Posts Tagged ‘Bima’

Buku “SESAJI RAJA SUYA” – Purbo Asmoro – 2013 [buku pedalangan jangkep]


.

Buku pedalangan jangkep SESAJI RAJA SUYA - Purbo Asmoro

Buku pedalangan jangkep SESAJI RAJA SUYA – dalang : Purbo Asmoro – penulis teks pakeliran bahasa Jawa : Kathryn Emerson – penerbit The Lontar Foundation, Jakarta.

.

Data buku :

Dalang : Purbo Asmoro  , penulis teks pakeliran dalam bahasa Jawa : Kathryn Emerson  ” Sesaji Raja Suya. Teks Pagelaran Ringgit Purwa Wacucal Tigang Gagrag. ” ;  Jakarta  ;  Yayasan Lontar  ;  2013 = cetakan pertama  ;  xii +380 (392 p.) ; 22.9 x 15.2 x 2.5 cm.; 655 gr.; paperback  ;  ISBN 978-979-8083-97-6  ;  bahasa Jawa pedalangan.

.

.

Dikutip dari laman http://www.lontar.org :

For centuries, the people of Indonesia have revered and nurtured the art of wayang kulit, the shadow puppet theater. In 2003 the significance of this art form was recognized by UNESCO when it declared wayang a “masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity.” UNESCO has included wayang kulit in the Organization’s Intangible Heritage List and its proposed action plan calls for stronger support of puppeteers (dalang) and increased documentation. For full details see the UNESCO Intangible Heritage List.

In support of this goal, Lontar is producing a shadow theater educational package for use by educators to teach students the art, wisdom, and cultural knowledge found in the wayang tradition.

There are three major performance styles of wayang kulit performed today: “classic” (klasik), “contemporary-interpretive” (garapan), and “condensed” (padhat). Over the past several years Lontar has documented each of these performance styles twice and, from the large amount of footage obtained, will produce six films with subtitles in Indonesian and English. Lontar will also publish six complete performance scripts in three languages – Javanese, Indonesian and English – and a volume of musical notation.

With the filming of the six performances now complete, as well as the transcription of the plays and their translation into Indonesian and English, Lontar is now seeking additional funding to complete production of the educational packages.

Tag tambahan :

wayang kulit classical performance, wayang kulit contemporary interpretive performance, wayang kulit condensed performance, shadow theater documentation, wayang kulit complete performance script, shadow theater educational package, art, wisdom, cultural knowledge, musical notation, gamelan scores

.

Pemutakhiran 12 Januari 2014 :

Buku ini diluncurkan pada bulan Nopember 2013 di Jakarta. Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package. Di bawah ini informasi tambahan yang Admin peroleh mengenai buku ini.

.

Ringkasan tertulis di laman http://wayangedupackage.weebly.com/

Sesaji Raja Suya

Jarasandha, seorang raja jahat dan menakutkan, sedang meneror dunia—mengambil alih kekuasaan kerajaan-kerajaan lain, memenjarakan raja-raja yang adil dan dicintai rakyat, serta  memorak-porandakan kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Keluarga Pandawa, lima bersaudara, yang gagah berani, bersama-sama dengan Kresna, berencana mengadakan upacara persembahan khusus demi terciptanya kedamaian di dunia. Sementara itu, Jarasandha telah membuat perjanjian dengan kekuatan jahat dari dunia bawah, akan mengadakan persembahan dengan mengorbankan seratus nyawa raja-raja demi mempertahankan kekuatannya. Dia masih  membutuhkan tiga raja lagi karena ia telah menangkap sembilan puluh tujuh raja. Saat tiga pemimpin, Arjuna, Kresna, dan Bima berhadapan dengan Jarasandha di kerajaannya, Giribajra, terjadilah perdebatan hebat tentang kepercayaan, agama, dan ritual-ritualnya—Jarasandha bersikukuh dia berada di sisi yang benar, dan Kresna pun mendebat semua pandangannya. Puncak cerita adalah ketika akhirnya Pandawa berhasil mengadakan upacara persembahan tersebut, dan berbagai tantangan yang menghampiri ketenangan pikiran mereka memaksa mereka untuk menguji kepercayaan mereka sendiri.

.

.

