Posts Tagged ‘Nawaruci’

Ebook KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN oleh Soenarto Timoer – 1988.


Ebook KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN oleh Soenarto Timoer – 1988.

.

Di bagian akhir bukunya “ Serat Wewaton Padhalangan Jawi Wetanan jilid 2 “ , penulis Soenarto Timoer menyusun daftar kepustakaan kuno karya para empu di jaman kerajaan-kerajaan di Jawa Timur yang berisi cerita wayang sebagai berikut :

Uttarakanda, Adiparwa, Sabhaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Asramawasanaparwa, Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa, Kunjarakarna, Kunjarakarna Dharmakathana, Arjuna Wiwaha, Kresnayana, Sumanasantaka, Smaradahana, Bhomakawya, Bharatayuddha, Hariwangsa, Ghatotkacasraya, Arjunawijaya, Boddhakawya, Sutasoma, Parthayajna, Korawasrama, Dewa Ruci, Nawaruci, Sudamala, Panji Angreni, Damarwulan.

Selain menerangkan tentang kepustakaan kuno tersebut, Soenarto Timoer juga menyertakan data kepustakaan yang selanjutnya berkaitan dengan kepustakaan kuno tersebut , misalnya kepustakaan yang merupakan transkripsi ( mengalih aksara kan menjadi huruf Latin ), pertalan = menerjemahkan ke dalam bahasa Belanda atau bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Kemudian juga data kepustakaan baru hasil gubahan penulis baru berdasarkan kepustakaan kuno tersebut.

.

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer.

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer.

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 2- Soenarto Timoer cmprs

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 3- Soenarto Timoer cmprs

.

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 5- Soenarto Timoer cmprs

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 6- Soenarto Timoer cmprs

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 7- Soenarto Timoer cmprs

.

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 9- Soenarto Timoer cmprs

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 10- Soenarto Timoer cmprs

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 11- Soenarto Timoer cmprs

.

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer.

KAPUSTAKAN JAWI WETAN ING BABAGAN SASTRA PAWAYANGAN tulisan oleh Soenarto Timoer.

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 13- Soenarto Timoer cmprs

.

Kapustakan Jawi Wetan Bab Wayang 14- Soenarto Timoer cmprs

.

 

Advertisements

Ebook ” WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA ” – Sri Mulyono – 1982, 1987, 1992


.

Data buku :

Sri Mulyono  ;  “ WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA. (Seri Pustaka Wayang 11). “  ;  Jakarta  ;  penerbit CV Haji Masagung  ;  1992 = terbitan ketiga ( 1982 = pertama, 1987 = kedua )  ;  ISBN 979-412-033-2  ;  184 halaman  ;  bahasa Indonesia.

Catatan :

Penerbit CV Haji Masagung, Jakarta ( adalah eks penerbit PT Gunung Agung, penerbit PT Inti Idayu Press dan penerbit Yayasan Masagung ) , kala itu beralamat di Jl. Kwitang no.8, Jakarta 10420.

.

Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA - Sri Mulyono

Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA – Sri Mulyono

.

Hasil konservasi dalam dua bagian ; untuk keperluan study wayang ; dalam file digital format PDF ; dapat Anda unduh gratis di alamat-alamat :

.

Bagian 1  ( halaman 1 sampai dengan 94 )
http://www.4shared.com/office/ipFWVYx7/Wayang_dan_Filsafat_Nsntr1-_Sr.html

Bagian 2 ( halaman 95 sampai dengan akhir )
http://www.4shared.com/office/c0CZ7oF-/Wayang_dan_Filsafat_Nsntr2-_Sr.html

.

[ Untuk mengetahui hasil konservasi buku-buku wayang karya Sri Mulyono yang lain, silakan kunjungi halaman “ Buku-buku Wayang karya SriMulyono ditulis 1970 ~ 1980 an “. ]

.

Daftar Isi Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

Daftar Isi Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

.

DftrIsi2 Wyng Flsft Nsntr Sri Mulyono.

Kata Pengantar dari Boediardjo – Ketua Umum Yayasan NAWANGI [ Pewayangan Nasional Indonesia ] :

.

Pngntr1 Wyng Flsft Nsntr Sri Mulyono.

Pngntr2 Wyng Flsft Nsntr Sri Mulyono

Kata Pengantar oleh Boediardjo untuk Buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

.

.

Petikan tentang TAN KENA KINAYA NGAPA :

.

TAN KENA KINAYA NGAPA di buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

TAN KENA KINAYA NGAPA di buku WAYANG DAN FILSAFAT NUSANTARA karya Sri Mulyono

.

TanKenaKinayaNgapa2 cmprs.

TanKenaKinayaNgapa3 cmprs.

 

 

 

Ebook ” Unio Mystica Bima ” karya S.P. Adhikara


Ebook ” Unio Mystica Bima ” karya S.P. Adhikara

 

Empu Syiwamurti, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Bima, Dewaruci, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Data buku :

S.P. Adhikara ; “ Unio Mystica Bima. Analisis cerita Bimasuci – Jasadipoera I “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 1984 cetakan 1 ; 44 halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang.

 

 

Prakata S.P. Adhikara di buku Unio Mystica Bima :

Karya satra Pujangga Jasadipoera I, berjudul Bimasuci, sangat terkenal di kalangan bangsa Indonesia. Cerita ini sering disebut juga cerita Dewaruci karena wejangan Dewaruci kepada Bima merupakan inti cerita tersebut.

Cerita Bimasuci mengisahkan keinginan keras Bima ( Bhima ) untuk menyatukan diri dengan Khaliknya atau Unio Mystica Bima. Cita-cita Bima ini dapat tercapai dengan mendalami ilmu pelepasan yang disampaikan oleh Dewaruci.

