Posts Tagged ‘Makutharama’

“ RAMA’S CROWN. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “ ; dalang : Ki Purbo Asmoro ; transkripsi Inggris : Kathryn Emerson – 2013 – [ buku pedalangan jangkep berbahasa Ingrris ]


.

" RAMA'S CROWN. Texyts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. " , dalang : Ki Purbo Asmoro, texts in English : Kathryn Emerson , publisher : The Lontar Foundation Jakarta

” RAMA’S CROWN. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. ” , dalang : Ki Purbo Asmoro, texts in English : Kathryn Emerson , publisher : The Lontar Foundation Jakarta

.

Data buku :

RAMA’S CROWN. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “  ;  dalang : Ki Purbo Asmoro  ;  penulis transkripsi dalam Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson  ;  Jakarta  ;  penerbit The Lontar Foundation  ;  ISBN-13: 9789798083976  ;  606 halaman  ;  Bahasa Inggris.

.

Buku ini adalah buku pedalangan jangkep dalam Bahasa Inggris. Merupakan terjemahan ke dalam Bahasa Inggris dari transkripsi pakeliran berbahasa Jawa Ki Purbo Asmoro lakon “ Makutharama, serta dilengkapi dengan film / DVD pakeliran tersebut. Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package terbitan The Lontar Foundation.

.

Anda juga bisa melihat info ( dan membeli ) buku ini di laman Barnes and Noble.

Buku “ MAHKOTA RAMA – MAKUTHARAMA. Teks Pementasan Wayang Kulit Dalam Tiga Gaya. “ diterjemahkan oleh Sugeng Nugroho – 2013 – [ buku pedalangan jangkep ]


.

Buku 'MAHKOTA RAMA" - teks pakeliran wayang purwa Jawa, diterjemahkan oleh Sugeng Nugroho, diterbitkan oleh The Lontar Foundation.

Buku ‘MAHKOTA RAMA” – teks pakeliran wayang purwa Jawa, diterjemahkan oleh Sugeng Nugroho, diterbitkan oleh The Lontar Foundation.

.

“ MAHKOTA RAMA – MAKUTHARAMA. Teks Pementasan Wayang Kulit Dalam Tiga Gaya. “

Dalang : Ki Purbo Asmoro, penerjemah ke bahasa Indonesia : Sugeng Nugroho  ;  penerbit The Lontar Foundation  ;  Jakarta  ;  Nopemeber 2013 = cetakan pertama  ;  352 halaman  ;  Bahasa Indonesia.

Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package.
.

Ringkasan lakon tertulis di laman http://www.wayangedupackage.weebly.com/ :
.

Dunia dilanda berbagai bencana alam (gempa bumi, tanah longsor, letusan gunung berapi, tsunami), menyebabkan penderitaan hebat bagi rakyat. Banyak pejabat negara korup mengambil keuntungan dari situasi tersebut, dan keadaan semakin buruk. Arjuna, ksatria dari keluarga Pandawa, bersumpah akan membantu. Dia mendapat ilham bahwa para dewa akan memberikan anugerah berupa wahyu kepemimpinan sejati kepada seseorang yang pantas menerimanya. Anugerah tersebut adalah ajaran kebijaksanaan kepemimpinan para leluhur yang diwariskan oleh Raja Rama yang termasyhur. Pada saat itu, Kurawa bersaudara yang jahat juga berusaha memiliki anugerah dewa tersebut. Cerita pun berkembang, termasuk berbagai kisah tambahan tentang tokoh-tokoh dari kisah Ramayana (Wibisana, Kumbakarna, Dasamuka) yang belum mendapatkan kedamaian di keabadian, dan masih berusaha memenuhi takdir mereka. Arjuna akhirnya bertemu dengan seorang petapa di pegunungan, dan menerima wahyu ajaran kepemimpinan yang akan menuntun ke masa depan yang lebih damai.

Wayang Educational Package terbitan The Lontar Foundation – 2013 – [ buku dan materi pembelajaran pedalangan ]


.

