Posts Tagged ‘Bimasuci’

Ebook “ SERAT TUNTUNAN PADALANGAN Djilid V. Ringkesan Lampahan Ringgit 20 Warni. “ – Najawirangka alias Atmatjendana – 1958 [ buku pedalangan jangkep ]


TUNTUNAN PADALANGAN jilid V oleh Najawirangka alias Atmatjendana.

TUNTUNAN PADALANGAN jilid V oleh Najawirangka alias Atmatjendana.

Ebook “ SERAT TUNTUNAN PADALANGAN Djilid V. Ringkesan Lampahan Ringgit 20 Warni. “ – Najawirangka alias Atmatjendana – 1958  [ buku pedalangan jangkep ]

.

Data buku :

( Ingkang Ngimpun ) M Ng Najawirangka alias Atmatjendana  ;   “ SERAT TUNTUNAN PADALANGAN Djilid V. Ringkesan Lampahan Ringgit 20 Warni. “  ;  Yogyakarta  ;  ( Ingkang Ngedalaken ) Tjabang Bagian Bahasa Jogjakarta, Djawatan Kebudajaan, Kementerian P.P. dan K  ;  1958  =  cetakan pertama  ;  159 halaman  ;  gambar wayang kulit purwa  ;  Bahasa Jawa.

 

Buku ini adalah kelanjutan dari “ Serat Tuntunan Padalangan Tjaking Pakeliran Lampahan Irawan Rabi “ jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan jilid 4 karya Najawirangka yang sudah terbit sebelumnya. Tetapi jilid 5 ini memuat ringkasan 20 lakon wayang purwa, karena tuntunan pakeliran lakon Irawan Rabi sudah selesai pada jilid 4. Cara penyajian ringkasan disesuai dengan urutan adegan di pakeliran disertai petunjuk ringkas mengenai gending, suluk, ada-ada, sendon dan sebagainya yang selayaknya dilaksanakan dalang di pakeliran. Untuk lakon carangan, diberi petunjuk pemakaian pinjaman boneka wayang tokoh yang mana yang bisa dipakai untuk menampilkan tokoh lakon carangan tersebut.

 

Dua puluh lakon wayang purwa yang ada di buku ini  :

Lakon 01 s/d 05
Kresna Kembang,  Jaladara Rabi utawi Endang Wrediningsih,  Kumala Sekti,  Irawan Rabi,  Wiwaha – Mintaraga,

Lakon 06 s/d 10
Mustaka Weni,  Kangsa Adu-adu,  Dursasana Rabi utawi Dursasana Ical,  Kuntul Wilanten,  Wrekudara Dados Gajah utawi Kala Punjara,

Lakon 11 s/d 15
Cocogan utawi Ambangun Taman Maerakaca / Kartanadi utawi Alap-alapan Srikandi,  Bambang Sakri,  Rabinipun Prabu Anom Kurupati,  Alap-alapan Drusilawati,  Jagalbilawa,

Lakon 16 s/d 20
Partakrama Kedu ( Kilen utawi Kasepuhan, ingkang dipun lampahaken Kyahi Panjangmas ),  Gandamana Sayembara,  Dewaruci utawi Bimasuci,  Srikuncara utawi Sastrasutiksna,  Pregiwa Pregiwati,

 

Gambar wayang kulit purwa :

Buku ini juga dihiasi beberapa gambar wayang purwa Jawa. Tidak diketahui nama penggambarnya, tetapi kalau melihatnya tampaknya bukan hasil karya penggambar legendaris ( Kasidi, Darmo Tjarita, R. Soelardi dkk ).

 

Konservasi :

Hasil konservasi buku ini dalam file digital format PDF bisa Anda unduh di alamat URL :

Bagian 1 : Lakon 01 s/d 10 :
http://www.4shared.com/office/KOmYGGN-ba/Padalangan_V-_bag_1-_Nojowiron.html

Bagian 2 : Lakon 11 s/d 20 :
http://www.4shared.com/office/nXP-RRAXce/Padalangan_V-_bag_2-_Nojowiron.html

 

 

Sedangkan hasil konservasi dari jilid lain Anda bisa klik tautan di jilid-jilid sebelumnya di kalimat di atas. Anda juga bisa mengunduh buku lain karya Najawirangka ( dan file digital gambar wayang kulit purwa yang ada dalam bukunya ) dengan klik profil Najawirangka.

 

Posting yang terkait :

1.

