Posts Tagged ‘Sesaji Raja Suya’

DVD “ Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Condenses Style. “ – Ki Purbo Asmoro – 2013.


DVD pakeliran wayang purwa Sesaji Raja Suya gaya padat, dalang Ki Purbo Asmoro.

DVD pakeliran wayang purwa Sesaji Raja Suya gaya padat, dalang Ki Purbo Asmoro.

 

.

DVD Rekaman Pakeliran Sesaji Raja Suya

Di tulisan sebelumnya Anda telah mengetahui tentang Wayang Educational Package. Yayasan Lontar / The Lontar Foundation – sebagai bagian dari paket – menerbitkan beberapa seri rekaman pakeliran Ki Purbo Asmoro. Lakon yang digelar adalah sama namun disajikan dengan tiga gaya berbeda , yaitu gaya “classic” ( klasik ), gaya “contemporary-interpretive” ( garapan ), dan gaya “condensed” ( padat ).

Seri rekaman tersebut akan diwartakan di blog ini secara berurutan. Yang KETIGA adalah pakeliran dengan gaya padat. Seri rekaman ini terdiri dari 1 DVD dengan panjang film rekaman 1 jam 59menit.

.

DVD “ Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Condenses Style. “

http://www.lontar.org/index.php?page=shop&id=198&cat=2&lang=en :

In this style developed among intellectual circles in Solo in the 1970s, a wayang is condensed down to anywhere from 30 minutes to 2 hours. Scenes are pared down to only what is considered important in terms of theme, message, and character development. Traditional conventions are secondary to dramatic purpose.

Dhalang:    Purbo Asmoro
English Subtitles: Kathryn Emerson
Indonesian Subtitles: Sugeng Nugroho and Wikan Satriati

Advertisements

Buku “ GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “ ; dalang : Ki Purbo Asmoro ; transkripsi Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson – 2013 – [ buku pedalangan jangkep dalam Bahasa Inggris ]


.

" GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Purwa Tale Performanced in Three Dramatic Styles. " ; dalang Ki Purbo Asmoro ; transkripsi bahasa Inggris : Kathryn Emerson ; penerbit The Lontar Foundation.

” GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Purwa Tale Performanced in Three Dramatic Styles. ” ; dalang Ki Purbo Asmoro ; transkripsi bahasa Inggris : Kathryn Emerson ; penerbit The Lontar Foundation.

.

Data buku :

GRAND OFFERING OF THE KINGS. Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles. “  ;  dalang : Ki Purbo Asmoro  ;  penulis transkripsi dalam Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson  ;  Jakarta  ;  penerbit The Lontar Foundation  ;  ISBN-13: 9786029144000  ;  578 halaman  ;  Bahasa Inggris.
.
Buku ini adalah buku pedalangan jangkep dalam Bahasa Inggris. Merupakan terjemahan ke dalam Bahasa Inggris dari transkripsi pakeliran berbahasa Jawa Ki Purbo Asmoro lakon “ Sesaji Raja Suya “, serta dilengkapi dengan film / DVD pakeliran tersebut. Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package terbitan The Lontar Foundation.
.

Anda juga bisa melihat info ( dan membeli ) buku ini di laman Barnes and Noble.

Buku “ PERSEMBAHAN AGUNG PARA RAJA – SESAJI RAJA SUYA. Teks Pementasan Wayang Kulit Dalam Tiga Gaya. “ – Ki Purbo Asmoro, Sunardi – 2013 – [ buku pedalangan jangkep ]


.

Buku pedalangan jangkep SESAJI RAJA SUYA, dalang Ki Purbo Asmoro, transkripsi dalam bahasa Indonesia oleh Sunardi, penerbit The Lontar Foundation.

Buku pedalangan jangkep SESAJI RAJA SUYA, dalang Ki Purbo Asmoro, transkripsi dalam bahasa Indonesia oleh Sunardi, penerbit The Lontar Foundation.

.

PERSEMBAHAN AGUNG PARA RAJA – SESAJI RAJA SUYA. Teks Pementasan Wayang Kulit Dalam Tiga Gaya.

Dalang : Ki Purbo Asmoro, penerjemah ke bahasa Indonesia : Sunardi  ;  penerbit The Lontar Foundation  ;  Jakarta  ;  Nopember 2013 = cetakan pertama  ;  356 halaman  ;  Bahasa Indonesia.

Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package.

.

Ringkasan lakon tertulis di laman http://www.wayangedupackage.weebly.com/

Jarasandha, seorang raja jahat dan menakutkan, sedang meneror dunia—mengambil alih kekuasaan kerajaan-kerajaan lain, memenjarakan raja-raja yang adil dan dicintai rakyat, serta  memorak-porandakan kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Keluarga Pandawa, lima bersaudara, yang gagah berani, bersama-sama dengan Kresna, berencana mengadakan upacara persembahan khusus demi terciptanya kedamaian di dunia. Sementara itu, Jarasandha telah membuat perjanjian dengan kekuatan jahat dari dunia bawah, akan mengadakan persembahan dengan mengorbankan seratus nyawa raja-raja demi mempertahankan kekuatannya. Dia masih  membutuhkan tiga raja lagi karena ia telah menangkap sembilan puluh tujuh raja. Saat tiga pemimpin, Arjuna, Kresna, dan Bima berhadapan dengan Jarasandha di kerajaannya, Giribajra, terjadilah perdebatan hebat tentang kepercayaan, agama, dan ritual-ritualnya—Jarasandha bersikukuh dia berada di sisi yang benar, dan Kresna pun mendebat semua pandangannya. Puncak cerita adalah ketika akhirnya Pandawa berhasil mengadakan upacara persembahan tersebut, dan berbagai tantangan yang menghampiri ketenangan pikiran mereka memaksa mereka untuk menguji kepercayaan mereka sendiri.

Wayang Educational Package terbitan The Lontar Foundation – 2013 – [ buku dan materi pembelajaran pedalangan ]


.

Wayang Educational Package [ Paket Pendidikan Wayang ]
terbitan The Lontar Foundation Jakarta

.

Wayang Educational Package published bu The Lontar Foundation, Jakarta

Wayang Educational Package published bu The Lontar Foundation, Jakarta

.

Terdiri dari enam buku dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Men-transkripsi-kan / menuliskan enam pakeliran penuh Ki Purbo Asmoro.
[ yaitu : lakon “ Makutharama “ dalam tiga gaya / gagrag : klasik, garapan, padat. Kemudian lakon “ Sesaji Raja Suya “, juga dengan tiga gaya / gagrag ].

Terjemahan ke dalam Bahasa Inggris oleh Kathryn Emerson.
Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Sunardi dan Sugeng Nugroho.

Dilengkapi dengan film (dalam bentuk keeping DVD), dengan total panjang film 35 jam.
Juga dilengkapi dengan buku notasi gamelan pakeliran wayang kulit purwa dari enam pakeliran tersebut.

.

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

.
Alamat penerbit :

The Lontar Foundation
Jl Danau Laut Tawar no.53, Jakarta 10210
Tel : +62-21-574 6880 , Fax : +62-21-572 0353
www.lontar.org
email : contact@lontar.org

Facebook : The Lontar Foundation
Twitter : @LontarF

.

.
Tulisan / publikasi resmi dari penerbit :
http://www.lontar.org/index.php?page=program&id=16&lang=en

Wayang Educational Package

For centuries, the people of Indonesia have revered and nurtured the art of wayang kulit, the shadow puppet theater. In 2003 the significance of this art form was recognized by UNESCO when it declared wayang a “masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity.” UNESCO has included wayang kulit in the Orgnaization’s Intangible Heritage List and its proposed action plan calls for stronger support of puppeteers (dalang) and increased documentation. For full details see the UNESCO Intangible Heritage List.

In support of this goal, Lontar has produced the Wayang Educational Package for use by educators to teach students the art, wisdom, and cultural knowledge found in the wayang tradition through performances by the renowned Ki Purbo Asmoro.

There are three major performance styles of wayang kulit performed today: “classic” (klasik), “contemporary-interpretive” (garapan), and “condensed” (padat). Over the past several years Lontar has documented each of these performance styles twice and, from the large amount of footage obtained, has produced six films with subtitles in Indonesian and English. Lontar has also published six complete performance scripts in three languages – Javanese, Indonesian and English – and a volume of musical notation.

