Posts Tagged ‘S.P. Adhikara’

Ebook ” Analisis Serat Bimasuci ” karya S.P. Adhikara


Ebook ” Analisis Serat Bimasuci ” karya S.P. Adhikara

 

Jasadipoera I, Dr. Prijohoetomo, R. Tanaya, S.P. Adhikara, Bimasuci, Bima, Dewaruci, Lembaga Javanologi, Yayasan Panoenggalan, Institut Indonesia, macapat, tembang gede.

 

Data buku :

S.P. Adhikara ; “ Analisis Serat Bimasuci “ ; Yogyakarta ; Institut Indonesia ; 1986 cetakan ke ? ;  halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang.

 

 

SP Adhikara di dalam Pendahuluan menulis :

 

‘Serat Bimasuci ‘ digubah oleh Pujangga Yasadipura I, pada tahun 1793 A.D. atau tahun 1720 A.J. dalam bentuk puisi Jawa dalam metrum macapat. Dalam karya sastra tersebut, dimuat sengkala ‘ niring sikara wiku tunggal ‘ ( 1720 ), yang artinya : hilangnya segala kendala, orang suci dapat menyatukan diri dengan Khaliknya. Sengkala tersebut, selain untuk mengingat tahun selesainya penulisan karya sastra, juga dimaksud untuk mengetengahkan isi pokok ‘ Serat Bimasuci ‘.

 

Pada tahun 1803 A.D. atau tahun 1730 A.J. , Pujangga Yasadipura I menulis ulang ‘ Serat Bimasuci ‘, masih dalam bentuk puisi Jawa, hanya metrumnya diubah menjadi metrum Jawa Kuna ( tembang gede ). Sengkala yang dimuat di dalam tulisan ulang ini tertulis : ‘ maletiking dahana goraning rat ‘ ( 1730 ), yang artinya : meloncatnya api ( jiwa, roh, sukma ), menggegerkan ( menakutkan, mencemaskan ) dunia ( manusia )’ . Dengan kata lain, Pujangga Yasadipura I berpendapat, bahwa orang takut menghadapi ajal, senhingga Yasadipura I merasa perlu untuk memberi pegangan kepada orang yang takut menghadapi kematiannya. Ajaran tentang mati atau ilmu kematian dalam sastra Jawa klasik disebit ‘ kalepasan ‘, yang dalam bahasa Indonesia diistilahkan ‘ ilmu pelepasan ‘. Maka ilmu pelepasan itu dimuat dalam wejangan Dewaruci.

 

 

Kembali ke Prakata SP Adhikara di dalam buku ini ( untuk mengetahui sumber kepustakaan yang dirujuk oleh SP Adhikara dan sinopsis tulisan SP Adhikara ) :

 

‘ Serat Bimasuci ‘ gubahan Pujangga Yasadipura I dalam bentuk puisi Jawa dengan metrum macapat, yang disunting dalam sinopsis ini, diambil dari buku tulisan R. Tanaya, berjudul : BIMA SUCI ( PT Balai Pustaka, 1979 ) ; sedangkan yang ditulis dalam metrum Jawa Kuna ( tembang gede ), dikutip dari disertasi Dr. Prijohoetomo ( 1934 ).

 

Semua bait puisi Jawa yang dimuat dalam tulisan ini, selalu disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia, agar supaya mudah dipahamai oleh mereka yang tidak atau kurang paham bahasa Jawa.

 

‘ Serat Bimasuci ‘ menguraikan mistik atau tasawuf, lengkap dengan takhalli, tahalli, dan tajalli, yang bertujuan menyatukan diri dengan Tuhan ( pamoring kawula – Gusti, bahasa Jawa ) yang diwejangkan oleh Dewaruci kepada Bima. Cara yang ditempuh untuk mencapai kesatu-paduan hamba dan Khalik, ialah dengan cara mawas diri.

 

Diketengahkan pula apa dan siapa Dewaruci, hubungan antara manusia dan Khaliknya, dan interpretasi seluruh cerita Bimacusi sebagai Bima mendirikan tapa untuk menyucikan diri, dengan tujuan dapat bersatu-padu dengan Khaliknya.

 

Pada penafsiran Bima bertapa, dipergunakan cara psikoanalisis Freudian, karena dengan penerapan metode ini masalahnya menjadi lebih mudah dipahami.

