Posts Tagged ‘Karna’

Konservasi Gambar Wayang Kulit Purwa dipindai dengan resolusi tinggi dari buku ” Bharata Yuddha jilid 2 ” oleh Ki Siswoharsojo – [ gambar wayang HQ ]


.

[ pemutakhiran 15 Mei 2014  , pemuatan daftar gambar dan almat URL nya : ]

.

Gambar wayang kulit purwa Jawa dari buku Bharata Yuddha jilid 2 oleh Ki Siswoharsojo terbitan akhir 1950 an. Gambar-gambar wayang gagrag Surakarta tersebut karya dari (antara lain) Kasidi, Darma Tjarita.

 

Abimanyu (Sang) karya D Tjarita ; 1.12 Mega Byte
http://www.4shared.com/photo/xBIKvzGnce/abimanyu__sang_-_karya_d_tjari.html

 

Bagadata (Prabu) karya D Tjarita ; 1.84 MB
http://www.4shared.com/photo/YSwrvMRDba/Bagadata__Prabu_-_karya_D_Tjar.html

 

Baladewa (Prabu) karya Kasidi ; 1.68 MB
http://www.4shared.com/photo/62XCZ0lfba/baladewa__prabu_-_karya_kasidi.html

.

Gambar wayang kulit purwa dengan resolusi tinggi BALADEWA karya Kasidi dari buku tahun 1950-an.

Gambar wayang kulit purwa dengan resolusi tinggi BALADEWA karya Kasidi dari buku tahun 1950-an.

.

 

Banowati (Dewi) karya Kasidi ; 825 kilo Byte
http://www.4shared.com/photo/vyW4x0c-ba/banowati__dewi_-karya_kasidi-_.html

 

Bisma (Sang Wara) karya D Tjarita ; 1.31 MB
http://www.4shared.com/photo/wD9NKNEXce/Bisma__Sang_Wara_-_karya_D_Tja.html

 

Drestadyumna karya Kasidi ; 1.28 MB
http://www.4shared.com/photo/7Yl9a7tOba/Drestadyumna-_karya_Kasidi-_dr.html

.

Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi DRESTADYUMNA karya Kasidi dari buku 1950-an.

Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi DRESTADYUMNA karya Kasidi dari buku 1950-an.

.

 

Druna (Resi) ; 1.28 MB
http://www.4shared.com/photo/8j3nXfOuba/Druna__Resi_-_dr_buku_1950an_c.html

 

Drupada (Prabu) ; 1.10 MB
http://www.4shared.com/photo/jybLk496ba/Drupada__Prabu_-dr_buku_1950an.html

 

Hanantareja (Wasi) karya Kasidi ; 1.45 MB
http://www.4shared.com/photo/gI4O21-vba/Hanantareja__Wasi_-_karya_Kasi.html

.

Gambar wayang kulit purwa HANANTAREJA karya Kasidi dari buku 1950-an.

Gambar wayang kulit purwa HANANTAREJA karya Kasidi dari buku 1950-an.

.

 

Irawan (Raden) ; 1.02 MB
http://www.4shared.com/photo/7cJ4iWs6ba/Irawan__Raden_-dr_buku_1950an_.html

 

Jayadrata (Sang) karya Kasidi ; 1.71 MB
http://www.4shared.com/photo/HaD8LUJHce/jayadrata__sang_-_karya_kasidi.html

 

Karna (Prabu) karya Kasidi ; 988 kB
http://www.4shared.com/photo/Eq-eX2LKba/karna__prabu_-_karya_kasidi-_d.html

 

Kresna (Sri Bathara) ; 879 kB
http://www.4shared.com/photo/ZVWDvhSTce/kresna__sri_bathara_-_dr_buku_.html

 

Kurupati (Prabu Anom) ; 1.70 MB
http://www.4shared.com/photo/Rb2aO0ucce/Kurupati__Prabu_Anom_-dr_buku_.html

 

Lesmana Mandrakumara karya Kasidi ; 1.33 MB
http://www.4shared.com/photo/5JfUEiW_ce/lesmana_mandrakumara-karya_kas.html

 

Matswapati ; 1.17 MB
http://www.4shared.com/photo/gdVTVcaKba/Matswapati__Prabu_-dr_buku_195.html

 

Rajamala (Sang) ; 2.22 MB
http://www.4shared.com/photo/QLoDK6BHce/rajamala__sang_-_dr_buku_1950a.html

 

Sangkuni (Arya) ; 1.33 MB
http://www.4shared.com/photo/rhNgNqgcba/Sangkuni__Arya_-_dr_buku_1950a.html

 

Satyarata (Prabu) karya D Tjarita ; 1.91 MB
http://www.4shared.com/photo/w_lM0jEvce/satyarata__prabu_-_karya_d_tja.html

 

Seta (Sang Arya)Srikandi (Wara) ; 1.43 MB
http://www.4shared.com/photo/XE8y51Qwba/seta__sang_arya_-_dr_buku_1950.html

.

Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi SETA dari buku tahun 1950-an.

Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi SETA dari buku tahun 1950-an.

.