Wayang Educational Package [ Paket Pendidikan Wayang ]
terbitan The Lontar Foundation Jakarta

.

Wayang Educational Package published bu The Lontar Foundation, Jakarta

Wayang Educational Package published bu The Lontar Foundation, Jakarta

.

Terdiri dari enam buku dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Men-transkripsi-kan / menuliskan enam pakeliran penuh Ki Purbo Asmoro.
[ yaitu : lakon “ Makutharama “ dalam tiga gaya / gagrag : klasik, garapan, padat. Kemudian lakon “ Sesaji Raja Suya “, juga dengan tiga gaya / gagrag ].

Terjemahan ke dalam Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson.
Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Sunardi dan Sugeng Nugroho.

Dilengkapi dengan film (dalam bentuk keeping DVD), dengan total panjang film 35 jam.
Juga dilengkapi dengan buku notasi gamelan pakeliran wayang kulit purwa dari enam pakeliran tersebut.

.

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

.
Alamat penerbit :

The Lontar Foundation
Jl Danau Laut Tawar no.53, Jakarta 10210
Tel : +62-21-574 6880 , Fax : +62-21-572 0353
www.lontar.org
email : contact@lontar.org

Facebook : The Lontar Foundation
Twitter : @LontarF

.

.
Tulisan / publikasi resmi dari penerbit :
http://www.lontar.org/index.php?page=program&id=16&lang=en

Wayang Educational Package

For centuries, the people of Indonesia have revered and nurtured the art of wayang kulit, the shadow puppet theater. In 2003 the significance of this art form was recognized by UNESCO when it declared wayang a “masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity.” UNESCO has included wayang kulit in the Orgnaization’s Intangible Heritage List and its proposed action plan calls for stronger support of puppeteers (dalang) and increased documentation. For full details see the UNESCO Intangible Heritage List.

In support of this goal, Lontar has produced the Wayang Educational Package for use by educators to teach students the art, wisdom, and cultural knowledge found in the wayang tradition through performances by the renowned Ki Purbo Asmoro.

There are three major performance styles of wayang kulit performed today: “classic” (klasik), “contemporary-interpretive” (garapan), and “condensed” (padat). Over the past several years Lontar has documented each of these performance styles twice and, from the large amount of footage obtained, has produced six films with subtitles in Indonesian and English. Lontar has also published six complete performance scripts in three languages – Javanese, Indonesian and English – and a volume of musical notation.

With the filming of the six performances now complete, as well as the transcription of the plays and their translation into Indonesian and English, the Lontar Foundation’s  Wayang Educational Package is a landmark work. This package—with its 6 documentary films of 6 wayang performances and its 7 books (2 containing Javanese language transcripts of the 6 performances; 2 containing Indonesian translations of the Javanese texts; 2 with English translations of the Javanese text; and 1 book containing the gamelan notation for the pieces that were performed)—is structured in a highly systematic way, so as to promote the greatest potential possible for appreciation, understanding, and analysis of the wayang kulit tradition, particularly current-day performance practices.

.

Books

   Makutharama

Makutharama: Teks Pagelaran Ringgit Purwa Wacucal Tigang Gagrag

Mahkota Rama: Teks Pementasan Wayang Kulit dalam Tiga Gaya

Rama’s Crown: Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles

   Sesaji Raja Suya

Sesaji Raja Suya:Teks Pagelaran Ringgit Purwa Wacucal Tigang Gagrag

Persembahan Agung Para Raja:Teks Pementasan Wayang Kulit dalam Tiga Gaya

The Grand Offering of the Kings: Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles
.

.

   Gamelan Scores: Gamelan Notation for Six Wayang Kulit Performances
.

.