 

Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di ‘ Lembaga Javanologi ‘, Yayasan Ilmu Pengetahuan Kebudayaan ‘ Panunggalan ‘, Yogyakarta, pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

Semoga para pembaca lebih maklum adanya.

 

S.P. Adhikara
1986

 

 

‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :
http://www.4shared.com/document/Lwi0dxpO/Adhikara_Analisis_Bimasuci.html

 

 

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Advertisements

Ebook ” Unio Mystica Bima ” karya S.P. Adhikara


Ebook ” Unio Mystica Bima ” karya S.P. Adhikara

 

Empu Syiwamurti, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Bima, Dewaruci, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Data buku :

S.P. Adhikara ; “ Unio Mystica Bima. Analisis cerita Bimasuci – Jasadipoera I “ ; Bandung ; Penerbit Institut Teknologi Bandung ; 1984 cetakan 1 ; 44 halaman ; bahasa Indonesia ; gambar wayang.

 

 

Prakata S.P. Adhikara di buku Unio Mystica Bima :

Karya satra Pujangga Jasadipoera I, berjudul Bimasuci, sangat terkenal di kalangan bangsa Indonesia. Cerita ini sering disebut juga cerita Dewaruci karena wejangan Dewaruci kepada Bima merupakan inti cerita tersebut.

Cerita Bimasuci mengisahkan keinginan keras Bima ( Bhima ) untuk menyatukan diri dengan Khaliknya atau Unio Mystica Bima. Cita-cita Bima ini dapat tercapai dengan mendalami ilmu pelepasan yang disampaikan oleh Dewaruci.

Cerita Bimasuci dapat dipandang sebagai kisah Bima mawas diri, yang dilakukan dengan jalan bertapa. Untuk ini penuturan ceritanya diatur sedemikian , seakan-akan memberi kesan misterius, sehingga cerita ini menjadi sangat menarik.

Pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci dalam metrum ( ketukan ) macapat pada tahun 1793 dan dalam metrum Jawa Kuna pada tahun 1803. Kedua puisi ini ditulis dalam bahasa Jawa Baru, bukan bahasa Kawi ( Jawa Kuna ).

Cerita Bimasuci mirip sekali dengan cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti pada tahun antara 1500 dan 1613. Tulisan Empu Syiwamurti berbentuk prosa dalam bahasa Jawa Tengahan dan dimaksud sebagai penulisan skenario atau lakon pagelaran wayang kulit.

Dalam analisis cerita Bimasuci mengapa-siapakan Bima perlu, mengingat di dalam cerita ini ia memegang peran utama. Demikian pula mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerita tersebut sering dicampur-adukkan.

Tulisan dalam buku ini diakhiri dengan Bima mawas diri, sehingga proses kejiwaan, psikoanalisis Freud, dan interpretasi cerita Bimasuci, harus diketahui lebih dahulu.

Kesan ‘ misterius ‘ yang terdapat dalam cerita Bimasuci dapat mudah dipahami, apabila pada penafsiran cerita ini diketahui anatomi jiwa yang terdapat dalam psikoanalisa Freud.

Bagi mereka yang tidak berkesempatan untuk membaca cerita Bimasuci tulisan Jasadipoera I, analisis cerita ini diawali dengan ringkasan certita tersebut.

November 1984
S.P. Adhikara.

 ‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :
http://www.4shared.com/document/YHpMe1Bi/Unio_Mystica_Bima_Adhikara.html

 Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Ebook ‘ Dewaruci ‘ karya S.P. Adhikara


Ebook ‘ Dewaruci ‘ karya S.P. Adhikara

Yasadipoera I, SP Adhikara, Dewaruci, Bimasuci, Bima, Drona, Rukmuka, Rukmakala, Naga, Tirtapawitra, Tibrasara, Candramuka, Gadamadana, Bathara Indra, Bathara Bayu, Jalasangara, Wrekodara, penerbit ITB, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Diunggah ke blog pertama kali 28 Mei 2011 oleh Budi Adi Soewirjo.

Data buku :

S. P. Adhikara (di-Indonesia-kan oleh) ,  “ Dewaruci “ ,  penerbit Institut Teknologi Bandung ,  Bandung ,  1984 cetakan 1,  29 halaman ,  bahasa Indonesia ,  gambar wayang.