With the filming of the six performances now complete, as well as the transcription of the plays and their translation into Indonesian and English, the Lontar Foundation’s  Wayang Educational Package is a landmark work. This package—with its 6 documentary films of 6 wayang performances and its 7 books (2 containing Javanese language transcripts of the 6 performances; 2 containing Indonesian translations of the Javanese texts; 2 with English translations of the Javanese text; and 1 book containing the gamelan notation for the pieces that were performed)—is structured in a highly systematic way, so as to promote the greatest potential possible for appreciation, understanding, and analysis of the wayang kulit tradition, particularly current-day performance practices.

.

Books

   Makutharama

Makutharama: Teks Pagelaran Ringgit Purwa Wacucal Tigang Gagrag

Mahkota Rama: Teks Pementasan Wayang Kulit dalam Tiga Gaya

Rama’s Crown: Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles

   Sesaji Raja Suya

Sesaji Raja Suya:Teks Pagelaran Ringgit Purwa Wacucal Tigang Gagrag

Persembahan Agung Para Raja:Teks Pementasan Wayang Kulit dalam Tiga Gaya

The Grand Offering of the Kings: Texts of a Wayang Kulit Tale Performed in Three Dramatic Styles
.

.

   Gamelan Scores: Gamelan Notation for Six Wayang Kulit Performances
.

.

Films

   Makutharama

Makutharama: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Palace Classical Style. Duration: 7 hrs 31 mins

Makutharama: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Contemporary-interpretive Style. Duration: 7 hrs 31 mins

Makuthrama: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Condensed Style. Duration: 2 hrs 4 mins

   Sesaji Raja Suya

Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Village Clasical Style. Duration: 7 hrs 9 mins

Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Contemporary-interpretive Style. Duration: 6 hrs 40 mins

Sesaji Raja Suya: A Central Javanese Wayang Kulit Performance in Condenses Style. Durasi: 1 hrs 59 mins

.

.

Tambahan informasi dari laman Ki Purbo Asmoro
http://www.wayangedupackage.weebly.com/
.

“WAYANG UNTUK DUNIA”

“sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur”  (Deklarasi UNESCO, 2003)
.

LATAR BELAKANG

Pentingnya kesenian wayang kulit dalam dunia Internasional telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). UNESCO menghimbau untuk lebih banyak penciptaan publikasi dan rekaman audio visual Wayang. Inilah yang dilakukan oleh Yayasan Lontar selama 6 (enam) tahun kebelakang ini, dengan pembuatan “Paket Pendidikan Wayang”. Paket ini menghadirkan dua lakon yang terkenal: Makutharama (Mahkota Rama) yang bertema tentang kepemimpinan, dan Sesaji Raja Suya (Persembahan Agung para Raja) mengenai pertentangan antara keyakinan-keyakinan yang berbeda.
.

PENTINGNYA PAKET PENDIDIKAN WAYANG KARYA YAYASAN LONTAR

‘Paket Pendidikan Wayang’ karya Yayasan Lontar ini adalah sebuah karya yang monumental. Paket ini, dengan 6 film dokumenter dari 6 pertunjukan wayang ditempat yang berbeda, dan 7 buah buku (2 buku berisi transkrip bahasa Jawa, 2 buku berisi terjemahan Bahasa Indonesia dari teks Jawa, 2 buku berisi terjemahan Bahasa Inggris dari teks Jawa, dan 1 buku yang berisi notasi gamelan dari semua lagu)-tersusun dengan cara yang sangat sistematis, sehingga sangat memudahkan untuk proses apresiasi, pemahaman, dan analisa tradisi wayang kulit, terutama dalam praktek keseharian. Cara yang luar biasa sistematis ini belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dengan tersedianya teks dari 6 lakon yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dan juga film pertunjukan wayang dengan subtitel dalam dua bahasa ini juga, masyarakat Internasional secara luas akan dapat melakukan studi menyeluruh tentang tradisi unik ini, di mana saja di dunia. Proses penerjemahan kedalam bahasa lain pun akan jauh lebih mudah, dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar (sudah ada rencana untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Jepang, dan Jerman.)

Wayang for the World.


.

Pada tanggal 26 Nopember 2013 di Jakarta penerbit The Lontar Foundation Jakarta bersama dengan Bapak Ki Purbo Asmoro dan Ibu Kathryn Emerson mengumumkan terbitnya Paket Pendidikan Wayang ( Wayang Educational Package ) di dalam suatu acara yang dinamai Wayang for the World.