 

Srikandi (Wara) karya D Tjarita ; 758 kB
http://www.4shared.com/photo/dmuYZpb1ba/srikandi__wara_-_karya_d_tjari.html

.

Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi SRIKANDI karya Darma Tjarita dari buku 1950-an.

Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi SRIKANDI karya Darma Tjarita dari buku 1950-an.

.

 

Wrekodara (Arya) ; 1.97 MB
http://www.4shared.com/photo/qaPb-a1hba/Wrekodara__Arya_-dr_buku_1950a.html

 

 

 

 

Catatan kegiatan :

Gambar-gambar wayang ini dipindai dalam beberapa tahap selama tahun 2013 di Tangerang Selatan. Ketikan draft blog dikerjakan di Seminyak, Bali pada bulan Mei 2014 dan bahan untuk file sharing serta posting alamat URL nya dilakukan di Terminal Sementara Keberangkatan Domestik Bandar Udara Ngurah Rai Bali ( sambil menunggu boarding pesawat ).

.

.

Lihat gambar-gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi lainnya :

http://wayangpustaka.wordpress.com/daftar-gambar-wayang-purwa-dengan-resolusi-tinggi/

.

.

 

Tag :

gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi, gambar wayang kulit purwa HQ, D Tjarita, Darma Tjarito, Kasidi, buku Bharata Yuddha jilid 2, Ki Siswoharsojo, Abimanyu, Sang Abimanyu, Bagadata, Prabu Bagadata, Baladewa, Prabu Baladewa, Banowati, Dewi Banowati, Bisma, Sang Wara Bisma, Bhisma, Kresna, Sri Bathara Kresna, Drestadyumna, Druna, Resi Druna, Durna, Drona, Dorna, Drupada, Prabu Drupada, Hanantareja, Wasi Hanantareja, Irawan, Raden Irawan, Jayadrata, Sang Jayadrata, Karna, Prabu Karna, Kurupati, Prabu Anom Kurupati, Lesmana Mandrakumara, Matswapati, Rajamala, Sang Rajamala, Sangkuni, Arya Sangkuni, Satyarata, Prabu Satyarata, Seta, Sang Arya Seta, Srikandi, Wara Srikandi, Wrekodara, Arya Wrekodara, Werkudara.

.

[ akhir pemutakhiran 05 Mei 2014 ]

Advertisements

Konservasi (sambungan ke 2) gambar wayang kulit purwa dari buku Bharata Yuddha 1 Ki Siswoharsojo, 1965, dipindai dengan resolusi tinggi.


Gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi, wayang, Kasidi, D Tjarito, Sulardi R, Bharata Yuddha jilid 1, Siswoharsojo Ki

.

Gambar wayang kulit purwa oleh Kasidi, D Tjarito, R Sulardi yang dimuat di dalam buku Bharata Yuddha jilid 1 karya Ki Siswoharsojo terbitan tahun 1965 (cetakan ke 2).

[ Pemutakhiran 10 Juni 2012 , menambahkan 19 gambar wayang kulit purwa dipindai dengan resolusi tinggi ]

dari posting sebelumnya : https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/09/17/konservasi-gambar-wayang-kulit-purwa-dari-buku-bharata-yuddha-1-ki-siswoharsojo-1965/

.

Destrarastra ( 739 Kb )
http://www.4shared.com/photo/lTylJnbn/Destrarastra_1965_buku_Siswoha.html

Dewabrata ( 521 Kb )
http://www.4shared.com/photo/-U1NZuib/Dewabrata_1965_buku_Siswoharso.html

Drestajumena ( 791 Kb )
http://www.4shared.com/photo/obNlirrg/Drestajumena_1965_Kasidi-_buku.html

Drupada ( 687 Kb )
http://www.4shared.com/photo/HKX_XxUW/Drupada_1965_Kasidi-_buku_Sisw.html

Durna ( 850 Kb )
http://www.4shared.com/photo/hO_4sN8O/Durna_1965_buku_Siswoharsojo.html

Dursasana ( 1,2 Mb )
http://www.4shared.com/photo/qC3TocTn/Dursasana_1965_D_Tjarita-_buku.html

Duryudana ( 852 Kb )
http://www.4shared.com/photo/0_ijh2Zl/Duryudana_1965_buku_Siswoharso.html

Gatutkaca ( 1,08 Mb )
http://www.4shared.com/photo/1ZEcklIC/Gatutkaca_1965_D_Tjarito-_buku.html

Hanantaboga ( 922 Kb )
http://www.4shared.com/photo/vw4xtH3-/Hanantaboga_1965_R_Sulardi-_bu.html

.

.

Jarasanda ( 1,1 Mb )
http://www.4shared.com/photo/5ImEkgPm/Jarasanda_1965_D_Tjarita-_Sisw.html

.

.

Karna ( 564 Kb )
http://www.4shared.com/photo/VdLkimeS/Karna_1965_Siswoharsojo.html

Niwatakawaca ( 1,57 Mb )
http://www.4shared.com/photo/0pacVgYv/Niwatakawaca_1965_Kasidi-_Sisw.html

Pandawa ( 1,89 Mb )
http://www.4shared.com/photo/Tz7vtb3-/Pandawa_1965_Siswoharsojo.html

Pandawa muda ( 1,75 Mb )
http://www.4shared.com/photo/6VMtSFgL/Pandawa_muda_1965_Siswoharsojo.html

.