Films

   Makutharama

Makutharama: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Palace Classical Style. Duration: 7 hrs 31 mins

Makutharama: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Contemporary-interpretive Style. Duration: 7 hrs 31 mins

Makuthrama: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Condensed Style. Duration: 2 hrs 4 mins

   Sesaji Raja Suya

Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Village Clasical Style. Duration: 7 hrs 9 mins

Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Contemporary-interpretive Style. Duration: 6 hrs 40 mins

Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Condenses Style. Durasi: 1 hrs 59 mins

.

.

Tambahan informasi dari laman Ki Purbo Asmoro
http://www.wayangedupackage.weebly.com/
.

“WAYANG UNTUK DUNIA”

“sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur”  (Deklarasi UNESCO, 2003)
.

LATAR BELAKANG

Pentingnya kesenian wayang kulit dalam dunia Internasional telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). UNESCO menghimbau untuk lebih banyak penciptaan publikasi dan rekaman audio visual Wayang. Inilah yang dilakukan oleh Yayasan Lontar selama 6 (enam) tahun kebelakang ini, dengan pembuatan “Paket Pendidikan Wayang”. Paket ini menghadirkan dua lakon yang terkenal: Makutharama (Mahkota Rama) yang bertema tentang kepemimpinan, dan Sesaji Raja Suya (Persembahan Agung para Raja) mengenai pertentangan antara keyakinan-keyakinan yang berbeda.
.

PENTINGNYA PAKET PENDIDIKAN WAYANG KARYA YAYASAN LONTAR

‘Paket Pendidikan Wayang’ karya Yayasan Lontar ini adalah sebuah karya yang monumental. Paket ini, dengan 6 film dokumenter dari 6 pertunjukan wayang ditempat yang berbeda, dan 7 buah buku (2 buku berisi transkrip bahasa Jawa, 2 buku berisi terjemahan Bahasa Indonesia dari teks Jawa, 2 buku berisi terjemahan Bahasa Inggris dari teks Jawa, dan 1 buku yang berisi notasi gamelan dari semua lagu)-tersusun dengan cara yang sangat sistematis, sehingga sangat memudahkan untuk proses apresiasi, pemahaman, dan analisa tradisi wayang kulit, terutama dalam praktek keseharian. Cara yang luar biasa sistematis ini belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dengan tersedianya teks dari 6 lakon yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dan juga film pertunjukan wayang dengan subtitel dalam dua bahasa ini juga, masyarakat Internasional secara luas akan dapat melakukan studi menyeluruh tentang tradisi unik ini, di mana saja di dunia. Proses penerjemahan kedalam bahasa lain pun akan jauh lebih mudah, dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar (sudah ada rencana untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Jepang, dan Jerman.)

Wayang for the World.


.

Pada tanggal 26 Nopember 2013 di Jakarta penerbit The Lontar Foundation Jakarta bersama dengan Bapak Ki Purbo Asmoro dan Ibu Kathryn Emerson mengumumkan terbitnya Paket Pendidikan Wayang ( Wayang Educational Package ) di dalam suatu acara yang dinamai Wayang for the World.

Mengacu ke publikasi resmi laman dan akun Facebook The Lontar Foundation berikut ini diwartakan kembali acara tersebut.

.

Ki Purbo Asmoro, Kathryn Emerson, John McGlynn, Wayang for the World, Wayang Educational Package, Makutharama, Sesaji Raja Suya, The Lontar Foundation

Ki Purbo Asmoro, Kathryn Emerson, John McGlynn, Wayang for the World, Wayang Educational Package, Makutharama, Sesaji Raja Suya, The Lontar Foundation

.

Tampak dalam foto di atas :

Paling kanan adalah Bapak John McGlynn sebagai Pimpinan The Lontar Foundation yang menerbitkan Wayang Educational Package.

Paling kiri adalah Bapak Ki Purbo Asmoro, dalang wayang kulit purwa Jawa yang enam pakelirannya dipakai sebagai acuan transkripsi / penulisan Wayang Educational Package.

Di tengah adalah Ibu Kathryn Emerson, seorang pemerhati wayang kulit purwa Jawa, sebagai penggerak utama program ini sekaligus sebagai penulis transkripsi berbahasa Jawa serta menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris.