Cerita Bimasuci dapat dipandang sebagai kisah Bima mawas diri, yang dilakukan dengan jalan bertapa. Untuk ini penuturan ceritanya diatur sedemikian , seakan-akan memberi kesan misterius, sehingga cerita ini menjadi sangat menarik.

Pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci dalam metrum ( ketukan ) macapat pada tahun 1793 dan dalam metrum Jawa Kuna pada tahun 1803. Kedua puisi ini ditulis dalam bahasa Jawa Baru, bukan bahasa Kawi ( Jawa Kuna ).

Cerita Bimasuci mirip sekali dengan cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti pada tahun antara 1500 dan 1613. Tulisan Empu Syiwamurti berbentuk prosa dalam bahasa Jawa Tengahan dan dimaksud sebagai penulisan skenario atau lakon pagelaran wayang kulit.

Dalam analisis cerita Bimasuci mengapa-siapakan Bima perlu, mengingat di dalam cerita ini ia memegang peran utama. Demikian pula mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerita tersebut sering dicampur-adukkan.

Tulisan dalam buku ini diakhiri dengan Bima mawas diri, sehingga proses kejiwaan, psikoanalisis Freud, dan interpretasi cerita Bimasuci, harus diketahui lebih dahulu.

Kesan ‘ misterius ‘ yang terdapat dalam cerita Bimasuci dapat mudah dipahami, apabila pada penafsiran cerita ini diketahui anatomi jiwa yang terdapat dalam psikoanalisa Freud.

Bagi mereka yang tidak berkesempatan untuk membaca cerita Bimasuci tulisan Jasadipoera I, analisis cerita ini diawali dengan ringkasan certita tersebut.

November 1984
S.P. Adhikara.

 ‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :
http://www.4shared.com/document/YHpMe1Bi/Unio_Mystica_Bima_Adhikara.html

 Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Ebook ‘ Nawaruci ‘ karya S.P. Adhikara


Ebook ‘ Nawaruci ‘ karya S.P. Adhikara

Empu Syiwamurti, Dr. Prijohoetomo, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bima, Drona, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Data buku :

S.P. Adhikara; ‘  Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bahasa Indonesia ; bergambar wayang.

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :


Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. 

 
Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda. 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613. 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘. 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali. 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613. 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

Desember 1984
S.P. Adhikara.

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

Om Saraswatyai namah
Om gemung Ganapataye namah
Om Syri-Gurubhyo namah

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati
Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati
Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh gratis dalam dua file di URL :
http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html
http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.


Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.

Empu Syiwamurti, Jasadipoera I, Yasadipura I, Dr. Prijohoetomo, R. Tanaya, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Bima, penerbit Institut Teknologi Bandung, Institut Indonesia, Yayasan Panunggalan, Lembaga Javanologi.

 

Pada tanggal 10 April 2011 Admin pernah menulis tentang empat buku karangan S.P. Adhikara

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/ seperti tertulis pada bagian (1) di bawah.

Admin ingin menambahkan tulisan yang sekarang termuat pada bagian (2) sebagai suatu saran urutan membaca buku-buku karangan S.P. Adhikara tersebut. Mungkin setelah membaca buku-buku tersebut pembaca ada yang menjadi bingung jika sebelumnya pernah melihat pakeliran wayang kulit dengan lakon yang sama ( Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci ) yang mungkin ceritanya berbeda dengan yang termuat di buku-buku ini. Dalam hal ini kita tidak perlu menilai mana yang benar atau salah. Tapi setidaknya kita bisa membaca buku-buku S.P. Adhikara – sebagai telaah sastra kuno dan telaah olah rasa – yang S.P. Adhikara tulis berdasarkan sumber naskah-naskah kuno dan analisa dia.

(1)    Ditulis 10 April 2011 :

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna.

Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.

 

 

Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut.

 

 

Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan ‘ Panunggalan ‘, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

 

 

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

(2)

Tambahan tulisan pada tanggal 28 Mei 2011 :

Saran urutan membaca buku-buku S.P. Adhikara adalah berdasarkan tahun karya naskah asli cerita-cerita tersebut :

 

a.      “ Nawaruci “ . Asli cerita Nawaruci karya Empu Syiwamurti dari Bali ditulis pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Kemudian S.P. Adhikara mernemahkan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) berdasarkan disertasi Dr. Prijohoetomo.

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/
atau
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/29/

 

b.      “ Dewaruci “. Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-dewaruci-karya-s-p-adhikara/

 

c.       “ Unio Mystica Bima “ . Berisi uraian mengapa-siapa Bima , analisis Serat Bimasuci , serta mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerit atersebut sering dicampur-adukkan.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/46/

 

d.      “ Analisis Serat Bimasuci “  . Menganalisa kembali Serat Bimasuci berdasarkan ‘ Serat Bimasuci ‘ digubah oleh Pujangga Yasadipura I, pada tahun 1793 dalam bentuk puisi Jawa dalam metrum macapat , dan tulisan ulang Yasadipura I ‘ Serat Bimasuci ‘ pada tahun 1803 masih dalam bentuk puisi Jawa, hanya metrumnya diubah menjadi metrum Jawa Kuna ( tembang gede ).

Rujukan S.P. Adhikara adalah : ‘ Serat Bimasuci ‘ gubahan Pujangga Yasadipura I dalam bentuk puisi Jawa dengan metrum macapat, yang disunting dalam sinopsis ini, diambil dari buku tulisan R. Tanaya, berjudul : BIMA SUCI ( PT Balai Pustaka, 1979 ) ; sedangkan yang ditulis dalam metrum Jawa Kuna ( tembang gede ), dikutip dari disertasi Dr. Prijohoetomo ( 1934 ).
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-analisis-serat-bimasuci-karya-s-p-adhikara/