.

Pandu ( 507 Kb )
http://www.4shared.com/photo/YYMZKFoJ/Pandu_1965_Siswoharsojo.html

Puntadewa ( 444 Kb )
http://www.4shared.com/photo/9vBxEyNX/Puntadewa_1965_Siswoharsojo.html

Sangkuni ( 887 Kb )
http://www.4shared.com/photo/az7JnCAT/Sangkuni_1965_Siswoharsojo.html

Sentanu ( 751 Kb )
http://www.4shared.com/photo/koMhWAdw/Sentanu_1965_Siswoharsojo.html

Srikandi ( 481 Kb )
http://www.4shared.com/photo/mBBA7h4O/Srikandi_1965_D_Tjarita-_Siswo.html

Srikandi dan Drestajumena ( 1,25 Mb )
http://www.4shared.com/photo/GnkyBJ3G/Srikandi-_D_Tjarita__Drestajum.html

Supraba ( 396 Kb )
http://www.4shared.com/photo/Cpi5ZY_w/Supraba_1965_Siswoharsojo.html

Uruwasi ( 496 Kb )
http://www.4shared.com/photo/Dp67mFaD/Uruwasi_1965_Siswoharsojo.html

Uruwasi dan Arjuna ( 938 Kb )
http://www.4shared.com/photo/rFQCgROB/Uruwasi__Arjuna_1965_buku_Sisw.html

Wiyasa ( 935 Kb )
http://www.4shared.com/photo/FunbQZHK/Wiyasa_1965_Kasidi-_buku_Siswo.html

———-

Blog Wayang Pustaka mempunyai banyak koleksi gambar wayang kulit purwa resolusi tinggi yang tersimpan di beberapa posting / alamat URL. Untuk melihat Daftar Gambar lengkap silakan kunjungi URL  :  https://wayangpustaka02.wordpress.com/daftar-gambar-wayang-purwa-dengan-resolusi-tinggi/
dan dari sana Anda bisa klik untuk masuk ke masing-masing koleksi.

” Pertempuran 2 Pemanah, Arjuna – Karna ” oleh Pitoyo Amrih, 2010.


Arjuna – Karna oleh Pitoyo Amrih

 .

Data buku :

Pitoyo Amrih  ;  “ Pertempuran 2 Pemanah , Arjuna – Karna “  ;  Yogyakarta  ;  DIVA Press  ; Februari 2010 = cetakan pertama  ;  ISBN  978-602-955-522-6  ;  426 halaman  ‘  gambar wayang kulit purwa  ;  bahasa Indonesia.

Dalam perjalanan hidup seseorang, ada kalanya harus memilih berdiri pada suatu pendirian yang mengharuskannya berhadapan justru dengan orang-orang yang sangat dihormati …

 .

 .

 ‘

Alamat penerbit DIVA Press :
Sampangan Gg Perkutut no. 325-B,
Jl. Wonosari, Baturetno, Banguntapan, Yogyakarta
Tel : (0274) 4353776 , 7418727
Fax : (0274) 4353776
Email : redaksi_divapress@yahoo.com
Ircisod68@yahoo.com
Website : www.divapress-online.com

.

.

Profil Pitoyo Amrih dan info tentang buku-buku karyanya bisa dibaca di :
http://wayangpustaka.wordpress.com/2012/06/01/profil-penulis-pitoyo-amrih/

Dan tulisan di surat kabar Kompas :
http://beritawayang.wordpress.com/2012/06/04/20110310-pitoyo-amrih-novel-wayang-membangun-bangsa-berita-wayang/

Manusia Jawa dan Wayang tulisan Marbangun Hardjowirogo, 1989


Manusia Jawa dan Wayang.

 

[ pemutakhiran 06 April 2012 dengan menambah tujuh halaman ]

.

Anda bisa mengunduh ebook “Manusia Jawa” karya Marbangun Hardjowirogo secara lengkap dengan mengunjungi :
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2012/02/20/ebook-manusia-jawa-karya-marbangun-hardjowirogo/

 

Ebook “Tiga Suri Tauladan” (berisi cerita dan uraian mengenai Tripama) karya Kamajaya bisa diunduh lengkap dengan mengunjungi : http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/12/13/serat-tripama-tiga-suri-teladan-oleh-kamajaya/

 

Cuplikan Kisah “Karna” 14 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 14

oleh Yanusa Nugroho pada 21 September 2011 jam 12:22

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150298211516835

 

Di sungai Limanbenawi, yang lebar, yang mengalir tak jauh dari sisi utara lapangan

istana Hastinapura, tampak dua orang pemuda berada di rakit bambu. Mereka

adalah Tarka dan Sarka, dua kakak beradik yang bekerja sebagai juru mudi rakit

penyeberangan. Keduanya mencari nafkah dengan menyeberangkan siapapun yang akan

menuju sisi lain Limanbenawi.