 

Prakata S. P. Adhikara :

Cerita Dewaruci yang disajikan dalam buku ini merupakan terjemahan utuh cerita Bimasuci tulisan pujangga Yasadipoera I, pada tahun 1803. Terjemahan cerita ini tidak disertai analisis, interpretasi, dan lain sebagainya, mengingat tulisan ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mengetahui cerita Bimasuci tulisan pujangga Yasadipoera I, tetapi tidak atau kurang paham bahasa Jawa.

Tulisan pujangga Yasadipoera I diawali dengan sebuah doa AWIGHNAM ASTU NAMAS SIDDHI, artinya : SEMOGA TIADA RINTANGAN, SEGALA PUJI TELAH SEMPURNA DIPANJATKAN.

Pada akhir tulisan tersebut, terdapat kolofon, yaitu catatan waktu selesainya menulis cerita dan kesimpulan cerita Bimasuci, yang dinyatakan dengan dua buah kalimat saja, ialah berturut-turut sebagai berikut : ‘ meletiking dahana goraning rat ‘ dan ‘ pamungkasing bramarawilasita ‘. Bagian ini terpaksa kami sertai ulasan secukupnya, agar dapat dipahami oleh para pembaca.

Desember 1983

S.P. Adhikara

Kolofon :

Berakhirnya ceritera kami, yang kami tulis dalam bahasa yang sederhana pada tahun 1803 tarikh Masehi atau tahun 1730 tarikh Jawa. Tahun selesainya menulis cerita ini, kami beri tanda untuk mudah mengingat-ngingat (sengkala), ‘ maletiking dahana goraning rat ‘ , artinya ‘ meloncatnya api menakutkan dunia ‘.

Meloncat (meletik) nilainya nol, api (dahana) bernilai tiga, takut (gora) berati tujuh, dan dunia (rat) nilainya satu. Jadi 0371 dapat dibaca ‘ meloncatnya api menakutkan dunia ‘. Tetapi apabila urutan angka dibalik menjadi 1730, yaitu tahun selesainya kami menulis cerita ini dan dapat dibaca ‘ dunia takut (bila) api meloncat ‘. Maksudnya, manusia dapat diibaratkan sebagai ‘ dunia ‘ dan sukma diibaratkan ‘ api ‘, jadi ‘ dunia takut (bila) api meloncat ‘ dapat diartikan ‘ manusia takut bila sukma lepas dari raga ‘ atau ‘ manusia takut (bila) menghadapi ajalnya ‘.

Hal ini tidak perlu terjadi karena ilmu pelepasan mengajak manusia hidup suci dan ajal itu merupakan berakhirnya hidup di dunia ini, yang kami singkat sebagai kalimat penutup karangan kami, ‘ pamungkasing bramara wilasita ‘ . ( pamungkasing = berakhirnya , bramara = kumbang , wilasa = bermain-main, sita = putih, lambang kesucian, wilasasita = bermain-main dalam kesucian ).

Maka ‘ berakhirnya kumbang bermain-main dalam kesucian ‘ dapat ditafsirkan ‘ ajal manusia yang hidup suci, karena ia telah mendalami ilmu pelepasan ‘ . Manusia tidak takut menghadapi lepasnya sukma dari raga.

Bukankah hidup suci itu inti sari ilmu pelepasan ?  Bukankah ilmu pelepasan itu ilmu yang diperlukan dalam menghadapi ajal ?  Untuk apa manusia takut menghadapi ajalnya, apabila ia telah mendalami ilmu pelepasan selagi ia hidup di bumi manusia ini !

‘Ebook’ buku ini bisa diunduh gratis di URL :

http://www.4shared.com/document/cFIDaUzx/Dewaruci_SP_Adhikara.html

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Ebook ‘ Nawaruci ‘ karya S.P. Adhikara


Ebook ‘ Nawaruci ‘ karya S.P. Adhikara

Empu Syiwamurti, Dr. Prijohoetomo, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bima, Drona, penerbit Institut Teknologi Bandung.

 

Data buku :

S.P. Adhikara; ‘  Nawaruci ‘ ; Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) ; Bandung ; 1984 ( cetakan ke 1 ) ; 97 halaman ; bahasa Indonesia ; bergambar wayang.