Gendhing-gendhing karawitan Jawa pengiring pakeliran wayang kulit purwa Jawa yang termuat di buku “ Serat Tuntunan Padalangan  Djilid V. Ringkesan Lampahan Ringgit 20 Warni. “ karangan Najawirangka alias Atmatjendana.

2.

Gambar Wayang Kulit Purwa dari buku “Serat Tuntunan Padalangan jilid 3″ – Ki Najawirangka alias Ki Atmatjendana tahun 1958.

.

Advertisements

Ebook ” WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA ” – Sri Mulyono – 1982, 1987, 1992


.

Data buku :

Sri Mulyono  ;  “ WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA. (Seri Pustaka Wayang 11). “  ;  Jakarta  ;  penerbit CV Haji Masagung  ;  1992 = terbitan ketiga ( 1982 = pertama, 1987 = kedua )  ;  ISBN 979-412-033-2  ;  184 halaman  ;  bahasa Indonesia.

Catatan :

Penerbit CV Haji Masagung, Jakarta ( adalah eks penerbit PT Gunung Agung, penerbit PT Inti Idayu Press dan penerbit Yayasan Masagung ) , kala itu beralamat di Jl. Kwitang no.8, Jakarta 10420.

.

Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA - Sri Mulyono

Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA – Sri Mulyono

.

Hasil konservasi dalam dua bagian ; untuk keperluan study wayang ; dalam file digital format PDF ; dapat Anda unduh gratis di alamat-alamat :

.

Bagian 1  ( halaman 1 sampai dengan 94 )
http://www.4shared.com/office/ipFWVYx7/Wayang_dan_Filsafat_Nsntr1-_Sr.html

Bagian 2 ( halaman 95 sampai dengan akhir )
http://www.4shared.com/office/c0CZ7oF-/Wayang_dan_Filsafat_Nsntr2-_Sr.html

.

[ Untuk mengetahui hasil konservasi buku-buku wayang karya Sri Mulyono yang lain, silakan kunjungi halaman “ Buku-buku Wayang karya SriMulyono ditulis 1970 ~ 1980 an “. ]

.

Daftar Isi Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

Daftar Isi Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

.

DftrIsi2 Wyng Flsft Nsntr Sri Mulyono.

Kata Pengantar dari Boediardjo – Ketua Umum Yayasan NAWANGI [ Pewayangan Nasional Indonesia ] :

.

Pngntr1 Wyng Flsft Nsntr Sri Mulyono.

Pngntr2 Wyng Flsft Nsntr Sri Mulyono

Kata Pengantar oleh Boediardjo untuk Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

.

.

Petikan tentang TAN KENA KINAYA NGAPA :

.

TAN KENA KINAYA NGAPA di buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

TAN KENA KINAYA NGAPA di buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

.

TanKenaKinayaNgapa2 cmprs.

TanKenaKinayaNgapa3 cmprs.

 

 

 

Ebook ” Analisis Serat Bimasuci ” karya S.P. Adhikara


Ebook ” Analisis Serat Bimasuci ” karya S.P. Adhikara

 

Jasadipoera I, Dr. Prijohoetomo, R. Tanaya, S.P. Adhikara, Bimasuci, Bima, Dewaruci, Lembaga Javanologi, Yayasan Panoenggalan, Institut Indonesia, macapat, tembang gede.

 

Data buku :

S.P. Adhikara ; “ Analisis Serat Bimasuci “ ; Yogyakarta ; Institut Indonesia ; 1986 cetakan ke ? ;  halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang.

 

 

SP Adhikara di dalam Pendahuluan menulis :

 

‘Serat Bimasuci ‘ digubah oleh Pujangga Yasadipura I, pada tahun 1793 A.D. atau tahun 1720 A.J. dalam bentuk puisi Jawa dalam metrum macapat. Dalam karya sastra tersebut, dimuat sengkala ‘ niring sikara wiku tunggal ‘ ( 1720 ), yang artinya : hilangnya segala kendala, orang suci dapat menyatukan diri dengan Khaliknya. Sengkala tersebut, selain untuk mengingat tahun selesainya penulisan karya sastra, juga dimaksud untuk mengetengahkan isi pokok ‘ Serat Bimasuci ‘.