 

Mereka adalah anak seorang pertapa. Dan mereka menjalani hidup sesuai dengan perintah

sang ayah. “Cobalah kalian mengunci rapat-rapat mulut kalian. Membisu. Kalian

akan mendengar begitu banyak pengetahuan secara diam-diam. Karena seringkali

lidah kita mengeluarkan bisa fitnah yang tak bisa kita duga. Karenanya, cobalah

kalian menjalani bertapa bisu. Lakukanlah pekerjaan kalian sebagaimana biasa,

namun dengan satu pantangan: jangan berbicara sepatah kata pun tentang apapun.”

 

“Jika ternyata ada yang membayar kurang dari seharusnya?” sela Tarka, ketika itu.

 

“Terimalah. Jangan bertanya atau mempertanyakan. Terimalah. Mudah-mudahan Yang Maha Adil

akan memberimu keadilan.”

 

Maka, sejak empat puluh hari lalu, kedua kakak beradik itu bekerja dalam kebisuan.

Mereka hanya tersenyum atau mengangguk. Kadang menggeleng. Berapa besar pun

kepeng uang yang diberikan para penumpang, mereka terima dengan dada lapang.

Dan nyatanya, pendapatan mereka lebih besar daripada sebelumnya. Para

penumpang, yang umumnya adalah istri-istri tentara Hastina—yang tentu saja

memiliki uang lebih—dengan senang hati memberikan bayaran lebih, karena

menganggap kedua juru getek itu sangat sopan dan tak banyak tanya.

 

Sore itu, ketika mereka menambatkan rakit bambu di tepi selatan, sambil menunggu

penumpang, Tarka dan Sarka dikejutkan oleh suara mendesing dan ceburan kuat di

permukaan sungai. Bola kulit. Mereka pun kemudian hanya diam, dan membiarkan

bola itu dibawa hanyut ke muara.

 

Sepak bola, permainan baru yang hanya boleh dimainkan kalangan istana. Dan tentunya,

bola itu milik kaum bangsawan Hastinapura. Sebuah permainan aneh yang dibawa

dari manca. Bulatan itu mereka kejar, untuk mereka tendang. Memang kelihatan

menarik, tetapi bagi Tarka dan adiknya, tak lebih dari permainan orang bodoh.

Mereka tak tertarik, dan karenanya, mereka diamkan saja bola itu hanyut dibawa

arus sungai Limanbenawi.

 

Hening senja itu. Langit di barat sudah menunjukkan garis-garis jingga. Sebentar lagi,

sesaat sebelum matahari benar-benar tenggelam, mereka akan pulang. Namun,

sampai saat itu tiba, mereka memang masih menunggu, barangkali saja masih ada

satu atau dua orang yang ingin menggunakan tenaga mereka.

 

Tiba-tiba..” Ahh, pasti masuk sungai. Sena, kau yang harus mencarinya.. tendanganmu terlalu

kuat!”

 

Ketiga kesatria muda Hastina itu sampai di tepian sungai. Mereka tak melihat apa-apa

kecuali gelegak arus sungai dan kedua kakak-beradik itu.

 

“Hei, kalian? Apakah kalian melihat sebuah bola, bola kami, meluncur ke arah ini?”

tanya Dursasana pada Tarka dan Sarka.

 

Kedua orang itu menyembah, lalu salah seorang menunjuk arah sungai dengan ibu

jarinya.

 

“Bodoh! Mengapa kalian diam saja? Seharusnya kalian mengejarnya!” sergah Duryudana.

 

Kedua orang itu diam saja.

 

Sena segera mencebur ke dalam arus sungai dan berenang menuju muara.

 

Sepeninggal Sena, Duryudana dan adiknya mondar-mandir gelisah. Nafas mereka masih memburu.

Sementara itu, Tarka dan Sarka masih bersimpuh di tanah, menunduk memandang ke

bawah. Entah nasib apa yang berikutnya akan menggilas mereka.

 

“Hei, siapa namamu?” tiba-tiba Duryudana membentak.

 

Tarka diam saja, karena hari itu dia memang bertapa bisu.

 

Duryudana tercenung, tidak biasanya seorang jelata diam bila ditanya bangsawan.

 

Tiba-tiba kaki Dursasana bertengger di pundak Tarka, “Hei, tanah liat, apakah kau tuli.

Pangeran Duryudana bertanya siapa namamu, mengapa kau diam saja.”

Digerak-gerakkannya tubuh Tarka dengan kaki kirinya. Tarka masih diam.

 

“Dan kau.. apakah kau juga bisu-tuli?” segah Dursasana pada Sarka.

 

Sarka menggigil ketakutan.

 

“Siapa namamu?” ulang Duryudana geram.

 

Keduanya masih saja membisu. Sebuah pelajaran penting yang mereka rasakan begitu berat,

terjadi di senja itu. Pesan sang ayah, agar mereka tidak berbicara, tiba-tiba

mengubah situasi menjadi pilihan, yang sangat mungkin berakhir buruk.

 

Burung-burung kembali ke sarang. Udara mendingin. Cerecet monyet bersahutan berebut dahan di

hutan-hutan. Semua berubah tanpa ada yang pernah menyadarinya.