.

Lebih banyak foto menggambarkan acara Wayang for the World serta Konferensi Pers nya bisa dilihat di akun Facebook The Lontar Foundation :

Wayang for the World
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.497450133687442.1073741864.141951719237287&type=1

Konferensi Pers Wayang for the World
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.494204750678647.1073741863.141951719237287&type=1

.

.

Berikut ini mengacu ke akun Ibu Kathryn Emerson dan surat kabar The Jakarta Post. Tulisan mengenai acara tersebut serta Wayang Educational Package.

.

Out of The Shadows
http://jakplus.com/?p=597

.

Wayang1-199x250

Words: Kindra Cooper
Photos Courtesy of The Lontar Foundation

.

Scholarly material on wayang (shadow puppets) has traditionally been limited to text-only or audiovisual-only material, when to understand the theater art requires the eyes, the ears and the heart.

The recently launched Wayang for the World is an educational package designed for both initiates and connoisseurs that chronicles the developments of wayang over time. Changes to its dramatic structure – from classical all-night performances involving lengthy court scenes and delayed revelation of plotlines, to cut-to-the-chase condensed versions – illustrate how the art has survived modernization while maintaining its essence.

The fundamentals of wayang –  hailed a masterpiece of intangible heritage by UNESCO – entail largely unscripted dialogue (requiring puppeteers to be ad lib-proficient), entertainment interludes and court scenes of decision-making between monarchs and policymakers regarding a socio-economic issue (be it poverty, disease, terrorism or corruption) that forms the root of the narrative – universal themes that have enabled wayang to transcend generations.

“We hope that this educational program can benefit not only Indonesia but the world – especially the young generation, who will continue our legacy,” Eko Suhartono, senior operator at Total E&P Indonesia, said at the launching ceremony at The Energy Building on Jl. Sudirman on Nov. 26.

.Wayang2

.

The six volumes in the educational package contain the unedited dialogue, narration, and stage directions from six live performances by star puppeteer Ki Purbo Asmoro, transcribed and translated from Javanese into English by American translator-transcriptionist Kathryn Emerson and translated into Indonesian by two professors from Indonesian Art Institute (ISI) in Solo; while a seventh tome documents the gamelan accompaniment for all six performances.

“And that’s why this is all educational. If you’ve read any other lakon (episode) that has been transcribed or published, the publisher’s taken a lot of liberties with the text and they’ve turned them into a more western dramatic structure,” John McGlynn, the project’s publisher and fundraiser and chairman for the Lontar Foundation, told The Jakarta Post.

The project highlights a third, newer dramatic structure pioneered by Purbo Asmoro called contemporary-interpretive, that reconciles elements of the classical style no longer palatable to some modern audiences (plotlines are revealed only after a series of hours-long court scenes, for example) and unpopular elements of the condensed style, where every scene too short and clipped. Asmoro’s reinterpreted all-night performances reveal the central issue and main character upfront, thereby retaining the focus of the condensed versions, while still retaining the court scenes and comedic interludes. According to the books, contemporary-interpretive style or garapan was used in 90 percent of performances in Surakarta by 2007.

Purbo Asmoro selected two landmark lakon (episodes) for the comparative study of the condensed, classical and contemporary-interpretive styles: Sesaji Raja Suya (The Grand Offering of the Kings) and Makutharama (Rama’s Crown) based on the Indian epic Mahabharata concerning a feud between two families vying for control of the kingdom of Astina.

“He chose these two because Rama’s Crown is the story that dalang (puppet master) educational institutions have always used. So ever since the 1920s, if you were a studying dalang your first-year program was to master Mahkutharama,” explained Emerson. “And he chose [The Grand Offering of the Kings] because it was close to the Indian original.”

.

Wayang3

John McGlynn

The accompanying videos in the educational package, containing subtitles in Indonesian and English, show puppeteer Purbo Asmoro in action, filmed by three cameras, one behind the dalang and gamelan, one on the shadow side of the screen scarcely observed today and another roving.