 

Pada tahun 1803 A.D. atau tahun 1730 A.J. , Pujangga Yasadipura I menulis ulang ‘ Serat Bimasuci ‘, masih dalam bentuk puisi Jawa, hanya metrumnya diubah menjadi metrum Jawa Kuna ( tembang gede ). Sengkala yang dimuat di dalam tulisan ulang ini tertulis : ‘ maletiking dahana goraning rat ‘ ( 1730 ), yang artinya : meloncatnya api ( jiwa, roh, sukma ), menggegerkan ( menakutkan, mencemaskan ) dunia ( manusia )’ . Dengan kata lain, Pujangga Yasadipura I berpendapat, bahwa orang takut menghadapi ajal, senhingga Yasadipura I merasa perlu untuk memberi pegangan kepada orang yang takut menghadapi kematiannya. Ajaran tentang mati atau ilmu kematian dalam sastra Jawa klasik disebit ‘ kalepasan ‘, yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan ‘ ilmu pelepasan ‘. Maka ilmu pelepasan itu dimuat dalam wejangan Dewaruci.

 

 

Kembali ke Prakata SP Adhikara di dalam buku ini ( untuk mengetahui sumber kepustakaan yang dirujuk oleh SP Adhikara dan sinopsis tulisan SP Adhikara ) :

 

‘ Serat Bimasuci ‘ gubahan Pujangga Yasadipura I dalam bentuk puisi Jawa dengan metrum macapat, yang disunting dalam sinopsis ini, diambil dari buku tulisan R. Tanaya, berjudul : BIMA SUCI ( PT Balai Pustaka, 1979 ) ; sedangkan yang ditulis dalam metrum Jawa Kuna ( tembang gede ), dikutip dari disertasi Dr. Prijohoetomo ( 1934 ).

 

Semua bait puisi Jawa yang dimuat dalam tulisan ini, selalu disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia, agar supaya mudah dipahamai oleh mereka yang tidak atau kurang paham bahasa Jawa.

 

‘ Serat Bimasuci ‘ menguraikan mistik atau tasawuf, lengkap dengan takhalli, tahalli, dan tajalli, yang bertujuan menyatukan diri dengan Tuhan ( pamoring kawula – Gusti, bahasa Jawa ) yang diwejangkan oleh Dewaruci kepada Bima. Cara yang ditempuh untuk mencapai kesatu-paduan hamba dan Khalik, ialah dengan cara mawas diri.

 

Diketengahkan pula apa dan siapa Dewaruci, hubungan antara manusia dan Khaliknya, dan interpretasi seluruh cerita Bimacusi sebagai Bima mendirikan tapa untuk menyucikan diri, dengan tujuan dapat bersatu-padu dengan Khaliknya.

 

Pada penafsiran Bima bertapa, dipergunakan cara psikoanalisis Freudian, karena dengan penerapan metode ini masalahnya menjadi lebih mudah dipahami.

 

Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di ‘ Lembaga Javanologi ‘, Yayasan Ilmu Pengetahuan Kebudayaan ‘ Panunggalan ‘, Yogyakarta, pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

Semoga para pembaca lebih maklum adanya.

 

S.P. Adhikara
1986

 

 

‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :
http://www.4shared.com/document/Lwi0dxpO/Adhikara_Analisis_Bimasuci.html

 

 

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Ebook ” Unio Mystica Bima ” karya S.P. Adhikara


Ebook ” Unio Mystica Bima ” karya S.P. Adhikara

 

Empu Syiwamurti, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Bima, Dewaruci, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Data buku :

S.P. Adhikara ; “ Unio Mystica Bima. Analisis cerita Bimasuci – Jasadipoera I “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 1984 cetakan 1 ; 44 halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang.

 

 

Prakata S.P. Adhikara di buku Unio Mystica Bima :

Karya satra Pujangga Jasadipoera I, berjudul Bimasuci, sangat terkenal di kalangan bangsa Indonesia. Cerita ini sering disebut juga cerita Dewaruci karena wejangan Dewaruci kepada Bima merupakan inti cerita tersebut.

Cerita Bimasuci mengisahkan keinginan keras Bima ( Bhima ) untuk menyatukan diri dengan Khaliknya atau Unio Mystica Bima. Cita-cita Bima ini dapat tercapai dengan mendalami ilmu pelepasan yang disampaikan oleh Dewaruci.

Cerita Bimasuci dapat dipandang sebagai kisah Bima mawas diri, yang dilakukan dengan jalan bertapa. Untuk ini penuturan ceritanya diatur sedemikian , seakan-akan memberi kesan misterius, sehingga cerita ini menjadi sangat menarik.

Pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci dalam metrum ( ketukan ) macapat pada tahun 1793 dan dalam metrum Jawa Kuna pada tahun 1803. Kedua puisi ini ditulis dalam bahasa Jawa Baru, bukan bahasa Kawi ( Jawa Kuna ).