Mengacu ke publikasi resmi laman dan akun Facebook The Lontar Foundation berikut ini diwartakan kembali acara tersebut.

.

Ki Purbo Asmoro, Kathryn Emerson, John McGlynn, Wayang for the World, Wayang Educational Package, Makutharama, Sesaji Raja Suya, The Lontar Foundation

Ki Purbo Asmoro, Kathryn Emerson, John McGlynn, Wayang for the World, Wayang Educational Package, Makutharama, Sesaji Raja Suya, The Lontar Foundation

.

Tampak dalam foto di atas :

Paling kanan adalah Bapak John McGlynn sebagai Pimpinan The Lontar Foundation yang menerbitkan Wayang Educational Package.

Paling kiri adalah Bapak Ki Purbo Asmoro, dalang wayang kulit purwa Jawa yang enam pakelirannya dipakai sebagai acuan transkripsi / penulisan Wayang Educational Package.

Di tengah adalah Ibu Kathryn Emerson, seorang pemerhati wayang kulit purwa Jawa, sebagai penggerak utama program ini sekaligus sebagai penulis transkripsi berbahasa Jawa serta menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris.

.

Lebih banyak foto menggambarkan acara Wayang for the World serta Konferensi Pers nya bisa dilihat di akun Facebook The Lontar Foundation :

Wayang for the World
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.497450133687442.1073741864.141951719237287&type=1

Konferensi Pers Wayang for the World
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.494204750678647.1073741863.141951719237287&type=1

.

.

Berikut ini mengacu ke akun Ibu Kathryn Emerson dan surat kabar The Jakarta Post. Tulisan mengenai acara tersebut serta Wayang Educational Package.

.

Out of The Shadows
http://jakplus.com/?p=597

.

Wayang1-199x250

Words: Kindra Cooper
Photos Courtesy of The Lontar Foundation

.

Scholarly material on wayang (shadow puppets) has traditionally been limited to text-only or audiovisual-only material, when to understand the theater art requires the eyes, the ears and the heart.

The recently launched Wayang for the World is an educational package designed for both initiates and connoisseurs that chronicles the developments of wayang over time. Changes to its dramatic structure – from classical all-night performances involving lengthy court scenes and delayed revelation of plotlines, to cut-to-the-chase condensed versions – illustrate how the art has survived modernization while maintaining its essence.

The fundamentals of wayang –  hailed a masterpiece of intangible heritage by UNESCO – entail largely unscripted dialogue (requiring puppeteers to be ad lib-proficient), entertainment interludes and court scenes of decision-making between monarchs and policymakers regarding a socio-economic issue (be it poverty, disease, terrorism or corruption) that forms the root of the narrative – universal themes that have enabled wayang to transcend generations.

“We hope that this educational program can benefit not only Indonesia but the world – especially the young generation, who will continue our legacy,” Eko Suhartono, senior operator at Total E&P Indonesia, said at the launching ceremony at The Energy Building on Jl. Sudirman on Nov. 26.

.Wayang2

.

The six volumes in the educational package contain the unedited dialogue, narration, and stage directions from six live performances by star puppeteer Ki Purbo Asmoro, transcribed and translated from Javanese into English by American translator-transcriptionist Kathryn Emerson and translated into Indonesian by two professors from Indonesian Art Institute (ISI) in Solo; while a seventh tome documents the gamelan accompaniment for all six performances.

“And that’s why this is all educational. If you’ve read any other lakon (episode) that has been transcribed or published, the publisher’s taken a lot of liberties with the text and they’ve turned them into a more western dramatic structure,” John McGlynn, the project’s publisher and fundraiser and chairman for the Lontar Foundation, told The Jakarta Post.

The project highlights a third, newer dramatic structure pioneered by Purbo Asmoro called contemporary-interpretive, that reconciles elements of the classical style no longer palatable to some modern audiences (plotlines are revealed only after a series of hours-long court scenes, for example) and unpopular elements of the condensed style, where every scene too short and clipped. Asmoro’s reinterpreted all-night performances reveal the central issue and main character upfront, thereby retaining the focus of the condensed versions, while still retaining the court scenes and comedic interludes. According to the books, contemporary-interpretive style or garapan was used in 90 percent of performances in Surakarta by 2007.