 

Duryudana naik pitam. Siapakah kedua manusia jelata ini, yang dengan keraskepala berani

menentang seorang pangeran Hastina? Baru kali ini, Duryudana merasa dirinya

diabaikan rakyatnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

 

“Apakah kau akan tetap membisu, manakala rajamu bertanya padamu? Apa kau pikir dengan

begitu kau bisa lebih hebat dari penguasamu? Hah? Jawab!” dan sebuah tendangan

menghantam wajah Tarka. Tarka terguling, hidungnya mengucurkan darah. Sarka

mencoba membantu kakaknya, namun tendanganlah yang mencegahnya.

 

Kedua kakak-beradik itu terguling dengan darah bercampur tanah di wajah. Berkelebat

pesan sang ayah bahwa membisu, menjaga lidah agar tak melisankan apapun,

sepertinya laku yang mudah. Akan tetapi, pada kenyataannya, apalagi di tengah masyarakat yang

suka mengobral lisan dengan berbagai dalih, adalah sesuatu yang sangat sulit.

Membisukan lidah, pada hakikatnya adalah membiasakan diri berserah tanpa

bertanya. Dengan berserah tanpa suara, seseorang akan berlatih menuju alam

kekosongan dirinya sendiri. Dan dengan mengosongkan diri sendiri, seseorang

akan dengan mudah menerima keheningan dari sang Maha Hening. Hanya dengan

menyatu pada sang Maha Hening inilah manusia mampu mencacapai kesempurnaan

dirinya. Demikian kelebat ucapan sang ayah ketika menuturkan rahasia laku

bisu.

 

Karenanya, Tarka dan Sarka, pemuda yang belum genap 17 tahun itu hanya diam tak melawan

ketika kedua bangsawan Hastina itu menghajar mereka. Ada sesuatu yang jauh

lebih mulia dan layak diperoleh dengan mengorbankan nyawa sekalipun, yang

membuat mereka tahan terhadap siksaan badaniah. Mereka bahkan diam-diam

memanjatkan doa agar Duryudana dan Dursasana mendapatkan cahaya pengetahuan,

untuk akhirnya memahami bahwa mereka melakukan kesalahan.

 

Akan tetapi, kedua orang bangsawan Hastina itu, yang dengan bangga mengatakan

berdarah Kuru, anak keturunan keluarga Kuru itu, bahkan seakan ingin

menunjukkan kekuasaan. Tak ada bola, tubuh manusia pun jadilah!

 

Senja yang menggelap, seakan memekatkan hati nurani mereka. Kejengkelan mereka

memuncak, manakala setiap kali terjungkal, Tarka dan Sarka berusaha bangkit dan

bersimpuh seperti semula.

 

Duryudana yang bertubuh tinggi besar, kuat, tegap dan selalu berlatih gulat di

kasatriannya, bukanlah tandingan Tarka; pemuda desa yang bertubuh kurus kering,

kecil dan berkulit coklat gelap itu, yang bahkan lebih menyukai puasa dan

bersepi diri. Tak heran jika tubuhnya menjadi bulan-bulanan Duryudana. Begitu

pula dengan Dursasana. Kekuatan tenaganya seakan ditimpakannya ke tubuh Sarka—adik

Tarka.

 

Entah pada hantaman yang ke berapa, batas kekuatan tubuh kakak beradik itu sampailah.

Sebuah detak teredam, tulang-tulang yang remuk terasakan. Duryudana dan

Dursasana sebetulnya merasakan dan mengetahui bahwa tulang-tulang dua manusia malang

itu remuk, namun, entah mengapa, mereka tak berhenti.

 

Adik-adik Duryudana yang lain, karena merasa ketiga orang itu cukup lama tak kembali ke

lapangan, menyusul dan menyaksikan kedua orang itu tengah menghempaskan Tarka

dan Sarka. Mereka merasa ngeri menyaksikan tubuh Tarka dan Sarka, yang

berlumuran darah bercampur tanah.

 

Seekor burung hitam, secara aneh terbang melintas dan merobek sunyi dengan teriakan

paraunya.

 

Hening berlalu begitu saja. Senja menjadi kereta kesunyian yang menghantarkan Tarka

dan Sarka kembali ke alam keabadian. Bahkan, lihatlah, matahari seakan bergegas

menarik tirai malam, tak sampai hati menyaksikan penderitaan yang dialami kakak

beradik yang bahkan tak melakukan kesalahan apapun itu. Angin membeku, seakan

tak percaya bahwa Tarka dan Sarka yang selama ini mereka belai-belai ketika

beristirahat di atas rakit mereka, nyaris membentuk seonggok daging berbalut

debu darah.

 

Duryudana dan Dursasana tertegun, seakan baru tersadar pada perbuatan yang baru saja

mereka lakukan. Nafas mereka memburu, namun, ada kekosongan yang menganga dan

entah bagaimana, mereka berupaya mengusir kekosongan itu. Dursasana, bahkan

bertingkah aneh, bagai orang gila dia menceburkan diri ke sungai, membasuh diri

dan berteriak-teriak bagai orang gila.