Overview tertulis di lama Barnes and Noble :
http://www.barnesandnoble.com/w/sesaji-raja-suya-purbo-asmoro/1117742211?ean=9786029144017

Sesaji Raja Suya – The Grand Offering of the Kings

A terrifying and evil king, Jarasandha, is terrorizing the world-taking over countries, imprisoning just and popular kings, and ravaging havoc on communities around the world. The heroic Pandhawa family of five brothers craft a plan together with Kresna to put on a very special ceremony of offerings that will help forge peace in the world. Jarasandha, meanwhile, has made his own pact with the evil forces in the underworld, to sacrifice one hundred kings in order to secure his power. He needs three more leaders, as he has already taken control over ninety-seven. As the three leaders Arjuna, Kresna, and Bima face off with Jarasandha in his kingdom of Giribajra, a grand debate begins on the nature of belief, religion, and rituals-Jarasandha insisting he is in the right, and Kresna debating his every point. The story comes to a climax when the Pandhawa actually do go through with their ceremony of offerings, and various challenges to their own peace of mind force them to examine their own beliefs.

This book contains the original Javanese transcripts of Purbo Asmoro’s three live performances of Sesaji Raja Suya in classical, contemporary-interpretive, and condensed styles.

Advertisements

Buku “Laku Prihatin” karya Iman Budi Santosa, 2011.


Buku Laku Prihatin, Iman Budi Santosa, penerbit Memayu Publishing, falsafah hidup orang Jawa, budi pekerti orang Jawa, kebudayaan Jawa.


 


Di toko buku Admin menemukan buku di bawah ini. Meskipun bukan buku wayang murni, tetapi kandungan buku juga ada cerita wayang yang dipakai sebagai contoh, serta menurut Admin isi dan bahasa buku ini memikat, sangat bernuansa Jawa, maka Admin mencoba berbagi info tentang buku ini. Mohon maaf Admin tidak bisa menyediakan file digital nya karena buku ini masih bisa Anda beli di toko buku atau langsung dari penerbit.

 

 

Data buku :

Iman Budi Santosa ; “ LAKU PRIHATIN. Investasi Menuju Sukses Ala Manusia Jawa. “ ; Yogyakarta ; Memayu Publishing ; Maret 2011 = cetakan pertama ; 202 halaman ; bahasa Indonesia ; ISBN 978-602-971-587-3 .

 

Alamat penerbit : Memayu Publishing, Mongga Wetan RT 36 Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta ; Telepon (0274) 824 9440 ; email : penerbitgelar@gmail.com .

 

 

Admin membaca di kata pengantar buku ini maksud penulisan oleh penulis buku ini , yang sudah demikian jelas mengantar calon pembaca mengetahui cakupan materi buku ini. Dan penulisnya menyusun buku ini dengan kata-kata dan kalimat yang memikat.

 

 

Kata Pengantar Penulis buku ini :

 

Dunia kebudayaan Jawa memang unik dan menarik, Meskipun berulangkali dikaji, dibedah, ditafsirkan, tetap masih menyimpan banyak fenomena yang menantang untuk didekati sedekat dan secermat mungkin, sehingga buah-tuahnya dapat dipetik dan dikemas menjadi sajin mirunggan untuk sidang pembaca sekalian. Misalnya, mengenai seluk-beluk laku prihatin yang terus menggejala dan menampakkan keberadaannya serupa bianglala yang menyertai kehidupan orang Jawa dari masa ke masa.

 

Dalam konteks laku prihatin, ada pemeo, wong Jawa gedhe tapane. Orang Jawa besar laku tirakatnya. Sementara ada  unen-unen atau peribahasa lain yang juga melegenda : urip mung mampir ngombe (hidup hanya mampir minum). Selintas dua peribahasa ini terkesan paradoks, atau bertentangan. Jika hidup ibarat mampir minum, untuk apa menjalani laku prihatin (tirakat) segala ? Jika hidup hanya “sebentar”, mengapa orang Jawa sibuk memperbaiki moral akhlak, sikap perilaku, serta budi pekerti, hingga memperbanyak amal ibadahnya di dunia ?

 

Inilah salah satu kesunyatan menarik yang terdapat dalam bunga rampai kehidupan manusia Jawa. Walaupun pada sisi tertentu seakan menganggap remeh dan singkat kehidupan ini, tetapi pada sisi lain mereka justru menunjukkan kesungguhan di dalam melakoni kehidupan dan menatanya hingga dimensi-dimensi yang paling kecil dan muskil pada hidup kesehariannya.