Cerita Bimasuci mirip sekali dengan cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti pada tahun antara 1500 dan 1613. Tulisan Empu Syiwamurti berbentuk prosa dalam bahasa Jawa Tengahan dan dimaksud sebagai penulisan skenario atau lakon pagelaran wayang kulit.

Dalam analisis cerita Bimasuci mengapa-siapakan Bima perlu, mengingat di dalam cerita ini ia memegang peran utama. Demikian pula mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerita tersebut sering dicampur-adukkan.

Tulisan dalam buku ini diakhiri dengan Bima mawas diri, sehingga proses kejiwaan, psikoanalisis Freud, dan interpretasi cerita Bimasuci, harus diketahui lebih dahulu.

Kesan ‘ misterius ‘ yang terdapat dalam cerita Bimasuci dapat mudah dipahami, apabila pada penafsiran cerita ini diketahui anatomi jiwa yang terdapat dalam psikoanalisa Freud.

Bagi mereka yang tidak berkesempatan untuk membaca cerita Bimasuci tulisan Jasadipoera I, analisis cerita ini diawali dengan ringkasan certita tersebut.

November 1984
S.P. Adhikara.

 ‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :
http://www.4shared.com/document/YHpMe1Bi/Unio_Mystica_Bima_Adhikara.html

 Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Ebook ‘ Dewaruci ‘ karya S.P. Adhikara


Ebook ‘ Dewaruci ‘ karya S.P. Adhikara

Yasadipoera I, SP Adhikara, Dewaruci, Bimasuci, Bima, Drona, Rukmuka, Rukmakala, Naga, Tirtapawitra, Tibrasara, Candramuka, Gadamadana, Bathara Indra, Bathara Bayu, Jalasangara, Wrekodara, penerbit ITB, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Diunggah ke blog pertama kali 28 Mei 2011 oleh Budi Adi Soewirjo.

Data buku :

S. P. Adhikara (di-Indonesia-kan oleh) ,  “ Dewaruci “ ,  penerbit Institut Teknologi Bandung ,  Bandung ,  1984 cetakan 1,  29 halaman ,  bahasa Indonesia ,  gambar wayang.

 

Prakata S. P. Adhikara :

Cerita Dewaruci yang disajikan dalam buku ini merupakan terjemahan utuh cerita Bimasuci tulisan pujangga Yasadipoera I, pada tahun 1803. Terjemahan cerita ini tidak disertai analisis, interpretasi, dan lain sebagainya, mengingat tulisan ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mengetahui cerita Bimasuci tulisan pujangga Yasadipoera I, tetapi tidak atau kurang paham bahasa Jawa.

Tulisan pujangga Yasadipoera I diawali dengan sebuah doa AWIGHNAM ASTU NAMAS SIDDHI, artinya : SEMOGA TIADA RINTANGAN, SEGALA PUJI TELAH SEMPURNA DIPANJATKAN.

Pada akhir tulisan tersebut, terdapat kolofon, yaitu catatan waktu selesainya menulis cerita dan kesimpulan cerita Bimasuci, yang dinyatakan dengan dua buah kalimat saja, ialah berturut-turut sebagai berikut : ‘ meletiking dahana goraning rat ‘ dan ‘ pamungkasing bramarawilasita ‘. Bagian ini terpaksa kami sertai ulasan secukupnya, agar dapat dipahami oleh para pembaca.

Desember 1983

S.P. Adhikara

Kolofon :

Berakhirnya ceritera kami, yang kami tulis dalam bahasa yang sederhana pada tahun 1803 tarikh Masehi atau tahun 1730 tarikh Jawa. Tahun selesainya menulis cerita ini, kami beri tanda untuk mudah mengingat-ngingat (sengkala), ‘ maletiking dahana goraning rat ‘ , artinya ‘ meloncatnya api menakutkan dunia ‘.

Meloncat (meletik) nilainya nol, api (dahana) bernilai tiga, takut (gora) berati tujuh, dan dunia (rat) nilainya satu. Jadi 0371 dapat dibaca ‘ meloncatnya api menakutkan dunia ‘. Tetapi apabila urutan angka dibalik menjadi 1730, yaitu tahun selesainya kami menulis cerita ini dan dapat dibaca ‘ dunia takut (bila) api meloncat ‘. Maksudnya, manusia dapat diibaratkan sebagai ‘ dunia ‘ dan sukma diibaratkan ‘ api ‘, jadi ‘ dunia takut (bila) api meloncat ‘ dapat diartikan ‘ manusia takut bila sukma lepas dari raga ‘ atau ‘ manusia takut (bila) menghadapi ajalnya ‘.