 

Prakata buku Nawaruci karangan S P Adhikara :


Cerita Nawaruci yang kami tulis dalam buku ini merupakan terjemahan utuh naskah cerita Nawaruci tulisan Empu Syiwamurti yang terdapat dalam disertasi Prijohoetomo. Pada tahun 1934, Prijohoetomo – almarhum Profesor Dr. Prijohoetomo, guru besar Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada – berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang sastra dan filsafat di Rijksuniversiteit di Utrecht negeri Belanda. Adapun judul disertasinya : Nawaruci, sedang sub-judulnya, setelah kami terjemahkan, ialah ‘ Pengantar. Terjemahan Teks – Prosa Jawa – Tengahan. Dibandingkan dengan Bimasuci dalam Metrum Jawa Kuna. 

 
Naskah asli cerita Nawaruci masih ditulis tangan di atas daun lontar, dalam bahasa dan huruf Kawi dan dalam keadaan menyedihkan sejak lontar-lontar tersebut diperoleh. Banyak halaman yang hilang, tulisan yang tidak terbaca lagi, dan halaman-halaman yang rusak dimakan ngengat. Meskipun demikian dari beberapa naskah yang ada, Prijohoetomo telah berhasil menyusun kembali naskah cerita Nawaruci dan mengalihtuliskan (transkripsi) ke dalam huruf Latin dan menterjemahkan naskah ini ke dalam bahasa Belanda. 

Terjemahan cerita Nawaruci ke dalam bahasa Indonesia ini kami lakukan seharfiah mungkin. Istilah-istilah Kawi sejauh mungkin kami pertahankan dan kami tuliskan arti istilah-istilah tersebut, sesuai dengan yang terdapat dalam kamus Kawi. Pada umumnya Empu Syiwamurti sudah memberikan arti istilah Kawi yang nampaknya tidak umum dipakai, misalnya pancanhaka, dwi-dasyawarsa, murcha, syona kanaka warsa, dan lain sebagainya, tetapi untuk istilah natadewata, caturlokapala, panca-resi, jnana, jnana nirmala, siddha-purusa, dan sebagainya, tidak diberi penjelasan lebih lanjut, sehingga terpaksa kami carikan artinya dalam kamus Kawi. Dengan demikian kami berusaha agar terjemahan cerita ini seolah-olah tulisan Empu Syiwamurti sendiri, dalam bahasa Indonesia, pada tahun 1500 – 1613. 

Cerita Nawaruci digubah sebagai scenario atau lakon untuk pagelaran wayang kulit, jadi dapat dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Prijohoetomo membagi certita tersebut menjadi delapan bab atau babak dan menurut pengamatan kami, terdapat tidak kurang dari empat puluh adegan. Kalau tiap-tiap adegan memerlukan waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka pagelaran wayang kulit dengan lakon Nawaruci cukup padat untuk dimainkan semalam suntuk. Itulah sebabnya cerita Nawaruci ini ditutup dengan penggambaran suasana pagi hari menjelang matahari terbit. Dua adegan terakhir yang menggambarkan pesta untuk menyambut kedatangan kembali Bima dan penampilan Kunti bersama Dropadi yang telah selesai bersolek dan nampak cantik seperti puteri-puteri wayang itu, dapat diperagakan berturut-turut sebagai tari kemenangan Bima atau ‘ tayungan ‘ dan menarikan wayang golek terbuat dari kayu menggambarkan Dropadi. Dalam bahasa Jawa golek mempunyai dua arti, yaitu anak-anakan yang terbuat dari kayu atau dapat berarti ‘ mencari ‘. Maka dalang yang pada akhir pertunjukan wayang kulit menarikan wayang golek tersebut dapat diartikan ‘ Carilah ( golekana, bahasa Jawa ) inti sari cerita yang dipertunjukkan semalam suntuk tadi ‘. 

Mencari inti sari suatu cerita itu adalah kata-kata lain untuk menganalisis cerita itu. Analisis cerita Nawaruci kami sertakan sebagai lampiran buku ini, mengingat tulisan ini ditujukan kepada putera-puteri bangsa Indonesia, yang kurang atau tidak mengerti bahasa Jawa, agar mereka dapat menikmati cerita klasik Indonesia berasal dari daerah Jawa – Bali. 

Tulisan Empu Syiwamurti tersebut diawali dengan sebuah puji doa : ‘ Awighnam astu namas siddham ‘ ; artinya : ‘ Semoga tiada rintangan segala puji telah sempurna dipanjatkan ‘, dan ditutup dengan sebuah kolofon, yaitu catatan dari penulis cerita atau dari yang menulis ulang cerita serta tanggal selesai menulis cerita dan tempat menulis menulis ceritanya dan ditutup dengan doa puji. Akan tetapi sayang tahun selesainya mengutip atau menulis ceritanya tidak jelas, sebab hanya dinyatakan dengan dua angka. Menurut hasil penelitian Prijohoetomo cerita Nawaruci itu ditulis antara 1500 – 1613. 