 

Gambaran selintas ini mengisyaratkan bahwa laku tirakat (prihatin) bagi orang Jawa bukan dikerjakan secara asal-asalan, insidental, sejam dua jam, sehari dua hari, tetapi sepanjang hidupnya. Selama hidup, manusia Jawa cenderung mengolah cita-citanya berlandaskan laku prihatin yang tidak pernah berhenti, karena sukses yang didambakan adalah sukses dunia dan akhirat.

 

Buku ini berusaha menyajikan realitas tadi, sebagai pisungsung kepada zaman, peradaban, dan kemanusiaan. Sumangga dikedhapi, silakan dinikmati dan dicerna dengan semangat tukar kawruh demi meningkatkan wawasan dan kearifan. Sebab, di dunia (sebagaimana pandangan orang Jawa) ada banyak jalan bersilangan, kebak rubeda maneka warna, bener durung mesthu pener, salah durung mesthi kalah, becik bisa kuwalik. Maka dari itu, untuk lolos dari ribuan permasalahan yang membelit kehidupan modern di masa kini, ada baiknya menelaah kembali warisan dan wulang-wuruk jagad Jawa, termasuk laku prihatinnya yang menyejarah. Semoga ada sejumput wewarah yang dapat memberikan pepadhang dan pepeling dalam menempuh dan menyukseskan hidup kita ke depan.

 

Iman Budi Santosa – penulis buku ini.

 

 

 

Mungkin masih banyak pendapat orang bahwa laku prihatin tersebut identik dengan paham kejawen yang berkonotasi paham / aliran kepercayaan kepada Tuhan. Padahal sebetulnya tidaklah demikian. Laku prihatin bisa bersinggungan dengan siapa saja.

 

Dalam buku ini juga diceritakan beberapa contoh laku prihatin di dalam cerita wayang. Kita semua menyetujui bahwa di dalam cerita wayang banyak cerita moral atau budi pekerti. Dan tentunya ; kalau kita sependapat dengan ungkapan moral dan budi pekerti tersebut ; ada baiknya kalau kita meneladaninya di dalam praktek kehidupan kita sehari-hari.

 

Di bawah ini Admin tuliskan contoh kisah wayang dalam buku tersebut (hanya yang wayang) , sebetulnya ada juga contoh kisah dari sejarah Jawa atau legenda Jawa.

 

  1. 1.       Kisah Cupu Manik Astagina (Ramayana)
  2. 2.       Kisah Rahwana Bersaudara (Ramayana)
  3. 3.       Kisah Dewi Kekayi (Ramayana)
  4. 4.       Kisah Pandawa Dalam Pembuangan (Mahabharata)
  5. 5.       Kisah Bambang Ekalaya (Mahabharata)
  6. 6.       Kisah Begawan Ciptoning (Mahabharata)
  7. 7.       Kisah Yuyutsu, Durmuka, dan Drestaketi (Mahabharata)
  8. 8.       Kisah Bima dan Dewaruci (Mahabharata)

 

Penulis banyak memakai istilah, peribahasa, kalimat petuah dalam bahasa aslinya , bahasa Jawa ; oleh karenanya sangat terpuji bahwa penulis menyediakan Glosari (semacam kamus atau arti istilah, peribahasa atau kalimat petuah tadi). Ini sangat berguna, tidak hanya untuk bukan penutur Jawa, bahkan bagi penutur Jawa sehari-hari sekedarnya yang kurang paham bahasa Jawa lebih dalam.


Ternyata sebelum buku ini terbit penulis sudah menuliskan buku lain dan telah terbit ; yang juga berkaitan dengan falsafah atau budi pekerti orang Jawa ; yaitu Profesi Wong Cilik (1999) , Dunia Batin Orang Jawa (2007) , Budi Pekerti Bangsa (2008) dan Nasihat Hidup Orang Jawa (2010). Wah, kita perlu blusak-blusuk lagi ke toko buku atau berselancar di internet untuk mencari buku-buku judul lainnya itu.