“Asmoro himself has created many innovations which have changed the wayang world, but this is a real look at a section of his career and a section in the history of wayang,” explained Emerson, noting that the six performances, taking place over one year, enable an up-close comparative study of wayang’s three distinct dramatic structures.

“[Asmoro] was a good choice for this documentation because he’s kind of between generations,” concurred McGlynn. “He learned the old style and is one of the pioneers of the new.”

.

Wayang4

.

wayang5

Ki Purbo Asmoro

.

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

.

Buku ” MAKUTHARAMA ” – Purbo Asmoro – 2013 [buku pedalangan jangkep]


.

Buku MAKUTHARAMA - Purbo Asmoro - Lontar

Buku MAKUTHARAMA – dalang : Purbo Asmoro – penulis teks pakeliran dalam Bahasa Jawa : Kathryn Emerson – penerbit The Lontar Foundation, Jakarta.

.

Data buku :

Dalang : Purbo Asmoro  ;  penulis teks pakeliran dalam bahasa Jawa : Kathryn Emerson ” MAKUTHARAMA. Teks Pagelaran Ringgit Purwa Wacucal Tigang Gagrag. “  ;  Jakarta  ;  Yayasan Lontar  ;  2013 = cetakan pertama  ;  xii +380 (392 p.) ; 22.9 x 15.2 x 2.5 cm; 655 gr.  ;  paperback  ; ISBN 978-979-8083-97-6  ;  bahasa Jawa pedalangan.

.

.

Diluncurkan medio April 2013.

Warga Indonesia sampun pinten-pinten abad laminipun sami kasengsem dhumateng pagelaran ringgit wacucal. Tetingalan menika sampun dipun-akeni ing jagad internasional malah dening UNESCO kakepyakaken minangka satunggaling wujud “kagunan tutur tinular adiluhung sarta warisan kabudayan ndonya”. UNESCO ugi netepaken lan angajak wontenipun program pendataan, pendokumentasian, penerbitan, lan perekaman audio-visual. Ananggapi ajakan kasebat, Lontar ngedalaken buku punika ingkang mujudaken salah satunggal saking pitung buku sanesipun, nem film dokumenter, sarta dokumentasi foto wayang sakothak.

Perlu kawuningan, bilih samangke wonten tigang gagrak pagelaran ringgit wacucal wonten Surakarta, inggih punika pagelaran gagrak klasik, gagrak garapan sedalu, sarta gagrag padat. Gagrak klasik inggih punika pagelaran ringgit wacucal ingkang taksih anggodheli paugeraning padhalangan ingkang sampun run-tumurun. Gagrag garapan sedalu inggih punika pagelaran ringgit wacucal ingkang lampahanipun dipun-garap manut sanggiting dhalang sarta anggadhahi sipat anyar utawi kontemporer, nanging danguning pagelaran taksih sami kaliyan gagrag klasik, inggih punika antawis pitung jam. Gagrag padat inggih punika pagelaran ringgit ingkang langkung nemenaken dhateng garap lampahan satemah wekdalipun langkung cekak.

Tigang “teks” ingkang kawrat ing buku punika mujudaken seratan saking lampahan ingkang sami, ingkang dipun-gelar lumantar tigang gagrag klasik, garapan sedalu, sarta padat. Ing buku versi basa Inggris ugi dipun-jangkepi cathetan-cathetan kangge nggampilaken para nupiksa nguningani bab-bab ingkang dados tuk sumbering budaya, sejarah, sarta pikajenging lelucon ingkang mbok manawi radi angel dipun-mangertosi pikajenganipun tanpa wonten katrangan sawatawis. Kajawi punika, versi basa Inggris dipun-lampiraken teges-tegesing cakepan sulukan. Dene ing perangan bebuka kaaturaken bab beda-bedaning gagrag padhalangan antawisipun gagrak klasik, gagrag padat ingkang lain ring tahun 1970-nan, sarta gagrag garapan ingkang wiwit wonten iang taun 1990-nan.