Purbo Asmoro selected two landmark lakon (episodes) for the comparative study of the condensed, classical and contemporary-interpretive styles: Sesaji Raja Suya (The Grand Offering of the Kings) and Makutharama (Rama’s Crown) based on the Indian epic Mahabharata concerning a feud between two families vying for control of the kingdom of Astina.

“He chose these two because Rama’s Crown is the story that dalang (puppet master) educational institutions have always used. So ever since the 1920s, if you were a studying dalang your first-year program was to master Mahkutharama,” explained Emerson. “And he chose [The Grand Offering of the Kings] because it was close to the Indian original.”

.

Wayang3

John McGlynn

The accompanying videos in the educational package, containing subtitles in Indonesian and English, show puppeteer Purbo Asmoro in action, filmed by three cameras, one behind the dalang and gamelan, one on the shadow side of the screen scarcely observed today and another roving.

“Asmoro himself has created many innovations which have changed the wayang world, but this is a real look at a section of his career and a section in the history of wayang,” explained Emerson, noting that the six performances, taking place over one year, enable an up-close comparative study of wayang’s three distinct dramatic structures.

“[Asmoro] was a good choice for this documentation because he’s kind of between generations,” concurred McGlynn. “He learned the old style and is one of the pioneers of the new.”

.

Wayang4

.

wayang5

Ki Purbo Asmoro

.

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

Wayang Educational Package published by The Lontar Foundation, Jakarta / Paket Pendidikan Wayang terbitan The Lontar Foundation, Jakarta

.

Buku “SESAJI RAJA SUYA” – Purbo Asmoro – 2013 [buku pedalangan jangkep]


.

Buku pedalangan jangkep SESAJI RAJA SUYA - Purbo Asmoro

Buku pedalangan jangkep SESAJI RAJA SUYA – dalang : Purbo Asmoro – penulis teks pakeliran bahasa Jawa : Kathryn Emerson – penerbit The Lontar Foundation, Jakarta.

.

Data buku :

Dalang : Purbo Asmoro  , penulis teks pakeliran dalam bahasa Jawa : Kathryn Emerson  ” Sesaji Raja Suya. Teks Pagelaran Ringgit Purwa Wacucal Tigang Gagrag. ” ;  Jakarta  ;  Yayasan Lontar  ;  2013 = cetakan pertama  ;  xii +380 (392 p.) ; 22.9 x 15.2 x 2.5 cm.; 655 gr.; paperback  ;  ISBN 978-979-8083-97-6  ;  bahasa Jawa pedalangan.

.

.

Dikutip dari laman http://www.lontar.org :

For centuries, the people of Indonesia have revered and nurtured the art of wayang kulit, the shadow puppet theater. In 2003 the significance of this art form was recognized by UNESCO when it declared wayang a “masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity.” UNESCO has included wayang kulit in the Organization’s Intangible Heritage List and its proposed action plan calls for stronger support of puppeteers (dalang) and increased documentation. For full details see the UNESCO Intangible Heritage List.

In support of this goal, Lontar is producing a shadow theater educational package for use by educators to teach students the art, wisdom, and cultural knowledge found in the wayang tradition.

There are three major performance styles of wayang kulit performed today: “classic” (klasik), “contemporary-interpretive” (garapan), and “condensed” (padhat). Over the past several years Lontar has documented each of these performance styles twice and, from the large amount of footage obtained, will produce six films with subtitles in Indonesian and English. Lontar will also publish six complete performance scripts in three languages – Javanese, Indonesian and English – and a volume of musical notation.

With the filming of the six performances now complete, as well as the transcription of the plays and their translation into Indonesian and English, Lontar is now seeking additional funding to complete production of the educational packages.

Tag tambahan :

wayang kulit classical performance, wayang kulit contemporary interpretive performance, wayang kulit condensed performance, shadow theater documentation, wayang kulit complete performance script, shadow theater educational package, art, wisdom, cultural knowledge, musical notation, gamelan scores

.

Pemutakhiran 12 Januari 2014 :

Buku ini diluncurkan pada bulan Nopember 2013 di Jakarta. Buku ini merupakan salah satu bagian dari Wayang Educational Package. Di bawah ini informasi tambahan yang Admin peroleh mengenai buku ini.

.