 

***

 

Bagi pengunjung yang baru pertama kali berkunjung, atau yang belum terlalu tahu isi blog ini sebelumnya , Admin sajikan beberapa info tentang buku atau ebook terkait info di atas , yang buku atau file digital nya sudah ada tersaji di blog Wayang Pustaka :

Klik disini

[ sedang dipersiapkan ]

 

 

Salam dari Admin,

Budi Adi Soewirjo,

Ditulis di Pejaten, Jakarta Selatan

01 Pebruari 2012 ; 21:00 wib.

Ebook ‘ Dewaruci ‘ karya S.P. Adhikara


Ebook ‘ Dewaruci ‘ karya S.P. Adhikara

Yasadipoera I, SP Adhikara, Dewaruci, Bimasuci, Bima, Drona, Rukmuka, Rukmakala, Naga, Tirtapawitra, Tibrasara, Candramuka, Gadamadana, Bathara Indra, Bathara Bayu, Jalasangara, Wrekodara, penerbit ITB, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Diunggah ke blog pertama kali 28 Mei 2011 oleh Budi Adi Soewirjo.

Data buku :

S. P. Adhikara (di-Indonesia-kan oleh) ,  “ Dewaruci “ ,  penerbit Institut Teknologi Bandung ,  Bandung ,  1984 cetakan 1,  29 halaman ,  bahasa Indonesia ,  gambar wayang.

 

Prakata S. P. Adhikara :

Cerita Dewaruci yang disajikan dalam buku ini merupakan terjemahan utuh cerita Bimasuci tulisan pujangga Yasadipoera I, pada tahun 1803. Terjemahan cerita ini tidak disertai analisis, interpretasi, dan lain sebagainya, mengingat tulisan ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mengetahui cerita Bimasuci tulisan pujangga Yasadipoera I, tetapi tidak atau kurang paham bahasa Jawa.

Tulisan pujangga Yasadipoera I diawali dengan sebuah doa AWIGHNAM ASTU NAMAS SIDDHI, artinya : SEMOGA TIADA RINTANGAN, SEGALA PUJI TELAH SEMPURNA DIPANJATKAN.

Pada akhir tulisan tersebut, terdapat kolofon, yaitu catatan waktu selesainya menulis cerita dan kesimpulan cerita Bimasuci, yang dinyatakan dengan dua buah kalimat saja, ialah berturut-turut sebagai berikut : ‘ meletiking dahana goraning rat ‘ dan ‘ pamungkasing bramarawilasita ‘. Bagian ini terpaksa kami sertai ulasan secukupnya, agar dapat dipahami oleh para pembaca.

Desember 1983

S.P. Adhikara

Kolofon :

Berakhirnya ceritera kami, yang kami tulis dalam bahasa yang sederhana pada tahun 1803 tarikh Masehi atau tahun 1730 tarikh Jawa. Tahun selesainya menulis cerita ini, kami beri tanda untuk mudah mengingat-ngingat (sengkala), ‘ maletiking dahana goraning rat ‘ , artinya ‘ meloncatnya api menakutkan dunia ‘.

Meloncat (meletik) nilainya nol, api (dahana) bernilai tiga, takut (gora) berati tujuh, dan dunia (rat) nilainya satu. Jadi 0371 dapat dibaca ‘ meloncatnya api menakutkan dunia ‘. Tetapi apabila urutan angka dibalik menjadi 1730, yaitu tahun selesainya kami menulis cerita ini dan dapat dibaca ‘ dunia takut (bila) api meloncat ‘. Maksudnya, manusia dapat diibaratkan sebagai ‘ dunia ‘ dan sukma diibaratkan ‘ api ‘, jadi ‘ dunia takut (bila) api meloncat ‘ dapat diartikan ‘ manusia takut bila sukma lepas dari raga ‘ atau ‘ manusia takut (bila) menghadapi ajalnya ‘.

Hal ini tidak perlu terjadi karena ilmu pelepasan mengajak manusia hidup suci dan ajal itu merupakan berakhirnya hidup di dunia ini, yang kami singkat sebagai kalimat penutup karangan kami, ‘ pamungkasing bramara wilasita ‘ . ( pamungkasing = berakhirnya , bramara = kumbang , wilasa = bermain-main, sita = putih, lambang kesucian, wilasasita = bermain-main dalam kesucian ).

Maka ‘ berakhirnya kumbang bermain-main dalam kesucian ‘ dapat ditafsirkan ‘ ajal manusia yang hidup suci, karena ia telah mendalami ilmu pelepasan ‘ . Manusia tidak takut menghadapi lepasnya sukma dari raga.