“Paket Pendidikan Wayang” punika – jangkep mawi buku, film, lan foto – karancang kanthi cara ingkang sistematis supados nggampilaken para nupiksa anggenipun mirsani, ngaosi, ngraosaken, sarta mangertosi pagelaraning ringgit wacucal ing wekdal samangke.

  • Purbo Asmoro, dhalang ingkang anggelar lampahan-lampahan kaserat ing buku punika kalairaken ing Pacitan, Jawi Wetan, rikala tahun 1961. Minangka guru padhalangan ing Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, panjenenganipun saged ngedum wanci antawisipun mucal kaliyan ndhalang.
  • Yayasan Lontar madeg wiwit taun 1987, anggadhahi sedya nawekaken basa, sastra, lan budaya Indonesia. Buku punika mujudaken salah satunggal saking pitung buku ingkang kalebet “Paket Pendidikan Wayang”. Nyadhiyakaken awujud digital kagem para nupiksa, sarta saged dipun-undhuh tanpa prabeya kangge ancas non-komersil ing website Lontar (www.lontar.org). Wedalan awujud cetak lan elektronik teks kanthi basa Inggris saged dipun-pundhut kanthi prabeya ingkang mboten awis lumantar Amazon.com. Wedalan awujud elektronik teks kanthi basa Jawi lan basa Indonesia saged dipun-pendhet tanpa prabeya lumantar website Lontar (www.lontar.org).

.

.

CvrB Makutharama- Purbo Asmoro cmprs

.

.

Pemutakhiran 12 Januari 2014 :

.

Ringkasan lakon tertulis di laman http://wayangedupackage.weebly.com/ :

.

Dunia dilanda berbagai bencana alam (gempa bumi, tanah longsor, letusan gunung berapi, tsunami), menyebabkan penderitaan hebat bagi rakyat. Banyak pejabat negara korup mengambil keuntungan dari situasi tersebut, dan keadaan semakin buruk. Arjuna, ksatria dari keluarga Pandawa, bersumpah akan membantu. Dia mendapat ilham bahwa para dewa akan memberikan anugerah berupa wahyu kepemimpinan sejati kepada seseorang yang pantas menerimanya. Anugerah tersebut adalah ajaran kebijaksanaan kepemimpinan para leluhur yang diwariskan oleh Raja Rama yang termasyhur. Pada saat itu, Kurawa bersaudara yang jahat juga berusaha memiliki anugerah dewa tersebut. Cerita pun berkembang, termasuk berbagai kisah tambahan tentang tokoh-tokoh dari kisah Ramayana (Wibisana, Kumbakarna, Dasamuka) yang belum mendapatkan kedamaian di keabadian, dan masih berusaha memenuhi takdir mereka. Arjuna akhirnya bertemu dengan seorang petapa di pegunungan, dan menerima wahyu ajaran kepemimpinan yang akan menuntun ke masa depan yang lebih damai.

.

The world has been struck by multiple natural disasters (earthquakes, landslides, volcanic eruptions, tsunamis), causing great suffering for the common people. Various corrupt officials are taking advantage of the situation, and things are getting worse. Arjuna, the princely hero from the Pandhawa family, has vowed to do something to help. He hears of a gift of inspired leadership the gods are planning to hand down to a worthy mortal—the legendary King Rama’s philosophy of leadership from generations past. As the antagonist family of Kurawa brothers also struggles for possession of the god’s boon the story unfolds, including numerous secondary plots about characters from the Ramayana (Wibisana, Kumbakarna, Dasamuka) who have yet to have peace in eternity, and are still working out their destiny. Finally, Arjuna meets with an ascetic up in the mountains, and receives the philosophy of inspired leadership which will lead to a more peaceful future.

.

.

Buku ini merupakan salah satu bagian dari materi Wayang Educational Package.