Hal ini tidak perlu terjadi karena ilmu pelepasan mengajak manusia hidup suci dan ajal itu merupakan berakhirnya hidup di dunia ini, yang kami singkat sebagai kalimat penutup karangan kami, ‘ pamungkasing bramara wilasita ‘ . ( pamungkasing = berakhirnya , bramara = kumbang , wilasa = bermain-main, sita = putih, lambang kesucian, wilasasita = bermain-main dalam kesucian ).

Maka ‘ berakhirnya kumbang bermain-main dalam kesucian ‘ dapat ditafsirkan ‘ ajal manusia yang hidup suci, karena ia telah mendalami ilmu pelepasan ‘ . Manusia tidak takut menghadapi lepasnya sukma dari raga.

Bukankah hidup suci itu inti sari ilmu pelepasan ?  Bukankah ilmu pelepasan itu ilmu yang diperlukan dalam menghadapi ajal ?  Untuk apa manusia takut menghadapi ajalnya, apabila ia telah mendalami ilmu pelepasan selagi ia hidup di bumi manusia ini !

‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :

http://www.4shared.com/document/cFIDaUzx/Dewaruci_SP_Adhikara.html

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.


Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.

Empu Syiwamurti, Jasadipoera I, Yasadipura I, Dr. Prijohoetomo, R. Tanaya, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Bima, penerbit Institut Teknologi Bandung, Institut Indonesia, Yayasan Panunggalan, Lembaga Javanologi.

 

Pada tanggal 10 April 2011 Admin pernah menulis tentang empat buku karangan S.P. Adhikara

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/ seperti tertulis pada bagian (1) di bawah.

Admin ingin menambahkan tulisan yang sekarang termuat pada bagian (2) sebagai suatu saran urutan membaca buku-buku karangan S.P. Adhikara tersebut. Mungkin setelah membaca buku-buku tersebut pembaca ada yang menjadi bingung jika sebelumnya pernah melihat pakeliran wayang kulit dengan lakon yang sama ( Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci ) yang mungkin ceritanya berbeda dengan yang termuat di buku-buku ini. Dalam hal ini kita tidak perlu menilai mana yang benar atau salah. Tapi setidaknya kita bisa membaca buku-buku S.P. Adhikara – sebagai telaah sastra kuno dan telaah olah rasa – yang S.P. Adhikara tulis berdasarkan sumber naskah-naskah kuno dan analisa dia.

(1)    Ditulis 10 April 2011 :

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna.

Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.

 

 

Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut.

 

 

Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan ‘ Panunggalan ‘, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

 

 

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

(2)

Tambahan tulisan pada tanggal 28 Mei 2011 :

Saran urutan membaca buku-buku S.P. Adhikara adalah berdasarkan tahun karya naskah asli cerita-cerita tersebut :

 

a.      “ Nawaruci “ . Asli cerita Nawaruci karya Empu Syiwamurti dari Bali ditulis pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Kemudian S.P. Adhikara mernemahkan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) berdasarkan disertasi Dr. Prijohoetomo.

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/
atau
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/29/

 

b.      “ Dewaruci “. Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-dewaruci-karya-s-p-adhikara/

 

c.       “ Unio Mystica Bima “ . Berisi uraian mengapa-siapa Bima , analisis Serat Bimasuci , serta mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerit atersebut sering dicampur-adukkan.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/46/

 

d.      “ Analisis Serat Bimasuci “  . Menganalisa kembali Serat Bimasuci berdasarkan ‘ Serat Bimasuci ‘ digubah oleh Pujangga Yasadipura I, pada tahun 1793 dalam bentuk puisi Jawa dalam metrum macapat , dan tulisan ulang Yasadipura I ‘ Serat Bimasuci ‘ pada tahun 1803 masih dalam bentuk puisi Jawa, hanya metrumnya diubah menjadi metrum Jawa Kuna ( tembang gede ).

Rujukan S.P. Adhikara adalah : ‘ Serat Bimasuci ‘ gubahan Pujangga Yasadipura I dalam bentuk puisi Jawa dengan metrum macapat, yang disunting dalam sinopsis ini, diambil dari buku tulisan R. Tanaya, berjudul : BIMA SUCI ( PT Balai Pustaka, 1979 ) ; sedangkan yang ditulis dalam metrum Jawa Kuna ( tembang gede ), dikutip dari disertasi Dr. Prijohoetomo ( 1934 ).
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-analisis-serat-bimasuci-karya-s-p-adhikara/