Cerita Bimasuci yang ditulis oleh pujangga Jasadipoera I berbentuk puisi dalam bahasa Jawa Baru dan dalam metrum macapat pada tahun 1793, dan dalam metrum Jawa kuna pada tahun 1803 A.D. , merupakan saduran bebas cerita Nawaruci. Maksud pujangga Jasadipoera I menulis cerita Bimasuci berbentuk puisi dalam metrum macapat itu agar supaya cerita itu dapat mudah diingat karena dapat dinyanyikan, khususnya inti sari cerita tersebut. Cerita Bimasuci ini sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami beri judul Dewaruci agar seragam dengan judul terjemahan cerita Nawaruci ini, dan diterbitkan oleh penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) juga.

Dua karya klasik Indonesia berasal dari Jawa – Bali tersebut mempunyai keindahan masing-masing dan dalam menterjemahkan kedua karya sastra tersebut kami berusaha untuk tidak merusak keindahan yang ada dalam tulisan itu.

Desember 1984
S.P. Adhikara.

Kolofon (asli) di naskah Nawaruci :

Demikianlah Ilmu Kebenaran Tanpa Cacat ( Tattwajnyana nirmala ), ditulis oleh Mpu Syiwamurti.

Selesai menulis Sang Hyang Tattwajnyana nirmala pada tahu Syaka 55, bulan Syrawana, tanggal 14, Hari Sabtu, wuku Wugu. Ditulis di kota Klungkung ( Swecchapura ), di tepi sungai, sebelah timur jalan. Maafkan kalau tulisan ini jelek serta segala kekurangannya, mengingat pekerjaan ini adalah dari seorang yang bodoh dan hanya sedikit memiliki inlu, yang didorong oleh keinginan turut menulis, yang bernama Jemuharsa.

Om Saraswatyai namah
Om gemung Ganapataye namah
Om Syri-Gurubhyo namah

Terjemahan :

Om, hormat dan puji kepada Saraswati
Om gemung, hormat dan puji kepada Ganapati
Om, hormat dan puji kepada Guru-guru, yang terhormat.

Pindaian / ‘ebook’ buku ini bisa diunduh gratis dalam dua file di URL :
http://www.4shared.com/document/tIjSLJaX/Adhikara_Nawaruci_0147.html
http://www.4shared.com/document/pT0s9jkx/Adhikara_Nawaruci_4897.html

Selamat membaca dan menikmati.
Salam dari Admin.

Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.


Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Unio Mystica Bima, S.P. Adhikara.

Empu Syiwamurti, Jasadipoera I, Yasadipura I, Dr. Prijohoetomo, R. Tanaya, S.P. Adhikara, Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci, Bima, penerbit Institut Teknologi Bandung, Institut Indonesia, Yayasan Panunggalan, Lembaga Javanologi.

 

Pada tanggal 10 April 2011 Admin pernah menulis tentang empat buku karangan S.P. Adhikara

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/ seperti tertulis pada bagian (1) di bawah.

Admin ingin menambahkan tulisan yang sekarang termuat pada bagian (2) sebagai suatu saran urutan membaca buku-buku karangan S.P. Adhikara tersebut. Mungkin setelah membaca buku-buku tersebut pembaca ada yang menjadi bingung jika sebelumnya pernah melihat pakeliran wayang kulit dengan lakon yang sama ( Nawaruci, Bimasuci, Dewaruci ) yang mungkin ceritanya berbeda dengan yang termuat di buku-buku ini. Dalam hal ini kita tidak perlu menilai mana yang benar atau salah. Tapi setidaknya kita bisa membaca buku-buku S.P. Adhikara – sebagai telaah sastra kuno dan telaah olah rasa – yang S.P. Adhikara tulis berdasarkan sumber naskah-naskah kuno dan analisa dia.

(1)    Ditulis 10 April 2011 :

Ada tiga buku karya S.P. Adhikara mengenai cerita Bima mencari air suci atas perintah Pendita Durna.

Yang pertama terbit berjudul ‘ Dewaruci ‘ berisi terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.