 

Sena yang kebetulan baru saja tiba di tempat itu, terdiam. Begitu dilihatnya Tarka

dan Sarka telah menjadi mayat menyedihkan, Sena berteriak dan melompat ke arah

Duryudana. “Binatang!” Dihantamnya rahang Duryudana. Duryudana terjengkang.

Cuplikan Kisah “Karna” 13 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 13

oleh Yanusa Nugroho pada 20 September 2011 jam 22:51

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150297326741835

 

“Karna, bunga-bunga ini, kolam ini, rerumputan, perdu, semak, pohon yang ada di sini, semuanya melaporkan apa yang terjadi denganmu. Kerinduanmu pada seorang perempuan; mungkin untuk kebutuhan jiwamu sendiri, mungkin juga kerinduan seorang anak pada ibunya—tanpa kau sadari, memberi warna pada apapun yang kau sentuh.”

 

“Tidak kah tuan selama ini merasakan hal yang sama?”

 

“Hal yang sama? Hahahahahahaa..Ya. Semua yang datang padaku, memiliki pertalian aneh tentang perempuan. Hahahahahahahaha…” gelak tawanya pecah, percikan merah air sirih terlontar dari mulutnya.

“Jauh, sebelum kau tiba, berpuluh tahun silam.. ada seorang pemuda bernama Dewabrata. Dia kemari karena hatinya terbebani masalah wanita. Dia tidak hanya belajar ilmu perang kepadaku, tetapi lebih banyak tentang bagaimana memerangi diri sendiri terhadap wanita.Kau seharusnya kenal laki-laki yang kini bernama Bisma itu.”

 

Karna terdiam. Bisma. Ya. Tentu saja dia kenal nama itu. Lelaki tua yang menjadi tetua kerajaan Hastinapura. Karna hanya sempat beberapa kali memperhatikan wajah laki-laki itu, dan belum pernah sama sekali berada pada jarak dua tombak sekalipun darinya. Tercekat hati Karna mendengar sekilas penjelasan Parasu tentang Bisma.

 

“Kemudian, datang seorang pemuda, bernama Kombayana. Dalam perjalanannya, dia sempat menjadi muridku. Dia membawa seorang anak yang masih kecil. Dia memiliki ilmu perang yang kuakui hebat. Tetapi, aku tahu, kedatangannya kemari, tak lain juga masalah wanita. Ibu si anak pergi meninggalkannya.Aku tak tahu, di mana dia kini berada. Apa kau pernah mendengarnya?”

 

“Tidak, tuanku resi.”

 

“Hmm. Nah, sekarang kau.. bukankah masalahmu juga tentang wanita?” 

 

“Tetapi bukan, tentang Ken Wasini, tuanku..”

 

“Ooo, jadi namanya Ken Wasini? Hahahahahahahaha..”

 

Karna yang lugu, hanya memerah malu.

 

“Tentu, tentu.. aku mengerti Karna. Hahahahahaha..”

 

“Maaf tuanku, hamba belum sempat bercerita..”

 

“Aku tahu! Memang bukan Wasini yang menjadi persoalanmu.”

 

Hening. Karna diam. Dadanya berkecamuk lagi.

 

“Aku kenal nama Hadimanggala. Dia pemuda yang hebat. Bukan muridku, tapi aku tahu siapa dia. Akulah pengelana yang mengenal baik setiap jengkal tanah di muka bumi ini. Jika Hadimanggala menyuruhmu menemuiku, pasti persoalanmu tak akan jauh berbeda darinya.”

 

Karna menatap wajah resi Parasu. Mata resi tua itu menatapnya tajam. Karna menunduk.

 

“Apakah Hadimanggala bercerita tentang bagaimana ibunya?”

 

Karna menunduk kian dalam.

 

“Apakah Hadimanggala berkisah tentang orang yang melahirkannya?”

 

Karna terlipat pertanyaan Parasu.

 

“Hahahahaha.. lihatlah Karna, nama-nama yang kusebutkan itu, semuanya memiliki masalah dengan perempuan. Dan aku sendiri… haaaaaaaahhrrrgghh..” Parasu melompat, mengayunkan kampaknya dan sebungkah batu di pekarangan terbelah.

 

Karna terpana.

 

Dilihatnya Parasu terduduk di tanah. Sesaat kemudian tegak, menantang langit, lalu teriakan dahsyat mengguntur dari mulutnya. “Renukaaaaaaaa….! maafkan anakmu.. “ resi tua itu pun menangis. Pundaknya terguncang. Karna mendekatinya.

 

“Apa yang kau cari dari laki-laki malang ini, Karna?” ucapnya di sela isak tangis.

“..dosaku tak termaafkan Karna. Penyucian ini begitu panjang dan berat..

Seorang perempuan berselingkuh, dan aku harus membunuhnya. Tetapi, perempuan itu adalah orang yang melahirkanku, Karna.Haruskah aku membunuhnya?

Bisakah aku menghilangkan kenyataan bahwa dia tidur bukan dengan ayahku?

Kesucian, kesetiaan, aahhhhrrrghh.. semuanya membuatku muak.