Ringkasan tertulis di laman http://wayangedupackage.weebly.com/

Sesaji Raja Suya

Jarasandha, seorang raja jahat dan menakutkan, sedang meneror dunia—mengambil alih kekuasaan kerajaan-kerajaan lain, memenjarakan raja-raja yang adil dan dicintai rakyat, serta  memorak-porandakan kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Keluarga Pandawa, lima bersaudara, yang gagah berani, bersama-sama dengan Kresna, berencana mengadakan upacara persembahan khusus demi terciptanya kedamaian di dunia. Sementara itu, Jarasandha telah membuat perjanjian dengan kekuatan jahat dari dunia bawah, akan mengadakan persembahan dengan mengorbankan seratus nyawa raja-raja demi mempertahankan kekuatannya. Dia masih  membutuhkan tiga raja lagi karena ia telah menangkap sembilan puluh tujuh raja. Saat tiga pemimpin, Arjuna, Kresna, dan Bima berhadapan dengan Jarasandha di kerajaannya, Giribajra, terjadilah perdebatan hebat tentang kepercayaan, agama, dan ritual-ritualnya—Jarasandha bersikukuh dia berada di sisi yang benar, dan Kresna pun mendebat semua pandangannya. Puncak cerita adalah ketika akhirnya Pandawa berhasil mengadakan upacara persembahan tersebut, dan berbagai tantangan yang menghampiri ketenangan pikiran mereka memaksa mereka untuk menguji kepercayaan mereka sendiri.

.

.

Overview tertulis di lama Barnes and Noble :
http://www.barnesandnoble.com/w/sesaji-raja-suya-purbo-asmoro/1117742211?ean=9786029144017

Sesaji Raja Suya – The Grand Offering of the Kings

A terrifying and evil king, Jarasandha, is terrorizing the world-taking over countries, imprisoning just and popular kings, and ravaging havoc on communities around the world. The heroic Pandhawa family of five brothers craft a plan together with Kresna to put on a very special ceremony of offerings that will help forge peace in the world. Jarasandha, meanwhile, has made his own pact with the evil forces in the underworld, to sacrifice one hundred kings in order to secure his power. He needs three more leaders, as he has already taken control over ninety-seven. As the three leaders Arjuna, Kresna, and Bima face off with Jarasandha in his kingdom of Giribajra, a grand debate begins on the nature of belief, religion, and rituals-Jarasandha insisting he is in the right, and Kresna debating his every point. The story comes to a climax when the Pandhawa actually do go through with their ceremony of offerings, and various challenges to their own peace of mind force them to examine their own beliefs.

This book contains the original Javanese transcripts of Purbo Asmoro’s three live performances of Sesaji Raja Suya in classical, contemporary-interpretive, and condensed styles.

Buku ” Puntadewa. Kesatria Berdarah Putih dari Amarta ” oleh Wawan Susetya, 2012 – [buku cerita / novel wayang]


” Puntadewa. Kesatria Berdarah Putih dari Amarta ” oleh Wawan Susetya

.
Dalam kesehariannya, Prabu Puntadewa hampir-hampir tidak pernah bisa marah. Tapi, jika sekali saja ia marah, yakni ketika ia ber-triwikrama dengan Aji Gandhawijaya, maka badannya akan berubah menjadi raksasa yang kuat luar biasa besar.

.

.

Data buku :.

Wawan Susetya  ” Puntadewa. Kesatria Berdarah Putih dari Amarta ”  ;  Yogyakarta  ;  Diva Press  ;  Januari 2012 = cetakan pertama  ;  ISBN 978-602-978-990-4  ;  432 halaman  ;  bahasa Indonesia.

..

Seperti buku cerita wayang , ” Matahari Kembar di Mandura ” , yang Wawan Susetya tulis sebelum buku Puntadewa ini , di awal buku penulis menguraikan makna falsafah yang terkandung dalam cerita wayang yang akan diceritakannya. Kali ini mengenai ; Wani Ngalah Luhur Wekasane  – mengalah (dahulu) namun kemudian mendapatkan keluhuran ; dan Menang Tanpa Ngasorakemenang tanpa menaklukkan / menista .

Tulisan uraian moral cerita seperti ini membuat buku cerita karya Wawan Susetya lebih ngangeni – ingin segera membaca karya cerita wayang nya yang lain.

.

 

.

.

… dan seterusnya …

.

.