajak kawan-kawannya bergabung dengan perkumpulan “Sita Dinuja”, namun tawaran ini ditolaknya. Alasan Leisija Atmopradonggo adalah nama perkumpulan itu tak disukainya karena “Sita” berarti dingin sedangkan “Danuja” berarti anak Danu atau Danuja yang berarti raksasa. Dengan demikian “Sita Danuja” mengandung arti raksasa yang kedinginan. Penolakan itu menyulut sakit hati kawan-kawannya. Purbatjaraka dikucilkan dan difitnah.

Suatu saat ia dipanggil Susuhanan Paku Buwono X untuk menerima hukuman lantaran kesalahannya melanggar peraturan kraton karena bermain mata dengan seorang putri kraton, serta menyalahgunakan gunakan kepercayaan raja. Fitnah yang berhasil. Atmopradonggo dipecat. Ia berusaha mendapatkan pekerjaan dengan melamar sebagai pegawai di Museum Radja Pustaka, namun ditolak.

Pada tahun 1905 Leisija diangkat sebagai mandor jalan, namun pekerjaan ini hanya sebentar saja ia lakoni. Tugas sebagai pengawas kebersihan jalan, selokan dan pohon-pohon perindang tak pernah ia minati. Di sela-sela istirahatnya ia memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dirintisnya, yakni bahasa dan sastra Indonesia. Tak betah dengan pekerjaannya Leisija merantau ke Jakarta. Di tempat baru itu ia belajar bahasa Jawa Kuno dan Sansekerta pada Dr. N.J. Krom. Ia juga berguru Bahasa Jawa pada Dr. Stein Callaenfels.

Tahun 1915 Leisija kembali ke Surakarta dan bekerja sebagai pustakawan di Museum Radya Pustaka. Dua tahun kemudian ia pindah bekerja ke Museum Jakarta. Pada tahun 1921 Leisija mendapat bea siswa dari yayasan Kern untuk meneruskan pendidikan di Universitas Leiden Belanda. Ia mengambil jurusan bahasa Arya dan lulus dengan predikat cum laude tahun 1926 setelah mempertahankan tesis “Agastya in den Archipel” (Agastya di Nusantara Ini). Ia merupakan orang Indonesia kedua yang memperoleh gelar tersebut. Yang pertama adalah Prof. Dr. R.A. Husein Djajadiningrat.

Pada tahun 1928 Leisija kembali ke tanah air dan berganti nama menjadi Poerbotjaroko. Ia kembali bekerja di Museum Pusat Jakarta sembari meneruskan penelitian di bidang sastra Jawa yang pernah dirintisnya sebelum berangkat ke Negeri Belanda. Berkat penelitiannya itu ia dijuluki sebagai “Bapak dan perintis ilmu Sastra Indonesia”.

Di bidang sastra Indonesia lama terutama bahasa Jawa Kuno Purbatjaroko tampil nyaris tanpa tandingan. Anggapan ini juga datang dari sarjana Belanda Dr. C. Hooykas. Poerbatjaroko juga diakui sebagai perintis dalam bidang lapangan monografi dan epigrafi pertama di Indonesia. Ia sangat ahli dalam bidang studi kakawin Smaradahana. Sejak tahun 1914 Poerbotjaroko telah menghasilkan 73 judul tulisan dalam bahasa Belanda.

Pada jaman kemerdekaan Poerbotjaroko mengajar dan membantu di Dinas Purbakala RI, disamping mengerjakan tugas menyusun pembentukan Fakultas Sastra pada Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Setelah Fakultas Sastra UGM berdiri, ia mendapatkan status sebagai Guru Besar. Selanjutnya pada periode 1950-1955 ia menjadi Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) dan dosen pada Uiversitas Nasional Jakarta.

Pada tanggal 3 Mei 1964 civitas akademika Universitas Nasional Jakarta memberinya gelar “Mpu” atas jasa-jasanya di bidang penelitian dan pengembangan ilmu sastra di Indonesia. Prof. Dr. Poerbotjaroko meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1964. Karya Poerbotjaroko menghasilkan banyak sekali karya tulis di bidang ilmu sastra dan sejarah nusantara. Salah satunya berudul De dood van R Wijaya den eersten Koning en stichter van Majapahit (Kematian Raden Wijaya, Raja Pertama dan Pendiri Majapahit).

.

—–

.

Buku-buku tulisan Poerbatjaraka yang bisa Anda temui di blog ini – dan juga bisa Anda unduh hasil konservasi nya – sebagai berikut :

 

Mpu Sedah en Mpu Panuluh – Bharata Yuddha “ dalam bahasa Belanda.

Kapustakan Djawi “ dalam bahasa Jawa.