Darah..ya, darah itu melumuri hidupku Karna. Darah yang membaluri tubuhku ketika lahir, juga melumuri tanganku ketika aku membunuhnya… aaaarrrrghhh..”

 

Singa tua itu mengaum dan menerjang apa saja yang ada di depannya. Batu-batu terbelah, pohon-pohon patah. Karna gemetar.“Dan kau, Karna.. apa yang membuatmu menemuiku?”

 

“Aa..aku mencari diriku..” jawab Karna masih diliputi rasa takut.

 

“Hah! Sebegitu pentingkah itu?”

 

Karna diam saja.

 

“Tahukah kau Karna, kau adalah nasib sial yang menggumpal. Kau dihapuskan dari sejarah seorang perempuan!”

 

Telinga Karna memerah. Dibayangkannya wajah Nyai Radea yang penuh kasih sayang. Dibayangkannya belaian dan kebanggaan ibunya kepadanya.

“Mengapa kau menghina ibuku, tuanku resi?”

 

“Menghina? Hahahaha.. aku bahkan membunuh ibuku sendiri, Karna, jadi apa sulitnya menginjak-injak harga diri ibumu, atau ibu siapapun di dunia ini. Kau mau apa? Membelanya? Silakan. Kau harus menghadapi Parasu, si pembunuh ibu kandungnya.. haarrrggggh..”

 

Parasu menerkamnya dengan tebasan kampak besarnya. Karna—meskipun terkejut—dia sempat berkelit ke samping. Kampak Parasu menghantam batu. Pijaran bunga api memercik, sebelum akhirnya membuat batu itu terbelah.

Karna menggelegak. Serangan mendadak Parasu dibalasnya dengan sebuah tendangan. Resi tua itu bagai karang.

 

Tubuhnya kukuh, layaknya gunung batu.

 

Hanya sekedipan mata kemudian, kampak besar itu meluncur deras dan menghantam dada Karna.

Sebuah dentuman dahyat terdengar. Tubuh Karna terpental beberapa tombak.

***

Cuplikan Kisah “Karna” 12 – Yanusa Nugroho.


Cuplikan Kisah “Karna” 12

oleh Yanusa Nugroho pada 20 September 2011 jam 22:28

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2254593935410&set=at.2096019931159.2104625.1565188742.560607838&type=1&theater#!/note.php?note_id=10150297302711835

 

Dalam bayangan cahaya, Karna menyaksikan sesosok makhluk tinggi besar, berambut

sangat panjang, yang diikat, agak menggumpal di atas kepalanya. Kain penutup

tubuhnya, dicawatkan begitu saja, sementara dadanya telanjang. Dia berkacak

pinggang menatap sebungkah bara. Karna ragu melanjutkan langkah. Dia

mencoba mereka-reka apa sebenarnya yang dilakukan laki-laki itu.

 

Melihat ciri-cirinya, persis sebagaimana yang digambarkan Hadimanggala, tak salah lagi,

dia adalah Resi Parasu.

 

Karna melihat Parasu mengangkat kepalanya, dan pandangannya menebar, seakan menembus

kegelapan malam. “Siapapun kau, keluarlah..jangan bersembunyi..” teriaknya.

Tertegun Karna menyaksikan Parasu. Orang itu mampu mengetahui kehadirannya,

yang bahkan cukup jauh dari tempatnya berdiri. Apalagi, Karna berada di tempat

yang cukup tersembunyi, dan malam hari.

 

Tak ada pilihan lain, Karna melangkah mendekati laki-laki itu.

 

Parasu tegak dalam jarak. Matanya seakan menembus dan membaca gerak-gerik Karna.

 

“Siapa kau?” teriaknya seakan memberi tombak agar Karna berhati-hati sebelum mendekat.

 

“Saya Karna, sang resi..”

 

“Karna? Jika bukan orang gila, tentu kau orang bodoh.”

 

Karna diam tak menjawab.

 

“Mau apa kau mengintip-intip aku?”

 

Karna tak punya jawaban. Keberaniannya seakan meleleh di hadapan Parasu.

 

“Kemari kau, tikus kecil!”

 

Dengan gemetar, Karna melangkah. Dan kira-kira sepuluh langkah di depan Parasu, Karna

berhenti. Karna memandang wajah Parasu, yang kian mengerikan dipoles pendar

kemerahan cahaya api.

 

“Mau apa, kau, Karna?”

 

“Berguru.”

 

“Berburu?” kemudian Parasu terbahak-bahak. Suaranya lantang, keras dan memiliki kekuatan menguasai sangat

besar.

 

Karna percaya bahwa itu hanyalah sebuah cara yang aneh di dalam bertegur sapa. Dia

percaya, telinga Parasu tidaklah tuli.

 

“Benar, sang resi. Saya berburu.”

 

Parasu tertegun beberapa saat. “Hmm..apa yang kau buru? Hewan buruan mencari selamat.

Semua sudah minggat.”

 

“Memburu tuanku..” Karna mulai bangkit dan mencoba melawan rasa takutnya sendiri.

 

Parasu tergelak-gelak. Tubuh besarnya terguncang-guncang.