 

 

Kemudian yang kedua terbit adalah judul ‘ Unio Mystica Bima ‘ berisi analisis Serat Bimasuci tersebut.

 

 

Yang ketiga adalah judul ‘ Nawaruci ‘ berisi terjemahan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) cerita Nawaruci yang aslinya karya Empu Syiwamurti dari Bali pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Ketiga buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit ITB ( Institut Teknologi Bandung ) antara tahun 1983 ~ 1984 ( dari tanda tahun di Prakata S.P. Adhikara )

 

 

Namun, selain tiga buku terbitan Penerbit ITB tersebut, ternyata S.P. Adhikara mengarang satu buku lagi berjudul ‘ Analisis Serat Bimasuci ‘ , sekali lagi S.P. Adhikara menganalisa Serat Bimasuci. Buku ini diterbitkan oleh ‘ Institut Indonesia ‘ di Yogyakarta pada tahun 1986. Sinopsis ini pernah dibawakan sebagai makalah pada pertemuan di Lembaga Javanologi, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan ‘ Panunggalan ‘, Yogyakarta pada tanggal 24 Oktober 1986.

 

 

 

 

Siapakah S.P. Adhikara ? Tidak ada data atau keterangan mengenai beliau di keempat buku karya beliau tersebut di atas.

 

 

Secara bertahap Admin Wayangpustaka akan menyajikan keempat buku tersebut.Kali ini Admin menyajikan judul ‘ Nawaruci ‘ dengan alasan bahwa cerita Nawaruci dari Bali ini muncul lebih dahulu dibanding cerita Bimasuci dari Jawa. Nanti pembaca bisa membaca tulisan tentang persamaan dan perbedaan cerita Nawaruci dan Bimasuci di bukunya berjudul ‘ Unio Mystica Bima ‘ .

 

(2)

Tambahan tulisan pada tanggal 28 Mei 2011 :

Saran urutan membaca buku-buku S.P. Adhikara adalah berdasarkan tahun karya naskah asli cerita-cerita tersebut :

 

a.      “ Nawaruci “ . Asli cerita Nawaruci karya Empu Syiwamurti dari Bali ditulis pada tahun antara 1500 ~ 1613. Dr. Prijohoetomo yang menerjemahkan dari bahasa Kawi ke bahasa Belanda dalam disertasinya tahun 1934. Kemudian S.P. Adhikara mernemahkan bebas ( dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia ) berdasarkan disertasi Dr. Prijohoetomo.

http://wayangpustaka.wordpress.com/2011/04/10/ebook-nawaruci-oleh-s-p-adhikara-1984/
atau
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/29/

 

b.      “ Dewaruci “. Terjemahan bebas ke dalam bahasa Indonesia atas Serat Bimasuci karya pujangga Jawa bernama Jasadipoera I pada tahun 1793.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-dewaruci-karya-s-p-adhikara/

 

c.       “ Unio Mystica Bima “ . Berisi uraian mengapa-siapa Bima , analisis Serat Bimasuci , serta mengemukakan kesamaan dan perbedaan cerita Bimasuci dan cerita Nawaruci adalah penting, karena cerit atersebut sering dicampur-adukkan.
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/46/

 

d.      “ Analisis Serat Bimasuci “  . Menganalisa kembali Serat Bimasuci berdasarkan ‘ Serat Bimasuci ‘ digubah oleh Pujangga Yasadipura I, pada tahun 1793 dalam bentuk puisi Jawa dalam metrum macapat , dan tulisan ulang Yasadipura I ‘ Serat Bimasuci ‘ pada tahun 1803 masih dalam bentuk puisi Jawa, hanya metrumnya diubah menjadi metrum Jawa Kuna ( tembang gede ).

Rujukan S.P. Adhikara adalah : ‘ Serat Bimasuci ‘ gubahan Pujangga Yasadipura I dalam bentuk puisi Jawa dengan metrum macapat, yang disunting dalam sinopsis ini, diambil dari buku tulisan R. Tanaya, berjudul : BIMA SUCI ( PT Balai Pustaka, 1979 ) ; sedangkan yang ditulis dalam metrum Jawa Kuna ( tembang gede ), dikutip dari disertasi Dr. Prijohoetomo ( 1934 ).
https://wayangpustaka02.wordpress.com/2011/05/28/ebook-analisis-serat-bimasuci-karya-s-p-adhikara/