Bukankah hidup suci itu inti sari ilmu pelepasan ?  Bukankah ilmu pelepasan itu ilmu yang diperlukan dalam menghadapi ajal ?  Untuk apa manusia takut menghadapi ajalnya, apabila ia telah mendalami ilmu pelepasan selagi ia hidup di bumi manusia ini !

‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :

http://www.4shared.com/document/cFIDaUzx/Dewaruci_SP_Adhikara.html

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Ebook ‘ Nawaruci ‘ karya S.P. Adhikara


Ebook ‘ Nawaruci ‘ karya S.P. Adhikara

Empu Syiwamurti, Dr. Prijohoetomo, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bima, Drona, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Data buku :

S.P. Adhikara; ‘  Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bahasa Indonesia ; bergambar wayang.

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :


Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. 

 
Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda. 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613. 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘. 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali. 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613. 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

Desember 1984
S.P. Adhikara.

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

Om Saraswatyai namah
Om gemung Ganapataye namah
Om Syri-Gurubhyo namah

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati
Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati
Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh gratis dalam dua file di URL :
http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html
http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.


Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.

Empu Syiwamurti, Jasadipoera I, Yasadipura I, Dr. Prijohoetomo, R. Tanaya, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Bima, penerbit Institut Teknologi Bandung, Institut Indonesia, Yayasan Panunggalan, Lembaga Javanologi.

 

Pada tanggal 10 April 2011 Admin pernah menulis tentang empat buku karangan S.P. Adhikara

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/ seperti tertulis pada bagian (1) di bawah.

Admin ingin menambahkan tulisan yang sekarang termuat pada bagian (2) sebagai suatu saran urutan membaca buku-buku karangan S.P. Adhikara tersebut. Mungkin setelah membaca buku-buku tersebut pembaca ada yang menjadi bingung jika sebelumnya pernah melihat pakeliran wayang kulit dengan lakon yang sama ( Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci ) yang mungkin ceritanya berbeda dengan yang termuat di buku-buku ini. Dalam hal ini kita tidak perlu menilai mana yang benar atau salah. Tapi setidaknya kita bisa membaca buku-buku S.P. Adhikara – sebagai telaah sastra kuno dan telaah olah rasa – yang S.P. Adhikara tulis berdasarkan sumber naskah-naskah kuno dan analisa dia.

(1)    Ditulis 10 April 2011 :

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna.

Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.

 

 

Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut.

 

 

Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan ‘ Panunggalan ‘, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

 

 

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

(2)

Tambahan tulisan pada tanggal 28 Mei 2011 :

Saran urutan membaca buku-buku S.P. Adhikara adalah berdasarkan tahun karya naskah asli cerita-cerita tersebut :

 

a.      “ Nawaruci “ . Asli cerita Nawaruci karya Empu Syiwamurti dari Bali ditulis pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Kemudian S.P. Adhikara mernemahkan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) berdasarkan disertasi Dr. Prijohoetomo.

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/
atau
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/29/

 

b.      “ Dewaruci “. Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-dewaruci-karya-s-p-adhikara/

 

c.       “ Unio Mystica Bima “ . Berisi uraian mengapa-siapa Bima , analisis Serat Bimasuci , serta mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerit atersebut sering dicampur-adukkan.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/46/

 

d.      “ Analisis Serat Bimasuci “  . Menganalisa kembali Serat Bimasuci berdasarkan ‘ Serat Bimasuci ‘ digubah oleh Pujangga Yasadipura I, pada tahun 1793 dalam bentuk puisi Jawa dalam metrum macapat , dan tulisan ulang Yasadipura I ‘ Serat Bimasuci ‘ pada tahun 1803 masih dalam bentuk puisi Jawa, hanya metrumnya diubah menjadi metrum Jawa Kuna ( tembang gede ).

Rujukan S.P. Adhikara adalah : ‘ Serat Bimasuci ‘ gubahan Pujangga Yasadipura I dalam bentuk puisi Jawa dengan metrum macapat, yang disunting dalam sinopsis ini, diambil dari buku tulisan R. Tanaya, berjudul : BIMA SUCI ( PT Balai Pustaka, 1979 ) ; sedangkan yang ditulis dalam metrum Jawa Kuna ( tembang gede ), dikutip dari disertasi Dr. Prijohoetomo ( 1934 ).
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-analisis-serat-bimasuci-karya-s-p-adhikara/