 

“Berapa usiamu?”

 

“Delapan belas, tuanku..”

 

“Anak bau kencur! Hahahahaha.. Memburu Parasu? .untuk apa?”

 

Setelah terdiam sesaat, “Untuk mendapatkan diriku..” jawab Karna sungguh-sungguh. Entah

mengapa, dia merasakan getaran aneh yang membuatnya yakin, manusia gila inilah

yang dicarinya.

 

Parasu seperti membeku tiba-tiba. Dia seakan mencerna jawaban Karna.

 

“Kau lapar? Aku lapar sekali. Rasanya aku punya daging rusa.” Lalu seolah tak pernah

terjadi pembicaraan apa-apa sebelumnya, Parasu berbalik dan memasuki pondoknya.

 

Perut Karna menyanyi.

 

Parasu keluar membawa dua tombak panjang dengan dua gumpalan daging ditusukkan di

ujung masing-masing. Parasu melemparkan sebuah tombak ke arah Karna. Karna

menangkapnya. Sekilas Parasu melihat, kecekatan tangan Karna yang terlatih.

 

Karna mengikuti laki-laki besar itu melangkah. Di aliran lava yang masih memerah,

Parasu mendekatkan gumpalan daging itu ke lava. “Tak perlu membuat api lagi.”

 

***

 

Karna duduk berdampingan dengan laki-laki besar itu. Terdengar suara kecapan mulut

yang kasar dan terkesan rakus dari Parasu. Begitu bersemangat. Buas dan aneh.

Karna menggigit makanannya sedikit demi sedikit.

 

“Hmm.. aturan istana.. “ucap Parasu dengan mulut penuh mengunyah-ngunyah.

 

Karna tersenyum. Baru disadarinya, cara mereka mengunyah pun sudah jauh berbeda.

 

“Jika saja kau seorang kesatria, kau harus beruntung bertemu denganku di usiaku saat

ini..”

 

“Aku sudah mendengar kisahmu, sang resi..”

 

“Hmm.. bagus.. bagus..” Parasu menggigit lagi dan mengunyah lagi.

 

Karna mengamati wajah Parasu dengan seksama. Ada pertanyaan besar yang tiba-tiba

mencuat. Parasu yang juga dikenal sebagai Rama Bargawa, hidup sejak beratus

tahun lampau. Dia hidup sejak sebelum jaman Prabu Arjunasasra lahir. Mengarungi

hidup melampaui masa kejayaan Prabu Ramawijaya dari kerajaan Ayodyapala.

 

“Yang kudengar, tuanku wafat di tangan Baginda Ramawijaya, raja Ayodya itu..”

 

“Yang kau dengar.. hahahah.. yang kau dengar.. Lalu apa yang kau lihat? Hahaha..Mana

yang kau percaya, mata atau telingamu? Hahahahaha..”

 

“Maaf tuanku, saya hanya ingin mendengar sendiri kebenaran itu dari mulut tuanku

sendiri..”

 

“Hahahahaha..tadi telinga, mata, sekarang mulut. Hahahaha.. mulutku, lagi… hahahahahaha…

Karna, anak bau kencur mau bertanya tentang nasib kisahku. Jangankan engkau,

sang waktu pun mungkin sudah bosan padaku, sehingga tak dipedulikannya lagi

diriku yang masih berkeliaran di muka bumi ini.”

 

“Jadi, bahkan Guawijaya—panah sakti sang Rama pun tak mampu melukai kulitmu?”

 

Tanpa peduli pertanyaan Karna, Parasu mengalihkan pembicaraan semau-maunya.

“Bagaimana, enak, daging rusa masakanku..? Hmmmh? Hahahahahahaha,…Aku pernah

ke negeri-negeri aneh, melintasi lautan pasir..”

 

“Lautan pasir?”

 

“Hahahahahaha..sudah kuduga. Ya, negeri yang dikepung oleh lautan pasir. Di sana, aku belajar

bagaimana mengolah daging hewan. Bagaimana mengawetkannya sehingga bisa kita

bawa pergi selama berbulan-bulan dan tidak membusuk… hahahaha.. hebat. Hebat

sekali mereka.. Manusianya kecil-kecil, kulitnya putih bersih dan mata mereka

hanya segaris.. hahahaha.. mereka orang-orang bijak.

 

Dan..sebagaimana lidahmu merasakannya tadi, ada sesuatu yang lain, bukan?

Tidak hanya asin, tetapi sesuatu yang lain… “

 

“Lautan pasir?”

 

“Hahahahahaha.. lihatlah dirimu Karna..hahahahahaha”

 

“Apakah.. mmm..”

 

“…ada ikannya, tuanku resi?. huahahahahahahahahaa..” ledek Parasu menirukan suara Karna.

 

Karna terdiam. Sungguh dahsyat orang tua ini.

 

“Mereka bukan hanya memiliki kuda, tetapi juga hewan-hewan berleher panjang dengan dua

gunung di punggungnya.. Karna, jangan menganga, dagingmu jatuh..

huahahahahahaha..”

 

Karna ikut tertawa, dia tersedak. Parasu kian tergelak-gelak.

***